
Setelah beberapa menit Kinan dibiarkan menggigil di tengah lantai tanpa alas, empat orang pria memasuki kamar mandi dan melihat kondisi Kinan yang jauh dari kata baik. Kinan meringkuk ketakutan, kedinginan, dan kesakitan yang teramat pada badannya.
"Lo pilih buka baju sendiri atau harus kita yang turun tangan?"
Kinan terperanjat kaget, ia mendongak melihat keempat pria dihadapannya. Ia menggeleng kuat-kuat. Ia tak mungkin berakhir di sini.
"LO BISU? JAWAB!!"
Kinan menggeleng-menggelengkan kepala, ia sudah tak sanggup berbicara lagi. Bibirnya sangat lemas dan bergetar.
Salah satu pria tersenyum remeh lalu mendekat, berjongkok di hadapan Kinan lalu mengarahkan dagu Kinan agar menatapnya, "Buka baju sendiri atau gue buka secara paksa?" katanya lembut namun terkesan menakutkan.
Kinan kembali menggeleng. Membuat pria itu geram lalu menarik lengan baju Kinan hingga sobek. Pria itu melempar sobekan itu tanpa arah. Kinan telah menangis ketakutan. Dalam hati ia berdoa agar tidak menjadi wanita murahan pada malam ini. Ia sangat takut. Terlebih ruangan ini jauh dari keramaian.
"Damn! tubuh lo indah!" Kinan kini mempererat pelukannya pada tubuhnya sendiri. Ia menangis sejadi-jadinya berharap mereka mau melepaskan karena tidak tega padanya.
Namun yang dilakukan pria itu jauh dari ekspektasi. Pria itu malah dengan lancang membelai lengan tanpa benang milik Kinan. Mati-matian Kinan menghindar tapi tubuhnya begitu lemas. Ia tak mampu menghindar bahkan berteriak.
"Diam aja dan nikmati cara kerja kita girl!"
Pria itu mendorong tubuh Kinan hingga terlentang di atas lantai kamar mandi. Dengan segera pria itu membuka bajunya agar tidak mengulur waktu lagi. Ia tidak ingin kesempatan ini hilang begitu saja.
Pintu kamar mandi terbuka dengan keras akibat tendangan dari sosok pria yang tengah memperlihatkan amarahnya. Wajahnya memerah hingga ke telinga, urat di leher dan pelipis-nya menonjol dan napasnya memburu. Langit, dengan tatapan bengis menatap keempat pria di hadapannya.
"SIALAN! SIAPA YANG NYURUH KALIAN DENGAN LANCANG NYENTUH DIA!!"
Keempat orang itu terhempas di lantai dengan sarat ketakutan teramat. Ia tak sanggup melawan Langit yang tengah tersulut emosi.
"MULAI SEKARANG JANGAN PERNAH NUNJUKIN MUKA BUSUK KALIAN DI HADAPAN GUE! ATAU KALIAN TINGGAL NAMA!!"
Semua pria itu pergi menjauh sebelum Langit benar-benar murka. Langit bukan orang biasa yang berbohong atas ucapannya. Mereka pergi dengan kaki gemetar ketakutan. Meninggalkan pria kejam itu dengan gadis yang sudah lemas tak berdaya.
Langit menoleh ke bawah, melihat gadis yang tak mempunyai energi untuk sekedar mendongak ke atas.
__ADS_1
Langit mendekatinya, mendekap tubuh ringkih itu di dalam pelukannya. Membuat sensasi hangat pada hati dan badan Kinan. Seketika atmosfer dalam dirinya melayang jauh mengambang ke awan. Langit tak mempedulikan bajunya yang basah akibat badan Kinan.
"Kamu dari mana aja? aku takut," gumamnya pelan namun masih dapat didengar Langit.
"It's okay jangan takut, sekarang udah ada gue."
Langit masih setia mendekapnya. Menyalurkan energinya pada gadis yang kini masih gemetar ketakutan. Melihat Kinan dengan pakaian yang sudah tidak utuh membuat hati Langit terhenyak. Ia segera melepas jasnya dan memakaikan pada Kinan.
Dengan gerakan pasti, Langit menggendong Kinan menuju mobil untuk segera membawanya pergi dari sini.
***
Kinan mengeratkan jaket milik Langit yang melekat di badannya. Udara malam semakin dingin, angin malam bertiup dari arah timur menerpa wajahnya. Beberapa anak rambutnya jatuh menghalangi mata indah yang terkena pantulan sinar lampu jalan.
Kinan menyelipkan beberapa helai rambut ke belakang telinga. Sungguh mengganggu dan membuat wajah gatal.
"Jangan salah paham, gue nolongin lo karna merasa bersalah udah ninggalin lo sendirian tadi."
Selepas itu, mobil sport hitam itu melaju dengan kecepatan tinggi. Menyusuri jalanan sepi di daerah rumah Kinan. Mata Kinan menatap wujud mobil itu hingga ke ujung jalanan.
***
"Anggi?" Septian menatap wanita yang terduduk setengah sadar di depan pintu kamar hotelnya.
Septian segera menarik Anggi berdiri dan menopang tubuh gadis itu agar tak terjatuh. Entah apa yang terjadi sehingga gadis itu mengalami mabuk berat.
Anggi mencekal tangan Septian, Septian menoleh pada Anggi yang kini menatapnya dengan mata memerah, "Aku boleh tanya sesuatu?"
"Kenapa?"
"Aku kurang ya? kenapa kamu nggak cinta sama aku aja, Langit."
Septian mengangguk paham, kini ia tahu penyebab alasan gadis di sampingnya mabuk. Tanpa menjawab pertanyaan itu, Septian menggendong tubuh Anggi dan membawanya masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Ia merebahkan Anggi di kasur lalu kembali duduk pada sofa dan melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda, ia sibuk mengetik sesuatu di laptopnya.
Di tengah kesibukannya, Anggi menghampiri Septian lalu menyenderkan badannya pada meja Septian. Ia menatap raut serius wajah Septian, di matanya ia hanya melihat wajah Langit saat ini. Rasanya Anggi ingin mengusap rahang tegas itu dan menyerahkan dirinya agar pria itu menjadi miliknya.
"Langit," panggilnya.
Septian hanya berdehem, tidak ingin membuyarkan keseriusannya hanya untuk menanggapi Anggi yang sedang mabuk.
"Harusnya aku jadi milik kamu kan?"
Septian mengalihkan fokusnya ke arah Anggi.
"Kenapa kamu nggak mau sentuh aku? kenapa kamu lebih milih dia daripada aku?"
"Anggi sadar! gue bukan Langit tapi Sep-" Septian terdiam ketika Anggi mencium bibirnya.
Septian pria normal, tentu ia membalas ciuman panas itu. Keduanya sama-sama terbawa suasana, hingga Septian mengangkat tubuh Anggi dan membawanya ke kasur. Dengan cekatan, Septian menyibakkan gaun Anggi, mempertontonkan paha yang dilihat langsung oleh Septian. Tah tahan, ia mengusap paha itu dengan lembut. Membuat gadis itu menggeliat tak tahan.
Anggi yang saat ini dalam pengaruh minuman memabukkan dan Septian yang tak tahan, membuat keduanya melakukan hal itu. Septian sadar sedang melakukan apa dengan siapa tanpa menggunakan benda pengaman dan Septian adalah pria pertama yang mendapatkannya.
***
Langit baru saja sampai di rumah. Mata Langit masih setia memandang plafon rumah. Netra tajam dengan warna hitam kelam itu menatap ke arah lampu kamarnya. Namun di pikirannya jauh melayang dari apa yang dilihatnya.
Kejadian tadi terus berputar-putar seperti kaset rusak di benaknya. Menjadi beban pikiran tersendiri pada otaknya. Ia tidak bisa menghentikan pertanyaan yang muncul di benaknya. Perasaan bersalah terus menyelimuti benaknya. Apalagi saat melihat Kinan menangis gemetaran ketakutan, rasanya Langit seperti orang jahat. Mungkin bukan seperti lagi tapi memang orang jahat.
"Lo kenapa Langit! sadar! sadar!"
Langit memaki dirinya sendiri yang entah mengapa merasa resah. Gadis cupu itu selalu berada di benaknya, bagaimana tubuh mulusnya terumbar begitu saja.
Bohong jika Langit tak tertarik pada tubuhnya. Hanya tubuhnya! ingat itu. Langit menepis jauh-jauh dari kata-kata menjijikan itu. Tidak mungkin Langit mencintai gadis itu.
"Tapi kenapa gue nolongin dia? kenapa gue merasa bersalah? gue sendirikan yang ninggalin dia?!" Langit menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan, sekejap ia merasa rileks kembali, "Gue yakin itu bukan rasa suka! itu cuman rasa bersalah, wajar gue ngerasain itu namanya juga manusia."
__ADS_1
Simpulnya setelah memikirkan dengan matang-matang. Ia yakin bahwa kejadian 'menolong Kinan' tadi hanya semata-mata rasa bersalah yang dimana wajar dirasakan oleh manusia.