Dangerous Boy

Dangerous Boy
Chapter 23


__ADS_3

Lia berjalan menelusuri koridor sekolah dengan sesekali melompat kecil. Dirinya baru saja sampai saat jam menunjukkan 06.45 dengan koridor masih dalam kondisi sepi.


"Ahhkk!" Saat berbelok, dirinya terkejut ketika seseorang tiba-tiba saja menarik rambutnya yang ia ikat cepol.


"Siapa sih?! nggak sopan banget narik rambut orang!!" Ia berucap seraya meronta dilepaskan. "Siapapun itu, mau setan atau orang lepasin rambut gue! atau gue teriak nih." Gerutuan itu berlanjut.


"Teriak aja."


Lia terdiam, kemudian membalik tubuhnya dengan cepolnya yang masih ditarik. "Lo ada masalah sama gue?"


"Emang ada." Danu, pelaku yang menarik rambut Lia menjawab dengan raut wajah songong.


"Hah?"


Melihat wajah kebingungan Lia, Danu akhirnya melepas cepol Lia dan mengadahkan ponselnya ke depan mukanya. "Lo kan, yang nyebarin rumor ini?" Tanyanya dengan menunjukkan postingan Instagram Lambe Turah SMA Garuda yang menggosipkan dirinya kelainan ****, yaitu homo bersama Jordan.


'Mampus gue!'


"Maaf ya, Danu yang ganteng, itu cuman candaan doang kok." Lia cengengesan, menatap Danu dengan puppy eyes. Berharap cowok itu luluh dan mau memaafkannya.


"Candaan lo nggak lucu!" Bentak Danu membuat Lia menunduk dengan perasaan bersalah. Lia takut kalau ditindas seperti korban-korban Danu sebelumnya.


Lia memberanikan diri menatap mata Danu yang kini menatapnya dingin. "Tapikan bukan gue yang nyebarin, kalau mau marah ya marah aja sama adminnya."


"Lo kalau udah salah ya salah aja, nggak usah cari kebenaran dari kesalahan lo! gue tau yang nyebarin adminnya tapi lo narasumbernya."


"Oke gue salah, sekarang lo mau apa? mau gue minta maaf sambil sujud di kaki lo?"


Danu melotot, baru kali ini dia melihat orang yang salah namun dia juga yang nyolot. "Mau lo sujud berapa kalipun, nama gue udah terlanjur jelek gara-gara candaan gila lo."


"Ya terus gue harus apa?"


"Menurut lo?!"


Keduanya sama-sama terdiam. Yang satu memikirkan solusi agar dimaafkan dan yang satunya lagi memikirkan cara agar namanya kembali bersih.


"Lo harus tanggung jawab!" ucap Danu.


"Jangan bilang lo mau nyuruh gue nikah sama lo." Omongan melantur itu mendapat sentilan kecil di keningnya.


"Pikiran lo kejauhan!"


"Ya terus gimana?"


"Jam 19.30 kita ketemu di cafe Jivia."


Lia mengerutkan keningnya, "Buat apa?"


"Datang aja, nanti lo tau sendiri."


Lia tidak tahu apa rencana Danu namun firasatnya mengatakan itu bukan hal baik. Ini semua gara-gara admin dari akun tersebut yang tukang cepu. Awas saja, ia akan meremas kedua ginjal admin tersebut jika sudah tau siapa orang dibalik pemegang akun keramat itu.


***

__ADS_1


"HOKKK HOKKK!!!" Dilan melambaikan tangannya pada Jordan dan Langit untuk meminta air. Namun keduanya tidak mengerti isyarat tubuh Dilan.


"Kenapa sih anying, kesurupan lo?" tanya Jordan kebingungan.


Dilan menggeleng seraya mengusap dadanya agar siomay yang masih berbentuk bulat sempurna yang tersangkut pada tenggorokannya segera turun. Bahkan air matanya keluar saking perihnya yang ia rasa. Ia tidak boleh mati seperti ini. Tidak etis jika wajahnya yang tampan dan rupawan terpampang di halaman koran dengan tulisan 'Seseorang mati muda karena tersedak siomay bulat'.


Dilan tidak menyerah, ia menggoyangkan tangan di depan mulutnya seperti orang yang meminta minum, dan saat itulah kedua temannya baru memahami. Segera Jordan memberikan air bekas miliknya dan Langit memberi bantuan tepukan yang bisa dibilang agak keras pada punggung Dilan.


Dilan tidak tahu apakah kedua temannya itu niat membantu atau niat membunuhnya.


Usaha tidak menghianati hasil. Kini di hadapan ketiga pemuda tersebut terdapat siomay bulat yang baru saja keluar meluncur dari tenggorokan Dilan.


"Anjir gede banget!" Seru Jordan terkejut.


"Bangsat!" Umpat Dilan yang sudah bernafas lega kembali. Dilan yakin pasti ada orang yang sedang membicarakannya.


***


"KINANNN!!!" Lia berteriak heboh saat memasuki kelas seusai bertemu Danu.


"Masih pagi Lia, nggak usah teriak!" Kinan menyambutnya dengan helaan nafas.


"Lo tau nggak? Kal-"


"Nggak!"


"Ihh Kinan dengerin dulu lanjutannya." Rengek Lia.


"Daripada kamu cerita nggak jelas mending kamu kembalikan buku catatan aku yang kamu pinjam."


Kinan menoleh tajam. "Liaa!!! Catatannya mau aku kumpul."


Lagi Lia nyengir, kali ini lebih lebar membuat deretan giginya terlihat. "Ayo dong dengerin cerita gue dulu."


"Mau cerita tentang cowok?" Kinan sudah bisa menebak.


"Kok tau sih? tapi ini beda! gue bermasalah sama Danu, dia ngajak gue ketemuan ke cafe nanti malam, keknya dia bakal balas dendam sama gue."


"Terus?"


"Yaelah Kinan, masa lo nggak peka sih! ya bantuin gue lah, kan lo deket tuh sama mereka, bujuk si Danu biar bisa maafin gue."


"Nggak mau!" Tanpa berpikir pun Kinan langsung menolak. Sepertinya otak temannya agak bermasalah, sejak kapan dia dekat dengan geng tukang onar itu.


"Kinan bantuin gue dong."


"Nggak! balikin buku aku sekarang juga!" Kinan menyodorkan tangannya.


"Ayo dong Kinan."


"Sekali aku bilang nggak berarti nggak."


Lia mengerucutkan bibirnya. "Nasib gue gimana?"

__ADS_1


"Kita memang teman tapi kalau masalah kamu bersangkutan sama geng tukang onar itu, maaf ya Lia masalah hidup urus masing-masing."


Bahu Lia seketika merosot lesu. Jika waktu bisa diputar, Lia akan memutar waktu agar tidak mencari masalah dengan Danu.


***


Setelah bel istirahat berbunyi, Kinan segera membereskan alat tulisnya dan hendak ke kantin dengan seorang diri saja. Rencana awal ia akan ke kantin bersama Lia namun gadis itu pergi ke wc dan belum juga kembali.


"Septian? kamu nungguin siapa?" Tanya Kinan ketika menemukan Septian yang berdiri didepan kelasnya seperti menunggu seseorang.


"Nungguin lo."


Kinan tertawa kecil, tawa yang lagi-lagi membuat Septian berdebar.


"Mau ke kantin bareng?"


Kinan hanya meresponnya dengan anggukan dan berjalan beriringan ke kantin. Sepanjang jalan keduanya menjadi pusat perhatian karena mereka terlihat sangat akrab. Bahkan beberapa adik kelas mengira kedua remaja tersebut memiliki hubungan spesial.


"Lo tunggu di sini biar gue yang pesan makanan." Kata Septian yang setelah itu pergi meninggalkan Kinan yang hanya mengangguk.


Kinan memandangi sekitar kantin ketika merasakan diawasi sejak ia memasuki kantin. Entah ini hanya perasaannya saja atau bukan, namun Kinan dapat merasakan tatapan itu benar-benar membawa aura mencekam.


***


"Kalau nggak minat mending bakso lo kasih ke gue." ujar jordan menatap bakso milik Langit yang sudah tak berbentuk.


Tatapan Langit yang mengintimidasi tak pernah lepas dari Kinan sejak memasuki kantin bersama Septian. Bahkan bakso yang tak bersalah turut menjadi korban pelampiasan emosinya. Tanpa dijelaskan, teman-temannya sudah tau kalau Langit sedang mengalami cemburu berat.


"Segitu amat lo ngeliatin Kinan, lama-lama mata lo jatuh ke kuah bakso." Singgung Dilan namun dihiraukan Langit.


"Banyak gaya lo asu! kalau cemburu bilang aja kali, keburu Kinan diambil sama orang." Kesal Danu.


"Gue nggak kaget sih kalau Septian bisa dapetin Kinan, karena dia orangnya sat set sat set." Jordan yang tabiatnya kompor meleduk, mulai memanas-manasi suasana.


Langit mencengkram kuat garpunya, tak tahan mendengar omongan panas dari teman-temannya. Dengan tekad, ia memberanikan diri melangkah mendekati Kinan.


"Kinan!"


Kinan yang dipanggil menoleh lalu mengernyit heran melihat raut wajah Langit yang memerah seperti kepiting rebus. Kinan merasa tak membuat masalah apapun hari ini sehingga membuat Langit marah.


"Aku ada salah sama kamu?" tanyanya dengan hati-hati.


"Menurut lo?"


"Tapi aku salah apa?"


"Lo masih ingatkan sama kesepakatan kita? Kalau gue menang lo harus jauhin Septian!" Langit menekan kata 'Jauhin Septian' agar Kinan mengerti tanpa ia mengulangi perkataannya.


"Lo nggak ada hak nyuruh dia jauhin gue." Septian datang membawa dua piring berisi nasi goreng.


Melihat suasana yang tegang antara Langit dan Septian membuat Jordan, Dilan, Danu ikut turun tangan, memisahkan kedua temannya agar tidak adu jotos di kantin.


"Kalian berdua kenapa sih?!" Kinan bersuara untuk melerai, kini ia mulai memahami situasi antara Langit dan Septian. Sepertinya ada problem antara mereka yang membuat keduanya tidak akur.

__ADS_1


Cukup lama kedua pemuda itu terdiam dan saling melempar tatapan tajam, sampai Langit duluan yang angkat bicara.


"Gue peringatin terakhir kalinya mending lo jauhin Kinan mulai sekarang!" Peringatnya tegas kemudian mengalihkan pandangannya pada Kinan. "Gue mau ngajak lo Date! Jam 19.30 gue jemput!" Ucap Langit dengan singkat dan jelas namun terdengar menuntut.


__ADS_2