
(POV Shandi)
Hari ini adalah hari yang sangat menyebalkan, bagaimana bisa papa mencoba menjodohkan ku dengan seorang gadis yang sangat mencintai uang. Aku sama sekali tidak tertarik dengannya. Walaupun wajahnya tergolong cantik tapi sama sekali aku tidak menyukainya.
Di permukaan pertama saja sudah membuatku muak, bagaimana jika aku sampai menikahinya? Ahh sepertinya hidupku akan hancur. Pakaiannya sangat mini seperti manusia yang tidak memiliki pakaian saja dan juga dandanannya, Ahh seperti tante-tante yang suka nongkrong dipinggiran sana.
Tentang mahar? Apa dia gila, dia ingin mahar dua milyar beserta rumah. Dan juga, tadi dia bilang jika dia tak ingin dikekang setelah menikah, ia tak ingin selalu berada di rumah. Ia ingin berpesta di club bersama temannya. Ahh dia sungguh gila. Pokoknya aku tak ingin perjodohan ini terjadi. Aku tak ingin menikah dengan manusia setengah setan.
Tak lama kami berbincang, aku pun pergi meninggalkannya. Dengan bergegas aku tak sengaja menabrak seorang gadis, dan tak disangka gadis itu adalah Desyana, gadis yang sempat aku sukai waktu itu, kini ia semakin cantik, manis dan juga anggun. Membuat siapapun terpikat olehnya.
(POV Shandi end)
***
Ku ajak Shandi menuju meja. Di sana sudah terdapat pesanan aku dan mama.
“Kok lama? Ini siapa?” tanya mama
“Ini temen aku waktu sekolah ma, gak sengaja tadi dia nabrak aku”
“Ohh gitu, silakan duduk.” Mama mempersilakan Shandi duduk lalu melambaikan tangannya pada pelayan agar datang ke meja
“Ada yang bisa saya bantu, Bu?”
“Saya pesan spagetthi chicken sama orange jus nya satu lagi ya”
“Iya Bu. Mohon tunggu sebentar”
Ia pun pergi untuk menyiapkan pesanan
“Maaf ya, jadi ngerepotin” ucap Shandi
“Enggak kok, tenang aja. Lagian mama yang bayar bukan aku” balasku sembari tertawa
“Gapapa kok, lagian Cuma makan aja” timpal mama
“Makasih ya” balas Shandi
“Oh iya kalian temen atau temenn?” tanya mama
“Temen kok, Bu. Lagian mana mungkin Desyana suka sama saya. Dulu aja waktu sekolah aku ditolak sama dia”
Ucapan Shandi membuatku menepuk jidat, bagaimana bisa dia mengatakan kejadian itu pada mama dengan enteng.
“Kok bisa ditolak sih?” selidik mama sembari sesekali menatapku
“Katanya gak mau pacaran”
“Ohh gitu, alasan lama”
Tak lama setelah berbincang, pesanan pun tiba.
Kami segela menyantap makanan tersebut selagi hangat, apalagi saat ini aku sudah sangat lapar. Baru saja dua suapan masuk ke dalam mulutku, gawaiku kembali berdering. Lagi-lagi itu adalah pesan dari Randika.
[Oke gapapa, lain kali kita ketemu ya]
__ADS_1
[Iya] balasku singkat
[Masih mau berteman?]
[Iya]
[Maafin aku ya]
[Iya]
[Jangan berubah]
[Terserah]
Aku pun mematikan jaringan ponselku, agar tidak ada orang yang menggangguku lagi.
“Siapa yang hubungi kamu? Kok jadi keliatan badmood gitu?” tanya Shandi
“Kepo!” balasku
Kembali ku nikmati makananku yang tadi sembat tertunda. Selang beberapa lama, akhirnya makanan pun habis tak tersisa. Nikmat sekali rasanya, kini perutku sudah kenyang. Hal itu membuatku mengantuk ingin segera pulang dan merebahkan diri di atas ranjang.
“Udah selesai nih makan-makan nya, kita pulang yuk ma. Kasian ayah di rumah sendiri” ucapku
“Terus temen kamu gimana?”
“Ya biarin aja, lagian udah gede ngapain harus dikirim. Bisa pulang sendiri kan?” tanyaku pada Shandi
“Iya bisa, lagian aku juga tadi kesini bawa kendaraan”
“Yaudah kalo gitu kita pulang ya, kamu hati-hati di jalan” ucap mama pada Shandi
“Iya, Bu”
Aku dan mama bergegas pergi dari area tersebut. Dengan menyusuri tempat parkir akhirnya ketemu juga si merah-merah cabe rawit mobil kesayangan mama. Kami pun segela menaiki dan lekas melajukannya.
***
(POV Shandi)
Sesampainya di rumah, aku cepat mencari keberadaan mama dan papa. Setelah aku menemukannya aku pun tak bisa menahan amarah yang sejak tadi sempat ku pendam.
“Pa! Apa papa sudah gila? Bisa-bisanya papa menjodohkan anak papa dengan seorang gadis yang gila harta dan juga suka foya-foya?”
“Dia dari keluarga baik-baik kok, Shan”
“Baik apanya? Baru juga ketemu dia bilang mau minta mahar dua milyar beserta rumah, dan juga setelah menikah dia ingin tetap bisa pergi ke club malam bersama teman-temannya untuk berpesta. Apa papa ingin kehidupan anak papa hancur karna menikahi orang seperti itu hah?”
“Tenanglah nak” ucap mama mencoba menenangkanku
“Gimana bisa tenang ma, apa yang papa pikirin bisa-bisanya menjodohkan anaknya sendiri dengan manusia setengah setan”
“Papa gak mau tau, kamu harus nikah dengannya!” ucap papa pergi meninggalkanku
“Pa! Papa! Tega ya mau ngancurin anak sendiri! Dasar papa gak waras!”
__ADS_1
Seketika langkahan kaki papa berhenti dan kembali berjalan ke arahku.
*Plakk.. plakk.. plakk..
Tiga kali tamparan mendarat di wajahku
“Jaga ucapanmu! Kamu harus mematuhi semua ucapan papa! Tidak terkecuali!”
Aku pergi meninggalkan rumah orangtuaku. Bisa-bisanya papa bersikap seperti itu, meninggikan suaranya saja tak pernah, tapi kenapa bisa-bisanya ia sekarang malah menamparku dengan sangat marah dan kesal.
(POV Shandi end)
***
(POV Randika)
Pesan terakhir yang Desyana kirimkan, aku yakin jika ia masih menyimpan amarah padaku. Jika memang begitu, aku tidak akan terlalu memaksa. Biarlah ia pulih terlebih dahulu.
Aku memang pantas dibenci, tapi aku tak ingin jika orang yang membenciku adalah orang yang sangat aku sayangi.
“Dikaa kesini sebentar” teriak mama
Aku pun segera menghampiri
“Ada apa ma?”
“apa, apa, itu air galon udah kosong bukannya cepet diisi”
“Iya sekarang Dika isi”
Bergegas ku ambil galon kosong dan pergi ke jalan untuk membeli air. Disana aku kembali melihat Desyana. Karena tempat mengisi air galon dekat dengan rumahnya. Terlihat ia turun dari sebuah mobil dengan menenteng banyak sekali belanjaan.
Ternyata disana bukan hanya terdapat Desyana tetapi juga mama nya. Desyana terlihat sangat senang, tetapi dari mimik wajahnya terlihat ia sedang memendam kesedihan, dan itu membuatku merasa sangat bersalah.
(POV Randika end)
***
Sesampainya di rumah, aku segera membawa semua belanjaan ku tak lupa akupun membawa hadiah untuk ayah.
Tokk.. tokk.. tokk..
“Assalamu’alaikum. Ayah aku udah pulang”
Beberapa saat kemudian, ayah pun membukakan pintu. Tanpa basa-basi ayah langsung meminta hadiah untuknya.
“Mana hadiah ayah? Gak lupa kan?
“Ya enggak lah ayah, mana mungkin lupa. Nihh buat ayah” aku pun mengasongkannya kepada ayah
“Wahh apa nih?”
“Buka aja sendiri. Aku ke kamar yaa” baru saja aku melangkahkan kakienuju tangga, ayah kembali berbicara
“Jangan dikamar terus, udah kayak hantu penunggu kamar aja”
__ADS_1
“Biarin! Aku nyamannya di kamar” aku pun bergegas menaiki tangga tanpa melihat lagi ke arah ayah maupun mama.