
Akhir-akhir ini aku sama sekali tidak mendapatkan chatt atau pun telpon dari Randika. Itu semua cukup membuatku sedikit sedih dan kecewa. Apakah mungkin ia akan membenci dan tak ingin mengenalku lagi? Ahh, tindakanku saat itu mungkin sangatlah bodoh.
Ku pandangi terus layar ponselku berharap ada satu notifikasi dari dirinya, namun itu semua hanya akan menjadi anganku saja.
“Desyanaa” teriak mama dari lantai bawah
“Desyanaaa.. kenapa belum turun ke bawah? Apa kamu gak akan berangkat kerja? Ini sudah siang” sambungnya
Ku hampiri mamaku yang berada di ruang tengah,
“Mamaa.. kayaknya anak mama yang imut ini gak bakalan masuk kerja, gapapa kan? Soalnya lagi gak enak badan” balasku dengan ucapan manja
“Gak enak badan kenapa? Kalau kamu beneran sakit mending langsung periksa dokter aja ya”
“Enggak maa, gak usah periksa ke dokter, Desyana Cuma butuh istirahat aja ntar juga pulih kok”
“Yaudah kalo gitu kamu sarapan dulu, udah itu kamu istirahat aja di kamar yaa.. oh iya, mama juga bentar lagi mau keluar sebentar. Mau kumpul sama ibu-ibu arisan sekalian mau belanja buat masak di rumah. Gapapa kan anak mama di tinggal sendiri?”
“Gak apa-apa ma, tenang aja. Desyana gak bakalan kenapa-napa kok, mama hati-hati ya di jalannya. Desyana mau ambil makan dulu, tapi mau makannya di kamar gapapa kan?”
“Hmm terserah kamu aja yang penting kamu harus makan dan istirahat yang cukup”
“Iyaa, maa” ucapku sembari melangkahkan kaki menuju dapur untuk mengambil makanan
***
Ku santap dengan nikmat Sop iga buatan mamaku. Setelah beberapa suapan, terdengar suara dering handphoneku. Seketika mataku membulat sempurna ketika aku melihat namanya terpampang di layar ponselku.
[Sya, sibuk gak? Kalo enggak nanti jam sepuluh ketemu yuk]
Dengan cepat aku pun membalas pesan tersebut
[Enggak kok, lagian aku juga gak berangkat kerja. Oke, tunggu di tempat biasa ya]
__ADS_1
[Oke]
Seperti halnya mimpi, hal yang tak pernah ku sangka sebelumnya ternyata malah menjadi suatu yang nyata.
Ku lihat jam dinding yang terpampang di kamarku, ternyata sekarang sudah menunjukkan pukul sembilan. Kurang lebih satu jam lagi aku akan berjumpa dengannya. Ku percepat makanku agar cepat habis dan segera bersiap untuk membersihkan badan.
Pertemuan kali ini mungkin akan membuatku menjadi resah dan sedikit tak nyaman, tapi mau tak mau aku harus menemuinya. Mungkin ia ingin mengucapkan sesuatu atau apalah itu, yang jelas aku harus menerima apapun yang menjadi keputusannya.
Setelah membersikan badan, ku pakai setelan berwarna biru telor asin dengan paduan warna navy. Tak lupa aku pun memoleskan sedikit riasan di wajahku dan juga memakai beberapa semprotan parfum kesukaanku.
***
Ku pandangi arloji yang menempel di lenganku, tiga menit lagi kita akan berjumpa. Selang beberapa saat ku lihat dari arah samping terlihat ia mengemudikan sepeda motornya itu, lalu berhenti tepat di hadapanku. Tanpa membuka helm, ia secara langsung memintaku menaiki motornya tersebut.
Di perjalanan tak ada sepatah kata pun yang terucap dariku maupun darinya. Suasana yang hening membuatku menjadi sedikit canggung.
Kurang lebih tiga kilo meter jarak yang telah kita lalui akhirnya ia pun menghentikan sepeda motornya tepat di depan sebuah cafe yang sepertinya tidak dikenal banyak orang.
Di dalam cafe tersebut hanya terdapat dua atau tiga orang saja, tidak lebih dari itu. Ia mengajakku duduk di meja pojok sebelah kanan. Ia pun memintaku duduk terlebih dahulu. Salah satu pelayan menghampiriku, aku pun memesan dua Americano dingin dan juga camilan.
“Sya, kita jalani pertemanan kita sesuai dengan alurnya ya”
“Maksudnya?”
“Iya aku pengen kita ikuti aja alurnya, jangan ada ikatan yang akan membuat kita menjadi musuh atau membuat kita bertengkar”
“Kita jalani apa adanya, jika kita memang berjodoh kita pasti kan bersama. Tapi jika kita tidak berjodoh jangan pernah ada kata benci diantara kita” sambungnya.
Penuturannya membuatku sedikit ambigu, apakah dia memiliki rasa untukku, atau dia ingin aku menjauhinya. Menurutku suatu hal yang tak pasti bukanlah hal yang baik, karena itu sama saja dengan perasaan yang digantung.
“Sya, aku sayang kamu, aku gak mau jauh dari kamu. Bahkan ketika beberapa hari terakhir aku tak menghubungimu membuat aku merasa hampa. Tapi aku gak mau kalau kita terikat kata pacaran. Aku hanya ingin menjalani hubungan ini dengan mengalir apa adanya.”
“Iya, Ka. Gimana kamu aja”
Jujur ketika ia mengatakan kata 'tak ingin pacaran' membuatku sedikit terluka. Aku tak tau apakah akan ada harapan untuk memilikinya atau tidak. Aku tidak menyukai ketidak pastian dan juga pengharapan yang mungkin akan bertepuk sebelah tangan.
__ADS_1
“Ka, tapi kalau kamu sedikitpun gak punya rasa lebih baik kamu bilang aja. Biar aku sedikit demi sedikit move on dari kamu. Atau mungkin kamu udah punya labuhan hati di lain tempat?”
“Bukan gitu, Sya. Cuman kamu satu-satunya cewe yang deket sama aku. Gak ada lagi, kamu percaya deh. Aku Cuma trauma sama kata pacaran, maka dari itu aku minta kita jalani aja dulu sesuai dengan alurnya”
“Trauma? Kenapa?”
“Apa aku harus cerita?”
“Ya, gak ada alasan untuk kamu tutupi, kalo emang kamu gak mau pacaran karna sebuah trauma”
“Jadi gini, Sya. Jauh sebelum aku kenal kamu aku pernah punya pacar. Aku serius dengannya, aku juga sudah memiliki tabungan. Tapi ketika aku hendak melamarnya, ia malah lebih dulu dilamar oleh orang lain dan orang tuanya setuju. Hingga pada akhirnya ia menikah dengan orang tersebut. Orang tuanya memang tidak menyukaiku dari awal, karna aku hanya pekerja bengkel, sedangkan orang yang menikahi putrinya saat itu adalah seorang PNS. Aku dan dia tak sebanding. Karna hal itulah sepertinya aku tidak berminat untuk pacaran. Aku hanya ingin mengikuti sesuai alur, jika kita berjodoh mungkin kita akan menjadi sepasang kekasih”
“Ohh, gitu. Tapi beneran kan? Bukan karna ada labuhan hati yang lain? Tanyaku penuh selidik
“Enggak, Sya. Kamu harus percaya”
“Hmm mungkin untuk saat ini aku akan percaya”
“Untuk saat ini?”
“Iya, karna bisa saja esok atau lusa hati kamu malah berlabuh pada wanita lain. Dan mungkin saja kamu akan memacari nya”
“Sya, kok kamu gitu?”
“Kan siapa tau? Karna gak ada satupun manusia yang mengetahui setiap hati seseorang”
“Kamu gak boleh berfikiran seperti itu, Sya”
“Oh iya, nanti besok aku mau pulang kampung dulu. Mama sama adik-adik kangen nenek. Mungkin seminggu aku bakalan di sana”
“Pulang kampung?”
“Iya, aku kan bukan asli orang sini. Aku asli orang Pangandaran”
“Hmm iya deh. Aku pegang ucapan kamu tadi, kalo kamu gak akan pacaran. Awas aja kalo kamu sampe pacaran”
__ADS_1
“Enggak kok, tenang aja”