
"Gimana? lo tetap tinggal diam atau mau balas dendam sama Kinan?" tanya Jordan seusai membuang puntung rokoknya yang tinggal setengah.
Langit menoleh, membuang asal buku komik dengan gendre dewasa milik Jordan yang menumpuk di atas meja.
"Menurut lo? tuh cewek songong harus dapat balasan," ujar Langit, tangannya meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja, berdampingan dengan komik-komik yang menumpuk.
Dilan yang tadinya duduk di atas pembatas balkon, berjalan menuju sofa di depan Langit, "Terus lo mau balas dia gimana? setelah gue liat Kinan tadi pagi, gue langsung tau kalau dia tipe orang yang keras kepala."
Langit Berdecih, "Gue tau itu, makanya sekarang gue lagi mikir gimana caranya balas perbuatan dia!"
Septian terkekeh kecil mendengar ucapan Langit, "Sumpah gue speechless liat Kinan nendang lo sampe tersungkur, seumur hidup gue temenan sama lo cuman dia orang pertama yang berani sama lo."
Langit kembali berdecih, "Liat aja, gue bakal balas perbuatan dia dua kali lipat dengan apa yang gue rasain!" gumamnya yang diberi kekehan Jordan.
"Emang lo mau balas kayak gimana? gue punya ide sih tapi kayaknya ini berlebihan."
Langit mengabaikan ponselnya yang menyala dan lebih tertarik menatap Danu. "Apa? bilang aja."
"Malam ini bakal ada pesta besar-besaran di club biasa, ada 4 sekolah yang ikut meramaikan dan setiap orang diundang harus bawa pasangan. Lo bawa aja Kinan ke club itu sebagai pasangan lo, bagaimanapun caranya itu terserah lo. Kalau Kinan udah ada di sana, Tinggalin dia di tengah-tengah club yang banyak orang."
Langit masih dengan raut tenang tanpa ada ekspresi, dia tidak mengerti ke arah mana tujuan pembicaraan Danu.
"Lo mau ninggalin Kinan di sana? keterlaluan nggak sih itu, lo taukan di club isinya pada nggak bener! emang lo mau tanggung jawab kalau anak orang kenapa-kenapa?" Septian mengeluarkan pendapatnya yang kurang setuju.
"Nah! itu tujuannya, lagian kita tinggalin dia bentar doang, cukup takut-takutin dia anggap aja sebagai gertakan biar dia ke depannya nggak berani lagi sama Langit. Gimana Lang, lo setuju nggak?"
Langit menaikkan satu alisnya memikirkan ide Danu. "Oke gue setuju!"
"Yakin lo? biasanya penyesalan datang di akhir, lo nggak akan nyeselkan?" goda Dilan, bibirnya yang kiss-able menghirup sebatang rokok. Sesekali mengetuknya dua kali bermaksud membuang ujung rokok yang sudah terbakar.
"Nggak ada kata 'menyesal' dalam kamus gue!"
"Terserah kalau itu mau lo, gue nggak ikut!" Septian menatap remeh Langit. Masa depan tidak ada yang tau, entah Langit akan membutikan ucapannya barusan atau akan merasakan yang namanya 'menyesal' suatu hari nanti.
Septian percaya dengan 'karma is real'.
***
Kinan menuruni tangga setelah bel rumahnya berbunyi. Sekarang ia sendirian di rumah karena Kakaknya harus kerja lembur.
Kinan terperanjat kaget melihat Langit yang kini berada di depan pintu rumahnya. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk memastikan bahwa kini yang berdiri tegap di hadapannya adalah seorang Langit. Entah bagaimana cowok itu menemukan rumahnya, "ngapain kamu di sini? terus tau rumah aku dari mana?"
"Ikut gue!" ucapnya dingin.
__ADS_1
"Nggak! ngapain aku harus ikut kamu?!" tolak Kinan dengan tegas. Ia tidak bisa mempercayai cowok di hadapannya ini.
"Ikut gue, ini perintah!" bentaknya membuat Kinan bergedik ngeri.
"Nggak ya berarti nggak!"
Langit tak menghiraukan penolakan Kinan ia menarik tangannya dan berjalan menuju mobilnya.
'Dasar tukang perintah!' rutuk Kinan dalam hati.
Mobil itu melaju setelah Kinan duduk dengan sempurna. Entah apa yang akan dilakukan Langit, Kinan tidak ingin bertanya. Bukannya takut, tetapi ada rasa malas untuk bertanya. Lagian Kinan yakin cowok dengan wajah datar di sampingnya tidak akan menjawab.
***
Mata bulat indah Kinan menatap ke seluruh penjuru ruangan. Ia bingung mengapa Langit membawanya kemari.
"Kita kesini buat apa?" tanya Kinan di sela-sela kekasaran Langit menarik tangannya.
Tak ada jawaban membuat Kinan mendengus sebal. Langit masih saja menarik tangannya hingga ke sebuah ruangan yang cukup besar.
"Rias dia secantik mungkin! jangan sampai malu-maluin gue nanti," salah satu pelayan toko mengangguk paham dan tersenyum tipis.
"Mari silahkan ikuti saya," Kinan mengikuti pelayan wanita itu untuk berjalan menuju ruangan lain yang lebih tertutup.
Setelah sampai di ruangan tersebut, mata Kinan berbinar menatap berbagai macam bentuk dan warna gaun yang digantung dengan indah di setiap sisi ruangan.
"Rias dia secantik mungkin!" Dilan datang bersama yang lainnya, ia mengikuti kalimat Langit dengan nada mengejek.
"Lo mau ngerjain dia atau ngelamar dia nih? pake rias segala," Jordan tidak tinggal diam, dia turut andil menggoda Langit yang kini duduk di salah satu tempat menunggu dengan mengangkat satu kakinya ke paha.
"Diam lo pada!"
"Wih wih, santai dong Pak boss! Lagian kita becanda doang," ujar Danu menenangkan Langit yang suasana hatinya tidak bersahabat.
"Septian mana?" tanya Langit mengabaikan teman-temannya yang semakin gencar menggodanya.
Dilan menanggapi dengan mengangkat kedua bahunya, "nggak tau, tumben amat dia nggak mau ikut."
"Nanya Septian doang nih? nggak mau tanya-tanya soal Kinan?" Jordan kembali menggoda Langit yang mendapat seruan heboh dari kedua temannya.
Karena muak mendengar godaan ketiga makhluk aneh itu Langit kemudian pergi, meninggalkan ketiganya yang kini beralih menggoda para pelayan wanita tokoh.
***
__ADS_1
Dion mengusap tangannya yang terasa membeku karena dingin. Sudah hampir isya, namun Kinan belum juga Pulang. Bahkan sampai sekarang pun belum ada kabar. Tidak seperti biasanya adiknya itu tidak ada di rumah jika di jam seperti ini.
Dion menunggu di teras rumah dengan raut gelisah. Dia tidak tega meninggalkan Kinan di rumah sendirian jadi dia tidak jadi lembur namun ketika sesampainya, Adiknya itu sudah tidak ada. Ia bahkan menelpon Lia untuk menanyakan Kinan namun Kinan juga tidak ada di sana.
Petir bergemuruh di langit hitam kelam tanpa ada bintang dan bulan. Malam ini sepertinya akan turun hujan yang deras. Dion terkejut ketika ponsel di kantongnya bergetar. Ia mengambilnya dan menekan ikon hijau.
"Halo kak Dion, Kinan udah pulang?" Tanya Lia dari seberang sana.
"Belum Lia, bahkan Kinan belum telfon aku," ujar Dion dengan helaan napas lelah.
Terdengar suara kekehan dari sana yang membuat Dion mengerutkan alisnya, "Ada apa Lia? Ada yang lucu sampai buat kamu ketawa?!"
"Eh maaf-maaf kak, ini Leo tadi jilatin pipi aku."
Penjelasan Lia yang terdengar ambigu itu membuat Dion melupakan sejenak kekhawatirannya kepada Kinan, "Siapa Leo? kenapa bisa jilat pipi kamu?"
"..." tak ada jawaban, melainkan hanya suara tawa gemas yang terdengar dari seberang sana.
"Lia! siapa itu Leo? kalau kamu nggak jawab, aku ke rumah kamu sekarang juga!"
"Kok marah sih, Leo itu kucing aku."
Entah mengapa ada sesuatu yang lega Dion rasakan ketika mengetahui Leo itu kucing bukan manusia.
Lia kembali tertawa gemas namun bukan untuk kucingnya melainkan untuk Dion. "Kenapa? Kak Dion cemburu?"
"Jangan kan sama kucing, sama angin pun aku cemburu."
Mungkin jika mereka bertemu secara tatap muka, Dion akan melihat pipi Lia yang merah merona karena ucapannya.
"Lia..."
"Iya Kak kenapa?"
"Gimana kalau nanti kita nikah?" ucapan yang tidak biasa itu membuat jantung Lia berdebar kencang.
Dia pikir nikah tuh gampang apa? mana ngajaknya kek mau ngajak main!
"Gimana kalau aku tolak?"
Dion segera membuka note ponselnya, ia mencari salinan gombalan yang ia dapat dari aplikasi tikt*k, "Ku awali dengan Bismillah lalu ku buka pintu hatimu dengan Alfatihah hingga terguncang Az-zalzalah karena ku tau hatimu tak sekeras Al-hadid melainkan selembut Ar Rahman. Jadi insya Allah kamu tidak akan menolak lamaran saya nanti Lia--"
Tut tut tut
__ADS_1
Lia memutuskan telfon secara sepihak. Dia tidak sanggup lagi mendengarnya. Jika obrolan mereka lebih lanjut maka Lia pastikan nyawanya lah yang tidak akan berlanjut saking kencangnya debaran jantung yang kini ia rasakan.
Gombalan buaya elit emang beda! Batinnya seraya menenangkan debaran jantungnya.