Dangerous Boy

Dangerous Boy
Chapter 21


__ADS_3

Dilan, Danu, dan Jordan terduduk dengan napas ngos-ngosan seakan udara disekitar mereka menipis. Entah apa yang membuat Langit semarah ini sehingga mereka bertiga dijadikan samsak tinju untuk melampiaskan emosinya.


"Kalau gue tau bakal dijadiin samsak tinju sama lo, gue nggak bakal datang!" Hardik Danu menatap keki Langit. 


"Sialan lo Lang! muka ganteng gue jadi memar gara-gara lo!" Dilan menatap wajahnya yang sudah tak berbentuk pada kamera handphone-nya.


Sebenarnya wajah Langit juga babak belur namun tak separah dengan ketiga wajah teman-temannya yang penuh dengan lebam kebiruan.


"Bokap lo lagi?" Singgung Jordan. Hal tersebut sukses membuat Langit menegakkan kepalanya, menatap Jordan dengan tajam.


Tatapan mengintimidasi yang mampu membuat lutut Jordan lemas seperti jeli. Tak biasanya Langit akan marah jika disinggung perihal tentang ayahnya.


Perkataan Jordan telah memancing emosi Langit yang sempat mereda, untuk kemudian satu pukulan keras dan telak mendarat di wajah Jordan.


Jordan mengerang sedikit, hanya sedikit namun berhasil membuat bibirnya berdarah. Pukulan Langit begitu kuat.


Langit kembali mengepalkan tangannya, hendak melayangkan tinjunya namun ditahan oleh Danu. Sedangkan Dilan menarik tubuh Jordan yang tak berdaya di lantai agar menjauh dari jangkauan Langit.


"Lo emosi mulu, mens ya?" Omongan melantur Danu itu hampir membawa nasibnya sama seperti nasib Jordan jika Langit tak menahan pukulannya.


Langit mengatur nafas namun bukannya semakin tenang perasaannya malah semakin kacau, ia mengacak rambutnya lalu menendang ke segala arah. 


Ketiga temannya sudah babak belur namun itu belum cukup. Ia mengambil minuman alkohol miliknya dan meminum sekaligus. 


Satu botol, dua botol, kini berlanjut ke empat botol namun tetap saja tidak bisa membuatnya tenang, malah membuatnya pusing karena mabuk.


"Kalau mau mati minum racun sekalian jangan nyiksa diri lo!" Jordan mengambil paksa botol kaca minuman Langit. Walaupun tadi dia mendapat pukulan keras namun tetap saja Ia tidak bisa mengabaikan Langit yang seperti orang gila saat ini.


Langit menepis tangan Jordan lalu keluar dari basecamp tanpa memperdulikan panggilan dan pertanyaan dari ketiga temannya.


Seseorang baru saja muncul di kepalanya dan anehnya ia merasa membutuhkan orang itu.


***


Drrrrtttt


Drrrrrttttt


Drrrrrrrttttt


Tangan Kinan terulur meraih handphone-nya yang terletak di meja nakas. Matanya masih tertutup rapat. Tanpa sengaja, dia menyenggol benda sejuta umat tersebut. 


"Arghhh." Kinan bangkit lalu mengacak rambutnya. Ia butuh tidur. Tubuhnya terasa lelah dan remuk.


Kinan menghela napas panjang, lalu meraih handphone-nya yang terlihat dalam kondisi baik-baik saja. Ia sedikit merasa legah saat melihat layarnya yang masih menyala, dan mencoba menggeser touchscreen handphone-nya. Untung masih bisa digunakan. 


Jarum jam di handphone-nya menunjukkan pukul 02.35 dini hari. Ada notifikasi panggilan tak terjawab namun ia abaikan, rasanya terlalu malas untuk menghubungkan ulang pada nomor tersebut.

__ADS_1


...Langit...


bs ktmu? 


Gw ad di tmn dkt rmh lo


Kinan menghela nafas panjang membaca pesan singkat namun anehnya dia bisa mengerti. Tapi ada yang aneh. Sejak kapan dia memiliki nomor Langit?


Oh Kinan ingat! saat Langit mengambil handphone-nya di tangga, mungkin saja biang onar itu yang menyimpan nomornya sendiri.


^^^Gak bisa besok?^^^


Gk


Tiba-tiba? apakah sepenting itu sampai harus bertemu dijam seperti ini? Kinan tidak habis pikir. Ia menoleh ke sisi kanannya yang dimana ada Lia yang tertidur pulas.


Apakah harus membangunkan Lia untuk menemaninya? namun melihat wajah Lia yang tertidur pulas membuatnya tidak tega. Jika dipikir-pikir lagi, akan berbahaya jika Lia menemaninya. Bisa saja gadis itu malaporkannya pada Dion.


"Aku pergi sendiri aja, lagian taman nggak jauh dari rumah."


Kinan tidak punya pilihan lain, ia memutuskan untuk pergi sendiri ketempat yang telah dipinta oleh sang pentolan sekolah.


Dengan beralasan piyama biru, Kinan memantapkan langkahnya keluar kamar.


"Mau kemana?" Tanya Lia yang terbangun karena merasakan sampingnya yang kosong.


Kinan menghentikan langkahnya di depan pintu dan berbalik menatap Lia. "Emm... Mau ke dapur, aku tiba-tiba lapar." Jawab Kinan bohong. Sebab jika ia memberitahukan Lia perihal pertemuannya dengan Langit maka ia yakin sahabatnya itu akan bereaksi berlebihan.


"Nggak usah, aku bisa sendiri kok. Kalau kamu ikut nanti ngiler liat aku makan terus diet kamu bakal gagal." Katanya yang berusaha meyakinkan Lia.


Hal tersebut sukses membuat Lia pasrah tanpa bantahan. Sebab jika dietnya gagal, impiannya untuk memiliki body goals harus sirna.


Kinan telah berlalu meninggalkan Lia yang kembali melanjutkan tidurnya.


Tak butuh waktu lama bagi Kinan untuk sampai di tempat yang telah dijanjikan oleh pentolan sekolah. Dengan berjalan kaki sekitar sepuluh menit pun ia akan sampai dengan selamat. 


Lelaki dengan wajah lebam di sebelah kiri matanya, langsung memeluknya dengan tiba-tiba.


"Lepas!" Hardik Kinan, namun bukannya lepas pelukan itu semakin erat. "Kamu mabuk?!" Sambung gadis itu setelah mencium bau alkohol yang menyengat dari tubuh Langit.


Sementara lelaki yang tengah memeluknya tidak menjawab, hanya getaran pada punggung lelaki tersebut yang dapat Kinan rasakan. Tak lama suara sesunggukan terdengar membuat Kinan ikut terdiam. Apakah Langit menangis?


Perlahan namun pasti Kinan mengangkat tangannya membalas pelukan tersebut dan menepuk pelan punggung Langit.


"Gue butuh lo." 


Walaupun Kinan tau itu hanyalah racauan tak jelas dari Langit karena efek mabuk namun entah mengapa ia merasa Langit benar-benar membutuhkannya.

__ADS_1


"Kinan."


"Hmm?"


"Jangan pergi..." sesaat setelah mengatakannya, Kinan merasakan tubuh Langit yang memberat dan merosot ke bawah. 


Langit pingsan, kenapa harus pingsan di waktu seperti ini? Kinan menghela nafas lelah, sungguh merepotkan.


***


Kinan dengan susah payah membawa tubuh Langit memasuki rumahnya. Terpaksa dia membawa cowok itu ke rumahnya. Mau bagaimana lagi dia tidak tau harus membawa ke mana Langit di jam tiga subuh selain ke rumah, dia juga tidak mungkin meninggalkan Langit di taman.


Langit mengerang dalam rangkulan Kinan. Kepalanya yang semula tertunduk kebawah terangkat berpindah posisi ke lehernya, dan tangannya yang berada pada bahu Kinan kini turun ke pinggang.


"Kinannn..."


Kinan mengerutkan keningnya mendengar Langit memanggil namanya dengan nada manja seperti anak kecil, membuat Kinan merinding setengah geli mendengarnya.


"KINANNNN."


Kinan melotot, dengan segera ia membekap mulut Langit. "Ayo dong Langit jangan teriak-teriak nanti Lia kebangun."


Dengan tubuh kecilnya, Kinan menyeret Langit seperti kambing. Masa bodoh jika cowok itu kesakitan, siapa suruh mabuk dan menyusahkannya. Sampai di kamar tamu, Kinan membaringkan perlahan tubuh Langit pada kasur. Ia membuka sepatu dan jaketnya agar cowok itu lebih nyaman.


Kinan terlonjak kaget saat Langit secara tiba-tiba bangun dan bergelantungan ditangannya. 


"Kinan pohonnya, Langit kuolanya. Pohon nggak boleh pergi!" Rengek Langit seperti anak kecil.


Kinan diam membatu melihat sisi lain dari Langit. Apa semua orang mabuk seperti ini?


"La, la, la, lalaaaa..." Langit terus meracau dengan tidak jelas.


"Husttttttt!! Langit diam dong, jangan nyanyi nanti ketahuan sama Lia!" Oceh Kinan namun tidak dihiraukan oleh Langit. Cowok itu malah melanjutkan nyanyiannya.


"Tinky Winky, Dipsy, Lala, Poooo."


'Ya tuhan, cobaan apa ini!' rutuk Kinan dalam hati.


Kinan lebih baik menghadapi Langit mode normal dari pada Langit mode mabuk. Lagi pula Kinan bingung, orang seperti Langit dari mana tau lagu teletubbies? Bahkan sampai hafal.


"LALAAA POOO."


"Ihh udahan dong!" Kinan memekik tak tahan lagi dengan tingkah kekanak-kanakan Langit.


Langit benar-benar diam namun matanya berkaca-kaca. "Kinan jahat marahin Langit!" Omelnya.


Kinan yang bingung menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sekarang ia harus apa? 

__ADS_1


"KINAN JAH-" Kinan segera membekap mulut Langit. Sebuah ide brilian muncul di kepalanya, ia tidak punya pilihan lain lagi.


"Maafin aku yang Langit, ini demi kebaikan kita bersama." Ujarnya, setelah itu memukul kepala Langit dengan miniatur kuda yang terbuat dari kayu. Beribu maaf Kinan ucapkan kepada Langit yang sudah tidak sadarkan diri, ia berharap pukulan itu tidak menyebabkan gegar otak.


__ADS_2