
Langit menghentakkan jari-jarinya di meja secara bergantian. Pagi ini Langit hanya terdiam, sedari tadi mata Langit hanya terarah ke pada satu arah, yaitu bangku Kinan. Sejak tadi mata Langit tidak bisa lepas dari bangku kosong tersebut. Suara yang berbisik-bisik karena heran melihat keberadaan Langit di kelas dihiraukan pria itu. Tak seperti biasanya, Langit setenang ini.
"Dia nggak ke sekolah lagi?" Gumam Langit dengan suara kecilnya. Sudah dua hari mangsanya yang satu ini tidak menampakkan batang hidungnya, membuatnya bosan. Maka dari itu Langit mencari mangsa baru untuk dia tindas namun sayangnya ia tidak akan puas jika bukan Kinan lah orangnya.
"Ngapain sih kita di sini? Lo nungguin Kinan?" Danu membuka suara dan bertanya pada temannya, Langit.
"Gue nungguin dia? Ogah!" Jawab Langit namun di wajahnya seperti ada tulisan besar terpajang bahwa dia berbohong.
Langit menghela napas panjang seraya menatap pintu berharap orang yang ia tunggu segera muncul.
"Capek gue dengar helaan nafas lo, kalau nungguin mah bilang aja, muka lo nggak cocok bohong," kata Dilan yang sudah sama bosannya dengan Jordan mendengar helaan napas gusar Langit yang mulai mengganggu.
"Gue? Menghela napas? Sejak kapan?" Ucap Langit mengelak pernyataan Dilan.
"Terserah lo!" Cerca Jordan yang greget sendiri melihat watak gengsi Langit yang sepertinya sudah mendarah daging.
"Eh guys! Ada berita penting!" Teriak salah satu siswa yang baru saja memasuki kelas, dia belum menyadari keberadaan Langit. "Kinan yang katanya di tolong sama Langit udah datang!" Ucapnya lagi.
"Ya terus kenapa?" Tanya Jordan menyahuti membuat siswa tadi gelagapan ketika menyadari keberadaan Langit and the geng.
"Emang itu penting?" Danu ikut menimpali.
Tentu saja itu penting, penting bagi Langit. Karena sekarang penungguannya telah berakhir.
'Dia udah datang?' sebuah senyum jahat menarik ujung bibirnya.
Langit segera berlari keluar dari kelas dengan rasa tidak sabarannya untuk menghampiri Kinan.
"Yaelah, bocah main nyelonong aja! Tungguin kita napa!" Teriak Danu berlari mengikuti Langit disusul dengan Dilan dan Jordan.
***
Sepanjang jalan memasuki area sekolahnya Kinan hanya memasang wajah datar, berpura-pura tuli seolah tak mendengar bisikan-bisikan yang terasa panas di telinganya.
Oh ini yang ditolongin Langit? Oh ini yang bermasalah sama Langit? Oh ini dan blablabla. Begitu banyak bisik-bisik tentangnya yang dimana pasti terdengar nama Langit di akhir ucapan mereka.
"Good morning, Kinan."
__ADS_1
"Langit?" Gumam Kinan tak percaya. Apakah awal paginya yang sudah rusak ini harus tambah rusak lagi karena keberadaan si biang onar ini? Kenapa harus sekarang dia muncul?
"Wow! Cuman sekali dengar lo langsung tau suara gue? Kenapa? Mulai suka sama gue?" Goda Langit.
"Berhenti ngikutin aku!" Perintah Kinan namun sepertinya tidak mempan untuk membuat Langit berhenti mengikutinya.
"Lo pikir gue bakal ngerjain lo sepagi ini? Tenang gue bakal biarin lo hirup udara segar buat pagi ini, tapi gak buat nanti dan seterusnya jadi nikmatin sepuasnya." ujar Langit sambil tersenyum manis namun menurut Kinan itu sebuah senyum kematian baginya.
"Udaranya udah tercemar karena ada kamu!" Kinan menatap tajam Langit.
"Jangan melotot kasian mata kecil lo nggak sanggup bikin gue takut."
Kinan berdecak tidak suka. Apa Langit meremehkannya? Kinan rasa tendangannya tempo hari kurang keras.
Kinan tidak meladeni ucapan Langit dan mempercepat langkahnya agar segera menjauh dari pria itu.
"Bangsat!" Umpat Langit yang tak terima Kinan pergi begitu saja setelah mengabaikannya. Langit ikut mempercepat langkahnya mengejar Kinan, biar dia beri sedikit pelajaran pada gadis songong itu.
Dengan sekali tarikan Langit menarik ikat rambut Kinan yang membuat rambutnya terurai panjang dengan indah.
"Kalau gini kan cantik," kata Langit seraya Merapikan rambut Kinan lalu pergi begitu saja meninggalkan Kinan yang mematung karena terkejut.
"Langit sialan!"
***
Tatapan intens Septian yang terarah ke gadis yang sedang berjalan beriringan dengan Langit itu tak pernah lepas. Ia memang sudah memandang gadis itu sedari tadi, namun dia tidak berpikir bahwa Langit akan menghampiri gadis itu. Apakah Langit juga sudah mulai tertarik pada gadis itu?
Septian menghisap dalam rokoknya dan menghembuskan di udara. Ia menyandarkan punggungnya, sesekali menghisap kembali rokoknya.
Keadaannya sekarang sangat kacau, sama seperti isi kepalanya yang pusing memikirkan kejadian dua hari yang lalu. Sejak hari itu Septian dan Langit belum saling berbicara. Jangankan sepakata, saling menyapa pun keduanya acuh tak acuh.
"Ck! Apa istimewanya cewek itu sampai gue bela dia dan ngerusak pertemanan gue sama Langit yang udah lama?" gerutu Septian. Ia sendiri pun bingung mengapa dirinya yang tak pernah ikut campur dengan urusan Langit malah begitu sangat emosi saat mengetahui Kinan hampir disetubuhi karena ulah Langit.
Septian tidak bodoh, dia dengan sangat sadar bahwa dirinya saat ini sedang tertarik pada gadis yang bernama Kinan itu namun apa yang ada didalam diri gadis itu sampai membuatnya tertarik? Kinan hanyalah gadis cupu yang berpenampilan membosankan.
Seseorang pernah mengatakan padanya bahwa cinta itu rahasia alam. Apakah alasan dirinya tertarik pada Kinan juga termasuk rahasia alam? Ataukah ini sebuah rencana dari takdir untuk mempermainkannya?
__ADS_1
Septian rasa ia harus mencari tau sendiri.
***
Saat jam pelajaran sedang berlangsung, tiba-tiba terdengar suara pengumuman yang berasal dari speaker. Pengumuman itu berasal dari ruang guru yang menginfokan kepada pemilik nama Kinan Artharin untuk segera menuju ruang guru karena sang guru Biologi tercinta yang tak lain adalah Pak Jaedi, memanggil Kinan.
Kinan yang sebenarnya sedang bolos ke perpustakaan sangat malas bergerak dari posisi nyamannya. Walaupun dia termasuk golongan siswa pintar namun faktanya dia tetap manusia yang bisa merasa jenuh dengan mapel sekolah.
Dengan ogah-ogahan ia segera melangkahkan kakinya menuju ruang guru.
"Assalamualaikum." Kinan memasuki ruangan tersebut ketika salah satu guru yang duduk dekat pintu menjawab salamnya.
"Permisi bapak manggil saya?" Tanya Kinan terlihat ragu.
Pak Jaedi mengangguk kecil lalu menunjuk bangku kosong di depannya dengan dagu pertanda mempersilahkan atau lebih tepatnya memerintah Kinan untuk duduk.
Kinan dengan patuh menduduki salah satu kursi kosong tersebut, tak lama ia duduk kursi kosong yang satunya lagi berbunyi menandakan seseorang menempati kursi tersebut.
"Hai!" Sapa orang itu ketika Kinan menoleh.
Kinan memutar malas matanya ketika Langit menyapanya dengan senyum sumringah.
"Lo ngapain disini? Ngikutin gue?"
'Kepedean!'
Kinan hanya diam, tidak merespon bahkan tidak melirik sedikitpun ke arah Langit. Pandangannya terus tertuju ke depan, ke arah Pak Jaedi yang kini terlihat seperti menahan senyum di bibirnya.
"Langit, akhir-akhir ini saya perhatikan kamu mulai sering banyak senyum kalau ada Kinan." Kata Pak Jaedi yang membuat Langit mengubah senyumnya menjadi wajah datar seperti semula hanya dalam hitungan detik.
Pak Jaedi menggeleng heran menatap perubahan wajah Langit sebelum melanjutkan katanya. "Sudah tau kenapa saya manggil kalian?"
Setelah mendapat respon gelengan dari kedua remaja di depannya, Pak Jaedi mengeluarkan kertas selembar dari laci mejanya lalu meletakkan di depan Langit dan Kinan yang sama-sama penasaran. "Kalian liat sendiri."
Keduanya dengan ragu menatap kertas dan membaca selembar tersebut dengan teliti. 'Oh, ternyata kertas ulangan Langit' ujarnya dalam hati, tapi ada apa dengan kertas ulangan Langit?
"Tidak salah saya memilih kamu sebagai guru privat Langit, karena kamu kini nilai Langit ada perubahan baik."
__ADS_1
Kinan mengangguk seraya tersenyum namun sedetik kemudian dia melotot tak percaya dan menoleh dramatis menatap Langit yang sama kaget dengannya.
'Wtf!'