Crush Of Love

Crush Of Love
tiba-tiba mengabari


__ADS_3

Apapun pendapat Desyana tentangku nanti, yang pasti saat ini aku akan menghubunginya.


Ku tarik ponsel yang berada tepat di sampingku, lalu aku mencoba mengirimkan beberapa pesan teks padanya.


[Apa kabar, Sya? Kamu baik-baik saja kan?]


[Boleh gak kita ketemu sebentar aja]


[Aku pengen ngomong sama kamu]


Beberapa pesan tersebut telah aku kirimkan, aku sangat berharap Desyana mau membalasnya atau hanya sekedar dibaca pun tak apa.


Sepertinya aku memang salah satu manusia tak tau diri. Bagaimana aku bisa disebut manusia jika kesalahan fatal telah ku perbuat tapi aku masih berharap orang yang aku sakiti mau memaafkan ku.


“Sya, aku sayang kamu. Tolong maafkan aku, aku tidak akan pernah mengulang kesalahan yang sama, kamu percaya aku kan?” lirih batinku


Aku mengacak rambutku, bagaimana Desyana bisa mempercayaiku sedangkan aku sendiri yang menghancurkan kepercayaan Desyana padaku.


Ku tatapi langit-langit kamarku sembari berharap pada sebuah ketidak pastian. Berharap ia dapat menjadi temanku kembali saja sepertinya akan membuatku sangat bahagia, tak apa jika tak bisa memiliki asalkan ia bisa kembali seperti semula.


(POV Randika end)


***


Waktu yang ku tunggu sedari tadi pun akhirnya tiba. Aku akan segera turun ke lantai bawah dan mengingatkan mama agar segera bersiap karena aku sudah tidak sabar untuk berjalan-jalan sekaligus berbelanja di mall.


“Ayoo maa, cepet. Anak mama udah siap nihh, udah gak sabar mau belanja”


“Iya tunggu sebentar yaa” sahutnya di kamar sana


Tiba-tiba terdengar suara laki-laki dari arah belakang


“Pada mau kemana sih? Tumben anak ayah jam segini masih rapi aja”


“Mau jalan-jalan dong ayah, sama mama. Sekalian belanja” balasku


“Gak ngajak ayah nih?” tanyanya sembari menyilangkan tangan


“Ya enggak dong, kan ayah bagian jaga rumah, takut rumahnya ada yang ambil, hehehe”


“Yaudah deh gapapa, tapi jangan lupa beliin ayah hadiah ya?”


“Siap bos”


Tak lama setelah aku berbincang dengan ayah, mama pun keluar dari kamarnya.


“Wahh mama cantik banget, pantesan ayah tergila-gila sama mama” pujiku


Namun ayah malah membantah perkataan ku


“Bukan ayah yang tergila-gila, tapi mama yang tergila-gila sama papa. Papa kan ganteng” ucap ayah sembari mengusap rambutnya


“Dasar GR, lagian kan ayah yang suka sama mama, mama kan ya mau-mau aja jadinya”


“Udah ah, nanti aja ributnya. Sekarang kita berangkat yu ma. Biar gak kemalaman pulangnya.”


“Yaudah ayo”

__ADS_1


Aku pun pergi keluar rumah sembari menggandeng tangan mama. Kulihat ayah hanya menggeleng-gelengan kepalanya melihat kelakuan kita berdua.


Setelah itu, kami menaiki mobil dan mama ku lah yang menyetirnya. Ketika kita sedang asyik bernyanyi di dalam mobil, handphoneku seketika bergetar. Terlihat disana terdapat pesan dari Randika.


[Apa kabar, Sya? Kamu baik-baik saja kan?]


[Boleh gak kita ketemu sebentar aja]


[Aku pengen ngomong sama kamu]


Entah apa yang ingin dia katakan, yang pasti aku masih tak ingin menemuinya.


[Maaf Ka, aku sibuk. Lain kali saja]


Kurang lebih seperti itu balasan dariku, aku pun mematikan ponselku dan menyimpannya kembali ke dalam tas selempangku. Tak perlu waktu lama, akhirnya kamipun sampai di sebuah mall di kota Bandung.


Ku jelajahi tiap inci mall tersebut, dari lantai bawah menuju lantai atas. Mama membawaku menuju tempat pakaian, disana mama memilihkan ku beberapa dress dan juga beberapa setelan.


“Mama mau aku pakai semua ini?”


“Iya, emangnya kenapa? Masih kurang? Nanti mama pilihkan lagi”


“Enggak, enggak, ini udah banyak banget ma”


“Ya gapapa, toh buat mama ini. Udah sana cepet cobain”


Aku pun mencobanya satu persatu, dan ternyata semua yang dipilihkan mama Dangan cocok dan pas di badanku.


“Udah ma, semuanya cocok dan pas.”


Kami pun membayar semua barang yang sudah dipilih dan membayarnya.


“Mama kenapa gak beli sekalian? Kok Cuma beli buat aku aja?”


“Ya gapapa. Mama nanti aja belakangan”


Mama dan aku pun kembali menyusuri tempat tersebut. Setelah kesana dan kemari membeli pakaian, tas, sepatu, akhirnya aku pun merasa lapar. Dan mengajak mama untuk pergi ke sebuah restoran yang berada di mall tersebut.


“Ma, kita makan yuk. Aku laper, makan di restoran itu aja ma. Kayaknya enak”


“Yaudah ayo, lagian mama juga udah laper”


Belum sampai di tempat yang kita tuju, seseorang menabrak mama dari arah samping.


*Brakk


“Aw”mama pun sedikit terjatuh


“Mama gak apa-apa kan?”


“Kalo jalan hati-hati dong biar gak nabrak orang” ucapku pada orang yang menabrak mama


“Saya minta maaf, gak sengaja”


Ingin rasanya aku memarahinya, namun ketika mama kembali berdiri, hal yang membuatku bingung terjadi.


“Ranti?” ucap mama

__ADS_1


“Shilvi?” balas orang tersebut


Merekapun saling berpelukan, seolah sudah lama tak saling bertemu.


“Kamu apa kabar? Udah lama gak ketemu, oh iya gadis ini siapa?” tanyanya sembari melirik ke arahku


“Alhamdulillah baik. Ini anak aku” balas mama dengan penuh senyuman


“Ohh anak kamu, cantik ya percis mamanya. Kayaknya seumuran sama anak aku”


“Oh ya? Anak kamu laki apa perempuan?”


“Anak aku satu laki-laki satunya lagi perempuan. Hmm aku lagi buru-buru nih, lain kali kita ketemu ya. Oh iya, aku minta nomor telepon kamu biar kita bisa saling terhubung”


“Ide bagus, kita harus saling ketemu. Karena aku rindu kamu”


Mama pun saling bertukar nomor dengan orang tersebut. Tak lama setelah itu ia pun pergi meninggalkan kita berdua.


Setelah itu, kami pun kembali melanjutkan berjalan menuju restoran. Setelah sampai, aku dan mama bergegas mencari meja yang kosong. Pelayanpun menghampiri.


“Mau pesan apa mbak?”


“Spagetthi chicken dua sama orange jus dua”


“Tunggu sebentar ya”


Ketika aku dan mama sedang menunggu pesanan, aku merasa kebelet ingin membuang sesuatu.


“Ma, aku ke toilet dulu ya”


“Jangan lama-lama”


“Iya mama, lagian mau apa lama-lama”


Aku bergegas pergi ke toilet Karena sudah tidak tahan. Setelah itu aku merasa lega dan plong. Kembali ku hampiri mama yang masih menunggu pesanan. Namun, kala itu aku pun tak sengaja tertubruk oleh seseorang hingga membuatku hampir terjatuh.


“Maaf ya mba, gak sengaja. Soalnya lagi buru-buru”


“Iya gak apa-apa, tenang aja”


Ketika ku lihat wajahnya, aku terkejut karena orang tersebut adalah Shandi. Orang yang pernah kutolak cintanya waktu itu.


“Shandi?”


“Lohh, kamu Desyana kan?”


“Iya”


“Apakabar? Udah lama gak ketemu, kamu makin manis aja”


“Haha dasar kamu ya, masih aja sama kayak dulu”


“Ngomong-ngomong kamu disini sama siapa?”


“Sama mama aku, lagi pesen makan. Mau ikut?”


“Kalo boleh ya aku mau lah, siapa sih yang mau nolak tawaran dari seorang Desyana?” ucapnya genit sembari mengedipkan sebelah mata

__ADS_1


__ADS_2