Crush Of Love

Crush Of Love
pegawai baru


__ADS_3

Tak terasa kini mentari pun sudah menyambut sang pagi. Ku lihat ke arah jendela, dedaunan pun sudah melambai-lambaikan tangannya. Sebanarnya hari ini aku cukup malas untuk melaksanan segala aktivitasku. Meskipun cuasa bagus, entah mengapa aku masih merasa kedinginan sehingga ingin sekali rasanya kembali tertidur sembari berselimut.


Namun apa boleh buat? Aku yang memiliki hobi menghabiskan uang tentunya harus bekerja agar mendapatkan penghasilan. Karna jika aku tidak bekerja dan harus meminta kepada orangtua itu adalah hal yang sangat memalukan.


Aku yang belum bisa membahagiakan mereka setidaknya jangan sampai aku membebani mereka dengan sifat ku yang boros. Maka dari itulah aku sekuat tenaga mencari pendanaan untukku sendiri dan menikmatinya.


“Apa enaknya hidup jika tidak pernah dinikmati. Nikmatilah kehidupan ini dengan sebaik-baiknya karna kita hidup di dunia ini hanya sekali. Maka janganlah kamu pelit pada dirimu sendiri.” kira-kira seperti itulah tujuan hidupku. Menikmati hidup dengan enak, nyaman, aman dan damai.


Terdengar suara mama memanggilku dari lantai bawah sana.


“Desyana Nuruzzahr cepetan turun! Sarapannya nanti keburu dingin! Cepet turun nanti kesiangan”


“Iya, ma. Ini aku mau ke bawah sekarang.”


Aku pun segera keluar dari kamar dan bergegas menuruni anak tangga. Ku lihat jam tangan di lenganku ternyata sekarang sudah menunjukkan jam tujuh pagi.


“Mama, aku sarapannya apel sama minum susu aja ya”


“Loh kok gitu, mama udah siapin makan juga. Kenapa Cuma makan apel sama minum susu aja sih?”


“Takut telat” ucapku sembari berlari ke pintu depan


“Dasar anak perawan. Udah dibilangin juga biar kerja bareng ayahnya, masih aja ngeyel kerja di tempat orang. Gitu kan akhirnya kesiangan Mulu karna kecapean. Coba kalo kerja nerusin kerjaan orang tua pasti gak bakalan se-lelah itu” gerutu mama shilvi sembari membereskan dapur.


***


Yaaa.. aku memang terlahir di keluarga yang bisa dikatakan berkecukupan. Ayahku memiliki usaha kerajinan kayu dan juga dua toko sembako. Sedangkan mamaku memiliki usaha salon yang sudah memiliki dua cabang dan juga satu rumah makan terkenal.


Tapi itu semua hanya milik orang tuaku. Ketika aku lahir, aku tidak membawa apapun ke dunia ini. Maka dari itu aku sedang berusaha memulainya dari nol, tanpa bantuan dari orang tua. Hanya doa dan semangatnya lah yang kini aku butuhkan.


Memang tak mudah jika memulainya dari nol. Tapi apa salahnya jika aku berusaha untuk mencoba. Siapa tau di hari yang akan datang aku akan sukses dengan usaha dan cara ku sendiri.


Hari ini adalah hari Senin, di mana jalanan akan selalu macet karna hari Senin semua murid, pengajar atau pun orang-orang yang hendak pergi bekerja pergi pada waktu yang bersamaan.

__ADS_1


Ku lihat ada beberapa siswa ataupun siswi yang dengan sengaja turun dari angkotan umum dan bergegas lari menuju sekolahnya melalui pinggiran jalan. Bukan hanya mereka, bahkan ada beberapa pekerja buruh pabrik pun turut berlarian.


Dunia ini memang sedikit kejam untuk mereka yang mencari pundi-pundi rupiah melalui perantara. Atasan galak, kejam, songong, kata-kata yang tidak mengenakkan hati, belum lagi jika kita terlambat pastinya akan potong gaji.


Dari kejauhan, aku melihat bosku sedang berbincang dengan seorang gadis berpostur tubuh tinggi berisi, kulit kuning langsat, rambut tergerai se-punggung dan ia mengenakan celana jeans dengan kemeja polos berwarna dusty pink.


Ketika aku sedang mengamati dan berjalan, bosku pun memanggilku.


“Desyanaaa.. cepat kesini”


“Iya, Bu” ucapku sembari sedikit berlari


“Ini kenalin namanya Casandra, nanti dia bantuin kamu kerja di sini” ucap Bu Yepi mengenalkan Casandra padaku


“Halo” ucap Casandra sembari mengulurkan tangannya


“Halo, aku Desyana”


“De, nanti ajari Casandra dengan baik ya. Ibu percayakan semuanya sama kamu” ucap Bu Yepi sembari menepuk pundak ku


“Iya, Bu”


“Baik bu”


Bu Yepi pun pergi meninggalkan kami berdua. Aku pun segara mengajak Casandra masuk ke dalam.


“San, sekarang kita beres-beres dulu. Kamu bagian sapu sama ngepel, aku beresin barang, oke?”


“Hmm.. Aku gak biasa nyapu sama ngepel, nanti kuku ku rusak. Aku beresin barang aja ya. Kamu sapu sama ngepel” ucapnya sembari menjentikkan kukunya


“Dasar anak sialan! Baru pertama kerja udah berani kayak gitu” gumamku dalam hati


Aku pun segera membereskan semuanya. Dimulai dengan menyapu area dalam, mengepelnya hingga menyapu area luar yang sudah banyak sekali daun kering yang berserakan.

__ADS_1


Setelah semuanya selesai, aku pun kembali masuk ke dalam. Dan ternyata hal yang tidak terduga pun terjadi.


“Ya Allah Casandra!! Apa aja sih yang kamu lakuin dari tadi, hah?” tanyaku dengan sedikit bentakan


“Ya gini lah, duduk sambil nungguin pelanggan Dateng” ucapnya tanpa rasa bersalah


“Kan tadi katanya kamu mau beresin barang, kok ini masih gini aja belum diberesin, gimana sih”


“Ya kamu aja beresin, kamu kan udah lebih dulu kerja di sini dan pastinya kamu yang lebih tau dong. Jadi ya sekarang kamu aja yang beresin.”


Ku tinggalkan dia tanpa sepatah kata pun. Ingin sekali ku layangkan jurus bogem ku ke arah wajahnya yang menyebalkan itu. Tapi apa boleh buat, aku masih harus berbaik hati karna dia masih pegawai baru. Yaa pegawai baru yang harus diragukan seperti bos mungkin.


Hari pertama, kedua, ketiga, hingga tepat ke sebulan aku bekerja dengan manusia yang bernama Casandra. Kesal, sesal, sebal, muak sekali rasanya bekerja dengan orang yang bisa dibilang tidak tau diri.


Ketika ada orang yang belanja, aku sibuk ke sana dan ke sini melayani pembeli, sedangkan dia asik sendiri bermain telepon genggamnya. Lantas apa bedanya ada dan tidaknya ia bekerja di sini? Ku rasa semuanya sama saja. Bahkan dengan adanya dia menurutku itu lebih parah.


Ingin sekali aku melaporkan kepada Bu Yepi perihal pegawai baru yang tidak tau malu itu. Namun tentunya itu bukanlah hal yang mudah, karena aku tidak mempunyai cukup bukti.


Belum juga kesalku reda, sekarang malah datang sesosok mahluk ciptaan Tuhan yang sangat menjengkelkan jiwa raga. Siapa lagi kalau bukan dia, Rasya Ferdinan. Anak dari pemilik toko tempat aku bekerja.


“Yaa tuhan, cobaan apa lagi yang tengah kau berikan padaku? Rasanya sesak sekali jika aku berada di tengah-tengah orang yang tidak waras ini. Tolong bantu hambamu ini Tuhan.. aku mohon kuatkanlah hati, mental dan fikiranku ini” gumamku lirih dalam hati.


Ku lihat dengan sudut mataku, ia berjalan mendekatiku. Namun aku berpura-pura untuk tidak melihatnya.


“Hello, selamat siang Desyana Nurizzahr. Wanita cantik, baik, manis, pujaan hati Abang” ucapnya sembari merangkul pundak ku.


“Apaan sih, daeng-dateng gak jelas. Kalo bukan anak bos udah gue timbul lu” ucapku ketus sembari menjauhinya.


“Cewek cantik gak usah galak-galak. Nanti jodonya om-om loh”


“ya gapapa om-om juga. Semisal om Song Jong Ki gitu” jawabku acuh


Ia pun membalikkan badannya, ketika itu matanya tertuju pada sesosok gadis yang tak rain adalah Casandra.

__ADS_1


“Wah ada cewe cantik baru tuuh..” gumamnya dalam hati penuh kemenangan


__ADS_2