Crush Of Love

Crush Of Love
Mengenalmu


__ADS_3

Apakah kau ingat? Perkenalan antara kita cukuplah unik. Lewat aplikasi kita diperkenalkan. Unik memang, kita seringkali bertengkar karena masalah sepele, setelah itu kita berbaikan kembali dan saling melemparkan sebuah candaan.


Apakah kau pun ingat saat pertama kali kita bertemu? Yaa.. hari itu adalah saat di mana aku pulang bekerja. Kamu datang menjemput menggunakan sebuah sepeda motor, memakai pakaian serba hitam dan hari itu kamu memakai parfum yang menurutku cukup wangi dan menyegarkan. Kamu memakaikan ku helm, dan di sepanjang perjalanan kamu menceritakan tentang dirimu.


Kamu adalah manusia baik yang pernah aku temui. Walau terkadang kita sering bertengkar, tapi itu tidak pernah berlanjut lama.


Canda maupun tawa yang dibuat olehmu adalah candu bagiku. Kita adalah sepasang teman yang mungkin saja terselip rasa antara kita.


***


Hari semakin gelap, itu tandanya urusan pekerjaanku sudah hampir selesai.


“Hufftt.. akhirnya bentar lagi pulang juga,” gumamku


“Ehh, De. Nanti bantu beresin gudang ya” ucap Bu Yepi pemilik toko


“Iya, Bu.” Balasku singkat.


“Ahh sial. Pasti bakalan lama” gumamku sembari melepas nafas dengan kasar.


Drrtt.. Drrttt..


Ponselku pun berdering.


“De, nanti pulang kerja aku jemput ya”


Ketika mendapati pesan tersebut, secara tidak sadar aku menyunggingkan senyuman dengan penuh arti. Yaa aku sangat bahagia dengan pesan tersebut.


“Oke, tapi kayaknya bakalan agak telat pulangnya. Soalnya tadi si ibu nyuruh aku beresin gudang dulu” balasku


“Iya gapapa, santai aja” balasnya dengan cepat.


Aku pun segera bergegas pergi ke gudang untuk membereskan tempat tersebut.


“Ahh, si Ibu emang bener-bener yaa.. masa barang sebanyak ini harus aku sendiri yang beresin. Katanya bantuin doang, ehh ternyata dianya malah enak-enakan ngemil sambil nonton YouTube” gerutu ku.


Perlahan aku mulai pisahkan antara pakaian anak-anak dan pakaian orang dewasa. Aku urutkan sesuai dengan ukurannya masing-masing. Setelah itu, lantai aku sapu dan pel hingga bersih. Cukup melelahkan memang, tapi apa boleh buat? Aku butuh uang untuk memenuhi kebutuhanku. Karna aku bukan anak manja yang ketika ingin sesuatu tinggal meminta.


Yaa meskipun aku tahu bahwa aku akan diberi uang yang cukup jika aku mau meminta. Tapi bukan itu yang aku inginkan. Aku ingin berusaha mandiri dan tidak memberatkan orang tua, walaupun orang tuaku berkecukupan.


“Bu, udah selesai. Sekarang udah boleh pulang?” tanyaku


“Ohh, iya boleh. Hati-hati di jalan” jawabnya dengan santai sembari tetap menatapi ponselnya.


Ku lihat layar ponselku, ternyata sekarang sudah pukul sembilan malam. Dan ternyata sedari tadi Randika meneleponku terus-menerus. Aku pun segera menelpon balik.


“Halo? Ka? Maaf ya tadi lagi beresin gudang” jelasku padanya


“Iya, iya, ini aku udah ada di sebrang toko tempat kamu kerja. Cepetan kesini. Tadi aku telpon kamu terus menerus itu karna aku takut kamu kenapa-kenapa.” Ujarnya


“Oke”

__ADS_1


Aku segera berlari menjumpainya. Dan ku lihat ternyata memang benar, ia sudah menungguku di sebrang jalan sana. Ia melambaikan tangannya padaku, aku pun membalas lambaian tangannya itu.


“Udah nunggu lama?” tanyaku


“Hehe, iya. Udah ah jangan banyak tanya, ayo cepet naik. Udah malem, masa anak gadis pulangnya malem terus.” Jawabnya


“ya gimana lagi, namanya juga kerja cari uang. Buat jajan, main, beli skincare, beli kuota dan lain-lain” ucapku. Aku pun segera menaiki motornya.


Di sepanjang perjalanan ia terus bernyanyi. Untunglah suaranya bagus, kalau tidak mungkin sudah aku bungkam mulutnya dengan kaos kaki ku. Ketika itu, aku secara tidak sengaja melihat tukang nasi goreng di pinggiran jalan. Kebetulan saat itu aku juga sedang merasa lapar.


“Ka, beli makan dulu yuk. Aku laper, pengen makan. Perut aku udah keroncongan nih.”


“Yaudah ayo. Mau makan apa?” tanyanya


“Nasi goreng aja lah yang gampang, tuh belinya di si mang mang yang itu.” Sembari menunjuk ke sebelah kanan


“Siapp bos”


Randika segera memarkirkan motornya di samping gerobak tukang nasi goreng.


“Mang, pesen nasi goreng dua ya” ucapku


“Iya, neng. Tunggu sebentar ya” jawab tukang nasi goreng tersebut.


Aku menarik tangan Randika untuk mengajaknya duduk di kursi yang kosong. Randika menatapku sembari tersenyum.


“Dasar anak kecil” gerutunya


“Apa sih, anak kecil anak kecil. Aku udah besar bukan anak kecil. Mana mungkin anak kecil bisa kerja cari cuan” ucapku sembari sedikit menyubit tangannya


“Huuhh”


“Ini neng, pesanannya. Kalo butuh sesuatu nanti panggil mang aja ya” ucap mang tukang nasi goreng


“Iya mang, makasih” ujarku


“Nyam nyam nyam.. akhirnya makananku dateng juga. Ka, ayo makan. Nanti keburu dingin”


“Iya bawel. Ini juga mau dimakan”ucap Randika


Suasana malam yang dingin memang pas sekali rasanya jika dibarengi dengan menikmati makanan ataupun minuman yang hangat. Ahh, nikmat sekali rasanya menyantap nasi goreng dibarengi dengan orang yang menurut kita spesial. Sungguh, perpaduan yang sempurna.


“Akhirnya kenyang juga”


“Mau bungkus buat di rumah gak?” tanya Randika


“Gak usah deh, lagian yang di rumah juga pastinya udah makan”


“Yaudah”


“Mang ini totalnya berapa?” tanya Randika

__ADS_1


“Tiga puluh ribu aja, A” jawab mang tukang nasi goreng


“Nih mang uangnya” Randika memberikan uang lembaran dua puluh ribuan


“Ini kembaliannya, A.”


“Ambil aja buat mang. Kita pulang dulu ya mang”


“Makasih, A. Oh iya hati-hati di jalannya. Jangan kebut-kebutan”


“Iya mang” ucapku


Kita pun kembali melanjutkan perjalanan pulang. Randika menggapai tanganku dan melingkarkannya ke perutnya.


“Peluk dong. Peluk yang erat yaa, De. Awas jangan dilepas pelukannya. Kalo dilepas, nanti aku turunin di sini. Gak bakalan aku anter sampe rumah” ucapnya sedikit mengancam


“Ahh apa sih, Ka. Nyebelin banget. Ya udah deh ini aku peluk ya” ucapku sembari menyandarkan kepalaku pada punggungnya


“Nah gitu dong, kan so sweet kayak orang-orang” balasnya sembari sedikit tertawa.


“Ka, apa kita bakal terus bisa kayak gini? Sedekat ini? Dan sehangat ini?” tanyaku dalam hati.


“Hey, hey, hey. Bersuara dong, jangan diem aja. Awas ketiduran, nanti kamu jatoh”ucap Randika


“Apa sih, orang gak tidur juga. Lagi menikmati dinginnya malam, tauu” balasku


“Menikmati dinginnya malam atau menikmati hangatnya punggung Randika Mahesa Huuh? Tanyanya sembari tertawa


“Ihh dasar mesum!”


“Siapa yang mesum hahh? Kan dari tadi kamu meluk sambil nyandar di punggung aku”


“Hehe iya sih. Tapi kan gak gitu juga ih onyon” bantahku


“Canda doang napa. Di bawa serius terus ih perasaan. Nihh bentar lagi nyampe”


Aku pun diam tidak menanggapi ucapan Randika. Tetapi Ia terus menerus mengoceh tanpa henti, hingga membuatku merasa ngantuk.


“Hey, anak kucing! Cepetan bangun napa. Ini udah sampe depan rumah, cepet turun!” pintanya sembari melepaskan pelukanku


“Iya, iya. Makasih.”


“Mau mampir dulu gak?” tanyaku


“Gak usah. Udah malem, gak enak diliatin sama tetangga. Aku pulang dulu ya”


“Ohh iya deh. Jangan ngebut ya.”pintaku


“Siapp”


Ia pun melajukan kembali sepeda motornya. Ku perhatikan hingga dia benar-benar sudah melaju jauh dari depan rumahku. Setelah itu aku pun masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Ku hempaskan tubuhku di atas kasur yang empuk. Ku pandangi langit-langit sembari tersenyum bahagia.


“Randika Mahesa. Kamu benar-benar manusia terbaik yang pernah aku temui. Aku berharap suatu saat nanti aku dapat memiliki seseorang yang percis seperti dirimu.” Gumamku dalam hati.


__ADS_2