
Sekarang Daniel sedang berada di ruang interogasi. Jane dijaga oleh ibunya dan June jadi Daniel bisa menangani kasusnya dengan sedikit lebih tenang.
Sekarang Daniel sedang berhadap-hadapan dengan Park Jun Ki, tersangka pembunuhan berantai selama ini. Daniel terlihat menahan amarahnya, dan Park Jun Ki terlihat santai-santai saja meskipun kakinya telah ditembak oleh orang didepannya.
Park Jun Ki mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan interogasi sambil bersenandung pelan. Daniel melempar 4 foto ke atas meja dan langsung dilihat oleh Park Jun Ki.
"Apa benar kamu membunuh mereka?" Tanya Daniel dengan nada yang tegas. Park Jun Ki hanya diam sambil menatap Daniel tanpa berkata sepatah katapun.
Daniel memejamkan matanya untuk sedikit meredam emosinya, lalu bertanya kembali,"Apa benar kamu membunuh mereka?"
Park Jun Ki tertawa terbahak-bahak lalu menjawab,"Apakah kamu tahu bagaimana rasanya ketika mereka berkata tolong, tolong jangan bunuh aku, ampuni aku. Itu sangat menyenangkan."
Setelah mendengar jawaban itu Daniel menggebrak mejanya, Park Jun Ki terus tertawa melihat respon dari Daniel.
Salah satu polisi dari Busan masuk dan mengajak Daniel untuk keluar, karena kondisi sudah tidak kondusif.
__ADS_1
Daniel ditenangkan diluar ruangan, polisi itu memberinya segelas kopi dan mengajaknya untuk duduk terlebih dahulu.
"Detektif Daniel, anda harus tenang menghadapi psikopat karena jawaban mereka cenderung menantang,"Ujar polisi tersebut.
Daniel meminum kopinya sambil memejamkan matanya untuk menetralkan pernafasannya,"psikopat memang gila!" gerutunya.
...****************...
Jane sedang makan bubur sekarang dengan disuapi oleh ibu Dami. Dia makan dengan lahapnya padahal sedang dirawat.
"Yayaya yang ketusuk memang pinggangmu bukan lambungmu, jadi aku tidak heran makanmu tetap banyak."Ejek June yang memang tidak habis pikir dengan nafsu makan Jane yang tidak terganggu sedikitpun.
Ibu Dami tersenyum lembut,"Tentu saja, makan dari itu kami harus cepat sembuh. Nanti, kamu mau makan apapun akan eomma turutin." setelah mendengar itu senyum Jane semakin sumpringah.
Obu Dami menyuapkan bubur terakhir ke mulut Jane,"Jadi ceritakan bagaimana kamu bisa terluka begini?"
__ADS_1
Jane menerima suapan itu, dia menelan buburnya terlebih dahulu sebelum menjawab."Waktu itu kami akan menangkap pelaku pembunuhan berantai, lalu oppa Daniel menemukan jalan dilantai dia membukanya dan masuk, aku mengikutinya. Saat aku masuk kedalam oppa sudah lumayan lalu aku melihat ada seseorang dari samping yang membawa sesuatu, ternyata setelah aku memfokuskan penglihatanku ternyata itu pisau, aku berlari ke arah oppa terus ya begitu aku tertusuk dari belakang deh." Jelas Jane panjang lebar sambil mengingat-ingat kejadian itu.
Ibu Dami mengelus tangan Jane,"Kenapa kamu membahayakan diri kamu sendiri? Kamukan bisa saja menarik Daniel atau berteriak kepadanya untuk menghindar."
"Ah itu juga sudah konsekuensi dari pekerjaanku eommonim hehehe,"Jawab Jane sambil cengengesan.
"Untung lukamu tidak parah, bagaimana jika terjadi sesuatu yang lain?" Sekarang June yang berkata.
Jane membuay pose jari telunjuk dan jempol dibawah dagunya,"Sekarang kamu lihat aku tidak terluka parahkan?"Jane menaik-turunkan alisnya.
"Jika kamu sedang tidak sakit sekarang aku akan mencekikmu, sungguh." Ujar June dengan memeragakan tangannya seperti akan mencekik Jane.
Ibu Dami hanya menggelengkan kepala melihat kedua manisia didepannya ini, tidak June dan Jane atau Jane dan Daniel mereka sama saja.
...****************...
__ADS_1
Daniel sekarang sedang keluar dari toserba untuk membeli beberapa barang, dia akan ke rumah sakit tempat Jane dirawat. Tadi Park Jun Ki mengakui semua perbuatannya, jadi Daniel sekarang bisa bernafas lega karena kasusnya akhirnya menemui titik terang.
Dia mengendari mobilnya menuju rumah sakit sambil mendengarkan musik.