Crush Of Love

Crush Of Love
putus


__ADS_3

(POV Randika)


Setelah kejadian itu, keseharianku menjadi kalang kabut tak beraturan. Aku merasa sangat kehilangan sosok Desyana. Tapi aku harus bagaimana, aku pun tak ingin kehilangan Cellyn.


Desyana adalah sosok yang mandiri dan juga humoris, sedangkan Cellyn dia adalah sosok yang manja dan selalu ingin aku berada di sampingnya. Aku bingung, aku sayang dan ak ingin kehilangan mereka berdua.


“Aa kenapa?”


“Ehhh kamu, Di. Udah lama ada di situ? Maaf ya aku gak sadar sama kehadiran kamu”


“Gapapa kok, Aa kenapa? Kok ngelamun gitu. Lagi ada masalah ya?”


“Enggak, lagi banyak fikiran aja”


“Cerita aja, a. Cerita sesama cowo siapa tau bisa bantu”


“Tapi jangan bilang-bilang ya”


“Iya”


“Jadi gini, aku di Bandung tuh punya temen deket cewek. Dan ternyata dia suka sama aku, tapi aku gak kasih jawaban sama dia. Nahh sedangkan kemarin waktu aku kesini, aku ketemu lagi sama temen waktu SMP, dan akhirnya kita pacaran. Terus nomor cewek yang deket sama aku di Bandung itu di blokir sama pacar aku. Nahh akubingung aku harus gimana, sedangkan aku gak mau kehilangan keduanya”


Hardi pun memijat pelipisnya dan memukul bahuku dengan cukup keras.


“A, jadi orang itu gak boleh egois. Harus bisa mikirin juga gimana perasaan orang lain”


“iya tapi gimana, aku juga bingung sama perasaan aku”


“Emang pacar aa yang di sini tuh siapa? Siapa tau aku kenal”


“Cellyn”


“Cellyn anaknya pak Somantri?”


“Iya”


“Ya ampun aa, aa harus tau Cellyn tuh bukan orang baik. Di sini tuh udah pada tau kalo dia sering ganti-ganti cowo. Bukan ganti-ganti pacar, tapi ganti-ganti teman tidur, dia kerjanya ngejual diri. Makanya rumahnya selalu sepi kalau pagi sampai sore, karna ramenya tiap malem.”


“Serius kamu? Tapi aku yakin Cellyn orang baik kok.”


“Hardi serius, a. Kalo ada gak percaya cek aja nanti malam, pasti banyak tamu yang datang ke rumahnya”


“Emangnya orangtuanya gak marah?”


“Gimana mau marah, toh orang tuanya aja dia buang. Terus orang tuanya tinggal di kampung seberang”


“Kamu gak becanda kan sama yang kamu ucapin tadi?”


“Ya enggak lah, ngapain juga bohong. Menurut Hardi, lebih baik aa putusin aja, terus aa jalin hubungan sama cewek yang di Bandung”


“Hmmm, nanti malem kamu mau temenin aku cek ke rumah Cellyn gak?”


“Boleh a”


***

__ADS_1


Langit sudah mulai menghitam, bulan pun sudah menampakkan keindahannya. Malam yang ditunggu pun akhirnya datang juga. Aku ingin memastikan apakan yang dikatakan Hardi itu benar atau hanya berbohong.


“Di, ayo sekarang aja. Udah jam delapan nih”


“ayok a”


“Awas ya kalo bohong”


“Enggaklah, kalo bohong nanti aku kasih seratus ribu. Tapi kalo ucapanku benar, aa harus putusin dia. Aku takut kalo keluarga kita tau kalo aa pacaran sama dia”


“Oke”


Ku lajukan motorku dengan cukup kencang.


“Pelan-pelan atuh a, takut jatuh”


“Tenang aja, aku udah ahli bawa motor”


“Santai aja a jalaninnya, takut masuk rumah sakit”


“Diem ah, anak laki kok penakut”


“Eh si aa dibilangin malah gitu”


Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, kita pun sampai di depan rumah Cellyn. Seketika aku pun terpelongo dibuatnya, ternyata yang diucapkan Hardi itu benar. Banyak sekali tamu pria yang mengantri di sana. Lima menit aku mengamati dan seseorang pun keluar dari rumah Cellyn, di sana pun terdapat Cellyn mengenakan pakaian yang sangat mini dan menggoda lalu menarik lengan salah satu lelaki yang sedang mengantri di sana untuk masuk ke dalam. Ku ambil beberapa jepretan foto untuk bukti.


“Di, kita pulang yuk udah malem. Biar besok aku selesaikan masalah ini dengan Cellyn”


“Gak sekarang aja, a?”


“Yaudah yuk kita pulang sekarang, tapi janji ya aa harus putus, kalo ketauan oragtua aa pasti aa juga baka kena marah”


“Iya”


***


Mentari sudah menghantarkan kehangatannya, tetapi aku masih membeku karena kejadian semalam. Ku ambil gawaiku dan mengirimkan pesan kepada Cellyn.


[Sayang, kita ketemuan yuk, di Cafe ABC]


[Iya boleh sayang, jam berapa?]


[Sekarang aja]


[Oke, aku siap-siap dulu ya terus aku langsung ke sana]


[Oke]


Aku pun bergegas mengganti pakaianku. Pakaian yang begitu rapi dan serasi tak lupa ku poleskan minyak rambut dan beberapa semprot parfum milikku. Setelah siap, aku pun pergi ke cafe tersebut.


Cafe yang begitu aestetik untuk berfoto tak lupa di sini pun terpasang WiFi gratis untuk di nikmati pengunjung yang datang.


Orang yang ku tunggu-tunggu pun akhirnya datang. Ia menggunakan dress selutut berwarna Wardah dengan bando yang berwarna serupa.


“Udah lama?” tanyanya sembari duduk tepat di hadapanku

__ADS_1


“Lumayan”


“Kok jutek sih, gak asik” ucapnya sembari menyilangkan kedua tangannya


“Terus yang asik itu gimana? Main di kamar?”


“Apaan sih gak jelas banget”


“Cellyn, aku mau kamu jujur”


“Jujur apa?”


Aku pun menyodorkan gawaiku yang sudah tertera fotonya semalam


“Coba kamu jelaskan!”


“Apa sih?” ia pun mengambil gawaiku, seketika matanya terbelalak dengan apa yang ia lihat


“Bisa kamu jelasin?”


“I.. inii..”


“Itu kamu dan para pelanggan kamu”


“Kata-kata kamu jahat banget sih Randika! Ini tuh gak seperti yang kamu bayangin!”


“Bayangin apa? Bayangin tubuh kamu dijamah banyak pria?”


*Plakk


Tiba-tiba Cellyn menampar pipiku


“Jaga omongan kamu ya!”


“Kita putus aja, Cell”


“Putus?  Gampang banget bilang putus”


“Aku gak mau menjalin kasih dengan orang sepertimu”


“Kamu yakin? Ahh iya, mungkin kamu meminta putus karena kamu belum aku beri jatah?”


“Aku bukan lelaki yang mau menjamah tubuh wanita yang bukan istriku”


“Jangan sok alim! Aku tau kamu juga tergoda bukan? Kalo gitu ayo sekarang kita ke rumahku. Kita bermain disana” ucap Cellyn sembari menarik lenganku


“Gak usah. Kita putus aja. Kami sama aku gak cocok” ucapku sembari menepis tanganku dan berlalu pergi dari area cafe


“Dasar tukang bengkel aja belagu!” teriaknya


Sungguh tak habis fikir, bisa-bisanya aku menyukai seseorang seperti Cellyn. Itu adalah hal yang sangat memuakkan. Aku merasa bersalah atas semua perlakuanku terhadap Desyana. Aku harus meminta maaf padanya, tapi apa mungkin Desyana akan memaafkan kesalahanku? Pokoknya apapun keputusannya nanti, aku harus minta maaf terlebih dahulu.


Aku harus meminta maaf secara langsung pada Desyana, semoga saja ia mau menerimaku kembali. Walaupun aku sudah bersikap bodoh dan egois, tetapi aku masih berharap lebih pada Desyana.


Aku pun kembali pulang ke rumah dengan penuh rasa sesal dan bersalah, karena sudah terkecoh dengan perasaanku. Membiarkan orang yang benar-benar mencintaiku terluka. Aku salah besar tapi aku masih memiliki pengharapan walaupun itu erlihat memalukan.

__ADS_1


__ADS_2