
Langit turun dari mobil berwarna hitam kesayangannya dengan gaya elegant. Memakai kemeja hitam, celana hitam, sepatu hitam, dan kacamata hitam. Semuanya serba hitam melekat dengan indah pada tubuh atletisnya.
Langkahnya yang lebar dan tegap tidak dapat dihentikan oleh siapapun hingga ia membuka pintu rias. Seorang gadis cantik dengan gaun merah merona berdiri di hadapannya. Mata elangnya turun ke bawah melihat kaki jenjang kini dibaluti sepatu hak tinggi dengan warna hitam itu terlihat seksi dipakai olehnya dan poin paling utama adalah rambut yang biasa dikuncir kuda kini dibiarkan terurai indah dengan poni yang menghiasi keningnya. Sungguh pemandangan yang indah dan candu bagi Langit.
Ini kah Kinan si gadis cupu itu? bahkan ingin dibandingkan dengan gadis lain, Kinan lah paling cantik malam ini.
Kata cantik sudah tertahan di ujung lidah, ingin rasanya dia memuji gadis di hadapannya. Namun bukan Langit namanya jika tidak bisa mengendalikan raut wajah. Ia hanya memandang tenang dari bawah hingga atas kepala Kinan. Kinan sendiri sedikit kesal melihat Langit yang tidak kagum, hanya menampilkan wajah datar. Setidaknya Langit memujinya walaupun itu hal kecil.
"Iya tau gue ganteng, nggak usah bengong gitu, buruan ikutin gue!" dengan rasa percaya diri Langit menginstruksi agar Kinan mengikuti langkahnya memasuki mobil. Walaupun dalam hati Kinan mengomel ia tetap mengikuti tanpa menolak.
"Sebenarnya kita mau kemana? dari tadi kamu belum jawab aku," tanya Kinan yang sudah duduk nyaman di dalam mobil.
"Acara angkatan teman gue," jawabnya singkat lalu melajukan mobil.
"Emang kita bisa datang? eh, bukan kita tapi aku, aku bisa datang? itukan acara angkatan teman kamu kenapa aku harus ikut--"
"Bawel! nggak usah berisik, lo mendingan duduk diam atau gue lempar lo ke jurang!" mengingat seperti apa sifat Langit yang tidak pernah main-main dengan ucapannya membuat Kinan segera duduk diam dengan patuh bak anak TK.
"Good job girl," ujar Langit sambil menepuk pelan kepala Kinan dengan sebelah tangannya yang menganggur.
Selama perjalanan tidak ada sepeser kata pun yang mereka lontarkan kecuali pertanyaan dan ancaman tadi. Mobil itu sunyi membelah keramaian kota. Mata Kinan tidak bisa untuk tidak melotot ketika mobil Langit berhenti di sebuah club. Memang guru memperbolehkan siswanya menyelenggarakan pesta di club?
Langit berjalan diikuti Kinan di sampingnya, memasuki area club dengan kerumunan orang di dalam sana sedang berjoget ria. Alunan musik serta lampu diskotik itu menjadi teman lenggokkan badan mereka. Baru kali ini Kinan menginjakkan kakinya di tempat perkumpulan setan.
"Annyeong haseyo besty!!!" Dilan menyapa dengan suara melengking karena suara musik di dalam club yang berisik.
"Yang lain kemana?" tanya Langit santai dengan memasukkan kedua tangannya di masing-masing saku celana.
"Ada di atas," jawabnya lalu melirik gadis di samping Langit, "Eh, neng Kinan, cantik banget. CBL CbL CBL Cantik Banget Loh!" Langit hanya diam dan Kinan pun begitu. Dilan kembali melanjutkan perkataannya, "Ke pasar beli itik, itiknya suka makan kedondong, neng Kinan cantik, no wanya dong," tidak lupa dengan kedipan mata maut Dilan setelah selesai berpantun.
Kinan hanya mengangguk seraya tersenyum tipis, sedangkan Langit hanya menampilkan wajah datar.
"Kinan mau ke sana nggak? kita joget seriya meriya boria meriah kayak upin ipin itu loh."
"E-eh, nggak usah, kamu aja yang ke sana."
Langit melirik Kinan yang terlihat tidak nyaman dengan pakaiannya. Gadis itu mencoba menutupi belahan dada dan juga pahanya yang terekspos bebas. Langit menarik tangan Kinan dengan kekuatan yang sedikit lembut tidak seperti sore tadi.
Kinan mengikuti arah dimana Langit mengajaknya ternyata di lantai dua yang cukup sepi. Ia dan Langit duduk di sebuah sofa merah menyala. Di sini hanya ada beberapa pasang kekasih yang duduk di sofa, tidak ada yang berjoget ria seperti di lantai bawah tadi.
"Lo tunggu gue di sini!" Kinan menahan tangan Langit ketika ia hendak pergi.
__ADS_1
"Kamu mau kemana? a-aku takut sendirian di sini."
"Gue sebentar doang."
"Aku ikut aja ya, aku nggak mau di sini," tolak Kinan yang berusaha membujuk kembali Langit.
"Gue bilang disini aja ya di sini aja! ini perintah!" Langit menepis pelan tangan Kinan lalu pergi.
***
Malam semakin larut namun Langit belum juga kembali. Sekarang ia terjebak dengan rombongan anak laki-laki yang ikut duduk bersamanya. Ia sudah menolak dan mencari ribuan alasan agar pergi dari sana namun semuanya tetap gagal.
Kinan hanya ingin pulang agar Kakaknya tidak mengkhawatirkannya. Pasti kini Kakaknya sudah pulang kerja dan bingung dengan keberadaannya yang tidak ada di rumah.
"Minum!" salah satu diantara mereka menyodorkan satu gelas minuman keras itu pada Kinan yang diam mematung menatap air dalam gelas itu dengan tatapan tidak suka.
"Maaf aku nggak bisa minum itu," tolaknya halus tentu saja ia tidak ingin menyinggung perasaan orang itu.
"Gue bilang minum!" kini nada itu menjadi sedikit tegas.
"Aku bilang nggak mau! jangan maksa aku!" tolak Kinan kedua kalinya membuat orang itu mengepalkan tangan karena geram.
Orang itu menarik rambut Kinan dan memaksa membuka mulut untuk meminum minuman keras itu. Namun Kinan tidak tinggal diam, dia memberontak berusaha menghalau minuman tersebut dari mulutnya. Hingga tangannya tidak sangaja menepis tangan orang itu.
Byurrr
Orang itu menyeret Kinan ke salah satu bilik kamar mandi dan mendorong tubuh Kinan hingga ia terduduk secara kasar ke lantai kamar mandi. Yang kini Kinan rasakan adalah sakit pada pinggangnya.
Byurrr
Air dingin yang mengalir dari shower membasahi seluruh tubuh Kinan hingga basah kuyup. Kinan menggigil kedinginan, ia menangis sesenggukan. Kinan sudah tidak kuat atas penderitaan ini. Kinan ingin menyerah. Seluruh sendinya terasa sakit dan tubuhnya sangat dingin. Ia menggigil ketakutan dan meringkuk berharap dapat menghangatkan diri meski sedikit.
Namun usahanya sia-sia, hanya ada rasa dingin menusuk tulang yang ia dapat. Kepalanya terasa pening dan ia menggigil hebat. Ia sudah tidak kuat untuk sekedar berkata. Ia tidak tahu apakah kesadarannya akan hilang setelah ini. Ia hanya membutuhkan sebuah pertolongan dari malaikat. Ia juga membutuhkan kehadiran Langit, Kinan mengakui kalau berada di sekitar Langit tidak semenderita ini.
"Langit… kamu di mana?"
***
"Gimana Lang, kalau udah lulus mau kuliah atau nerusin perusahaan keluarga kamu?" aura penuh kelembutan itu bertanya dengan sangat lembut. Membuat Langit teringat pada sosok gadis yang sudah dia tinggalkan sendirian sejak beberapa jam yang lalu.
"Rencananya mau kuliah sambil ngurus perusahaan bokapnya," bukan Langit yang menjawab melainkan Danu. Cowok itu sudah tau bagaimana sifat Langit yang tidak akan menjawab pertanyaan soal pribadinya.
__ADS_1
Anggi mengangguk mengerti. Ia menatap Langit dengan pandangan memuja. Baginya Langit adalah sosok yang dingin yang penuh dengan teka-teki. Sudah satu tahun, sejak mereka saling mengenal namun hanya sebatas mengenal wajah dan nama. Anggi tidak tau seperti apa kehidupan Langit. Dan itu membuat Anggi penasaran sampai sekarang membuatnya tertarik pada sosok Langit.
Langit pun tau bahwa Anggi memendam rasa padanya namun sampai saat ini, Langit tidak pernah memberi jawaban.
Bisakah Anggi berharap? walaupun ia tahu Langit tidak lebih menganggapnya sebagai wanita penghibur namun sampai detik ini Anggi mempertahan keperawanannya hanya untuk Langit. Jika memang sudah ada nama gadis lain yang tertera di dalam hati Langit, Anggi akan mundur dan melupakan perasaannya.
"Kamu senggang? aku rindu sama kamu," bisik Anggi menggoda, perlahan tangannya terangkat mengusap paha Langit secara naik turun.
"..." Tidak ada jawaban bahkan tidak ada penolakan. Membuat Anggi merasa senang. Ia mulai menaiki Langit dan duduk di atas pangkuannya. Kedua tangannya merangkul erat leher Langit.
"Aku tau kamu juga mau kan?" tanyanya, tangannya masih berlanjut menjalahi seluruh permukaan dada bidang hingga membuka satu persatu kancing baju Langit.
Langit mengerang membuat Anggi puas.
Langit mengerang bukan karena menikmati sentuhan Anggi namun memikirkan keadaan Kinan. Ada perasaan khawatir yang terus menghantui pikirannya. Ingin rasanya ia berlari menghampiri Kinan. Namun Langit sadar bahwa ini semua rencananya. Rasanya begitu menyedihkan bukan?
Begitu terlalu memikirkan Kinan, Langit terlonjak kaget kitika bibir Anggi sudah menyatu dengan bibirnya, menyalurkan rasa nafsu yang membludak. Langit mendorong pelan bahu Anggi dan menatapnya dengan tatapan sedih.
Anggi tersenyum manis, mengusap lembut wajah Langit, tangan kanannya turun menunjuk ke arah dada cowok itu, "Apa gadis tadi sudah mengisi hati kamu?"
"Gue... gue nggak ngerti sama perasaan gue sendiri," ujarnya seraya menunduk.
Anggi terkekeh, ia mengangkat wajah Langit agar menatapnya, "Cinta itu rahasia alam, tidak ada yang tau kapan datangnya, tapi sama seperti angin. Walaupun tidak bisa dilihat tapi bisa dirasakan. Aku yakin kamu pasti sudah merasakan perasaan itu walaupun kamu belum sadar."
Apakah begitu? memang cinta itu ada dan nyata? mengapa perasaannya menolak mengakui 'cinta' itu ada?
Brak!
Pintu dari ruangan VIP yang sudah Langit pesan, terbuka lebar menampilkan Dilan dan Jordan yang ngos-ngosan.
"LANGITT! KINAN DI--- OH MY GOD! MY EYES!" umpat Dilan yang langsung menutup mata ketika melihat Langit yang begitu intim dengan seorang wanita.
Anggi turun dari pangkuan Langit, merapikan gaunnya yang sedikit berantakan.
"Si anjing! malah ***** di sini! liat Kinan nih ege!" sarkas Jordan yang menyodorkan ponselnya menampilkan sebuah pesan dari seseorang yang mengirimkan foto yang belum terlalu jelas, membuat Langit menekan foto itu. Langit membaca jajaran kalimat yang ada di bawah foto.
'Lihat guys kita dapat barang bagus! kurang nikmat rasanya kalau malam ini tidak di temani rahim yang hangat!'
Setelah foto itu berhasil dibuka, Langit benar-benar meremas ponsel Jordan. Hingga buku-buku di tangannya memutih.
Anggi yang melihat reaksi Langit tersenyum kecut. Ia sudah tau jawabannya yang ia tunggu-tunggu selama ini. Mungkin sudah saatnya ia melupakan perasaannya.
__ADS_1
'Langit cinta gadis itu'