
(POV Randika)
*Drrtt.. Drrrtt...
Handphone Randika berdering.
[Sayang, jalan yuk. Jenuh nih di rumah terus]
Aku pun membalas pesan tersebut,
[Nanti aku jemput kamu yaa]
[Kok gak pake kata sayang sih balesnya? Nyebelin]
[Hehehe iya sayang maaf, nanti aku jemput kamu jam sepuluh yaa]
[Oke]
Ku langkahkan kaki menuju dapur, ku seduh kopi hitam yang berada di sana. Nikmat sekali rasanya, suasana pagi yang cerah ditemani secangkir kopi hitam kesukaanku tak lupa sepiring gorengan pun menjadi teman sarapan pagi.
Baru tujuh hari lamanya aku berada di sini, tempat dimana aku dilahirkan ke muka bumi, tempat yang penuh dengan cerita di setiap detiknya membuatku cukup merasa nyaman di sini. Namun terkadang aku merasa asing, entah karna aku jarang berada di sini atau karena hal yang lainnya.
Pertama kali aku mengenal Cellyn adalah saat aku duduk di bangku SMP. Dia memiliki tubuh yang tinggi dan juga berisi, wajahnya putih bersih berseri, bibirnya tipis merah muda dan rambutnya hitam panjang berkilau. Wajahnya cantik dan menyejukkan.
Bagiku ia sangatlah manis, apalagi sekarang ia sudah pintar merias diri, maka aku semakin jatuh cinta di buatnya. Entah itu perasaan yang nyata atau hanya sebatas rasa kagum belaka. Sedangkan Desyana, ia adalah wanita baik dan murah hati, aku merasa nyaman berada di dekatnya. Dan seringkali aku pun tak ingin kehilangan sosoknya.
Cellyn dan Desyana adalah dua sosok yang memiliki banyak perbedaan. Aku pun sebenarnya tidak terlalu mengerti dengan perasaanku saat ini. Entah aku benar-benar menyukai Cellyn, atau hanya obsesi saja. Sedangkan perasaanku pada Desyana, itu terasa begitu nyata.
Sekarang aku sudah memiliki Cellyn, aku akan mencoba membuka hatiku terlebih dahulu padanya. Sedangkan Desyana, sepertinya aku akan menutup diri untuk beberapa waktu kedepan. Semoga saja apa yang aku lakukan bukanlah hal yang salah.
Arlojiku sudah menunjukkan pukul sepuluh, sekarang waktunya aku untuk menjemput Cellyn.
[Mau kemana?] Tanya mama yang sedang berada di teras rumah
[Mau keluar dulu ma, sebentar kok. Cari angin aja, jenuh di rumah]
[Jangan lama. Mama juga nanti jam satu mau keluar, kamu harus jaga nenek di rumah]
[Iya, nanti jam dua belas juga aku pulang]
Bergegas ku nyalakan sepeda motor kesayanganku ini, tak sabar rasanya untuk berjumpa dengan Cellyn.
Di tengah-tengah perjalanan, ku tepukan sepeda motorku ini. Aku pun memberi beberapa buah tangan untuk orangtuanya di rumah, setelah semuanya selesai ku lanjutkan kembali perjalananku ini.
Kurang lebih dua puluh menit lamanya, aku sampai di depan rumah Cellyn. Rumah yang indah berwana coklat muda, tak lupa di sana pun berjejer beberapa tanaman hias yang menghiasinya.
__ADS_1
Ku ketuk pintu rumah tersebut.
Tokk.. tokk.. tokk..
Seseorang membukakan pintu untukku, tak lain ia adalah Cellyn.
“Kok lama sih, aku udah dandan cantik gini dari tadi”
“Maaf ya, tadi aku beli ini dulu di jalan. Buat orangtua kamu”
“Apa itu?”
“Martabak sama buah-buahan”
“Hmm.. makasih ya, yaudah aku simpan ke dalam dulu ya. Tapi lain kali kalo Dateng ke sini ya Dateng aja, gak usah bawa apa-apa. Nanti ngerepotin”
“Ya udah bawa masuk sana, cepetan ke sini lagi.”
Terlihat Cellyn pergi masuk ke dalam rumah untuk menyimpan pemberianku. Rumah ini terlihat sepi, seperti hanya ditinggali oleh Cellyn seorang. Apa mungkin orangtuanya sedang pergi bekerja? Ah entahlah. Selang beberapa waktu, Cellyn pun kembali berada di sampingku.
“Yuk, kita berangkat sekarang”
“Oke, btw kita mau pergi kemana?” tanyaku
“Hmm kita cari makan aja yuk, aku pengen makan ayam bakar nih”
Kita pun pergi mencari rumah makan yang menghidangkan menu ayam bakar spesial. Tak perlu memakan waktu yang lama, hanya dalam waktu sepuluh menit kita pun sampai di tempat tujuan.
Ku pesan dua porsi ayam bakar beserta jus lemon pada pelayan rumah makan tersebut. Ketika aku duduk kembali ke meja ku, ternyata Cellyn sedang memainkan ponselku. Tiba-tiba ia bertanya tentang Desyana.
“Sayang, Desyana itu siapa?”
“Temanku”
“Asli Cuma teman? Tapi kok isi chattnya gini?”
“Asli Cuma teman, kalo kamu gak percaya kamu boleh hapus dan blokir nomor itu” ucapku datar, namun hatiku berdegup tak karuan
“Kalo gitu aku blokir terus hapus kontaknya ya, lagian Cuma temen kan? Gak begitu penting”
Cellyn pun memblokir dan menghapus kontak Desyana dari ponsel Randika.
(POV Randika end)
***
__ADS_1
Sedangkan di sebrang sana, ada hati yang masih luka. Yaa Desyana masih merasa kecewa dan ia tak ingin masuk bekerja untuk beberapa waktu.
“Desyana, kesayangan mama cepetan bangun udah siang. Masa anak gadis bangunnya siang terus” ucap mama sembari menepuk-nepuk lenganku
“Nanti ma, masih ngantuk. Masih pengen istirahat”
“Kamu ada masalah apa? Sini cerita sama mama. Gak biasanya kamu kayak gini”
“Aku gapapa ma, aku lagi pengen sendiri. Mama keluar dari kamar aku ya ma, tolong.”
“Iyaa, tapi nanti kamu cerita ya sama mama kalo ada apa-apa”
“Iya maa.”
Mama pun keluar dari kamarku. Aku pun bergegas mengunci kamar agar mama atau ayah tidak masuk ke kamarku.
Ku lihat layar handphone ku, di sana hanya terdapat beberapa pesan dari karyawan resto. Aku yang memiliki sifat penasaran, ku lihat WhatsApp randika, ternyata hal yang tak ku sangka kembali terjadi. Randika memblokir nomorku.
Apa ada yang salah dengan Randika? Baru kemarin ia meminta maaf dan memintaku agar percaya, namun apa yang sekarang ia lakukan? Memblokir nomorku? Kenapa? Apa yang salah? Randika benar-benar keterlaluan. Apa yang sebenarnya ia inginkan? Jika ingin aku menjauh maka beritahukanlah dengan baik-baik. Bukan dengan cara seperti ini.
Ku kirimkan satu persatu pesan ke semua akun media sosialnya. Dan semuanya tak ada uang memberi respon. Ketika aku mengirimkan pesan ke akun Line miliknya, di sana lah ia menjawab.
[Ka, kenapa nomor aku diblokir, hah?]
[Maaf, Sya. Bukan aku yang blokir, tapi pacar boongan aku] balasnya dengan menyisipkan emoticon sedih
[Pacar boongan kamu, iya? Bagus yaa handphone kamu boleh dipegang siapapun. Sedangkan aku saja yang sudah mengenalmu dua tahun gak pernah sekalipun menyentuh barang pribadikamu]
[Sya, maafin aku. Aku juga bingung gak tau harus gimana]
[Terserah kamu lah, kita udah sama-sama dewasa, udah bisa berfikir dan memilih. Kalau kamu pilih dia silakan, jangan hubungi aku lagi, jangan ganggu aku lagi. Aku cape sama semua drama yang kamu ciptakan.]
[Jangan gitu lah, Sya. Kamu ngertiin aku]
[Ngertiin apa lagi, Ka? Bukannya udah jelas ya, dengan cara kamu membiarkan dia memblokir nomorku saja itu sudah jelas bahwa kamu benar-benar memilih dan menginginkan dia. Jadi biarkan aku mengalah dan menjauh dari kamu]
[Aku gak pengen kamu pergi. Aku sayang kamu, aku nyaman berada di dekat kamu, Sya]
[Sayang? Nyaman? Omong kosong! Aku juga perempuan yang punya hati. Aku gak mau beharap pada orang yang sama sekali tidak menginginkan kehadiranku].
[Aku serius, gak mau kehilangan kamu]
[Kalo gitu, putusin dia]
[Aku gak bisa, Sya]
__ADS_1
[Kalo gitu jangan hubungi aku lagi. Anggap saja kita tak pernah saling mengenal]
Aku pun memblokir akun Line milik Randika, sesak sekali rasanya. Hatiku terasa di hancurkan bertubi-tubi. Aku harus kuat, aku tak boleh lemah hanya karna satu laki-laki. Aku pasti bisa bangkit, dan memulainya dari awal.