Crush Of Love

Crush Of Love
I Really Love You Randika


__ADS_3

Saat pertama kali kita bertemu dan saling mengenal, jujur pada saat itu pula aku tertarik dengannya. Aku merasakan desiran yang berbeda pada hati dan jiwaku.


Tatapannya, senyumannya, candaannya, dan segala sesuatu yang ada pada dirinya membuatku perlahan mencintainya. Rasa yang tak pernah datang sebelumnya, rasa yang tidak pernah ku rasakan sebelumnya, kini aku merasakan apa itu yang namanya cinta.


Terkadang seringkali aku berfikir apakah dia pun akan memiliki perasaan yang sama? Atau perasaanku hanya akan bertepuk sebelah tangan. Entahlah, yang jelas perasaanku semakin hari semakin besar padanya.


Manusia hangat, periang dan penuh senyuman setiap harinya membuat perasaanku ini berdetak tak karuan setiap kali aku bertemu dengannya.


***


Waktu sudah menunjukkan jam lima sore, dan sekarang aku akan segera pulang. Karena nanti malam aku akan bertemu untuk sekedar jalan-jalan dengan Randika. Tak sabar rasanya untuk bertemu dengan orang yang aku cinta.


Sebelum pulang, aku rapikan seluruh ruang kerjaku. Ketika semuanya selesai aku pun segera pulang ke rumah.


Di perjalanan, seperti biasa di jam-jam seperti sekarang ini jalanan mulai padat. Karna semua pekerja pulang ke rumahnya masing-masing. Meskipun aku pulang dengan mengendarai sepeda motor ternyata tetap saja sulit bagiku untuk sampai dengan cepat.


Kanan dan kiri ku berdesakan. Entah itu angkot, mobil pribadi, motor maupun orang yang sedang menyebrang. Jalanan yang tak terlalu besar tetapi dipenuhi beragam macam kegiatan manusia. Tak lupa di pinggirannya pun dipenuhi oleh para pedagang kaki lima.


Satu jam pun berlalu, kini aku telah sampai di kediamanku. Aku pun mengetuk pintu dengan perlahan.


Tokk.. Tokk... Tokk..


“Assalamualaikum.. maa, ini anak kesayangan mama udah pulang, tolong bukain dong pintunya”


Beberapa saat kemudian seseorang pun membukakan pintu.


“waalaikum salam, kok tumben jam segini udah pulang, nak?”


“Hehe iya mah, soalnya ada janji sama temen”


“Temen apa temennn”ledek mamaku


“Temen lah mah, udah ah Desyana mau mandi dulu yaa.. dah mama”


Akupun segera membersihkan diri dan mengambil air wudhu. Setelah itu seperti biasa aku menunaikan kewajibanku sebagai orang muslim yang tak lain adalah sholat. Tak lupa ku sisipkan namanya dalam setiap doa dalam sujud ku.


“Ya Allah jika dia jodohku mohon dekatkanlah, jika dia bukan jodohku tolong jaga dia dalam kesehariannya.”


***


Ku lihat jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan. Aku segera menghubungi Randika


[Ka, udah otw belum?]


[Bentar lagi]


[Cepetan! Kalo lama aku gak jadi jalan]

__ADS_1


[Iya bawel. Tunggu sebentar, lagi nyisir]


[Jangan lama. Lima belas menit harus udah nyampe]


[Oke, tunggu aja]


Beberapa saat kemudian, Randika kembali menghubungiku.


[Aku udah sampe. Cepetan keluar]


[Siap]


Aku segera menghampirinya.


“Tumben cantik” ucap Randika sembari menyunggingkan senyuman


“Ya emang cantik. Kamunya aja yang gak nyadar, udah yuk cepetan.”


“Ya udah yuk naik”


Ku naiki motor miliknya itu. Ia pun segera melajukan kendaraannya. Udara yang terasa dingin membuatku ingin sekali memeluknya.


“Sya, kenapa diem terus sih dari tadi” ucap Randika sembari menepuk kakiku


“Gapapa kok”


“Huhh modus”


“Daripada kamu ngantuk terus jatuh ya lebih baik peluk aku lah”


Aku memeluknya, tubuhnya yang hangat dan wangi membuatku nyaman dan betah berada di dekatnya. Tak lama setelah itu kami pun sampai di sebuah cafe yang sangat aestetik dekat rumahku.


Lampu-lampu kecil senantiasa menghiasi tiap sudutnya, tak lupa di sana pun terdapat beberaap penyanyi untuk menghibur setiap orang yang ada. Di nyanyikannya lagi romantis membuat dadaku berdebar tak karuan.


Kami pun segera memilih meja yang kosong lalu memesan beberapa dessert dan juga minuman.


“Ka,”


“Iya apa, Sya?”


“Aku mau jujur, tapi kamu harus janji setelah aku jujur semuany kamu gak boleh berubah


“Mau ngomong apa sih , Sya? Mau ngomong tinggal ngomong aja gampang kan?”


“Bukan gitu, jadi sebenernya aku tuh...”


Belum sempat aku mengutarakan isi hati, tiba-tiba seorang pelayan datang mengantarkan pesanan kami.

__ADS_1


“Ini kak, pesanannya. Selamat di nikmati”


“Makasih ya mba” balas Randika


Setelah mengantarkan pesanan, pelayan tersebut pun pergi meninggalkan kita berdua.


“Oh iya, Sya tadi kamu mau bilang apa?”


“Hmm nanti aja deh, kita makan dulu”


“Baiklah”


Disantapnya dessert yang begitu memanjakan lidah, membuat mood ku semakin baik. Dan semakin percaya diri untuk mengungkapkan perasaanku padanya. Sesudah semuanya beres, aku akan segera mengungkapkan isi hatiku ini, meskipun aku merasa sedikit deg-degan, bukan takut ditolak melainkan takut sikapnya menjadi berubah, aku takut ia menjauhiku Karen ilfeel melihat seorang wanita mengungkapkan perasaannya terlebih dahulu.


Namun bagiku mengungkapkan perasaan bukanlah hal yang memalukan. Mengungkapkan perasaan akan jauh lebih baik daripada memendamnya sendirian.


“Ka?”


“Iya Sya? Ada apa? Tadi kamu mau ngomong apa? Sekarang aja ngomongnya” ucapnya dengan tatapan hangat


“Tapi janji ya kamu jangan benci aku”


“Ya gak akan lah, Sya” balasnya sembari tersenyum dan mengacak rambutku


“Asli ya?”


“Iya”


“Randika Mahesa, aku pengen jujur. Pada saat pertama kali kita bertemu, pada saat itu juga aku menaruh hati padamu. Perasaan yang mungkin sulit untuk di pendam sendirian. Dan sekarang aku akan mengatakannya. Randika, aku benar-benar mencintaimu. Entak apa yang akan kamu fikirkan setelah ini, entah apa yang akan kamu lakukan setelah ini, entah kamu menjadi ilfeel padaku, atau apalah itu yang jelas aku mencintaimu. Tak peduli apa pandanganmu tentangku setelah ini.”


Randika pun tercengang mendengarkan penuturan Desyana. Bagaimana mungkin ia dengan mudah mengutarakan isi hatinya, apakah yang diutarakan Desyana itu benar jika ia mencintainya? Apakah benar atas segala yang diucapkannya tadi? Atau semua itu hanyalah lamunan Randika saja?.


Tiba-tiba Desyana menepuk bahu Randika.


“Ka, jangan ngelamun. Kita pulang aja yuk, yang barusan aku omongin lupain aja. Anggap aja semua yang aku ucapin gak pernah terjadi”


Desyana menarik lengan Randika untuk mengajaknya pulang. Di sepanjang perjalanan, hening tak ada satupun dari merek yang berani mengangkat suara. Setibanya di rumah, Desyana langsung masuk ke dalam kamarnya, ia langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur yang empuk itu.


Ia menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Mengingat kejadian tadi, ia sangat frustasi.


“Arrgghh... Kenapa aku bisa sebodoh ini? Apakah nanti Randika akan membenciku? Apakah Randika akan menjauhiku? Kenapa aku bisa se percaya diri itu sih ngungkapin isi hati, apa tadi aku kelihatan bodoh? Apa tadi aku kelihatan memalukan? Ahhh kenapa sih! Ah udahlah pusing mending tidur aja ntar besok aku fikirin gimana cara aku ngadepin Randika kedepannya.”


Desyana pun mencoba tidur dengan memejamkan kedua matanya, namun itu cukup sulit karena ia merasa gelisah.


Sedangkan di sebrang sana, Randika pun merasakan hal yang serupa. Ia merasa tak tenang dengan ungkapan Desyana saat berada di cafe tersebut.


Akankah mereka menjalin kasih, atau cinta Desyana hanya akan bertepuk sebelah tangan?  Entahlah, tak ada satupun orang yang tau, ikuti dan nikmati saja alurnya.

__ADS_1


__ADS_2