Crush Of Love

Crush Of Love
kena mental


__ADS_3

Semenjak aku memulai karirku di sini, banyak sekali hal yang tak terduga terjadi. Seperti halnya bertemu mantan bos, ketemu mantan pacar, dan sepertinya hari ini aku akan bertemu dengan manusia yang tidak tau diri.


Manusia yang sudah mencoba mencemari nama baikku dengan cara memfitnahku, kini ia tengah masuk ke dalam singgasana restoran ku. Ku lihat ia datang bersama temannya. Terlihat sekali mereka tertawa lepas tanpa ada rasa bersalah di benaknya.


Ku hampiri mereka, tak lupa sembari ku sunggingkan sebuah senyuman.


“Hello, Casandra. Apa kabar?”


Salah satu temannya pun bertanya


“Casandra, apa kamu kenal dia”


“Ohh dia, dia dulu yang pernah nyuri di toko tempat kerja itu” ucapnya dengan tatapan angkuh


“Oh ya? Bukannya kamu ya yang sengaja simpan uang itu di loker aku. Lagian Bu Yepi udah ceritakan semuanya, karna Rasya sudah mencari tau penyebabnya. Maka dari itu kamu di pecat bukan?” balasku


“Casandra apa itu benar? Kok kamu jahat sih” timpal salah satu temannya


“Yah enggak lah, jangan percaya sama orang ini. Semua ucapannya dusta”


“Kamu takut kehilangan temanmu, hah? Kamu takut teman-temanmu tau bahwa kamu memiliki hati yang busuk?”


“Apaan sih!! Udah lah bikin bete aja!! Kamu ngapain ada di sini, hah? Pake baju rapi segala, sekarang kerja di sini?” tanyanya dengan penuh selidik


“Mau dimana pun aku bekerja, apa masalahnya?”


“Jadi pelayan aja belagu! Aku laporin papa aku baru tau rasa!”


“Papa yang mana ya? Apa hubungannya? Gak jelas banget”


“Ya papa aku lah, papaku  manager di restoran ini”


“Oh ya? Coba panggil”


“Kamu!!! Nanti dipecat baru tau rasa!”


“Silakan! Silakan berbuat sesukamu seperti saat aku bekerja di toko dulu” ucapku sembari melipat kedua tanganku


Casandra pun mulai menghubungi papanya. Setelah selesai menghubunginya, ia pun tersenyum dengan penuh kemenangan.


Tak lama setelah itu, terdengar suara hentakan kaki dari arah sebelah kiri ku.


“Ada apa Casandra? Jangan buat keributan di tempat kerja papa”


“Ini loh pa, dia yang mulai. Pecat aja pegawai baru ini” ujarnya sembari menunjuk ke arahku. Dan seketika lelaki tersebut menatap ke arahku, namun dari sebelah kanan, datang seorang wanita berwibawa yang tak lain adalah mamaku.


“Siapa yang pecat siapa, hah?” ucap mamaku dengan lantang


“Eh, Bu shilvi. Maafkan saya Bu, atas kelancangan anak saya kepada putri ibu.”


Sontak Casandra pun kembali menatapku dengan tatapan heran.

__ADS_1


“Putri ibu?” ucapnya dengan penuh tanda tanya


“Ya. Desyana adalah putri saya.” Balas mamaku


“Oh iya ma, dia ini yang sudah memfitnahku sebagai pencuri di toko tempat aku dulu bekerja.” Jelasku pada mama


“Casandra! Apa benar ya diucapkan oleh nona Desyana?”


“ehmmm iya pa” jawab Casandra dengan menundukkan wajahnya


“Bu, nona, saya minta maaf atas kesalahan anak saya”


“maaf ya, pak. Tidak semua permasalahan bisa diselesaikan dengan kata maaf. Perbuatan anak bapak ini adalah hal yang tidak baik. Bagaimana tidak, ia bisa dengan leluasa memfitnah orang dengan tanpa salah. Apakah bapak tidak mengajarinya hal yang baik?” ucapku pada Pak Anton


“Sekali lagi saya minta maaf, Nona”


“Mohon maaf pak, karna kesalahan anak bapak, dengan terpaksa bapak harus berhenti bekerja di tempat saya, sebagai ganti dari ulah anak bapak. Untuk masalah pesangon nanti diurus oleh bagian admin.” Ucapku sembari membawa mamaku ke ruangan.


***


Sedangkan di sebrang sana terdapat orang yang sedang marah-marah.


“Maafin Casandra pa.. Casandra gak tau kalo Desyana itu anak dari pemilik restoran itu” lirihnya


“Lihatlah karna ulahmu, papamu ini dipecat”


“Ya papa mohon aja sama Bu Shilvi biar papa di terima lagi kerja di sana”


“Gak bisa. Karna sekarang restoran sudah diambil alih oleh anaknya. Lagian kamu kenapa harus bersikap bodoh dengan memfitnah orang sih? Itu hal yang buruk, Casandra.”


“Ya mungkin itu karna kamu yang salah”


“Pokoknya aku benci dia. Dan aku gak mau tau pokonya papa harus kembali dapat pekerjaan”


“Papa gak pernah mengajarkan hal buruk kepadamu Casandra. Apa ini karna didikan mamamu, hah?”


“Gak usah salahin mama!”


“Terus papa salahin siapa hah? Punya anak gak tau diuntung!”


“Aku juga benci sama papa! Gak pernah ada waktu buat keluarga!”


“Hey!! Papa sibuk karna cari uang buat kalian!”


“Tapi sekarang papa kehilangan pekerjaan kan?”


“Itu semua kan karena kamu, Bodoh!”


“Kenapa salah aku! Pokonya yang terjadi sama papa adalah kesalahan papa!”


“Dasar anak gak tau diri!!”

__ADS_1


*Plakkk


“Pspa jahat?” Casandra pun berlari ke kamarnya dengan tangisan


“Lihat saja Desyana, aku akan membuatmu hancur se hancur-hancur ya!” batin Casandra


***


Keesokan paginya, terdengar ricuh di area depan restoran. Aku pun bergegas untuk memastikannya. Terlihat dua satpam memegangi seorang gadis yang sedang marah-marah di arena tersebut.


“Desyana, kau bajingan! Bisa-bisanya kamu memecat papaku dengan mudah! Kau tau, dia sudah bekerja di sini selama dua puluh tahun. Bagaimana kamu bisa memecatnya hanya karna kesalahan kecilku, hah?”


“Kesalahan kecil? Coba kau bercermin Casandra. Kesalahan apa yang sudah kau buat? Tapi kau sepertinya tidak mengerti dengan kesalahanmu jika kesalahanmu adalah hal yang fatal.”


“Persetan dengan kata kesalahan! Aku minta kau telpon papaku, dan minta lagi dia kembali bekerja di sini!”


“Enak saja! Kau fikir ini reatoranmu, begitu?”


“Kauuuu!”


“Kau apa, hah? Kami datang kesini dengan marah-marah membuat suasana menjadi tidak kondusif dan sekarang kamu minta saya pekerjakan kembali papamu tanpa sadar kesalahanmu?”


“Aku akan membuatmu hancur Desyana, lihat saja”


“Silakam kamu berbuat sesukamu. Tapi ingat, bahwa aku bisa menjebloskanmu ke penjara atas dasar pencemaran nama baik waktu itu'


“Oohh kamu dendam dan ingin membawaku ke penjara?”


“Kamu memang tipe manusia gak tau diri Casandra”


“Lihat saja Desyana, jika papaku tidak kembali bekerja aku pastikan kamu membayar semuanya!”


“Silakan. Sama sekali aku tidak takut dengan ancaman murahanmu itu”


“Pak, tolong seret dia ke luar. Jangan biarkan dia kembali masuk ke sini” sambungku


“Baik, Bu.”


Ketika mereka membawanya, aku pun kembali masuk ke dalam. Seketika handphone ku berdering.


[Hai Bu bos, udah lama gak main. Nanti malem sibuk gak? Kalo enggak kita jalan yuk. Biasalah cari angin. Kalo sibuk gak papa, gak usah]


[Nanti malem? Hmm boleh lah]


[Serius nih? Ya udah deh nanti jam delapan malem aku jemput ya?]


[Oke sip. Tapi bajunya samain ya. Celana item kaos putih]


[Siap. Apa sih yang enggak buat Bu Bos]


[Aku tunggu jemputan ya]

__ADS_1


[Siap]


Kurang lebih seperti itu pesan dari Randika. Ia mengajakku jalan untuk sekeran ngobrol atau pun jajan sembari berkeliling mengitari area rumahku.


__ADS_2