
"LANGIT! LANGIT! LANGIT!"
Teriakan melengking itu membuat Langit yang sedang berdiri di koridor utama bersama teman-temannya berdecak kesal.
"Ih, Langit noleh dong!"
Langit menoleh sesaat lalu berbalik lagi. Mengabaikan keberadaan Sella.
"Langit ih, liat gue dulu!"
"Ogah!"
"Jutek banget sih." Sella menyandarkan kepalanya pada bahu lebar Langit, namun Langit menggeser ke samping. Alhasil Sella hampir jatuh jika Jordan tak menahannya.
"Ihh! Langit kok gitu sih?!!!"
Langit menghembuskan napas lelah, sangat malas berurusan dengan makhluk sejenis mimi peri.
"Berisik lo Sella, suasana langsung panas pas lo datang." Sahut Danu.
Sella menatap sinis Danu lalu kembali fokus sama Langit.
"Lo pasti laperkan habis lomba? nih, gue bawain bekal," katanya membuat Langit menoleh risih.
Langit mengambil kotak bekal itu membuat Sella jingkrak-jingkrak kesenangan namun hanya sesaat setelah Langit membuang bekal tersebut ke tempat sampah.
Sella melotot melihatnya. "IHHH... KOK DIBUANG??!!!" teriak Sella makin melengking, sontak Langit menutup telinga kirinya.
"Gue buatnya dari jam 5 subuh!"
"Nggak peduli!" Langit membalas semakin ketus, "kalau lo mau, ambil aja di tong sampah."
Sella menatap pria di hadapannya yang terkenal tak punya hati. Sella sungguh tak sanggup lagi, rasanya ia ingin menyerah saja untuk mendapatkan Langit.
Dengan wajah yang penuh air mata, Sella berjalan menuju tong sampah. Ia menunduk dan mengambil kotak bekalnya dari tong sampah.
"Jahat lo Lang," ujar Jordan menghampiri Sella dan menutup paha gadis itu dengan jaket kulitnya.
"Langit iblis! setan! nggak punya hati! gue nggak mau suka sama lo lagi! hiks." Sella menyeka air matanya sebelum melanjutkan kalimatnya, "doa anak sholeh mujarab, gue doain lo jadi kakak gue biar lo mampus gue gangguin tiap hari!"
Bulu kuduk Langit seketika merinding mendengarnya, amit-amit dia punya adek modelan Sella.
"Udah Sella, tenang." Jordan menenangkan Sella yang masih sesenggukan di pelukannya.
"Huaaa, Jordan lo baik banget beda jauh sama Langit!!" racaunya tak jelas.
Dilan memutar malas matanya ketika melihat perlakuan Jordan terhadap Sella. Tanpa sadar tangannya terkepal hingga buku-buku jarinya terlihat, "gue ke wc dulu." Ujarnya yang langsung pergi.
__ADS_1
***
"OMG! Kinan gue bener-bener shock berat semalam, gue kaget liat Langit follow Instagram lo! kok bisa sih?" tanya Lia kebingungan, kini keduanya berjalan menuju kantin mengisi perut kosong mereka, "yang bikin gue heran kok Langit tau Instagram lo?" tanya Lia heran.
"Nggak tau, aku aja kaget."
"Lo pasti ada hubungannya sama Langit?!"
"Nggak ada!" bantah Kinan cepat.
"Nggak usah bohong, gue liat di akun lambe turah sekolah, katanya lo pacaran sama Langit."
"Itu rumor apa lagi sih?!" tanya Kinan dengan malas, "adminnya nggak ada kerjaan lain apa? kerjanya tebar gosip mulu!"
"Btw nih Nan, lo nggak ada niatan ungkapin perasaan lo ke Langit?" tanya Lia. "Walaupun Langit tukang onar, kerjaannya cuman tawuran tapikan dia ganteng, tajir juga."
"Karna ganteng, harus gitu aku ungkapin perasaan aku ke dia? kayak nggak ada yang lain aja." Kinan mengambil duduk di salah satu bangku kosong di kantin, diikuti Lia yang duduk di hadapannya.
"Justru itu, karena nggak ada cowok kayak Langit! dia tuh cowok limited edition!"
Kinan merotasikan matanya, mendengar pujian gila dari Lia. Jujur saja Kinan sempat luluh pada Langit ketika cowok itu menolongnya di club namun Kinan yakin itu hanya perasaan sesaat.
Plakk!!
Suara tamparan terdengar nyaring di sudut kantin yang dijadikan tempat nongkrong Langit dkk. Itu sudah mutlak menjadi singgasananya, siapapun yang memasuki batas wilayahnya akan bernasib sial karena akan berurusan dengan Langit. Begitu menakutkan dan menegangkan. Sikap Langit yang tak tanggung-tanggung, sungguh menakuti para korban.
"Lia kamu liat sendiri cuman karena hal sepele dia semarah itu, kamu pikir aku bakal ungkapin perasaan aku sama orang kayak dia? yang ada aku justru dapat masalah!" bisik Kinan pada Lia yang duduk tidak jauh dari tempat kejadian.
Bugh!
Wajah cowok malang itu menoleh dengan kasar ke arah samping. Sudut matanya berwarna keunguan akibat tinju yang begitu keras. Ia yakin wajahnya saat ini sudah lebam tak main-main.
Langit meludah ke arah samping yang hampir mengenai Danu. Lalu ia berjalan pergi dari tempatnya, ketika melewati meja Kinan ia menoleh ke arah samping menatap Kinan yang membuang muka darinya.
"Satu lagi! gue nggak suka punya gue disentuh, mau itu tempat di kantin ataupun dia!" seluruh pasang mata di kantin menatap ke arah yang ditunjuk Langit.
'Dia' yang dimaksud Langit adalah Kinan.
Mereka semua menatap Kinan dengan tatapan lapar, seakan ingin memakan Kinan saat itu juga.
Kinan menyembunyikan wajahnya dibalik tubuh Lia yang mematung. Entah apa yang terjadi lagi pada kehidupan sekolah Kinan kedepannya. Mungkin bukan hanya kehidupan di sekolah saja yang berubah tapi seluruh kehidupan Kinan akan berubah mulai sekarang.
Mulai detik ini, Kinan tidak ada harapan lagi untuk memiliki ketenangan di sekolah. Inilah akibat dari kesalahan yang menyangkut-pautkan pada seorang Langit.
Langit pergi dengan tenang seolah tak ada yang terjadi. Tetapi, wajah tenang itulah yang membuat semua orang tak tahu apa yang dipikirkan Langit. Wajah yang tenang namun menakutkan.
***
__ADS_1
"Sella!"
Sella yang merasa terpanggil mengangkat pandang dan bertemu dengan Oji, mantannya.
"Mau pulang bareng?"
Sella menggeleng, "nggak mau!" jawabannya jutek.
"Ayo dong Sel, gue cuman mau nganterin lo pulang, nggak gue apa-apain kok."
"Gue bilang nggak mau! jangan maksa deh, lagian lo sama gue udah nggak ada apa-apa jadi stop gangguin gue!"
"Gue udah ngajak lo baik-baik tapi lo sepertinya suka yang cara kasar." Oji ingin menarik paksa tangannya, namun Sella menghindar. Cowok itu berhasil menangkap tangannya sehingga Sella tidak bisa lepas darinya.
"Gue cuman anterin lo pulang, apa susahnya ikut sama gue?"
"Nggak mau! lepas atau gue teriak sekarang!"
"Sella gue mohon kasih gue kesempatan!"
Sella berdecih, "bukan cuman sekali atau dua kali, tapi berkali-kali udah gue kasih kesempatan tapi lo selalu nyakitin gue!"
"Percaya sama gue, kali ini gue nggak akan nyakitin lo lagi."
Tiba-tiba dari arah belakang Oji terdengar suara berat seorang cowok dengan jaket kulit coklatnya, "kalau dia nggak mau jangan dipaksa," ucapnya, "lepasin tangannya atau gue patahin tangan lo!"
Oji menoleh lalu mendesis, "bukan urusan lo!"
"Urusan gue karna dia cewek gue!"
Sella merasakan pipinya memerah setelah mendengar pengakuan tak terduga dari Jordan. Baru kali ini dia diperlakukan begitu spesial.
Oji mengepalkan tangannya, melihat situasi yang mulai ramai membuatnya tidak bisa menghajar wajah cowok di hadapannya apalagi saat ini dia mencari masalah dengan anak sekolah SMA GARUDA yang terkenal karena gudangnya anak-anak berandalan. Oji mengalah dan pergi dari tempat itu.
"Lo pacaran sama anak SMA KENCANA?" tanya Jordan dan dijawab dengan gelengan kepala Sella.
"Udah mantan." Jordan mengangguk mengerti.
"Thanks ya, Jordan."
"Santai aja, sesama teman harus saling membantu kan?"
Sella seketika merasa lesu. Baru saja Jordan mengatakan kalau dia ini pacarnya sekarang dia bilang teman?! memang cowok semuanya sama aja!
"Lo hati-hati, gue pulang dulu," pamit Jordan setelah mengacak pelan rambut Sella. Sedangkan Sella menatapnya tanpa berkedip. Suara deru ninjanya terdengar, setelah motor besar cowok itu hilang dari pandangannya barulah Sella sadar.
'OMG!! Rambut gue yang diacak tapi hati gue yang berantakan!' Sella menjerit dalam hati. Jordan benar-benar membuat perasaannya seperti naik roller coaster.
__ADS_1