Crush Of Love

Crush Of Love
menjadi pengangguran


__ADS_3

“De, mama kan udah bilang kalau kamu tuh lebih baik nerusin pekerjaan mama atau ayah aja. Sekarang kan malah gini jadinya, kamu kena fitnah yang enggak-enggak. Mama percaya kok sama kamu, kalau kamu gak mungkin ngelakuin hal yang kayak gitu” ucap mama sembari memelukku


“Hmm atau jangan-jangan itu ulah pegawai baru yang kamu ceritain tadi, De?” Sambungnya


“Ah mama gak boleh gitu dong mah. Gak boleh nuduh orang sembarangan tanpa bukti. Ya meskipun aku juga ngerasa sedikit curiga, tapi ah udahlah gak harus dipermasalahkan juga.”


“Tapi kan hampir aja kamu dibawa ke tempat yang berwajib gara-gara ini”


“Udahlah mah gapapa. Biar nanti Desyana cari kerjaan lain aja. Mungkin ini bukan Rezekinya Desyana”


“Ada apa nih, ma? Loh kok anak ayah pulang lagi? Gak jadi kerjanya?” ucap ayah penuh tanda tanya


“Ini loh, yah. Desyana dipecat, karna dituduh ngambil uang toko. Terus katanya uangnya tiba-tiba ada di lokernya Desyana.”


“Wah gak bener nih, apa ayah harus cari tau dengan cara minta tolong sama polisi biar ini diselidiki? Karna gak mungkin anak ayah berani melakukan hal seperti itu. Ayah tidak terima putri kesayangan ayah dituduh sebagai pencuri”


“Ah ayah gak usahlah biarin aja, selagi Desyana gak ngelakuin hal itu kenapa harus diributin juga. Gapapa lah mungkin ini jalan yang terbaik, Desyana pulang dan kumpul lagi bareng mama sama ayah”


“Hmm oke lah kalo menurut kamu itu yang terbaik. Jadi gimana sekarang? Kamu milih nerusin pekerjaan mama atau ayah?”


“Ih ayah, nanti aja tanyanya. Kasian Desyana”ucap mama sembari mencubit lengan ayah


“hmm kayaknya Desyana mau ambil alih bisnis restoran mama aja deh. Biar dikit-dikit bisa nyicipin makanan enak” gumamku dengan sedikit tertawa.


“Emang dasar ya anak ayah ini, kalo soal makan aja pasti cepat tanggap. Ya udah sekarang kita makan aja yuk. Kan tadi pas berangkat juga kamu belum makan kan?”


“Oke siap laksanakan pak bos.”


Kami bertiga pun segera menghampiri area meja makan.


***


Seperti biasa di dalam sebuah kamar terdengar beberapa iringan musik K-pop. Suaranya menggelegar sampai area bawah. Yaa hal seperti itu sudah menjadi kebiasaan ku. Memutar lagu K-pop sembari menari-nari di dalam kamar. Tapi meskipun begitu orang tua ku tidak pernah marah padaku. Asalkan aku tidak melupakan kewajibanku untuk tetap taat beribadah.


Orang tuaku akan senantiasa mendukung apa yang aku sukai, sama sekali tidak pernah melarangnya. Selagi itu adalah hal positif dan tidak memiliki dampak negatif segala hal yang aku sukai semuanya diperbolehkan, asalkan tidak melewati batasan.


Usiaku  sudah menginjak 22 tahun tapi entah mengapa aku merasa masih seperti gadis kecil yang masih membutuhkan perhatian dan kasih sayang orang tua. Banyak teman sebayaku yang sudah menikah, banyak pula di antara mereka yang sudah memiliki anak. Sedangkan aku? Masih lebih memilih menikmati kesendirian. Aku takut jika aku menikah dan harus meninggalkan kedua orangtuaku. Aku lebih memilih sendiri dan menghalu menikah dengan Park Ji Bin, seorang aktor tampan dari Korea Selatan. Dari pada menikahi orang yang salah, karna itu pasti akan membuat sedih orang tuaku.


Apalagi saat ini banyak sekali berita yang berseliweran di beranda sosial media. Tentang suami yang KDRT pada istrinya, seorang ibu yang dengan tega membunuh anaknya, atau tentang anak yang berani membunuh kedua orang tuanya. Ahh semua itu sungguh membuatku merinding.

__ADS_1


Ketika aku sedang terhanyut dalam sebuah lagu dari boy band BTS, tiba-tiba ponselku berdering.


[Sya, aku denger kamu udah gak kerja di toko lagi ya?] Tanya Randika di sebrang sana


[Iya, Ka. Sekarang aku lagi nikmatin masa-masa menganggur. Nanti semingguan lagi lah mungkin aku bakalan nyoba nerusin usaha restoran mama] balasku dengan emoticon tertawa


[Ohh, gitu ya. Oh iya btw lagi ngapain nih? Jalan yuk]


[Hmm boleh, bentar ya aku mandi dulu]


[Yaelah, dari tadi ngapain aja Bu? Jam segini baru mandi! Ya udah  sana cepetan. Nanti sejam lagi aku jemput di tempat biasa]


[Siap]


Aku pun segera bersiap untuk pergi jalan dengan Randika.


***


Ku lihat Randika memakai celana jeans hitam, kalos berwarna putih dan sepatu Nike kerwarna hitam, tak lupa kacamata berwarna hitam pun menempel di wajahnya.


“Randika!” teriakku sembari melambaikan tangan ke sebrang sana


“Ayo naik” pintanya


Aku pun segera menaiki motor tersebut tanpa basa-basi.


“Kita ke alun-alun yuk” ucapnya


“Oke, terserah kamu aja. Kan kamu yang ajak. Eh tapi jangan lama-lama ya, soalnya tadi belum izin sama ortu, mereka lagi pergi keluar.”


“Tenang aja, sebentar aja kok. Daripada gabut diem terus di rumah”


Lima belas menit pun berlalu. Aku dan Randika sudah sampai di alun-alun. Ia pun segera memarkirkan motornya. Di sebrang terpat parkir, banyak sekali pedagang berjejeran di sana, dari mulai pengasong minuman, bubur ayam, nasi goreng, martabak, gorengan, sate, soto dan lain sebagainya.


“Makan yuk” ucap Randika


“Makan apa?”


“Makan soto Madura aja yuk, kayaknya enak” pintanya sembari menarikku berjalan menuju area dagang tersebut

__ADS_1


“Yaudah ayo, tapi kamu yang bayar. Aku kan pengangguran jadi gak punya uang” ucapku sembari tertawa


“Siap. Kali ini biar aku yang traktir”


Kami pun berjalan menuju tempat jualan soto tersebut. Kami mulai duduk dan memesan, beberapa menit setelah itu makanan yang kami pesan pun terhidang. Sungguh aroma yang tercium sangat menggairahkan, membuat siapa saja yang menciumnya pasti tergoda.


Semangkuk soto ditambah perasan jeruk nipis dan tak lupa dicampurkan juga dengan beberapa sendok cabai, ah sungguh nikmat sekali rasanya.


Sesekali ku lirik Randika, ia menyantap makanan tersebut dengan sangat berselera. Hingga tak sengaja senyuman pun tersungging di wajahku.


“Kamu ngapain liat-liat, hah? Awas naksir”


“Idihh pede banget naksir, lagian kamu kalo makan lucu sih. Ngegemesin kek Teddy bear”


“Huuu dasar. Udah ketangkap basah juga gak ngaku!”


“Udah ah, apa sih gak jelas banget”


“Yaudah cepet makannya, udah ini kita pulang”


***


Ketika di perjalanan, entah kenapa sedari tadi tangan kiri Randika memegangi tanganku terus menerus.


“Ka, lepasin tangannya. Kamu fokus nyetirnya”


“Emang gak boleh ya pegang tangan kamu?”


“Bukannya gak boleh, tapi kamu kan lagi nyetir.”


“Aku gak mau kehilangan kamu, Sya.”


“Apaan sih, Ka? Fokus ke jalan deh”


“ Hmm iya.”


Randika pun melepaskan genggaman tangannya. Hingga pada akhirnya kami pun sampai di tempat tujuan.


“Aku pulang dulu ya, makasih traktirannya, dahhh” ucapku sembari melambaikan tangan. Dan Randika pun membalasku dengan senyuman yang tergambar di wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2