
"Damian!" panggil Dilan. "Mau ikut ke kantin bareng kita nggak?"
Danu merangkul bahu Damian dengan watadosnya, "ikut ajalah, sekalian mau minta maaf yang tadi pagi," jelasnya.
Damian hanya mengangguk dan mengikuti kemana kedua pemuda itu menyeretnya.
"Btw gue Dilan, itu Danu terus di sampingnya Jordan." Dilan memperkenalkan teman-temannya dengan menunjuk mereka secara satu-persatu.
Damian mengangguk lalu menunjuk pemuda yang berjalan di depannya dengan wajah tanda tanya.
"Oh, itu Langit, dia emang rada-rada jadi maklum agak pendiam," kata Danu. Langit yang sedang dibicarakan hanya memutar malas matanya. Cowok itu terus berjalan sampai masuk ke kantin dengan wajah flat-nya.
"Lang, btw si Sella udah waras ya? akhir-akhir ini nggak pernah deketin lo lagi," tanya Danu padanya.
"Nggak tau!" jawab Langit dengan tampang jutek.
"Kurang update lo! Sella udah nggak ngincer Langit lagi tapi Jordan."
Jordan menoleh menatap sinis Danu dan Dilan. "Sella nggak seburuk itu, dia anaknya baik."
Danu dan Dilan bersorak heboh, tidak menyangka Jordan akan membela Sella. Sedangkan Damian yang tidak mengerti hanya diam mengamati.
"SELLA! SELLA! JORDAN NYARIIN LO!!" teriak Dilan iseng memanggil Sella.
Sella yang hendak keluar dari kantin langsung menghampirinya, "hai Jor-- Damian?!" kaget Sella.
Damian tersenyum lebar menatap Sella yang terkejut melihatnya. Matanya berbinar, ia hendak maju dan memeluk erat Sella namun ia urungkan setelah mendengar pengakuan dari gadis tersebut.
"Lo kenal Damian Sel?" tanya Jordan heran yang menatap keduanya secara bergantian.
"Nggak! gue nggak kenal!" katanya setelah itu pergi begitu saja. Melangkah pergi secara terburu-buru tanpa menoleh sedikitpun.
"Jangan tersinggung, dia emang agak aneh," hibur Danu lalu merangkul kembali Damian dan membawanya masuk ke kantin, tentunya ke meja yang selalu menjadi tempat nongkrong mereka dan Damian satu-satunya orang yang diizinkan duduk di tempat itu bersama Langit dan kawan-kawan.
"Hai Danu!" Lia yang hendak kembali ke kelas menyempatkan menyapa Danu, ia tidak peduli dengan tatapan keheranan dari teman-teman Danu. Toh, dia menyapa pacarnya sendiri. Lia tertawa dalam hati, rasanya geli mengakui Danu adalah pacarnya.
"Hai juga, kamu sendirian aja? tumben nggak bareng Kinan."
"Oh Kinan lagi di rooftop."
Dilan yang memang tabiatnya kepo, menatap penuh curiga kedua remaja itu. Terutama Danu yang tidak biasanya menggunakan kata 'kamu' dengan lawan bicaranya. Lain halnya dengan Langit yang bangkit dari duduknya.
"Lang! lo mau kemana?" tanya Jordan yang heran pasalnya mereka baru saja duduk dan belum memesan apapun.
"Rooftop!"
"Cih si bucin!" ejek Dilan, tentu ia tau maksud Langit ke rooftop. Kalau bukan karena Kinan, karena apa lagi?
***
Septian membawa dua bekal makanan ke rooftop. Ia tidak melihat keberadaan Kinan di kantin, perpustakaan maupun di kelasnya. Ia yakin jika bukan ke rooftop ke mana lagi gadis itu akan pergi.
Ia melangkah dengan pasti, menaiki satu-persatu anak tangga. Ada sesuatu hal yang harus dia katakan pada gadis itu, dengan pasti ia membuka pintu rooftop dan seperti yang ia duga, Kinan tengah duduk diam menatap gedung-gedung pencakar langit.
"Lo udah makan? gue bawain bekal." Septian menyodorkan bekal yang berisi roti isi itu ke arah Kinan yang nampak terkejut dengan kedatangannya secara tiba-tiba. Dengan sikap seperti biasanya, Kinan tersenyum manis tanpa mengambil bekal yang diberikan Septian.
"Aku mau bicara sesuatu." -Kinan.
__ADS_1
"Gue mau bicara sesuatu." -Septian.
Mereka saling salah tingkah ketika berbicara dengan bersamaan tanpa di sengaja. Kinan memilih menyibukkan diri dengan menyelipkan beberapa helai rambutnya yang terbawa angin. Sedangkan Septian mengusap belakang lehernya sambil tertawa canggung.
Kinan berdehem sebentar lalu ia kembali bersuara, "kamu aja yang duluan bicara."
"Gue suka sama lo." Tanpa bertele-tele Septian mengungkapkan perasaannya dan menoleh mendapati Kinan yang menatapnya dengan tatapan aneh. Seperti tatapan kecewa.
"Gue tau lo kecewa, tapi gue mohon pilih gue jangan Langit." Septian menggenggam kedua tangan Kinan namun Kinan menghempasnya.
Nyatanya sakit, seperti tertohok tombak tumpul yang terus memaksa menusuk masuk ke relung hatinya. Apakah semua kebaikan Septian selama ini tidak murni sebagai teman?
"Aku kecewa sama kamu, selama ini aku pikir kamu bantuin aku karena murni sebagai teman."
Keduanya terdiam merenungkan diri masing-masing, saling menunduk enggan menatap, hingga dengan keberanian Septian mengangkat kepalanya dan memegang kedua bahu Kinan yang masih membuang muka jauh-jauh. "Maafin gue Kinan, tapi gue mohon lo pikir-pikir lagi, lebih baik lo milih gue daripada Langit."
"Aku yang salah Septian, aku yang terlalu bodoh dan nggak peka sama kebaikan kamu yang ternyata mengharapkan sesuatu yang lebih dari teman." Kinan menghempaskan tangan Septian yang masih berada di bahunya dan berdiri dari duduknya tanpa menyentuh bekal yang diberikan Septian.
"Lo mau kemana?" tanyanya yang mencekal tangan Kinan.
"Lepasin!!"
"Please kasih gue kesempatan, gue janji nggak akan buat lo kecewa apalagi nyakitin lo."
Kinan tak habis pikir dengan Septian, tidak cukupkah penolakan halus yang ia berikan untuk menyadarkan Septian kalau dia tidak bisa memaksakan perasaannya terhadap Septian.
"LEPASIN KINAN!!"
Kinan menoleh, retina matanya menatap satu-satunya objek yang ia kenali, Langit. Yang kini melangkahkan kaki jenjangnya, menarik tangan Septian dan tanpa pikir panjang Langit melayangkan pukulan pada lelaki dihadapannya tanpa jeda. Seolah orang yang ia hajar bukanlah manusia. Ia tak ingin memberi ampun. Karena, ia sendiri sudah memberi peringatan pada Septian.
Tak ada respon, Langit masih sama, tetap melayangkan pukulannya pada wajah Septian. Sesekali kakinya menendang tubuh Septian tanpa rasa belas kasih.
Kinan memilih mengambil tindakan dengan menahan tangan Langit walaupun ia tahu itu berisiko dan bisa saja ia terkena pukulan juga.
"Stop! kamu hampir bunuh dia!" teriaknya.
Langit menghentikan aksi gilanya dan menoleh kebelakang menatap Kinan. "LO GILA! KALAU LO KENA PUKULAN GIMANA?!"
Kinan mundur beberapa langkah karena terkejut dengan bentakan Langit. "Kamu yang gila! kalau Septian kenapa-kenapa gimana?! aku nggak ma-"
"Oh, jadi lo lebih milih bela dia?" potong Langit tanpa ingin mendengarkan Kinan.
"Aku cuman nggak mau kalian kenapa-kenapa!"
Langit berdecak, disaat seperti ini Kinan masih memikirkan Septian? tidak bisakah Kinan membuka mata lebar-lebar kalau orang yang dia bela adalah orang yang salah. "Lo jangan mau dibegoin sama dia!"
"Langit!" desis Kinan.
"Apa? lo masih mau bela dia? udah gue bilang jauhin Septian tapi kenapa lo ingkar janji mulu?!" desaknya.
"Memangnya kamu siapa ngatur-ngatur aku?!"
Salah satu alis Langit terangkat keatas, melonggarkan dasi sekolahnya yang terasa mencekik. "Perlu gue perjelas?"
"Terserah!"
Langit menunduk, hingga tubuhnya berhadapan langsung dengan tubuh Kinan. Semakin dekat jarak mereka, semakin bergetar tangan Kinan melihat tatapan penuh amarah Langit. Tatapan itu sangat mengerikan.
__ADS_1
Kinan mencoba menahan tubuh Langit, namun kekuatan pria tersebut lebih besar darinya.
Kinan berusaha melepaskan cengkraman tangan Langit pada bahunya saat ini. Tatapan tajam dan penuh hasrat itu terlihat jelas di mata Langit saat menatap bibir Kinan.
Kinan tau pikiran Langit dan ia takut bahkan tak tahu harus berbuat apa.
"Langit lepas!" ucapnya yang masih terisak.
Semakin berontak Kinan ingin dilepaskan, maka semakin kuat juga cengkraman Langit di bahunya. Wajah Langit mendekat pada wajah Kinan. Mulai mencium dan ******* bibir Kinan, walaupun itu hanya ciuman ringan namun terasa menuntut.
Kinan meringis ketika Langit menggigit kecil bibirnya. Merasakan lidah Langit yang mulai memaksa masuk, Kinan segera memukul dada Langit agar pria itu menghentikan perbuatan yang tak senonoh.
Langit tersenyum tipis setelah melepaskan ciumannya. Lelaki bertubuh jangkung itu mendekati telinga Kinan.
"Lo nggak bisa kemana-mana, lo cuman punya gue!" bisiknya pelan.
Kinan mengalihkan pandangannya, ia mundur ketika Langit sudah melepaskannya. Lalu Kinan mendekat pada Septian.
"Diam, gue udah larang lo deketin dia!"
Kinan mengabaikan larangan itu, ia merasa bersalah pada apa yang dialami Septian. Ia meringis melihat luka-luka di permukaan kulit Septian. "Sini aku bantu."
Langit menarik paksa Kinan dari duduknya dan membawanya turun dari atap sekolah, meninggalkan Septian yang masih terkapar tak berdaya di atas sana.
"APA LAGI?" bentak Kinan.
"Lo mau ngapain? nolongin dia?"
Kinan menatap tak percaya pada Langit. Septian sekarat karenanya. Lalu dia menanyakan yang sudah jelas jawabannya?
"Ok fine! aku yang salah tapi biarin aku nolongin Septian dulu." Putus Kinan, ini bukan waktu yang tepat berdebat.
Pertikaian mereka mulai menarik perhatian. Siswa dan siswi mulai bergerombolan, mengambil foto dan video. Kinan merotasikan matanya, tak ada seorangpun yang melerai mereka.
"Cukup Kinan, ikut gue!"
Langit menarik pergelangan tangan Kinan. Kinan tentu memberontak, seseorang harus membantu Septian yang masih berada di atap. Namun kekuatan Langit begitu kuat, tak sebanding dengan dirinya. Langit bahkan menabrak orang yang menghalanginya jalannya.
"Langit! kalau kita nggak nolongin Septian nanti kamu dapat masalah!" Kinan memberi jeda sejenak lalu menarik napas panjang ketika Langit belum juga menghentikan langkahnya.
"Aku peduli sama kamu, aku nggak mau kamu dapat masalah karena aku." Lanjutnya yang mulai melembutkan sedikit nada bicaranya.
Kaki Langit mendadak berhenti melangkah, Kinan terkejut. Tubuhnya bahkan hampir menabrak punggung Langit.
"TERUS KENAPA LO MASIH DEKET-DEKET SAMA SEPTIAN KALAU PEDULI SAMA GUE!!" bentak Langit.
Kinan menghela napas. Kemudian meraih tangan Langit dan mengusapnya.
"Jangan bujuk gue Nan, jawaban gue tetap nggak!!"
Kinan tidak bisa lagi menahan air mata di pelupuk matanya. Air mata itu lolos begitu saja. Tangannya terulur menghapus air mata di pipinya dengan kasar.
"Dengar Kinan, gue kasih lo pilihan. Lo tolongin Septian atau ikut sama gue!"
Kinan menggigit bibir bawahnya, tidak tahu lagi bagaimana menghadapi Langit. Ia tak mampu berkutik dengan pilihan yang diberikan Langit. "Kamu egois!"
"Gue bisa lebih dari ini, gue benci sama orang yang ingkar janji!"
__ADS_1