Dangerous Boy

Dangerous Boy
Chapter 25


__ADS_3

"Lo beneran suka Kinan?" tanya Dilan namun tidak ada respon dari Langit.


"BRENGSEK!!"


Tembok putih yang mulai menguning itu, kini dipenuhi bercak-bercak darah Langit. Sudah tak terhitung berapa kali Langit melayangkan tinjunya pada tembok yang tidak bersalah itu demi meredamkan emosinya.


Perkataan Septian di atap sekolah sungguh menguras emosinya. Jika tidak mengingat Septian pernah menjadi sahabatnya mungkin Langit akan langsung membunuhnya di saat itu juga.


"Jadi gitu cara main lo?"


Jordan, Danu dan Dilan menoleh bersamaan ketika kedatangan tamu tak diundang. Berbeda dengan Langit yang masih melanjutkan menghisap sebatang rokok miliknya, tanpa menoleh pun ia tahu siapa itu.


"Septian udahlah, lo jangan cari masalah lagi." Jordan mendekati Septian dan menepuk pelan bahunya namun dihempas secara kasar oleh Septian. Cowok itu malah melangkah mendekati Langit yang memunggunginya.


"Jauhin Kinan atau gue kasih tau siapa dalang dibalik kasus pelecehannya waktu malam itu." Tepat saat Septian berbalik ingin pergi, tangan kekar itu mencengkram kerah baju Septian dan menatapnya dingin.


"Kenapa? lo takut Kinan tau?" remeh Septian.


"Septian!" kali ini Danu yang memperingati, ia berdiri dari duduknya kemudian berjalan menuju keduanya, berniat menarik mundur lelaki tersebut.


"Apa? gue nggak takut! apalagi sama pengecut kayak dia yang taunya cuman bisa nyakitin Kinan!"


Bughh!!!


"Diam lo anjing!"


Pukulan tanpa jeda terus melayang ke wajah Septian yang sudah babak belur. Dilan segera menarik tubuh Langit sebelum cowok itu benar-benar membunuh Septian. Danu dan Jordan ikut membantu dengan Danu yang menjauhkan Septian sedangkan Jordan membantu Dilan yang kewalahan menahan Langit seorang diri.


"Kenapa lo diam aja? gue benarkan lo suka Kinan?" ulang Dilan yang membuyarkan lamunan Langit mengingat kembali kejadian di rooftop tadi. Melihat Langit yang memperlakukan Kinan dengan berbeda sudah menjawab pertanyaannya namun ia ingin mendengar langsung dari mulut Langit.


"Gue diam bukan berarti iya!"


"Sejak lo nolongin Kinan waktu malam itu, gue udah curiga lo udah mulai tertarik sama Kinan." Kini Danu berjalan mendekati Langit.


"Jangan sok tau!"


Teman-temannya terkekeh, mereka tahu betul bahwa Langit telah jatuh hati kepada Kinan, gadis yang awalnya korban bullying Langit. Namun, Langit terlalu bodoh untuk menyadarinya. Mungkin Langit memiliki wajah yang tampan dan dengan mudah mendapatkan hati para wanita namun sayangnya dia bodoh soal memahami perasaannya sendiri. Dia tidak mengerti arti cinta. Jadi, sangat sulit baginya untuk memahami dia telah jatuh hati.


Kinan tidak buruk, Jordan dapat melihat kecantikan Kinan yang berbeda dari wanita pada umumnya. Sifat dan kepribadiannya yang unik mungkin salah satu jadi penyebab Langit jatuh hati padanya. Jordan akui pesona Kinan akan semakin kuat jika penampilannya yang biasa-biasa saja diubah sedikit.


Siapa pun dapat menilai kalau Kinan bukan orang yang jahat melainkan gadis yang polos dan rendah hati. Beberapa kali Jordan perhatikan, Kinan kerap tersenyum ramah pada orang-orang walaupun dibalas sinis.


"Kita tau lo suka sama Kinan, berhenti main-main dan jangan dengerin Septian, saran gue mending lo jujur langsung ke Kinan sebelum dia tau dari Septian." Danu menepuk bahu Langit beberapa kali lalu melanjutkan ucapannya. "Gue cabut duluan, masih ada urusan."


Setelah Danu pergi, Dilan melirik ke arah Langit yang mengusap kasar wajahnya. Dia tahu sahabatnya saat ini bingung dan bimbang.


"Apa benar gue mulai suka Kinan?" tanya Langit entah pada siapa.


Jordan dan Dilan saling menatap satu sama lain sebelum Dilan yang menjawab. "Ungkapin perasaan lo sebelum kehilangan."


Dilan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi lalu memejamkan matanya. Wajah yang selalu ia rindukan muncul seketika dengan tersenyum manis seolah-olah sedang menatapnya. Dilan benar-benar tahu rasanya bagaimana kehilangan sosok orang yang dicintai sebelum mengungkapkan perasaannya. Dan jangan sampai sahabatnya itu merasakan hal yang sama.


"Gue ngerti perasaan lo." Ujar Jordan yang menepuk bahu Dilan. Di balik kelakuan Dilan yang pecicilan, ada luka yang mendalam berusaha disembunyikan. Walaupun dia tidak pernah menceritakan siapa gadis yang telah membuat sahabat ini jatuh cinta berat.


***

__ADS_1


"Urusan gue udah selesai kan?" Lia memulai percakapan ketika Danu hanya diam saja sejak kedatangannya dari lima menit yang lalu.


"Masih ada lagi."


Lia menoleh singkat lalu kembali memfokuskan pandangannya pada air mancur di taman sekolah. "Setelah semalam lo ngajakin gue ngikutin Langit sama Kinan secara diam-diam dan berita date Langit sama Kinan sudah cukup nutupin berita lo kan? sekarang mau lo apa lagi sih?!"


"Jadi pacar gue."


Bulu kuduk Lia seketika merinding mendengarnya.


'Jadi pacarnya? ni anak udah goblok!'


"Sorry banget ya Danu, walaupun lo ganteng tapi di hati gue udah ada kak Dion yang tersayang, jadi gue nggak bis--"


Ucapan Lia terpotong karena Danu yang tiba-tiba saja berlutut di hadapannya. "Gue mohon, cuman dua minggu aja, walaupun berita gue ketutup sama berita Langit tapi anak-anak di sekolah tetap nganggep gue gay dan lo tau siapa penyebabnya."


"I know... gue penyebabnya tapi bukan berarti gue harus jadi pacar lo kan?"


"Kalau bukan lo siapa lagi? dengan pacaran sama lo, anak-anak nggak akan ngira gue gay lagi."


Lia menghela nafas ia tidak tahu harus menjawab apa. Danu ada benarnya, dan ini semua juga kesalahannya. Sudah menjadi tanggung jawabnya untuk membersihkan nama Danu kembali.


"Tapi lo janji cuman 2 minggu!" Lia mengangkat jari kelingkingnya ke depan membuat Danu terkekeh melihat tingkah Lia seperti anak kecil. Walaupun sedikit geli, Danu tetap menautkan jari kelingkingnya yang memiliki ukuran lebih besar dari kelingking milik Lia.


***


Kinan meletakkan tasnya dengan wajah penuh keheranan. Meja dan kursi yang dulunya kotor karena dipenuhi bekas-bekas coretan kini berubah menjadi meja yang baru.


Apakah ini meja miliknya? sepertinya tertukar dengan meja yang lain.


Masa bodohlah, Kinan tidak peduli. Ia memilih duduk dengan tenang. Kalaupun tertukar, pasti pemiliknya akan datang mencarinya sendiri.


"Wuih, ada yang meja baru nih." Lia datang dengan senyum menggoda.


Kinan yakin, Lia pasti mengetahui sesuatu. Gadis itu mengetahui semuanya kecuali pelajaran. "Kamu tau kenapa ada ini disini?" tunjuknya pada meja di depannya.


"Nggak nanya langsung ke Langit?"


"Langit? apa hubungannya?"


Lia tertawa lalu mendekati Kinan dan berbisik. "Buruan deh cek Instagram-nya Langit sebelum di private lagi."


'Instagramnya nggak diprivate lagi?' Kinan membuka Instagram-nya dan Lagi-lagi ia dibuat terkejut. Dia terkejut ketika melihat story Instagram Langit yang menulis 'siapapun yang ganggu Kinan akan berurusan sama gue!'.


'What? Langit stress!'


Jadi ini alasan dibalik semua keanehan pagi ini? pantas saja tidak seorang pun yang berani berbicara ataupun menatapnya. Seharusnya ia merasa senang namun entah mengapa ia merasa tertekan, tertekan karena berada situasi yang semakin rumit ini.


***


Danu takjub dengan Dilan yang gercep menggali informasi. Danu menoleh kebelakang menatap Dilan yang sudah memasang wajah sombong seolah sudah tahu Danu akan memujinya. Lagi-lagi Dilan, sebagai admin dari lambe turah memposting berita tentang kedatangan siswa baru di sekolah mereka.


"Keren lo cok, emang pantas lo jadi admin akun kek gitu."


Dilan semakin membusungkan dadanya ke depan setelah mendengar pujian dari Danu. "Siapa dulu, Dilan gitu loh."

__ADS_1


Pintu yang tertutup rapat terbuka, seorang pria tua menjadi objek pertama yang dilihat anak-anak di kelas. Di belakang pria itu ada anak laki-laki yang menggunakan seragam yang sama dengan mereka membuat seisi kelas seketika berbisik.


'Itu Demian yang di ig lambe turah garuda?'


'Ganteng banget gila!'


'Seriusan dia di kelas kita?'


Kira-kira begitulah bisikan yang terdengar di kelas namun lebih dominan memuja ketampanan siswa baru tersebut.


"Pagi anak-anak, dia ini Damian." Pak Jaedi menunjuk Damian yang tersenyum manis membuat seisi kelas semakin gaduh terutama para wanita. "Siswa pindahan, jadi Bapak mohon agar kalian membantu Damian untuk kedepannya."


"Iya Pak!" para wanita bersorak dengan semangat. Sedangkan para laki-lakinya menatap intens Damian. Mereka merasa mendapat saingan baru.


"Silahkan Damian duduk di bangku kosong yang ada disana." Pak Jaedi menunjuk ke arah bangku paling belakang, tepatnya barisan bangku Langit and the geng.


"Lah Pak, dia belum memperkenalkan diri masa langsung duduk aja." Dilan mengangkat suara yang disetujui seisi kelas.


Pak Jaedi hendak menjelaskan namun Damian tersenyum dan menggeleng seolah mengatakan 'Biar dia saja yang jelaskan'.


Damian mulai menggerakkan tangan dan jari-jarinya membentuk isyarat yang tidak dipahami seisi kelas namun mereka paham itu adalah bahasa isyarat yang biasa digunakan tuna wicara. Seketika semuanya terdiam, terutama Dilan yang sedikit merasa bersalah karena menyuruh Damian memperkenalkan diri.


"Halo nama saya Damian, maaf kalau tidak memperkenalkan diri secara langsung karena saya bisu." Jordan berucap, mengartikan bahasa isyarat Damian.


"Anjir! lo sejak kapan ngerti bahasa isyarat?" tanya Dilan yang duduk disampingnya. Bukan hanya Dilan, seisi kelas yang mengenal Jordan sebagai tukang onar, tidak disangka memahami bahasa isyarat.


"Diam lo bangsat! gara-gara lo suasana jadi canggung!" bisik Jordan yang menekan setiap katanya.


Damian dengan segera menempati kursi yang ditunjuk oleh gurunya tadi. Dia tersenyum ke arah Dilan dan Jordan yang duduk di depannya dan keduanya membalas dengan canggung.


Berita kepindahan Damian sudah tersebar di sekolah. Terutama informasi kalau orang tua Damian dari perusahaan properti ternama di china. Damian bahkan dikira chindo padahal Damian asli orang batak, andai dia tidak bisu mungkin dia akan memperkenalkan diri dengan logat bataknya yang khas.


Dan Dilan selaku penyebar rumor tersebut semakin merasa bersalah, ia kira siswa barunya Damian Davendra yang chindo, kaya raya, punya orang tua pengusaha padahal siswa barunya Damian yang orang batak asli, miskin, bisu, yatim piatu, nama marganya saja dia tidak tahu, bahkan nama Damian adalah nama pemberian nenek Nisa, yang menemukannya.


Plakk!!


"Danu anjing! sakit bego!" ringis Dilan ketika buku dengan ketebalan 200 lembar dihantamkan ke kepalanya.


"Lo yang bego! lain kali cari informasi yang akurat!" cerca Danu. Jika Langit tidak menarik kerah baju Danu untuk menghadap ke depan, mungkin buku tebal itu akan melayang ke wajah Dilan.


***


"Kinan, gue ada berita buat lo!" suara Lia yang berbisik mengganggu fokus Kinan yang sedang memperhatikan penjelasan guru di atas.


Kinan menaikkan kedua alisnya. "Berita?" tanyanya sedikit penasaran.


Lia mengangguk. "Langit sama Septian adu jotos di rooftop tadi pagi!" Kinan hanya ber oh ria seraya kembali menatap gurunya, itu tidak mengejutkan lagi karena dia sudah tahu tentang itu, bahkan sejak pagi kelasnya hanya membahas perseteruan antara Langit dan Septian.


"Lo sadar nggak sih, perlakuan Septian ke lo itu beda, gue ngerasa dia suka sama lo."


"Aku?" tunjuk Kinan pada dirinya sendiri karena tidak mempercayai omong kosong Lia.


Lia mengangguk sekali lagi. "Saran gue mending lo mulai jauh-jauh deh sama Septian, walaupun tampangnya baik tapi feeling gue nggak baik sama dia."


Lia merangkul sahabatnya yang saat ini merenungkan perkataannya. "Awalnya sih, gue suka lo deket sama Septian tapi lama-lama gue ngerasa lo lebih cocok sama Langit." Lanjutnya.

__ADS_1


"Ngaco!" Kinan menoleh ke arah jendela, menatap awan putih yang menggantung di langit yang biru. Mungkin terlalu dini untuk mempercayai omong kosong Lia namun jika itu benar, apa yang harus ia lakukan? Ia sudah menganggap Septian sebagai teman baiknya sama seperti Lia.


"Kinan! Lia! tolong perhatikan saya di depan!" Kinan tersentak dari lamunannya, ia segera menatap ke depan kembali dan larut dalam penjelasan guru itu yang tiada hentinya berbicara.


__ADS_2