Crush Of Love

Crush Of Love
sepulang dari jogja


__ADS_3

Sungguh melelahkan sekali, tapi aku sangat menyukainya. Liburan kemarin cukup membuatku semangat untuk segera memulai bekerja di restoran mama. Sepertinya, besok aku akan meminta mama untuk mengantarkan ku ke sana. Aku ingin mama memperkenalkanku sebagai penggantinya di restoran yang satu itu.


Ku lihat mama sedang duduk di sofa sembari menonton televisi, aku pun menghampirinya.


“Ma, aku mau mulai masuk di restoran mama besok boleh?”


“Besok? Kamu serius?”


“Iya ma, rasanya bosan jika aku terus diam di rumah menjadi Pengangguran”


“kalau itu mau kamu, boleh kok”


“Asli ya maa*


“Asli dong sayang, nanti besok mama akan perkenalkan kamu sebagai pengganti mama di sana”


“Makasih ya maa”


“Sama-sama. Hmm kok kamu bau asem sih? Anak gadis harusnya wangi, rajin mandi. Sana mandi!” ucap mama sembari mendorongku


“Hehehe, iya ini juga mau mandi kok ma, tadi kan Desyana mau laporan dulu ke mama kalo besok Desyana mau mulai kerja”


“Terserah kamuu.. cepetan mandi sana, jangan jorok! Kalo jorok nanti jodohnya om-om”


“Yaelah maa.. ya gak apa-apa kali jodohnya om-om, asal om-omnya kek Hyun Bin”balasku dengan cengengesan


“Huhh dasar, dibilangin malah jawabnya kayak gitu”


***


Setelah selesai mandi, ku buka gawaiku. Dan di sana tertera pesan dari seseorang.


[Udah pulang ya? Mana sini oleh-olehnya kirimin] pesan dari seseorang yang berada di sebrang sana yang tak lain adalah Randika


[Iyaa.. nanti aku kesana, ini juga baru selesai mandi]


[Lahhh, kebiasaan! Jam segini baru mandi]


[Suka-suka aku lah! Kok kamu yang heboh sih]


[Yaa bukannya begitu, De. Harusnya dari tadi pagi udah bersih-bersih, beres-beres rumah, masak. Lah kamu dari tadi ngapain? Jam segini baru mandi. Anak cewe tuh harus gesit, biar nanti gak dimarahin mertua kalo udah nikah]


[Apa sih Ka. Lagian siapa juga yang pengen nikah, aku pengen hidup sendiri aja biar gak ribet.]


[Husss.. gak boleh gitu, De. Emang kamu mau jadi perawan tua?]


[Ya bodo amat]


[Udah ah, mau dandan dulu. Ntar tunggu aja di tempat biasa] terus ku


[Oke, ditunggu ya]

__ADS_1


Aku pun bergegas mendandani wajahku yang imut ini. Tak lupa aku juga memakai kemeja kotak-kotak berwarna mocca dengan paduan celana highweits hitam dan juga kerudung mocca. Tak lupa aku pun memakai beberapa semprotan parfum. Oleh-oleh pesanan Randika pun segera ku kemas, disana terdapat baju Malioboro, brem, bakpia jogja, tak lupa juga dengan keripik belut.


Ku lajukan sepeda motor milikku. Ketika aku sudah sampai disana, ternyata belum ada Randika. Aku pun segera menghubunginya.


[Di mana sih? Aku udah ada di tempat]


Selang beberapa waktu, Randika pun membalas


[Oke, aku segera ke sana. Tunggu bentar]


Beberapa saat kemudian, ku lihat Randika sedang menuju ke arahku.


“Maaf ya lama”


“gapapa, tenang aja. Nihh pesanannya”


“Makasih ya,oiya kamu mau mampir dulu ke rumah?”


“Enggak. Aku lagi ada urusan”


“Urusan apa?”


“Skincare sama make up aku mulai menipis, jadi aku mau beli”


“Jadi itu urusan yang kamu maksud?”


“Ya iya lah, terus apa lagi?”


“Wokee.. bye bye” ucapku sembari melambaikan tangan


***


Pagi yang dinanti pun akhirnya tiba. Aku memakai baju kemeja berwarna hijau Sage berbalut jas berwarna hitam. Tak lupa aku pun menenteng sebuah tas berwarna hijau Sage agar menambah keserasian.


“wahhh, cantiknya anak mama”


“Cantik dong, kan mamanya juga cantik”


“Kita berangkat yuk mah” pintaku


“Iya bentar lagi ya sayang. Biar nanti kita diantar sama ayah”


“Iya deh ma”


“Sambil nunggu ayah siap-siap, lebih baik kita sarapan dulu yuk. Mama sudah masakin Sop buntut kesukaan kamu”


“Siap Bu bos tercinta. Hmm wanginya aja udah menggoda” ucapku sembari menuju meja makan


Sungguh masakan seorang ibu memang tidak ada duanya. Meskipun banyak makanan enak di luaran sana, tetap saja makanan buatan seorang ibu adalah yang terbaik karna ia memasaknya dengan cinta dan kasih sayang.Aku sangat bersyukur mempunyai orang tua hebat nan penyayang.


Tak lama setelah selesai makan, ayah pun keluar dari kamar.

__ADS_1


“Udah siap? Yuk kita berangkat sekarang” ajak ayah


“Udah ayah, udah dari tadi malahan”


“Cantiknya putri kesayangan ayah” sembari mengelus kepalaku


“Ah ayah biasa aja kali”


Kita pun bergegas berangkat menuju tempat tujuan. Sesampainya di sana, mama pun mulai mengenalkan ku pada seluruh pegawai yang ada disana. Kini aku mengambil alih segalanya di sana.


Aku pun memasuki ruang kerja ku. Disana terdapat banyak sekali dokumen-dokumen penting restoran milik mama. Kulihat, ku baca satu persatu dengan saksama. Dan ternyata semuanya aman-aman saja, tidak ada satupun hal yang janggal, entah itu dari pemasukan ataupun dari pengeluaran.


Ketika aku berjalan untuk menyusuri tiap inci restoran, ku lihat ada Bu Yepi beserta keluarganya di sana. Ku alihkan pandanganku agar mereka tak melihatku. Namun ternyata dugaan ku salah, tiba-tiba yu Yepi sudah berdiri di belakangku.


“Desyana?” panggilnya


“Iya, Bu. Apa kabar?” basa-basiku


“Alhamdulillah baik.oh iya Desyana, kalau bisa kamu kembalilah ke toko” pintanya


“Loh, kenapa Bu?”


“Ternyata waktu itu ada orang yang memfitnahmu. Dia adalah Casandra, anak ibu sudah memastikan itu semua. Kalau bisa kamu kembali ya Desyana”


“Hmm maaf Bu, sepertinya tidak bisa, karna sekarang aku sudah mulai bekerja di sini”


“Ibu kira kamu mau masih bekerja dengan ibu” lirihnya


“Maaf Bu, sekarang saya sudah punya tanggung jawab lain”


“Kamu disini kerja bagian apa? Kok pakaian kamu rapi?” tanyanya penuh selidik


“Aku disini sebagai pemimpin dan pemilik restoran ini, karna restoran ini milik mama saya” balasku tak lupa dengan senyuman.


“Restoran ini milik mama kamu? Terus kenapa kamu malah mencari pekerjaan di tempat orang lain?” ucapnya penuh tanda tanya


“Karna saya tidak ingin ketergantungan bertumpu pada orang tua saya, karna saya ingin mandiri. Tapi sepertinya akan lebih baik jika saya mengambil alih restoran mama saya”


“Ohh gitu, selamat sukses ya Desyana. Maaf waktu itu saya tidak mempercayaimu.”


“Iya tidak apa-apa Bu. Lagian itu sudah lama berlalu. Sekarang saya akan belajar membuka lembaran yang baru.”


“Saya permisi ya, Bu” sambungku


“Iya silakan”


Aku pun pergi meninggalkannya. Suasana kerja yang baru, teman baru, lingkungan baru, aku akan mencoba beradaptasi dengannya. Memang bukan perkara yang mudah, namun jika dilalui dengan sepenuh hati pasti semua akan menjadi menyenangkan.


Koki disini cukuplah menarik dan kreatif, bagaimana tidak, jika ada pembeli dengan pesanan yang tidak ada di menu, menurutnya itu tidak jadi masalah asalkan bahan yang diperlukan untuk membuatnya tersedia.


Begitupun dengan kasir yang ada, dia begitu ramah pada pelanggan, sehingga banyak sekali yang memilih makan di sini karena pelayanannya yang baik dan berkualitas.

__ADS_1


__ADS_2