
“Baiklah, tapi jika kamu mengingkari ucapanmu tadi maka aku akan marah besar”
“Iya, Sya”
***
Tak terasa hari sudah semakin sore, aku lupa jika aku belum pamit pergi ke luar kepada kedua orangtuaku.
“Ka, pulang yuk. Takut dicariin mama. Soalnya tadi belum izin keluar”
“Ya udah ayo”
Seperti biasa di sepanjang perjalanan, Randika bersenandung menyanyikan beberapa lagu romantis yang selalu membuat hatiku berdebar tak karuan.
“Ka” ucapku sembari menepuk bahunya
“Ada apa?”
“Jangan pergi, jangan berubah”
“Apa sih, Sya. Berubah apanya? Aku gak bakalan berubah jadi manusia serigala kok, tenang aja”
“Jangan tinggalin aku sendiri ya”
“Siapa yang tinggalin kamu, kan dari tadi juga kamu ada di motor aku. Gak aku turunin di pinggir jalan”
“Ka, aku serius gak lagi becanda. Kamu satu-satunya orang yang paling berharga setelah kedua orangtuaku”
“Tenang aja”
Seketika suasana di motor pun kembali menjadi hening. Beberapa saat kemudian, kami pun sampai tepat di depan rumahku.
“Masuk dulu gak?”
“Gak usah, Sya. Lain kali aja. Aku pulang dulu ya, dahh.. assalamualaikum”
“Waalaikum salam*
Ia pun pergi melajukan motornya, setelah ia menghilang dari pandanganku aku pun mulai melangkahkan kaki ke dalam rumah.
Tiba-tiba mamaku sudah berada di depan pintu utama sembari menyilangkan kedua tangannya.
“Darimana? Bukannya gak enak badan? Kok malah pulang dianter cowo?” tanya mamaku penuh selidik
“Dari cafe ma, habis ngopi. Kali-kali nongkrong gapapa kan?”
“Ngopi atau pacaran?”
“Apa sih ma. Udah ah aku mau ke kamar dulu mau istirahat. Dah mamaaa” ucapku sembari melambaikan tangan
“Awas yaa, kalo keluar rumah tanpa izin mama lagi, gak bakalan mama bukain pintu. Kalo mau pacaran ya bilang jangan bohong pake alasan gak enak badan segala. Dan satu lagi, besok kamu harus masuk kerja gak boleh bolos lagi”
“Iyaa mamaku yang cantik dan sedikit cerewet, besok Desyana masuk kerja kok, tenang aja yaa..”
__ADS_1
***
Hari ini sepertinya aku harus memaksakan diri pergi bekarja. Mau tak mau aku harus melakukannya agar mama tak marah lagi.
“Nahh gitu dong udah rapi, wangi, cantik, seger kan dilihatnya. Jangan lupa sarapan dulu ya sayang” ucap mamaku
“Iya maa, aku sarapan dulu ya. Oh iya, sekarang mama mau cek resto tempat aku kerja kan? Berangkatnya bareng ya, jangan ninggalin”
“pasti dong sayang, yaudah sana cepetan sarapan. Mama tunggu di depan ya”
“Iya maa”
Kulihat mama pergi menuju area depan rumah, langkahnya yang anggun dan auranya yang berkharisma membuat siapapun akan menghormatinya. Ia benar-benar sosok yang paling sempurna yang pernah ada. Sosok yang selalu membuatku merasa bangga memilikinya.
Beberapa waktu kemudian, kami pun segera pergi berangkat ke resto milik mama dengan menggunakan sebuah mobil. Tiba-tiba mama kembali bertanya tentang kejadian kemarin.
“Yang kemarin itu siapa?” tanya mama
“Ohh, itu temen aku ma”
“Siapa?”
“Randika”
“Kerja di mana? Tinggal dimana?
“Kerja di bengkel, tinggal di kampung sebelah”
“Kenal dari kapan?”
“Bukan gitu, kamu anak satu-satunya mama. Mama gak mau kamu salah pilih temen”
“Dia baik kok ma”
“Tapi jangan terlalu percaya ya. Tetep harus bisa jaga diri”
“Iya ma, ngomong-ngomong gak apa-apa kan kalau dia kerja di bengkel?”
“Gapapa, emang kenapa? Kamu juga Cuma kerja di resto milik mama”
“Ih mama, bukannya buat aku ya?”
“Iya buat kamu, tapi ingat kalau kita sebagai manusia gak boleh Mandang rendah pekerjaan orang lain. Selagi itu halal ya gak apa-apa”
“Baguslah kalo mama gak mempermasalahkan pekerjaan”
“Sayang, ayah sama mama juga dulu gak langsung berjaya seperti sekarang. Dulu ayah juga pernah ngerasain kerja di tempat orang, mama juga sama Cuma buka usaha catering kecil-kecilan. Dan yang sekarang adalah hasil dari kerja keras kita. Jadi selama pekerjaan yang kita lakoni itu halal ya jalani aja, siapa tau kedepannya ada peluang besar untuk kita”
“Iya ma”
“Kamu janji ya harus bisa jaga diri, kamu anak satu-satunya yang ayah dan mama punya. Ayah sama mama pengen kamu menjalani hidup yang bahagia. Jangan salah pilih teman, harus bijak memilah dan memilih. Jangan sampai melampaui batas.”
“Iya ma, iya. Desyana bakal inget terus sama ucapan mama”
__ADS_1
Tak terasa kami pun telah sampai di tempat tujuan.
“Ma, aku langsung masuk ke ruangan ya. Gapapa kan mama keliling sendiri?”
“Gapapa, kamu urus saja semua pekerjaan kamu yang kemarin sempet ketunda. Mama udah biasa keliling sendiri, lagian ini juga kan wilayah mama”
“Yaudah kalo gitu, Desyana masuk dulu”
“Iya nak”
Baru saja beberapa langkah kakiku langkahkan, terdengar suara dering ponselku. Ternyata terdapat pesan masuk.
[Hai, aku mau kasih kabar kalo aku mau pulang kampung sekarang. Kamu jaga diri baik-baik ya. Aku bakalan diam di sana selama sepuluh hari, soalnya mama aku ada urusan juga katanya]
[Oke, ingat ucapan aku kemarin ya]
[Iya]
[Awas kalo nanti malah kecantol hatinya sama orang sana]
[Enggak bakalan]
[Yaudah kalo gitu hati-hati ya. Jangan lupa oleh-olehnya]
[Siap laksanakan bos]
***
Hari demi hari pun berlalu, tak ada satu pun pesan yang dikirimkan Randika kepadaku. Mondar mandir berjalan kesana dan kesini membuat aku selalu merasa gelisah. Hingga pada akhirnya aku memutuskan untuk menghubunginya terlebih dahulu.
[Ka, kamu sehat kan? Kamu baik-baik saja? Kok gak pernah ngasih kabar sih?]
Pesan tersebut terkirim namun hanya terdapat ceklis dua saja.
Aku yang sudah tak tahan dengan ini, akhirnya aku pun memberanikan diri untuk menelponnya. Beberapa saat aku menunggu akhirnya teleponku pun tersambung. Tetapi hal dialuar dugaan ku pun terjadi.
[Hallo, ini siapa ya?] Terdengar suara perempuan di sebrang sana
[Randika nya ada?] Ucapku masih dengan nada tenang
[Randika nya lagi persen makanan, ini siapa ya?]
[Aku temennya, mau bahas pekerjaan. Kalo boleh tau kamu siapa?]
[Ohh mau bahas pekerjaan, aku pacarnya]
*Degg
Seperti terkena sayatan, rasanya pedih sekali. Bukannya ia bilang tak ingin berpacaran? Lantas yang aku dengar sekarang ini apa? Kenapa Randika tak pernah jujur kalau ia memiliki gambaran hati lain.
[Hallo? Hallo?]
[Nanti aku telpon lagi]
__ADS_1
Aku pun segera mematikan telpon tersebut.
Menangis sejadi-jadinya. Dadaku terasa sesak, sulit untukku menerima. Perasaanku kian hancur lebur tak beraturan. Bukankah seharusnya ia berkata jujur jika memang ia mempunyai labuhan hati, bukannya malah memberiku ucapan-ucapan dusta yang sekarang sama sekali tak ada artinya. Apa selama ini aku hanya dijadikan sebagai mainan dan pelampiasan saja? Randika, baru saja kemarin kamu berkata, tapi ternyata sekarang sudah berbeda.