
"Kinan kamu kenapa?"
Dion menggoyangkan lengan Kinan yang termangu menatap rok sekolahnya. Tatapan Kinan terlihat kosong namun dari raut wajahnya nampak jelas tersirat Kesedihan.
"Hei, kenapa dari tadi diam aja? kamu sakit?" Dion menempelkan punggung tangannya di kening Kinan yang membuat gadis itu tersentak kaget dari lamunannya.
Kinan menoleh lalu tersenyum seolah mengatakan dia baik-baik saja, "Nggak apa-apa kok kak, aku cuman bingung sama rok sekolah aku yang robek ini mau diapain biar bagus lagi."
"Rok? emang rok sekolah kamu kenapa?"
Kinan berdehem pelan lalu menunduk, menatap kembali rok sekolahnya. Jujur saja, Kinan tidak tau harus mengatakan apa pada kakaknya. Menceritakan tentang dirinya yang ditindas bukanlah pilihan terbaik.
Dion menghela nafas, "Rok kamu udah robek gini mana bisa diperbaiki lagi, mending kamu beli lagi yang baru."
"Tapi kak..."
"Kenapa? mikirin biaya? kalau beliin kamu mobil kakak memang nggak sanggup tapi kalau cuman beli rok sekolah, kakak kamu ini masih sanggup Kinan."
Akhirnya Kinan mengangguk pasrah, apa yang dikatakan Dion ada benarnya. Rok sekolahnya sudah robek parah, itu tidak bisa lagi diperbaiki dengan benang dan jarum. Jalan satu-satunya adalah membeli yang baru.
"Okey, Kinan bakal beli lagi yang baru."
Dion tersenyum simpul lalu mengacak gemas rambut adiknya. Ia mengeluarkan uang berwarna merah dua lembar dari dompetnya, "Ini uangnya--"
Ting Tong!
Belum sempat Dion menyelesaikan kalimatnya, suara bel rumah berbunyi.
"Aku buka pintu dulu ya kak," pamit Kinan yang diangguki Dion.
Ting Tong!
"Iya sebentar!"
Kinan buru-buru menghampiri pintu lalu membukanya namun yang ia dapati hanya angin, tidak ada siapapun di luar sana. Aneh, itulah yang Kinan rasakan.
Kinan menarik pintu hendak menutupnya kembali namun iris matanya tak sengaja menatap ke arah samping pintunya yang terdapat sebuah kotak berwarna coklat dengan pita kecil berwarna putih.
Karena penasaran, Kinan mengambilnya dan membaca tulisan yang terdapat disecarik kertas kecil.
'for Kinan'
__ADS_1
Untuk aku? tapi siapa yang kirim?
Kinan membawa kotak tersebut ke dalam kamarnya. Ketika sampai di kamarnya, Kinan langsung membuka kotak tersebut.
Seragam? isinya adalah seragam? Kinan bertanya-tanya siapa yang mengirimkan dia seragam sekolah. Mungkinkah Lia? Ya, itu pasti Lia, jika bukan Lia siapa lagi yang akan mengirimkan seragam.
Memikirkan bahwa Lia yang mengirimkannya membuat Kinan merasa terharu, roknya yang robek namun Lia mengirim sekaligus dengan seragam baru. Besok ia harus berterimakasih kepada sahabatnya itu.
***
Pagi yang cerah sama seperti suasana hati Kinan yang baik, karena hari ini ia memakai seragam barunya.
Kinan menatap dirinya di depan cermin, seragam barunya begitu pas dengan ukuran tubuhnya. Tidak kebesaran dan tidak kekecilan.
Namun ada sedikit yang membuat Kinan risih. Jika biasanya ia selalu menggunakan rok sampai di bawah lutut, kali ini ia memakai dengan rok di atas lutut. Baginya itu sudah terlalu pendek.
"Kinan," Dion yang tiba-tiba saja masuk kedalam kamarnya membuat Kinan terkejut.
"Kakak! bisa tidak masuk ke kamar ucap salam atau ketuk pintu dulu! Kinan kaget tau," ucap Kinan kesal. Dion mendekatinya dan memegang kedua pundaknya.
Dion menatap Kinan dari atas sampai bawah dengan heran, "Loh, kamu udah beli seragam baru?"
"Bagus… tapi kamu yakin itu dari Lia? bukan dari pacar kamu?"
Kinan mencibir mendengar godaan Kakaknya, ia mengepalkan tangannya lalu berpose seperti ingin meninju. Kinan tidak benar-benar ingin meninju Kakaknya, itu hanya gertakan saja sebagai bentuk lolucon seperti adik kakak pada umumnya.
"Kinan, semalam kamu belum kasih tau kakak kenapa rok sekolah kamu bisa robek?" pertanyaan yang terdengar seperti interogasi itu membuat Kinan bergedik ngeri, tatapan kakaknya saat ini sangat serius.
Kinan menunduk, tidak berani menatap Dion yang masih menatapnya.
Dion melepaskan tangannya dari pundak Kinan, ia memijat pangkal hidungnya karena pusing memikirkan Kinan yang begitu tertutup dengan kehidupan sekolahnya, "Mau bagaimanapun Kakak paksa kamu cerita pasti kamu tetap diam, Oke Kakak nggak bakal tanya-tanya lagi tapi kalau Kakak tau ada yang tidak beres sama kamu di sekolah jangan harap Kakak tetap tinggal diam!"
Dion segera meninggalkan kamar Kinan dengan perasaan kecewa, kecewa karena Kinan tidak mau membagi masalahnya walaupun dia ini Kakaknya. Namun Dion juga mengerti, Kinan membutuhkan waktu untuk bercerita dengannya, tidak semuanya harus diceritakan dengannya walaupun dia ini Kakaknya.
***
Kinan tiba di sekolahnya. Dengan langkah berat, Kinan melangkah memasuki sekolahnya.
"Good morning, wahai sahabatku,"
Kinan memutar malas matanya mendengar sapaan lebay dari Lia, "Pagi," balasnya singkat.
__ADS_1
"Wah keren! ada apa gerangan nih pake seragam baru? Kak Dion abis terima gaji ya?" heboh Lia yang cengar-cengir menatap seragam Kinan. Melihat reaksi Lia, membuat Kinan mengernyit heran.
"Loh kok kaget? bukannya kamu yang kirim seragam ini tadi malam?" tanya Kinan heran.
"Mimpi lo! gue aja mau beli seragam baru harus nangis kejer minta sama bokap gue."
Kinan menghentikan langkah kakinya dan menatap Lia dengan serius, "Jangan bercanda Lia! kalau bukan kamu siapa lagi yang kirimin aku seragam?"
"Ya, nggak tau mungkin mas kurirnya salah kirim ke alamat kali!" Kata Lia yang berusaha berpikir positif.
"Mana mungkin Lia, jelas-jelas di kotak itu tertulis buat aku."
Lia menggaruk kepalanya, ia jadi bingung juga memikirkannya, "Ah, udahlah Nan, mungkin udah rejeki lo, nggak usah dipikirin lagi mending kita ke kelas aja."
Belum sempat membalas, Lia sudah menarik tangan Kinan menuju ke kelasnya. Sekarang Kinan bertanya-tanya siapa sebenarnya yang mengirimkan dia seragam?
Dari area parkiran yang tidak jauh dari pagar masuk sekolah ada tatapan intens Langit yang tidak pernah lepas dari arah gadis yang baru saja memasuki sekolah. Ia memang sudah memandang gadis itu sejak tadi.
"Ya elah, kalau suka mah langsung gas aja ngomong nggak usah pake acara-acara bully anak orang, ya, gak guys?" sahut Septian yang mendapat seruan dari Jordan dan Dilan.
"Yoi, kemarin aja sok-sok nempelin lem ke bangkunya sampe roknya robek eh malamnya malah ngirimin rok sekaligus seragamnya," sambung Dilan menyinggung namun yang disinggung masih asik menatap Kinan.
"Maklum lah guys, si Langit kayak anak paud yang jatuh cinta jadi masih gengsi-gengsi gitu," Jordan tidak tinggal diam, dia turut ikut menggoda Langit. Kapan lagi mereka bisa melakukan ini pada siswa yang di juluki 'King Bullying'
"Kinan siapa sih?" tanya Danu yang sejak tadi tidak mengerti dengan pembicaraan teman-temannya. Sepertinya ia banyak ketinggalan informasi sejak diskors selama seminggu.
"Gebetan Langit."
Langit meremas kaleng yang ada di tangannya lalu melempar ke arah Septian, "Diam bangsat!"
Jordan dan Dilan tertawa melihat wajah memerah Langit, entah memerah karena malu atau emosi. Yang pasti mereka puas melihatnya.
Langit turun dari motornya, melangkah masuk ke sekolah terlebih dahulu dengan meninggalkan teman-temannya yang masih gencar menggodanya.
Langkahnya yang lebar dan cepat berangsur-angsur pelan karena memikirkan ucapan teman-temannya barusan.
Benarkah ia sedang jatuh cinta dengan gadis seperti Kinan? Langit rasa jawabannya 'Tidak!' Ia yakin, ini hanyalah rasa bersalahnya karena telah membuat rok gadis itu robek makanya ia membeli kan seragam baru.
Tunggu! ada yang aneh!
Langit menghentikan langkah kakinya ketika menyadari sesuatu, "Sejak kapan gue punya rasa bersalah?!"
__ADS_1