
Meski aku sudah memutuskan hubungan dengan Cellyn, entah mengapa ia terus saja menghubungiku. Hal itu sangat membuatku tak nyaman.
[Randika, jangan marah dong sayang. Jangan putus ya]
[Aku cinta kamu]
[Sayang]
[Bales dong]
[Aku tau kok, kamu tuh gak bener-bener pengen putus dari aku. Kamu pengen jatah dari aku kan?]
Karena pesan terakhir darinya membuatku marah, aku oun terpaksa membalasnya.
[Jaga omongan kamu ya! Kita udah putus gak usah hubungi aku lagi]
Aku pun memblokir nomor berikut dengan semua akun media sosialnya.
Sudah cukup lama aku tak mencari tahu kabar tentang Desyana. Jujur saat ini aku sangat merindukannya. Satu persatu ku buka blokiran akun media sosial maupun nomor teleponnya. Terlihat terakhir kali ia bermain media sosial pada saat terakhir kita chattingan.
Aku tahu, mungkin saat ini ia masih menyimpan luka dan rasa kecewa, mungkin ada baiknya jika saat ini aku tak menghubunginya terlebih dahulu. Aku ingin ia merasa tenang sebelum aku mulai menghubunginya kembali.
(POV Randika end)
***
Terdengar beberapa notifikasi dari teleponku, di sana terdapat beberapa pemberitahuan tentang Randika yang membuka blokiran pada semua media sosialku dan juga nomorku.
Entah apa yang akan ia lakukan selanjutnya, sepertinya perlahan aku harus bisa mencoba untuk tidak perduli padanya, meskipun aku rasa itu cukup sulit dilakukan tapi aku akan berusaha melakukannya.
Hari yang cerah, suasana yang indah berikut dengan laporan dari bagian manajemen resto yang menyebutkan bahwa pendapatan kita melonjak pesat membuatku merasa bahagia. Aku akan memberitahu mama jika aku telah cukup berhasil memimpin resto milik mamaku ini.
Saat ini aku hanya akan berfokus pada karirku terlebih dahulu dan juga aku ingin membahagiakan kedua orangtuaku yang hingga saat ini mereka masih mau menemaniku. Untuk perihal perasaan mungkin akan aku sampingkan terlebih dahulu.
Ada saatnya seseorang merasa gagal dan tak berdaya, namun saat itu juga akan ada jalan menuju kesuksesan yang akan membawa pada ruang kebahagiaan. Untuk saat ini ada baiknya aku menikmati waktuku untuk berbahagia dengan orang-orang yang berada di sampingku, karna mungkin suatu saat nanti aku akan merasa kesepian karena telah kehilangan mereka semua.
“mama,, ada kabar bagus nihh” kataku sembari memeluknya dari arah belakang
“Kabar bagus apa sayang?”
“Pendapatan resto kita melonjak pesat, maa”
“Wahh bagus dong”
“Iya maa, aku ternyata mampu untuk mengelola bisnis mama, ya”
__ADS_1
“Mama yakin dari dulu kalo kamu tuh pasti bisa”
“Kok mama bisa se yakin itu?”
“Mama pasti yakin, karena kamu anak mama”
“Aaaaa sosweett deh mamaku ini”
“nanti sore kita jalan ke mall yuk? Kita belanja”
“Siapp...”
“Uh dasar si paling semangat kalo diajak belanja” ucap mama sembari mencubit pipiku
“Pasti dong ma, namanya juga cewek. Ya pasti seneng lah kalo diajakin belanja”
“Maa, aku mau keluar dulu ya bentar mau beli kuota sekalian beli camilan” sambungku
“Iyaa, kalo gitu sekalian mama titip beliin bumbu-bumbu dapur ya, soalnya tinggal dikit lagi”
“Iya maa”
Di perjalanan terlihat beberapa pepohonan melambai-lambai padaku seolah memberi semangat, aku pun tersenyum dibuatnya. Tepat di depan sebuah mini market aku pun memarkirkan motorku.
Sesudah semua yang aku inginkan ku dapat, sekarang waktunya berseluncur ke pasar untuk membeli bumbu-bumbu dapur yang hampir habis.
Ku cari tempat yang menyediakan bumbu dapur yang lengkap. Ku jelajahi tiap langkah jongko yang berada di sekitarku, hingga pada akhirnya aku pun berhasil menemukannya.
“Mang, beli bawang merah sama bawang putih masing-masing seperempat, lengkuas jahe sama kencur masing-masing satu ons, kemiri seperempat, cabe rawit seperempat, cabe merah seperempat, daun salam, sereh, daun jeruk sama jeruk nipisnya seperempat ya”
“Iya neng”
“Oh iya mang jangan lupa sama ketumbar dan merica masing-masing satu ons”
“Iya, neng mau ada acara ya?”
“Enggak kok, mang. Cuma buat persediaan di rumah aja”
“Ohh gitu yaa. Hebat euy si neng tau bumbu-bumbu dapur, soalnya sekarang pada jarang anak gadis tau bumbu-bumbu”
“Ah si mang bisa aja”
“Ehh serius neng, kan jaman sekarang kalo mau makan gak harus ribet, tinggal delivery order aja”
“Wihh si mang tau yang begituan segala” ucapku sembari tertawa
__ADS_1
“Nihh neng udah mang bungkusin”
“Totalnya berapa mang?”
“seratus ribu aja neng”
“Nih mang uangnya” ku sodorkan uang dua lembar lima puluh ribuan
“Makasih ya neng”
“Iya mang, sama-sama”
Kembali ku lajukan sepeda motorku menuju rumah. Tepat di pertigaan jalan aku melihat Randika di sana. Aku pun mencoba untuk tidak menghiraukannya meskipun aku tau jika Randika pun menatap ke arahku.
Ku percepat laju motorku agar aku tidak kembali melihat wajahnya, ingin rasanya aku menangis karena masih terasa luka yang sempat ia goreskan. Namun sebisa mungkin aku harus bisa menahannya, agar orangtuaku tidak bertanya hal serupa padaku.
Perlahan ku ketuk pintu rumahku.
Tokk tokk tokk
“Assalamualaikum, mama aku pulang”
“Waalaikum salam, iya sebentar” balas mama sedikit berteriak
Mama pun membuka kan pintu untukku
“Ma, ini pesanan mama. Aku langsung ke kamar ya”
“Makasih sayang, iya boleh”
Perlahan ku naiki tangga, lalu memasuki ruang pribadiku, tak lupa setelah masuk akupun langsung menguncinya.
Aku pun duduk lemas di tepi ranjang, melihat wajah Randika membuatku mengingat lagi perlakuannya padaku. Aku berharap semua yang terjadi padaku adalah sebuah mimpi, namun aku tak bisa mengelak bahwa semua itu adalah nyata.
***
(POV Randika)
Ketika aku sedang berada di pertigaan jalan, ku lihat Desyana pun sedang berada di sana. Sepertinya ia sudah berbelanja karena di motornya terdapat beberapa kantung plastik. Aku melihat ia melirik ke arahku, namun ia tidak menghiraukan keberadaan ku.
Apakah Desyana semarah itu? Hingga melihatku saja ia tak ingin bertegur sapa. Aku sadar aku sudah salah besar, tapi apakah aku sudah tidak memiliki ruang untuk berada di hatinya lagi, aku memang bodoh karena tidak mengakui perasaanku, perasaan yang sebenarnya akupun menyukai dan mencintai Desyana.
Aku terlalu bodoh karena terlalu mengikuti obsesi ku untuk memiliki seseorang yang sebenarnya tidak perlu aku inginkan. Karena orang yang aku inginkan sebenarnya adalah Desyana. Meminta maaf adalah salah satu jalan terbaik. Sekarang aku harus meminta maaf padanya, meski lewat media chatting, aku harus melakukannya. Karena tak mungkin aku meminta maaf secara langsung padanya, memalui perantara adalah cara terbaik menurutku.
Aku ingin Desyana kembali bersikap seperti semula, aku rindu dia dan semua tingkah yang ada pada dirinya. Ku harap ia memaafkan dan dapat kembali padaku.
__ADS_1