
Sepertinya lelaki jujur yang ada di dunia ini hanya ada satu berbanding sembilan. Sulit sekali untuk di tebak dan sulit sekali untuk dicari.
Jika memang sudah memiliki tambatan hati, apa salahnya berkata jujur? Dari pada terus di sembunyikan dan pada akhirnya tetap saja akan ketahuan. Jika jujur di awal mungkin perasaanku tak akan terasa se sakit ini.
Apa karena rasa kasihan dia memilih untuk bungkam dengan isi hatinya. Perbuatan seperti itu justru lebih terasa menyakitkan ketika aku mengetahui hubungannya memalui orang lain, apalagi dari langsung dari kekasihnya.
Perasaanku kacau, hatiku hancur, semuanya berantakan tak beraturan. Kenapa harus ada harapan-harapan palsu yang ia suguhkan, dari awal memang aku tak menyetujui perihal hubungan yang digantung harus berjalan sesuai dengan arusnya.
Perasaanku saat ini sangat sulit untuk aku gambarkan, rasanya benar-benar tak punya harapan. Pertama kali aku jatuh cinta dan pertama kali juga aku merasa kecewa dan sakit sejadi-jadinya.
***
Tokk.. tokk.. tokk..
“Sayang kamu kenapa? Dari pulang kerja kok ngiring diri di kamar?” Teriak ayah sembari mengetok pintu kamarku
“Gapapa kok ayah”
“Kenapa suaranya lemes gitu? Kamu sakit? Ayah bawa kamu ke dokter ya”
“Gausah ayah, aku mau istirahat aja”
“Tapi yakin kan kalo kamu gak kenapa-napa?”
“Gak kenapa-napa, ayah gak usah khawatir”
“Kalo gitu ayah ke bawah lagi ya, mau bantu mama masak di dapur”
“Iya”
Perlahan suara langkah kaki menjauh dari kamarku, itu tandanya ayah sudah pergi ke lantai bawah. Aku pun kembali menangis namun tak terdengar suara. Ku lihat layar handphoneku, disana sudah tertera beberapa pesan dari Randika.
[Sya]
[Sya, kamu pasti salah paham]
[Sya, tolong balas pesanku]
[Kamu baik-baik saja kan?]
[Tolong balas, dan aku akan jelaskan]
[Please, balas Sya]
Aku pun membalas pesannya walaupun perasaanku masih terasa hancur
[Apa? Apa yang mau kamu jelasin, hah?]
__ADS_1
[Jangan marah dulu, biar aku jelasin]
[Jelasin apa? Beberapa hari gak ngasih kabar, taunya malah pacaran. Enak ya pacaran gak ada yang ganggu]
[Tenang dulu, Sya. Gak kayak gitu ceritanya]
[Kalo gak kayak gitu terus gimana? Enak yaa disana mesra-mesraan, yang disini dibikin sakit]
[Sya, tolong...]
[Tolong apa? Kenapa kamu gak jujur aja sih dari awal? Kalo kamu udah punya tambatan hati? Kalo kamu jujur, aku bisa mundur perlahan-lahan]
[Enggak, Sya. Kamu salah paham. Dia bukan pacar aku]
[Kalo bukan pacar terus apa? Orang dia sendiri yang bilang kalo dia pacar kamu]
[Sya, dia bukan pacar aku. Aku Cuma bantuin dia di detik terakhir hidupnya]
[Bantuin apa, hah?]
[Mamanya dia minta aku jadi pacar bohongannya dia. Dia punya penyakit kanker stadium akhir, dan hidupnya udah gak lama lagi. Mama papanya pengen aku jadi pacarnya sampai di penghujung hidupnya. Katanya dia suka sama aku sejak SMA, dan mama papanya pengen lihat dia bahagia di detik-detik terakhirnya]
[Terus kamu mau gitu? Kamu gak ngertiin perasaan aku banget ya!]
[Aku juga gak mau, tapi orangtuanya itu sahabat mama aku. Jadi susah buat nolak]
[Bukan alasan, itu faktanya Sya. Tunggu aku pulang ke sana ya]
[Terserah]
[Jangan ngambek. Lagian itu Cuma pura-pura]
[Terserah kamu aja]
[Udah ah jangan marah, cepet tidur udah malem]
[Ya]
[Uuuuh yang cemburu]
[Terserah]
Aku melempar ponselku ke sembarang arah, lalu tertidur dengan selimut menutupi seluruh tubuhku.
***
(POV Randika)
__ADS_1
Aku harus bisa menenangkan hati Desyana. Aku sayang dia, meskipun aku masih memiliki perasaan terhadap Cellyn. Cellyn adalah cinta pertamaku saat SMP dan sekarang aku memiliki peluang untuk memilikinya, karena ternyata dia pun memiliki perasaan yang sama terhadapku.
Aku ingin menyembunyikan hubungan ini, namun tak disangka Desyana malah menelpon ku dan Cellyn yang mengangkat telponnya.
Malam ini aku akan menghubungi Desyana agar tidak marah padaku, meskipun aku harus berbohong padanya. Awalnya aku merasa ragu, tapi sepertinya Desyana akan percaya dengan semua ucapanku.
Meskipun hatiku juga sedikit terluka karna harus berbohong pada Desyana, namun apa yang bisa aku lakukan, aku pun tak ingin kehilangan dirinya.
Aku memang egois, mementingkan perasaanku sendiri tanpa mau mengetahui perasaan orang yang berada di sekitarku, tapi mau bagaimana lagi, semuanya sudah terlanjur seperti ini.
(POV Randika end)
***
Pagi kembali menyapa, dan rasanya hari ini aku tak ingin masuk bekerja.
“Sayang, kok matanya sembab gitu?” tanya mama
“Gapapa kok ma”
“Kayak habis nangis, kamu nangis? Kenapa? Siapa yang bikin anak ayah nangis?”
“Enggak, ayah. Aku udah nonton drama Korea yang ceritanya sedih banget, jadi gak sengaja deh aku nangis”
“Bukan karna cowok itu kan?” tanya mama penuh selidik
“Cowok siapa ma?” tanya ayah
“Beberapa hari yang lalu anak kita ini diantar sama cowo, katanya sih Cuma temen”
“Sayang, apa kamu nangis karna cowok itu?” tanya ayah padaku
“Enggak, ngapain juga nangisin cowok, enggak banget deh. Udah ah aku mau ke belakang dulu bentar”
“Awas aja kalo ada yang berani bikin anak kesayangan ayah sama mama nangis, ayah pastikan orang tersebut jadi bubur.”
“Iya ayah, lagian siapa sih yang berani bikin nangis anak ayah. Udah ah jangan bahas. Desyana mau ke belakang dulu, mau kasih makan ikan”
Ketika ku lemparkan pakan ikan, ikan-ikan yang berada di kolam pun langsung menyantap pakan tersebut dengan lahap.
Kadang aku berfikir, kenapa aku terlahir sebagai manusia? Kenapa aku tidak terlahir sebagai udara saja, setidaknya aku tidak akan merasakan luka di hati.
Ucapan Randika kala itu apakah itu benar? Atau semua itu hanya kebohongan? Jika itu benar, maka aku tak keberatan. Namun jika itu adalah kebohongan, kenapa ia bisa Setega itu? Apa yang kurang dari aku? Apa yang membuatnya sulit menyukaiku? Saling kenal selama dua tahun bukanlah waktu yang singkat. Kita sudah saling mengetahui satu sama lain.
Apakah tak ada satupun hal yang ia sukai dariku? Apakah selama ini pertemuan kita hanya didasari rasa gabut saja? Dann mungkinkah ia merasa terkulai harga dirinya karena aku yang menyatakan perasaan terlebih dahulu? Kenapa banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang bermunculan di kepalaku. Kenapa? Kenapa harus aku yang merasakan semua ini?.
Aku merasa pantas berada di sampingnya, tapi apakah baginya aku tak pantas untuknya? Canda tawa yang kita lalui apakah semua itu hanya angin lalu saja? Kenapa aku harus berada di posisi yang serba salah seperti ini.
__ADS_1
Aku ingin semua ini berakhir dengan damai, aku berharap Randika bisa memilih antara aku dan dirinya. Aku pun berharap semua hal yang aku lalui saat ini cepat berlalu, agar hatiku kembali pulih seperti sedia kala.