Crush Of Love

Crush Of Love
Bertemu mantan gebetan part 2


__ADS_3

Di hari yang masih sangat pagi, kulihat mama sedang senyum-senyum sendiri sembari memainkan ponselnya.


“Mama lagi liat apa sih di handphone? Kok senyum-senyum sendiri?” Tanyaku sembari mendekatinya


“Ini mama lagi chattingan sama temen mama yang kemarin”


“Chattingan apa sih ma? Kok sampe segitunya?” Tanyaku penasaran


“Coba kamu lihat deh, anaknya temen mama tampan kan? Dia juga bekerja sebagai manajer di salah satu perusahaan asuransi”


“Hmm gitu ya”


“Kok tanggapannya Cuma gitu doang? Emangnya kamu gak tertarik?” Tanya mama sembari mencubit pinggulku


“Apa sih ma, lagian menurut aku biasa aja kok”


Karena hari ini aku ingin berangkat menuju tempat bekerja lebih awal, aku pun bergegas pamit pada mama.


“Ma, aku berangkat dulu ya” ucapku sembari mencium punggung tangannya


“Hati-hati di jalannya ya sayang. Jangan ngebut, santai aja”


“Iya ma, aku pasti hati-hati kok”


Ku langkahkan kaki menuju luar rumah. Disana aku pun segera menaiki motor kesayanganku. Yaa begitulah aku, lebih suka mengendarai sepeda motor dibanding mengendarai mobil. Rasanya lebih nyaman dan lebih cepat sampai ke tempat tujuan.


Di tengah perjalanan, terlihat di spion motor bahwa ada seseorang yang mengikutiku. Ku lajukan sepeda motorku menjadi lebih cepat agar aku segera sampai. Namun orang itu tetap saja mencoba mengejar ku hingga aku sampai di tempat bekerja.


“Kamu mau ngapain lagi sih, Ka?”


“Sya, tolong kasih aku kesempatan sekali lagi. Aku mohon kamu mau berbaik denganku lagi” ucap Randika penuh pengharapan


“Memaafkan seseorang itu mudah, Ka. Tapi sulit untuk melupakan luka yang sudah ditorehkannya”


“Sya, aku mohon maafin aku. Aku kangen kamu, Sya. Aku kangen semua canda tawamu”


“Coba sekarang kamu jujur cerita tentang pacarmu itu”


“Tapiii...”


“Tapi apa?”


“Sya,. Aku mohon”


“Kalo gak mau cerita yaudah sekarang kamu pergi dan gak usah ketemu aku lagi” Tuturku sembari mencoba berjalan menjauhinya, namun Randika segera menarik tanganku

__ADS_1


“Oke, aku bakal cerita tapi kamu harus maafin aku”


“Aku gak janji” balasku


“Syaa.. please”


“Cerita aja dulu, jangan banyak basa-basi”


“Jadi gini...”


Randika pun menceritakan semuanya, jika hal yang ia katakan padaku saat itu adalah bohong, ia berkata jika sebenarnya orang yang ia pacari adalah cinta pertamanya pada saat duduk di bangku SMP. Dan saat itu adalah pertama kalinya ia bertemu kembali dengan wanita tersebut.


Ia menjalin kasih dengannya, namun ternyata faktanya Randika sudah memutuskan hubungan dengan orang tersebut, karena dia bukanlah orang yang baik, maka dari itu Randika memilih memutuskannya.


Ketika Randika menceritakan semuanya, tak terasa air mataku hampir membasahi pipiku.


“Syaa.. aku tau aku salah besar. Aku mohon maafkan aku” ucapnya sembari meraih kedua tanganku, aku pun menepisnya


“Udahlah, Ka. Lagian dari awal juga kamu udah bohong kan?”


“Syaa.. please”


“Udahlah ka, pulang aja. Aku mau kerja. Jangan ganggu aku.”


Seketika Randika menarik lenganku hingga aku jatuh pada pelukannya. Jujur saat itu aku aku merasa sangat sedih dan terluka, aku butuh bahunya untuk bersandar namun aku masih menyimpan luka padanya.


“Lepasin, Ka! Jangan pernah melewati batas!!” ucapku dengan berontak


“Aku gak bisa jauh dari kamu, Sya. Aku mohon kamu ngerti”


“Jangan egois ka!!” ucapku sembari masih mencoba melepaskan diri dari pelukan Randika.


Tiba-tiba seseorang menarik Randika dari arah samping hingga membuatnya tersungkur ke bawah tanah. Orang tersebut pun langsung menghantamkan beberapa bogem pada Randika. Namun beberapa satpam menghampiri kita dan melerai keduanya.


“Hey kau sialan! Apa yang kau lakukan hah? Kenapa terus menerus mendekap Desyana padahal ia menolak?” ujar pria tersebut pada Randika


“Bukan urusanmu!”


“Syaa.. aku minta tolong, maafkan aku sekali ini saja dan aku tidak akan pernah mengulanginya. Aku janji” sambungnya


“Dasar manusia gak tau malu!!” ucap pria tersebut sembari memukul kembali Randika.


Satpam yang kewalahan memisahkan mereka membuatku berteriak sekencang-kencangnya.


“Randika Mahesa!!

__ADS_1


Aku mohon kamu pulang dan jangan ganggu aku, atau aku akan menghubungi polisi karena kamu sudah membuat gaduh di area restoranku.” Ucapku tegas pada Randika


“Pak, tolong bawa dia keluar dari area ini” sambungku pada kedua satpam


Akhirnya Randika pun pergi dari restoranku. Aku yang sedang merasa tertekan tiba-tiba teringat bagaimana Rizkal bisa tahu dengan lokasi ini, dan di waktu yang tepat ia sudah memisahkan ku dengan Randika.


“Rizkal? Kok kamu bisa tau tempat ini? Dan juga kenapa kamu bisa ada di sini di waktu yang tepat?” tanyaku penuh selidik


“Jadi gini, Sya. Tadinya aku kan mau ke bandara, nah di perjalanan aku liat kamu diikutin sama orang, dan ternyata kamu juga sadar kalo kamu tuh diikutin, makanya tadi kamu tancap gas super cepat kan? Nahh karena aku khawatir sama kamu yaudah aku ikutin.”


“Ohh gitu”


“Iyaaa.. ngomong-ngomong bukannya dia itu yang dulu pernah jalan bareng sama kamu ya? Kok kayaknya kamu kesel dan marah banget gitu? Apa lagi ada masalah?”


“Yaa gitu dehh”


“Kalau boleh tau ada masalah apa?”


“Ada lah, pokonya masalah pribadi”


“Hmm gak mau ngasih tau nih? Yaudah gapapa.. oh iya sekarang kamu kerja di sini? Ngelola restoran mama kamu?”


“Iya, Riz. Soalnya dulu pas aku kerja di tempat orang, aku malah kena fitnah.”


“Menurut aku yaa lebih baik kamu terusin usaha orang tua kamu aja, biar gak terlalu capek juga. Kan kalo merintis dari awal tuh rasanya bener-bener capek”


“Bener apa kata kamu. Eh iya kamu mau makan dulu gak?” tanyaku


“Gak usah, lain kali aja. Lagian sekarang aku lagi buru-buru. Aku pergi lanjutin perjalanan aku dulu ya, Sya. Lain kali kita ketemu lagi”


“Hmm iya deh, hati-hati yaa”


“Iyaa..”


***


(POV Rizkal)


Agendaku pagi ini adalah pergi ke luar negeri untuk masalah bisnis. Namun di perjalanan aku melihat seseorang yang tak asing bagiku sedang dibuntuti oleh seseorang. Yaa orang tersebut adalah Desyana, orang yang sempat aku sukai kala itu. Karena aku merasa khawatir, aku meminta supir pribadiku untuk membuntutinya terlebih dahulu, karena aku tak ingin suatu hal buruk terjadi pada Desyana.


Tadinya aku hanya ingin mengintipnya dari dalam mobil saja, tapi setelah lama ku amati, orang yang mengikuti Desyana malah mendekap erat Desyana, sedangkan orang yang didekapnya ingin melepaskan diri dari dekapan orang tersebut.


Aku yang terlanjur terbawa emosi langsung keluar dari mobil, dan sesegera mungkin membanting orang tersebut, dan tak lupa beberapa bogem pun sempat ku daratkan.


Ini memang masih pagi, tapi pagi ini aku malah memulainya dengan keributan. Bagaimana aku tidak terbawa emosi, jika orang orang yang pernah aku sukai diganggu oleh seseorang dengan cara seperti itu.

__ADS_1


Untung saja satpam buru-buru datang, jika tidak bisa saja nyawanya melayang di tanganku. Sebenarnya aku tidak ingin cepat-cepat pergi dari tempat ini, apsalnya aku masih ingin berbincang dengan Desyana, namun nyatanya pekerjaan berkata lain, mau tidak mau aku harus berpamitan padanya.


(POV Rizkal end)


__ADS_2