Dangerous Boy

Dangerous Boy
Chapter 17


__ADS_3

Suara bel pulang sekolah sudah berbunyi dari 5 menit yang lalu namun sekolah masih tampak ramai karena mempersiapkan acara lomba besok. Terutama anak osis yang kini terlihat sangat sibuk ke sana kemari membawa beberapa meja dan kursi.


Tidak hanya itu, beberapa diantara mereka ditugaskan menutup jalan tikus agar tamu tak diundang tidak masuk mengacau acara. Sebenarnya menutup jalan tikus bukan ide dari guru malainkan ide dari si King Bullying, Langit.


"Kinan? Belum pulang juga?" Dilan menegurnya.


Dengan tersenyum kikuk Kinan menjawab. "Belum, lagi nyari Septian."


"Septian? Ada urusan apa nyari Septian?" Tanya Dilan dengan rasa penasarannya.


"Mau ngasih ini," jelas Kinan seraya memperlihatkan kantong kresek yang isinya ada roti dan susu strawberry. Bukan bermaksud apa-apa, Kinan memberikan itu hanya sebagai bentuk terimakasih karena Septian telah membantunya.


"Septian ada di kelas, kebetulan gue juga mau ke kelas lo mau ikut?" Katanya, Kinan hanya mengangguk.


***


"Sep, ada yang nyariin lo." Ujar Dilan, tak lama Kinan muncul dari punggungnya lalu berjalan memasuki kelas tersebut untuk menghampiri Septian.


"Kinan? Lo ngapain ke sini?" Septian memandangi Kinan.


"Aku mau kasih ini," Kinan tersenyum memberikan kantong kresek tadi kepada Septian.


"Ini apa?"


"Oh itu roti sama susu, anggap aja itu bentuk terimakasih aku karna kamu udah bantuin aku tadi pagi."


"Thanks ya Nan!" Septian mengambil cemilan tersebut dari tangan Kinan lalu mengacak puncak kepala Kinan dengan gemas.


Danu dan Jordan berseru heboh, maklumlah jiwa-jiwa jomlo mereka bergejolak karena tidak sanggup menatap adegan romantis didepan mata mereka.


Bukan hanya itu yang bergejolak. Rasa cemburu dari seseorang juga ikut bergejolak menatap adegan tersebut.


'Mereka ada hubungan?' Pertanyaan itu tiba-tiba muncul dibatin Langit.


Langit masih duduk ditempat mengamati Kinan. Sejauh ini ia masih dapat menahan rasa emosinya yang entah emosi karna apa.


Melihat Septian tak kunjung menjauhkan tangan kotornya dari kepala Kinan, Langit menghampiri kedua remaja tersebut.


"Pulang sama gue!" Serunya tajam.


"Dia pulang sama gue," Septian hendak menarik tangan Kinan namun Langit yang menyadari dengan sigap menarik Kinan hingga menubruk dada bidangnya.


"Jangan pernah lo berani nyentuh dia!" Tegas Langit lalu pergi membawa Kinan.


***


Kinan menuruni motor Langit dan hendak langsung masuk ke dalam rumahnya namun ditahan oleh Langit. "Lo marah?"


"Bisa lepas?" Ujar Kinan dingin, namun Langit tidak mengindahkan.


"Jawab gue dulu!"


"Langit, kamu sadar nggak sih kalau kamu itu kekanak-kanakan!" Kinan menarik napas sebelum melanjutkan ucapannya, "aku gak tau apa maksud kamu ngelarang aku deket-deket sama Septian tapi yang pasti aku gak suka diatur sama orang seperti kamu!"

__ADS_1


Langit menuruni motornya dan berjalan mendekati Kinan. Tak ada ekspresi di wajah Langit selain hembusan napas yang terdengar berat kerena menahan emosinya.


"Gue orang seperti apa?"


Kinan menunduk, menyesali perkataannya barusan.


"Ngomong! Jangan diam aja, atau lo bisu?! Hah!!" Langit menatap Kinan tajam.


Ia menggigit bibir bawahnya sebelum mengeluarkan suara, "Bukan gitu maksud aku tapi Septian orang baik, dia udah bantuin aku jadi aku ngerasa nggak enak aja sama dia karna kamu langsung tarik aku pergi gitu aja."


Mendengar Kinan memuji Septian membuat emosinya semakin memuncak. Jantungnya bergemuruh hebat. Lagi-lagi Langit tidak tau apa penyebabnya. Kenapa hanya karena Kinan memuji Septian dia bisa seemosi ini?


"Oh Septian orang baik sedangkan gue buruk, gitu maksud lo?"


"Bu-bukan gitu..." Kinan terbata-bata. "Ok! Nanti aku jauh-jauh dari Septian tapi tolong kamu berhenti salah paham terus sama aku." Entah ini perasaan Kinan atau apa tapi ia merasa seperti sedang membujuk pacarnya yang sedang ngambek.


Mereka memang kini terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar di pinggir jalan dengan si pria marah karna cemburu dan si wanita yang sedang berusaha memberi penjelasan.


"Lo jangan polos-polos amat! Septian gak sebaik apa yang lo pikirin, dia nolongin lo karna ada maunya."


"Maksudnya?"


Langit tidak menjawab, wajahnya yang datar susah diartikan. Ia lebih memilih menaiki kembali motornya untuk segera pergi sebelum ia benar-benar kehilangan kendali. "Masuk gih, gue mau pulang."


***


Malam pun tiba, malam yang selalu sama dengan malam sebelumnya. Hanya ada suara kendaraan yang saling bersahutan di tengah keramaian ibu kota.


"Gue denger-denger ada yang nyari gue." Ujarnya seraya duduk dihadapan orang itu.


"Hay apa kabar?"


"Gue nggak yakin lo nyari gue cuman buat nanya kabar, langsung ke intinya aja."


Septian mendengus mendengar balasan ketus yang di berikan Anggi. "Lo masih suka sama Langit?"


Tak ada jawaban karna memang Anggi lebih memilih untuk tidak menjawab.


"Gue tau lo masih suka sama dia jadi gue datang ke sini mau buat penawaran sama lo."


"Gue bilang langsung ke intinya aja!"


Septian menatap bengis Anggi yang tampak begitu angkuh. "Lo tau Kinan kan? Sekarang Langit dekat sama dia."


"Terus?"


"Gue butuh bantuan lo buat pisahin mereka, untungnya lo bisa dapetin Langit sedangkan gue dapatin Kinan."


Anggi tertawa remeh, tak yakin dengan rencana Septian. "Lo nyerah aja deh, sampai kapan pun lo nggak akan bisa ngalahin Langit karna dia jauh di atas lo!" ujarnya lalu hendak berdiri dari duduknya namun niatnya terhenti ketika Septian melempar beberapa foto di atas meja.


"Lo nggak lupakan sama malam panjang kita?"


Anggi mengepalkan tangannya menatap tajam Septian yang tersenyum kemenangan. "Dasar licik!"

__ADS_1


"Jadi gimana?"


"Gue terima dengan satu syarat, jangan nyesel kalau Kinan kenapa-kenapa kedepannya."


"Nggak masalah." ucapnya dengan percaya diri. Septian berjalan mendekati Anggi, menepis jarak di antara keduanya. "Jangan nyesel juga kalau foto-foto itu gue sebarin!"


"Cowok licik!"


***


Drrttt Drrttt


Kinan mengernyitkan alisnya melihat nomor tidak dikenal memanggil. Dengan ragu ia menggeser ikon hijau untuk menerima telpon dari nomor tak dikenal tersebut.


"Halo?"


Tak ada suara dari seberang sana membuat bulu kuduk Kinan merinding. Takutnya itu orang iseng.


"Halo?" Sapa Kinan sekali lagi.


Tutt tut


"Dasar orang aneh!" Makinya karena panggilan tersebut dimatikan oleh sepihak, mungkin salah sambung.


Baru saja Kinan hendak menyimpan kembali ponselnya namun notifikasi dari Lia masuk.


...Lia...


KINAN


K I N A N


KINANN!!!!


MUNCUL GAK LO!!!


^^^Kenapa sih?^^^


Lo ad apa sama langit?!


^^^??^^^


Lo dari tadi ngapain sih ege? Buruan buka Instagram lo sekarang jg!!!!!!


Kinan merotasikan matanya melihat typing Lia yang selalu di akhiri tanda seru, entah apa lagi yang terjadi sehingga dirinya didesak untuk segera membuka Instagram.


Karena dari kemarin dia menggunakan akun fake untuk memantau Instagram milik Langit jadi akun real-nya dibiarkan begitu saja.


Sekujur tubuh Kinan kaku melihat ribuan notifikasi masuk. Mulai dari Comment, like sampai followers meningkat drastis. Dengan keadaan yang masih terkejut, Kinan memeriksa satu persatu notifikasi-nya.


@sky._ mulai mengikuti anda


"LANGIT?!!"

__ADS_1


__ADS_2