
"Pemirsa, telah ditemukan seorang mayat perempuan ditempat sampah dekat club A. Mayat tersebut ditemukan oleh petugas sampah yang akan mengangkut sampah tersebut. Petugas sampah itu curiga dengan bau yang tidak sedap didalam plastik tersebut, lalu dia membukanya dan ternyata didalamnya adalah mayat. Petugas kebersihan itupun langsung menghubungi pihak kepolisian. Sekarang mayat tersebut sudah dibawa ke rumah sakit M untuk dilakukannya otopsi, mari kita tunggu perkembangannya..."
Berita tersebut membuat gempar penduduk Seoul. Orang-orang berbisik-bisik kepada terjadi pembunuhan kembali setelah 2 tahun tidak ada kejadian tersebut karena pelakunya sudah tertangkap.
Daniel, Jane, dan beberapa rekan polisi menyusuri tkp dan mengecek cctv sekitar tkp. Jane menemukan tas yang terbuang didalam tong sampah, dia membukanya dan didalamnya berisi dompet, uang, dan kartu identitas. Jane melihat foto yang berada di kartu identitas tersebut, sepetinya mayat yang ditemukan tadi wanita ini, batinnya.
"Detektif Daniel, aku menemukan sesuatu." Kata Jane memanggil Daniel, Daniel yang merasa namanya dipanggil itupun mendekat.
Daniel menerima kartu identitas tersebut,"Lee Hee Jin." gumam Daniel membaca nama yang tertera disana. Daniel masuk ke dalam club tersebut diikuti oleh Jane dibelakangnya, mereka bertanya apakah Lee Hee Jin salah satu karyawan disana.
Setelah mendapatkan petunjuk bahwa dia bekerja disana, Daniel mewawancari beberapa karyawan disana, dan tidak lupa mengecek cctv.
Daniel mengotak-atik komputer didepannya, berdasarkan info yang didapat Lee Hee Jin sudah 3 hari ini tidak masuk bekerja, jadi Daniel mencari rekaman 3 hari yang lalu siapa saja yang berinteraksi dengan Hee Jin.
"Bukankah itu June?" Ucap Jane sambil menunjuk ke layar komputer. Daniel memperbesar layar tersebut dan benar itu adalah June. Mereka menonton rekaman tersebut dan tidak ada lagi orang yang ditemui Hee Jin selain June.
"Ahahaha tidak mungkin June, oppa. Palingan ini adalah kebetulan saja." Ucap Jane sambil tertawa menyakinkan dirinya sendiri, bahwa bukan temannya yang membunuh.
Daniel berdiri dan mengadap ke Jane,"Mari temui June terlebih dahulu." Daniel berjalan keluar sambil menggengam tangan Jane yang berkeringat.
"Jimin kamu periksa mobil June 3 hari yang lalu pergi ke mana saja!" perintah Daniel kepada Jimin. Jimin kenal dengan June karena mereka pernah bertemu beberapa kali. Jimin menganggukkan kepala dan langsung menghidupka laptop yang sedang dia pangku.
__ADS_1
Mereka bertiga memasuki mobil dan langsung melaju ke cafe June berada, Daniel membunyikan sirinenya supaya dia bisa melajukan mobilnya lebih cepat.
"Palingan itu pacar June dan setelah dia bertemu dengan June, korban bertemu lagi dengan seseorang tetapi tidak terekam cctv," Kata Jane, Daniel setuju dengan apa yang diucapkan olehnya.
Jimin masih sibuk dengan laptopnya, lalu dia berkata, "Mobilnya hanya pergi ke club itu dan kembali ke cafe. Setelahnya tidak ada pergerakan kemanapun."
Daniel memutar setirnya untuk melewati jalan yang lebih cepat. Setelah sampai di cafe mereka tidak langsung masuk, mereka melihat situasi terlebih dahulu karena tidak ingin membuat gaduh para pengunjung cafe.
"Oh kalian ada disini? Mau bertemu dengan June? Dia ada didalam." Ujar Soo-he yang keluar dari cafe untuk membuang sampah. Ketiga polisi itu sedikit berjingkat karena kaget.
Jane tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal,"Hehehe iya, oh June ada didalam." Jawab Jane yang terdengar sangat kaku.
Soo-he mengajak mereka bertiga untuk masuk, jadi ketiganya mengikuti masuk ke dalam cafe. June terlihat sedang mengiris-iris daging.
Setelah selesai menjawab telponnya, Daniel menyusul kedua rekannya. Dia tampak lemas dan lesu sekali,"Ada apa oppa?" Tanya Jane setengah berbisik.
Daniel menghela nafas terlebih dahulu,"Kasus ini akan ditangani oleh tim lain, karena kita mengenal terduga pelaku secara pribadi. Mereka takut kita terbawa emosi." Jelas Daniel yang tentu saja membuat Jane dan Jimin kaget. Akhirnya tidak begitu lama tim kepolisian lainpun datang dan membawa June untuk diinterogasi.
Soo-he yang melihat June dibawa polisipun bingung, dia lalu keluar cafe dan bertanya "Kenapa June dibawa ke kantor polisi?"
Jane menunduk lesu,"Dia adalah orang terakhir yang menemui korban pembunuhan di club, jadi dia akan dimintai saksi. Kamu tenang saja jika June mempunyai alibi yang kuat setelah 48 jam polisi tidak menemukan bukti, dia akan dilepaskan." Ujar Jane sambil tersenyum kepada Soo-he.
__ADS_1
Soo-he terlihat khawatir tetapi dia tidak bertanya lagi, dia tahu dia ketiga orang didepannya ini pasti juga syok jadi dia membalas tersenyum ke Jane.
Setelah berbincang sedikit lebih lama, Jane, Daniel, dan Jimin pamit untuk pergi ke kantor polisi lagi. Mereka ingin melihat interogasi June bagaimana, mereka tentu saja lebih gugup menunggu hasil forensik. Pikiran Daniel dan Jane tentu saja sangat kalut, mereka bertanya-tanya bagaimana jika June terbukti bersalah? Daniel dan Jane menepis pikiran buruk itu, mereka percaya tidak mungkin June melakukan perbuatan yang sangat mengerikan.
Tiba-tiba Jimin menjadi heboh saat membuka handphonenya,"Lihat, lihatlah! Internet menjadi sangat heboh, mereka menuduh polisi tidak becus dan menangkap pelaku yang salah, karena pembunuhan kembali terjadi dan kelingking korban juga hilang. Mereka mengumpat dan akan melakukan demo besar-besaran." Jelas Jimin yang masih terus melihat handphonenya.
Daniel memukul stir mobilnya, tentu saja dia kesal. Kasus 2 tahun yang lalu adalah dia yang menangani, "Ah palingan itu hanya peniru, mungkin si peniru ini ingin menuduh polisi." Ucap Jane.
"Benar! Mungkin si pelaku mempunyai dendam pribadi kepada kepolisian, jadi dia membuat skenario seolah-olah polisi salah menangkap pelaku." Ucap Jimin bersemangat.
Mereka bertiga sudah sampai di kepolisian Seoul, yang dibacakan oleh Jimin tadi terjadi lebih cepat. Terlihat sudah ada beberapa orang melakukan demo didepan kantor. "Lebih cepat dari yang diberitakan." Ucap Jane sambil memijit pelipisnya.
Mereka bertiga keluar dari mobil dan langsung menuju ruang interogasi. Mereka melihat dari balik kaca dan terlihat June hanya menundukkan kepala saja, "Dia tidak berbicara daritadi." Ucap salah satu polisi yang bernama Eun Woo.
"Tentu saja June memilih menunggu pengacaranya. Pasti dia juga kaget tiba-tiba dicurigai sebagai pelaku pembunuhan, bagaimana jika setelah bertemu dengan June wanita itu masih bertemu dengan orang lain?" Kata Daniel sedikit emosi, dia kesal sahabatnya dicurigai.
Melihat situasi yang mulai memanas, Jane memutuskan untuk mengajak Daniel untuk keluar saja, toh ini sudah mendekati jam pulang kerja. Mereka juga tidak bisa menemani June karena kasus ini sudah ditangani oleh tim lain, Jane membeli beberapa soju ditoserba. Mereka berdua membutuhkan itu untuk menjernihkan pikiran. Daniel memutuskan untuk ikut pulang ke rumah Jane saja dan mengabari ibu Dami jika dia tidak pulang.
Sesampainya di rumah Jane mereka memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Di rumah Jane terdapat 2 kamar mandi, 1 untuk pribadi dan 1 untuk tamu. Setelah selesai Jane dan Daniel pergi ke atap rumah untuk minum-minum.
Sudah 5 botol soju tergeletak kosong diatas meja, terlihat pipi Jane dan Daniel memerah itu tandanya mereka sudah mabuk. "Jane apakah kamu percaya jika bukan June pelakunya?"
__ADS_1
Jane melihat Daniel dan tertawa,"Tentu saja oppa. Bagaimana June yang penakut itu berani membunuh orang?" mereka berdua tertawa terbahak-bahak, tiba-tiba Daniel memegang kedua pipi Jane dan dihadapkan kepadanya.
Jane bingung,"Wae oppa?" Daniel tersenyum dan mendekatkan wajahnya....