
Daniel pergi ke club dimana kasus itu berada, dia ingin melihat daftar pengunjung VIP disana. Daniel juga ingin mengecek cctv depan club, pasti ada mobil disana.
Daniel menggunakan sopir pengganti karena tadi dia sudah meminum sebotol soju. Sesampainya di club, dia langsung masuk ke dalam dan meminta teknisi untuk memperlihatkan cctv depan.
Tidak salah dugaannya, ada mobil yang terparkir didepan jenazah ditemukan. Daniel mencatat plat nomor mobil tersebut lalu turun ke resepsionis. Disana dia melihat dan membaca siapa saja tamu yang berkunjung, tetapi nihil wanita itu hanya bertemu dengan June saja di club ini. Kemungkinan besar dia bertemu dengan pelaku sesungguhnya diluar club.
Daniel memilih mencari mobil tersebut milik siapa besok paginya, karena kepalanya sudah pusing mungkin efek mabuknya. Dia pulang ke apartemennya lagi.
...****************...
Disisi lain Jane sedang dibalkong ditemani dengan sebotol wine. Dia menatap bulan malam dengan memegang botol wine tersebut. Pikirannya entah melayang kemana
__ADS_1
Nanananana, senandungnya pelan sambil menyesap wine. Jane lalu menggeleng-gelengkan kepalanya kekanan dan kekiri. Dia seseorang melihatnya pasti mereka akan tahu jika perasaannya sedang bahagia sekarang.
"Dasar para polisi bodoh!" Ucapnya sambil menyeringai,"Aku pembunuhnya malah temanku yang ditangkap, Daniel yang terkenal sebagai detektif gila saja tidak bisa menemukan bukti tentangku hahaha."
Ya selama ini pelaku pembunuhan berantai adalah Jane. Dia melakukan itu tentu untuk kesenangannya, dia sangat senang saat mendengar para korban meminta ampun dan memohon.
Jane adalah yatim piatu, dari kecil dia hidup dipanti asuhan sampai dia kabur dari sana saat memasuki bangku smp. Ciri-ciri psikopatnya sudah muncul saat dia masih kecil, dia tidak segan-segan membunuh hewan atau melukai temannya sendiri. Tetapi perbuatannya sangat rapi dan diperhitungkan, dia adalah anak yang cerdas. Jane pandai memanipulasi keadaan dan perasaan orang-orang didekatnya.
Malam itu ketika dia tidur di rumah Daniel. Pada dini hari Jane pergi keluar diam-diam. Jane memilih wanita remaja yang menjadi mangsanya, dia hanya melihay jari kelingking korban bagus apa tidak. Dia juga tidak tahu kenapa sangat menyukai jari kelingking. Jane memiliki ruangan rahasia bawah tanah, tidak ada yang tahu kecuali dirinya. Disanalah dia menyimpan koleksi jari kelingking yang menjadi korbannya. Disana juga terdapat beberapa alat-alat penyadap.
Tentu saja dia tahu apa yang akan dilakukan oleh kepolisian, karena dia polisi dan kantorpun sudah dia pasangi cctv dan penyadap.
__ADS_1
...****************...
Kembali ke Daniel, dia tidak bisa tidur jadi sekarang berjalan ke dapur untuk membuat teh hangat. Pikirannya sungguh kalut, bagaimana nasib June jika dia terbukti bersalah. Belum lagi bagaimana hubungan Daniel dan Jane sekarang.
"Apa yang mengganggu pikiranmu sehingga air sudah mendidih tetapi kamu diamkan?" suara ibunya menyadarkannya dari lamunan. Daniel segera menuangkan air panas itu ke dalam cangkir dan mengaduknya.
"Tidak ada eomma, hanya melamun biasa saja." Jelas Daniel dengan senyuman khasnya.
"Tidak bisa tidur?" Ibu Dami ikut membuat teh sambil mengambil sesuatu ke dalam kulkas.
"Ya, bagaimana jika June terbukti bersalah?" Kata Daniel sambil menyenderkan bokongnya ke meja makan didapur.
__ADS_1
Ibu Dami menghela nafasnya berat, dia tidak menyangka jika June yang sudah dia anggap sebagai anaknya sendiri tiba-tiba menjadi tersangka pembunuhan.