
Di hari yang sangat melelahkan, mengapa harus saja ada suatu perkara yang membuatku muak dibuatnya. Tadi pagi aku dibuat jengah oleh Randika, dan sekarang? Terdengar ribut-ribut seseorang dari depan restoran. Yaa tuhan, kenapa saat ini dunia sangat mengujiku. Tak bisakah sebentar saja aku merasa ketentraman dan keheningan?.
Aku yang sedang memeriksa beberapa laporan pun mencoba menghentikan pekerjaanku, karena teriakan dari luar sana sangat membuatku jengkel. Ku langkahkan kakiku menuju tempat tersebut, dan ternyata seseorang yang membuat gaduh lagi-lagi adalah dia, Casandra.
“Dasar Lo anjing! Keluar Lo! Lo harus tanggung jawab atas semua perbuatan Lo!” umpatnya
Satpam yang mencoba menariknya keluar terlihat sangat kewalahan, karena tenaga yang dimiliki Casandra sangatlah kuat.
“Hey ****** sialan, gara-gara Lo bokap gue mati! Gara-gara Lo sekarang nyokap gue kelihatan suaminya! Tanggung jawab Lo! Gara-gara Lo pecat bokap gue, sekarang dia mati!” teriaknya sembari menunjuk-nunjuk ke arahku
“Casandra, itu bukan salah saya. Kesalahan itu semuanya ada padamu.” Balasku masih dengan tetap tenang
“Persetan dengan kata kesalahan! Yang jelas Lo harus tanggung jawab!”
“Tanggung jawab apa? Kamulah yang seharusnya bertanggung jawab atas semua permasalahanmu saat ini. Dan turut berbela sungkawa atas meninggalnya ayahmu”
“Pak tolong sebisa mungkin bawa dia keluar, saya tidak ingin pelanggan saya terganggu” sambungku
“Baik Bu.”
“Desyana! Anjing Lo! Lihat saja aku akan membalas semuanya!”
“Terserah” ucapku meninggalkannya
Satpamku pun sebisa mungkin menyeretnya ke luar kawasan ini. Menyebalkan sekali rasanya jika aku harus menghadapi manusia-manusia tak tau diri seperti itu. Sudah salah masih saja mengelak dan membela diri.
Kembali ku hempasan tubuhku ke sofa yang berada di ruangan ku. Ku ambil benda pipih yang berada di sakuku. Ternyata di sana terdapat pesan dari mamaku.
[Sayang, nanti malam kita makan malam di luar ya]
Aku pun segera membalasnya
[Tumben mama ngajak makan di luar]
[Kali-kali kan sayang, nanti kamu pulangnya sore aja ya jangan malem. Biar bisa dandan cantik dulu]
[Apaan sih, ma. Lagian aku udah cantik dari lahir. Hahaha] balasku sembari menyisipkan emoticon tertawa
[Pokoknya pulang jam lima sore aja ya. Jangan ngebantah]
[Iya mamaku sayang]
[Yaudah kalo gitu kamu lanjut kerja lagi yaa]
[Iya maa]
***
(POV Mama)
Drrtt... Drrrtt...
Ponselku bergetar, menandakan ada pesan yang masuk.
[Shilvi, nanti kita makan malam yuk]
[Boleh] balasku
[Ajak anak kamu juga ya, soalnya aku juga mau bawa anakku]
[Hmmm oke, aku akan coba ajak Desyana, siapa tau dia mau ikut]
[Harus mau lah, Shil. Siapa tau kan nanti anak kamu sama anakku berjodoh. Terus kita jadi besan]
[Ah kamu, bisa aja. Yaudah aku pastiin anakku ikut]
[Aku tunggu di resto selebew jam delapan ya]
__ADS_1
[Oke]
Setelah percakapan singkat, aku pun menghubungi putri kesayanganku dan mengajaknya untuk ikut makan malam, dan ia pun menyetujuinya.
(POV Mama end)
***
Waktu semakin berlalu, kini tinggal satu jam lagi menuju pukul lima. Itu tandanya aku harus mulai berkemas untuk pulang. Karena aku sudah merasa lapar, aku meminta pekerjaku untuk membawakan satu porsi nasi beserta ikan bakar dan juga sambal, tak lupa aku pun meminta untuk dibawakan jus jeruk kesukaanku.
Kurang lebih dua puluh menit lamanya, makanan pun tersaji di hadapanku. Ku basuh tanganku, membaca basmalah lalu menyantapnya dengan nikmat.
Setelah selesai aku pun tak lupa untuk membereskannya. Sesudah itu aku pun bergegas untuk pulang ke rumah.
Di perjalanan, aku melihat ada beberapa anak yang sedang mengamen di sana. Karena merasa kasihan, aku pun memarkirkan terlebih dahulu motorku di samping gerobak tukang nasi goreng. Di sana aku memesan kurang lebih sepuluh bungkus nasi goreng untuk diberikan kepada anak tersebut, tak lupa aku pun membeli beberapa air mineral.
Beberapa waktu kemudian pesananku pun sudah jadi, aku bergegas membayarnya dan melajukan kembali kendaraanku. Tepat di hadapan anak-anak yang sedang mengamen, ku berikan nasi goreng dan air minum yang sudah aku beli tadi, tak lupa aku pun memberi mereka uang masing-masing dua puluh ribu.
Setelah itu, aku kembali melanjutkan perjalananku. Hingga pada akhirnya aku pun sampai di kediamanku.
Seperti biasa aku pun mengetuk pintu dan mengucap salam, tak lama setelah itu mama pun menjawab salam dan membukakan pintu untukku.
“Ma, aku ke atas dulu ya. Mau bersih-bersih sekalian sholat magrib”
“Yaudah sana”
“oh iya ma, nanti makan malam jam berapa?”
“Jam delapan”
“Ayah ikut gak?”
“Enggak. Yang makan malam itu Cuma mama, kamu, temen mama dan anaknya”
“Temen mama? Yang mana?”
“Ohh yang itu”
“Iya, katanya siapa tau aja kamu mau sama anaknya. Terus mama sama temen mama jadi besan”
“Idihh.. lagian siapa sih yang pengen nikah” ucapku dengan ketus
“Gak boleh gitu. Gak baik nolak ajakan orang, kalo kamu gak cocok ya gak usah nikah, mama kan gak maksa”
“Iya iya, yaudah aku ke atas ya. Bye mama” ucapku sembari melambaikan tangan seperti anak kecil
Beberapa waktu pun berlalu begitu cepat, hingga kini waktu sudah menunjukkan pukul delapan. Segera ku turuni anak tangga, di sana mama sudah berpakaian rapi dan elegan. Dari arah dapur ayah pun mendekati kita dan bertanya.
“Pada mau kemana? Kok udah rapi aja? Gak ngajak ayah lagi nih?” ucapnya sembari menyeruput secangkir kopi
“Mau makan malam sama temen” balas mama
“Terus anak ayah mau kemana?” tanyanya padaku
“Diajak sama mama”
“Maa, kenapa ayah gak diajak? Malu ya bawa ayah?”
“Bukan gitu.. lagian ini urusan cewek. Ayah di rumah aja jaga rumah sambil nonton bola”
“Hmm yaudah deh ayah di rumah sendiri lagi, jangan lupa kirim camilan buat ayah”
“Siapp ayah” balasku
“Kalo gitu mama sama Desyana berangkat dulu ya, Yah”
“Iya”
__ADS_1
Mama dan aku berpamitan sembari mencium tangan ayah.
***
(POV Bu Ranti)
“Haris, kamu harus dengar perkataan mama! Pokonya kamu harus bisa mengambil hati teman mama dan juga anaknya”
“Kok aku sih ma? Males lah”
“Gak ada males-males. Pokonya mama pengen kamu nikah sama anak teman mama”
“Mamah suka ngada-ngada nih, lagian Haris udah punya pacar. Mama ngerti dong”
“Kamu yang harus ngerti, Haris! Pokonya mama gak mau tau”
“Sekarang cepat kamu ganti baju, soalnya mama mau ngajak kamu makan malam”
“Terserah mama”
“Pokoknya mama tunggu lima menit lagi”
“Lagian mama kenapa sih maksa Haris? Haris harus tau alasannya”
“Oke, jadi alasannya.....................”
“Hmm oke lah, tapi Haris gak akan pernah putusin pacar Haris”
“Oke, gimana kamu aja. Pokoknya untuk saat ini kamu harus nurut”
“Baiklah”
(POV Bu Ranti end)
***
“Ma, kita makan malam di mana?” tanyaku pada mama yang sedang fokus menyetir
“Kita makan malam di resto selebew sayang, resto baru itu”
“Ohh”
“Emangnya kenapa? Gapapa. Mama fokus aja nyetirnya”
Mama kembali berfokus pada jalanan. Lagi-lagi ponselku bergetar. Kali ini aku tak ingin menghiraukannya.
Selang beberapa waktu, kami pun sampai di tempat tujuan. Di sana terdapat lampu Tumbler yang menghiasi tiap ruang di resto tersebut. Menurutku resto ini lebih cocok disebut cafe daripada restoran.
Ku lihat mama melirik ke arah kanan dan kiri mencoba mencari temannya itu, ternyata teman mama berada tepat di meja paling depan. Ia melambaikan tangannya ke arah mama sembari memanggil namanya.
Aku dan mama pun segera menghampirinya.
“Maaf ya lama” ucap mama
“Gapapa kok, lagian kita juga baru sampai. Silakan duduk”
Aku dan mama pun duduk di bangku yang sudah tersedia. Mama pun memesan makanan khas Sunda seperti nasi liwet dan juga lauknya.
“Oh iya, kenalin ini anakku namanya Haris”
“Salam kenal, saya Haris” ucap pria membosankan itu
“Ini anak kesayanganku satu-satunya, namanya Desyana”
“Hay” ucapku singkat
Mama pun berbincang-bincang dengan temannya itu, entah apa yang mereka bicarakan, aku tidak terlalu mempedulikannya. Ku raih benda pipih di tasku, ternyata seseorang yang mengirimiku pesan saat di jalan adalah Randika.
__ADS_1