Crush Of Love

Crush Of Love
Minggu pagi yang menyenangkan


__ADS_3

Hari Minggu yang selalu aku nantikan akhirnya datang juga. Aku bergegas pergi ke kamar mandi untuk segera bersiap. Semoga hari ini menjadi hari yang sangat baik. Karna sekarang aku akan bertemu dengan sahabat terbaikku, siapa lagi kalau bukan Randika Mahesa. Manusia menyebalkan, usil, dan menggemaskan.


Memakai celana training, kaos oblong, dan sepatu sport adalah style ku untuk pergi berlari. Ku pandangi layar ponselku, berharap Ia segera menghubungiku. Dan ternyata benar saja, baru ku nyalakan handphoneku sudah terdapat satu pesan WhatsApp dari dirinya.


“Kuy cepetan. Aku udah nunggu di jalan”


“Sekarang aku ke sana” balasku dengan cepat


Aku pun berpamitan pada orang tuaku. Yaa, karna berpamitan sebelum berpergian sudah menjadi rutinitas ku. Seperti kurang afdhol rasanya jika aku pergi tanpa berpamitan terlebih dahulu.


“Mah, Ayah. Desyana pergi lari dulu ya” sembari mencium tangannya


“Sama siapa?” tanya Ayah


“Biasa, sama temen-temen. Oh iya, nanti Desyana pulangnya agak siang. Soalnya mau main dulu.” Jelasku


“Baiklah, jaga diri baik-baik ya sayang” ucap ayah


“Iya, Ayah.”


Aku segera pergi ke luar dan berlari untuk segera bertemu dengan Randika. Di sepanjang jalan, banyak sekali orang yang menatapku dengan heran. Entah apa yang mereka perhatikan, yang jelas aku tidak membuat kesalahan apapun.


“Kaa!!” teriakku memanggil Randika


“Heyy!!” ucapnya sembari sedikit menelisik ku


“Ada apa? Apa aku salah kostum?”tanyaku


“Enggak kok. Tumben pake kaos warna pink, kan kamu tuh terkenal tomboy banget” jelasnya sembari sedikit menyindir dan tertawa


“Terserah aku dong, baju baju aku. Bukan baju kamu, bebas dong mau pake warna apa juga” jelasku sembari memalingkan wajah


“Udah ah, jangan marah. Pake baju itu bagus kok, tambah cantik. Yuk mending sekarang kita lari, nanti keburu siang” titahnya


“Oke”


Kami pun pergi berlari, sembari mendengarkan sebuah musik menggunakan headset di telinga kami.


***

__ADS_1


Pepohonan rindang yang mampu menyejukkan raga, tanaman herbal, bunga, bahkan rumput hijau yang mampu memanjakan mata. Tempat ini memang sempurna, tak heran jika banyak sekali orang yang lebih memilih olahraga pagi atau sekedar jalan-jalan ke tempat ini.


Sawah hijau membentang luas membelah cakrawala, gemercik air sungai senantiasa menjadi senandung yang indah, tak lupa juga kicauan suara burung yang merdu membuat semuanya menjadi kesatuan yang sempurna.


Anak-anak yang senantiasa berlarian di tepian sawah sembari menerbangkan layangannya sungguh terlihat menggemaskan. Terlihat dari sebelah kanan ada seseorang yang sedang menggiring hewan ternaknya menuju arah sungai. Memang indah sekali suasana di pedesaan ini.


Selain tempatnya yang masih asri, di sini juga banyak warga yang membuka usaha kecil-kecilan seperti membuat emping, elod, balendrong dan aneka macam kerupuk lainnya. Ada juga yang membuka usaha aneka macam olahan makanan dari pisang, tempe maupun dari umbi-umbian.


Warga di sini tergolong warga yang kreatif dan unik. Bagaimana tidak, selokan-selokan yang biasanya terlihat kumuh berubah menjadi cantik dengan cara pinggirannya ditembok dan dicat dengan warna-warna yang cerah. Tak lupa dihiasi dengan tanaman-tanaman kecil di sampingnya.


Airnya pun cukup jernih dan bersih karna tidak ada satupun sampah di dalamnya.


Aku yang sedang asyik memandangi sekitar dikagetkan oleh tarikan tangan seseorang.


“Sya, liatinnya biasa aja kali. Hampir aja kamu ngelangkahin kaki kamu ke situ” ucap Randika sembari menunjukan tangannya ke arah irigasi sawah


“Hehehe, gak keliatan”


“Gak keliatan, gak keliatan. Makanya kalo mandangin sesuatu itu jangan berlebihan” ucapnya sembari menarik tanganku untuk bergegas pulang.


Krubukk....


Tiba-tiba terdengar suara raungan yang berasal dari perutku. Langkah kaki Randika seketika terhenti.


“Iya, Ka. Laperrrr banget pengen makan. Hmm kayanya enak deh makan bubur ayam yang ada di pertigaan sana” jawabku sembari cengengesan


“Huh dasar si tukang makan. Baru jam segini udah laper. Ya udah yuk cepetan jalannya biar bisa cepet-cepet makan bubur ayam si mang Oleh”


“Yuk, yuk, yuk” ucapku sembari merangkul tangan Randika.


***


“Makannya pelan-pelan aja kali. Gak usah buru-buru, lagian aku gak bakalan nyuri makanan kamu kok” ucap Randika sembari membersihkan bubur yang tidak sengaja nempel di pipi Desyana.


“Bukan takut kamu ambil, Ka. Tapi inituh enak banget. Pokonya gak ada duanya deh, soalnya di sini tuh bubur langganan aku sejak aku masih kecil dulu. Dan rasanya tuh tetep enak polll gak pernah berubah” jelasku


“Makanannya mungkin gak pernah berubah. Tapi kamu yang berubah, Sya. Berubah jadi wanita cantik dan tangguh”gumamnya


“Ciieee bilang aku cantik. Ya jelaslah aku cantik, kan aku anaknya mamah shilvi” ujarku sembari menyantap bubur

__ADS_1


“Ih kepedean. Siapa juga yang bilang kamu cantik” pungkasnya


“Yaa aku denger lah, orang aku gak budeg” ucapku sembari mendelikkan mata


“Isshhh... Dasar! Gitu aja marah. Makannya cepetan. Kita pulang, sekarang udah jam sembilan, nanti siang aku harus kerja”


“Oke siap Randika Mahesa manusia menyebalkan sejagad raya” cerocosku sembari sedikit menggebrak meja.


***


Di perjalanan menuju pulang tiba-tiba ada sebuah mobil yang mendadak berhenti di depanku. Tiba-tiba dua sosok pria berpakaian rapi turun dari sana dan berjalan ke arahku.


Akupun mengernyitkan kedua alisku seraya bergumam di dalam hati, “siapa sih mereka?”.


Mereka berdua pun melepas kacamata yang menempel di wajahnya. Wajah yang aku kenali membuatku sedikit terkejut. Mereka secara berbarengan mengulurkan tangannya untuk bersalaman denganku.


“Hai, Desyana. Apa kabar? Apa kamu masih mengenali kami?” ucap salahsatu dari mereka


“Hai, aku baik-baik saja. Bagaimana dengan kalian?” tanyaku pada mereka sembari bersalaman


“Yaa.. beginilah kita sekarang seperti yang kamu liat. Aku dan Rizkal sekarang sedang mendalami bisnis. Dan Alhamdulillah bisnis kami dalam keadaan baik dan pendapatan yang kami dapat pun sekarang selalu meroket” ucap Zaidan dengan tersenyum bahagia


“Oh ya Desyana, kalau boleh tau dia yang di sampingmu ini siapa? Pacarmu?” tanya Rizkal penuh selidik


Aku yang sedari tadi berbincang dengan mereka seketika lupa jika aku sedang bersama Randika.


“Ohh hmm ini kenalin Randika sahabat aku” ucapku sedikit kaku


“Salam kenal, saya Randika. Sahabatnya Desyana.”


“Saya Zaidan dan teman saya yang tampan ini namanya Rizkal. Oiya, asal kamu tau ya kalau kita tuh pernah suka sama Desyana, tapi kita ditolak. Jadi kamu sebagai sahabat atau teman dekatnya Desyana jangan macam-macam ya. Karna jika sekali saja orang yang pernah kita suka kamu buat nangis atau terluka, kita pastikan kamu tidak akan baik-baik saja oke?” ucap Zaidan penuh penekanan


“Tenang saja. Aku bisa diandalkan” jawab Randika


“Baiklah kalau begitu aku pulang dulu ya. Masih ada urusan di luar sana” ucap Rizkal pada Desyana.


Mereka pun kembali menaiki mobil mereka. Rizkal membuka kaca mobil dan melambaikan tangannya pada Desyana, begitupun sebaliknya. Dilajukannya mobil tersebut hingga tak terlihat dari pandangan Desyana.


“Sya, aku antar sampe sini aja gapapa? Aku mau cepet pulang soalnya sebentar lagi waktunya aku berangkat kerja” ucap Randika sembari menepuk bahuku.

__ADS_1


“Oiya gapapa. Makasih yaa” jawabku.


Randika pun bergegas berlari menuju rumahnya. Karna rumah kita berbeda arah dan tentunya jarak antara rumahku dan rumahnya cukup berjauhan. Hingga akhirnya kita pun berpisahan di sini.


__ADS_2