Dangerous Boy

Dangerous Boy
Chapter 24


__ADS_3

...Langit...


Gw di dpn


Kinan mengambil ponselnya, ia menghela napas panjang setelah membaca pesan singkat dan padat namun sarat akan perintah. Sesuai dengan ucapan Langit di kantin tadi, malam ini mereka akan date.


Kinan melangkah keluar untuk menemui Langit, ia melihat cowok itu bersandar tepat di samping mobilnya yang menanti kedatangannya. Ia menatap Kinan dalam dan menusuk.


Penampilan Langit tidak seperti biasanya. Rambut yang biasanya acak-acakan kini tertata rapi. Kinan hanya dapat mendeskripsikan dalam dua kata yaitu tampan dan berkarisma. Kinan menggigit bibirnya, ia gugup karena Langit memperhatikan dirinya dari atas sampai bawah dengan ekspresi datar.


Kinan merasa pakaiannya tidak ada yang salah namun tetap saja ia gugup jika Langit terus menatapnya seperti itu. "Kenapa? ada yang salah ya sama penampilan aku?"


"Cantik."


Kinan menunduk, menyembunyikan pipinya yang blush. Ia merasakan ada sesuatu yang menggelitik dalam perutnya. Pertama kalinya ia mendengar kata pujian itu keluar dari bibir Langit.


"Masuk." Langit membukakan pintu mobil, tidak lupa memegang kepala Kinan. Jaga-jaga agar kepala gadis itu tidak terbentur.


Kinan memainkan jari-jarinya. Jantungnya berdebar kencang hanya karena perhatian kecil yang diberikan Langit. Tak pernah terbesit dipikiran Kinan cowok seperti Langit ternyata memiliki sisi lain yang lembut dan perhatian. Ia menoleh, menatap lekat Langit yang sedang fokus menyetir.


'Sebenarnya kamu orang yang seperti apa? Jangan buat aku penasaran.'


***


Kinan membatu di tempatnya, ia tak mampu berkutik. Untuk menghirup oksigen pun terasa sulit. Kinan menatap takut Langit, walaupun cowok itu sedang fokus menyetir namun ia menyadari tatapan itu. Kinan takut melihat mobil Langit memasuki hutan yang gelap dan dikelilingi pohon-pohon yang menjulang tinggi.


"Kita mau kemana?" tanya Kinan, dalam hatinya ia gusar. Terakhir ia pergi bersama Langit, dirinya mengalami sesuatu yang kurang mengenakkan.


"Nanti lo tau sendiri." Jawab Langit yang semakin membuat Kinan gusar.


Kinan memilih diam. Percuma dia kembali bertanya, Langit tak akan memberitahunya. Selama perjalanan Kinan hanya duduk dengan perasaan tidak tenang di tempatnya. Ia terus menjilat bibirnya yang terasa kering. Kinan tak tahu kemana tujuan Langit, yang ia tahu Langit akan membawanya ke suatu tempat yang tidak biasa.


Sial, seharusnya dia menolak tawaran date Langit.


Sekitar 10 menit, mobil tersebut berhenti. Perasaan Kinan semakin takut saat Langit keluar dari mobil dan berjalan membukakan pintu mobil untuknya.


"Ayo keluar." Ujarnya.


Kinan memainkan jari-jarinya. Matanya bergerak gusar. Selama perjalanan Langit menyadari Kinan ketakutan namun ia tetap diam.


"Nggak apa-apa, jangan takut." Ujarnya menenangkan. Bibirnya tersenyum menyambut uluran tangan Kinan.

__ADS_1


Mata Kinan melotot. Takjub menatap pemandangan di depan matanya. Dari sini ia bisa melihat kota yang padat dan dipenuhi gedung-gedung pancakar langit. "Kita dimana?"


"Bukit belakang sekolah."


Kinan menoleh sesaat kepada Langit dan kembali menatap ke depan. Ia tak menyangka kota yang bising dan macet bisa terlihat seindah ini jika dilihat dari atas sini. Karena terlalu terkesima, Kinan tak menyadari tautan tangan mereka belum lepas. Langit menyadari namun ia tak berniat melepaskannya, ia malah semakin mengeratkan genggamannya.


Langit menarik tangan Kinan, membawanya duduk di pohon tua yang sudah tumbang lalu ikut duduk di samping Kinan.


"Kamu sering ke sini?"


Langit mengangguk. "Waktu gue kecil, gue sering ke sini."


"Sama orang tua kamu?"


Kali ini Langit tidak mengangguk. "Orang tua gue cerai jadi gue dateng sendiri."


Entah kenapa setelah mengatakan itu pada Kinan, air matanya turun. Ia tak pernah selemah ini namun berada di samping Kinan ia merasa nyaman. Rasa nyaman itu membuat Langit tidak ragu-ragu memperlihatkan kesedihannya yang ia tahan selama ini.


Kinan tidak dapat berkutik saat Langit memeluknya. "Kamu nangis?" tanyanya ketika menyadari pundaknya basah.


"Maaf." Langit menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Kinan. Wangi tubuhnya sangat khas.


Suasana pun sunyi, hanya binatang malam yang mengeluarkan suara. Suasana hutan yang dingin itu, entah kenapa membuat tubuh Kinan hangat. Mungkin hangat karena dirinya sedang dipeluk oleh Langit.


Langit kini mengangkat kepalanya dan memandang mata Kinan yang juga memandangnya. Menatap satu sama lain dengan beda artian. "Lo percaya sama mitos begituan?"


"Percaya atau tidak, aku selalu ngelakuin itu setiap rindu sama kedua orang tua aku walaupun rasa tidak percaya lebih mendominasi."


Penjelasan yang lumayan panjang itu membuat Langit menaikkan satu alisnya. "Emang orang tua lo kemana?"


"Bunda meninggal karena gagal jantung, dua bulan kemudian disusul ayah yang meninggal karena kecelakaan." Ada nada kesedihan yang terselip di ujung kalimat Kinan.


Langit hanya menatap Kinan dalam diam. Ia tidak tahu harus berkata apa karena Langit bukanlah tipe orang yang bisa menghibur seseorang ketika sedang sedih seperti ini. Langit menepuk pundaknya, memberi instruksi agar Kinan menyenderkan kepalanya. "Sekarang gantian gue yang minjemin bahu ke lo."


Tanpa penolakan Kinan menyenderkan kepalanya dengan nyaman. Obrolan mereka cukup sampai disitu. Walau hanya bertukar sedikit cerita tentang kehidupan masing-masing setidaknya luka yang terbuka lebar yang sudah lama tak diobati perlahan menutup oleh perasaan asing yang belum disadari kedua remaja tersebut.


Ataukah mereka mulai menyadari namun menolak kedatangan perasaan asing itu?


Mata yang memerah itu mengerjap beberapa kali, menahan rasa ngantuk yang tiba-tiba saja menyerang. Mungkin kenyamanan yang diberikan Langit membuatnya aman dan ingin tertidur tanpa merasa takut sama sekali. Dan tak terasa Kinan tertidur di bahu Langit.


"Kinan, lo tidur?" tanya Langit tapi Kinan tidak merespon. "Lo tidur beneran rupanya."

__ADS_1


***


Setelah tidur dengan cukup nyenyak Kinan terbangun dengan wajah segar. Ia merenggangkan tubuhnya, memutar kiri dan kanan demi mendapatkan bunyi remuk yang melegakan pada pinggangnya.


Ia membuka matanya, menatap ke sekeliling kamarnya yang tampak sama dari tahun ke tahun, tidak ada yang beruba-- tunggu! mengapa ia terbangun di kamarnya? bukankah semalam ia tertidur di bahu Langit?! Kinan segera menunduk, matanya melotot melihat dressnya sudah terganti dengan piyama pink. Apa yang telah terjadi...


Pintu kamar terbuka, menunjukkan wajah Lia yang tersenyum menggoda. Sepertinya gadis itu mengetahui sesuatu. "Semalam lo dari mana sama Langit?"


Kinan memutar otaknya, ia belum menyiapkan alasan untuk pertanyaan itu.


"Sok mikir banget lo, satu sekolah juga udah tau kalau semalam lo date sama Langit." Perkataan Lia membuat Kinan kebingungan, Lia yang menyadari tertawa mengejek seraya duduk di ujung kasur. "Lo cek aja sendiri di Instagram lambe turah garuda."


Buru-buru Kinan mengambil ponselnya lalu membuka instagram dan ternyata benar.


Kini akun Instagramnya sudah ramai diserbu hujatan dari fans GKL. Jika kalian tidak tau, fans GKL adalah fans Garis Keras Langit. Namun dari pada fans GKL, ada yang lebih membuat Kinan bingung. Dari mana admin akun itu menemukan foto tersebut? Seingatnya hanya ada dirinya dan Langit di sana.


"Jujur gue kaget pas Langit datang sambil gendong lo, gue kira lo kenapa-kenapa ternyata tidur nyenyak di pelukan ayang." Ejek Lia yang mendapat tatapan tajam dari Kinan.


"Terus kamu ngapain di rumah aku?"


"Seperti biasa, Kak Dion nyuruh gue temenin lo karna dia harus lembur."


"Kamu yang ganti baju aku?" tanyanya ragu yang mendapatkan anggukan kepala dari Lia.


Kinan meletakkan ponselnya di pinggir kasur, otaknya terasa eror. Ia tidak dapat berpikir dengan tenang. Apakah ia tidak perlu ke sekolah hari ini? tapi sampai kapan ia harus menghindar? jika terus menghindar, masalah baru akan datang jika masalah sebelumnya tidak diselesaikan.


'Ayo Kinan kamu pasti bisa!'


***


Penampilan Kinan yang biasa-biasa saja membuatnya tidak terlihat mencolok, bahkan hampir tidak ada yang mengenalnya. Namun semenjak berada di dekat Langit, kini satu sekolah mengenalnya.


Tidak sedikit hujatan dan cacian yang Kinan dapatkan. Apapun yang dia lakukan selalu terlihat salah di mata orang-orang. Seolah hanya dialah pembuat dosa.


Kinan sudah menyiapkan diri untuk pagi ini. Setelah postingan itu tersebar, ia yakin dirinya akan semakin dibenci dan diperlakukan semena-mena. Namun ekspetasi tidak sesuai realita.


Nyatanya pagi ini semua berjalan dengan normal. Tidak ada tatapan atau ujaran kebencian.


Langkahnya terhenti, melihat sosok Langit yang baru saja turun dari tangga. Cowok itu selalu mondar mandir dalam pikirannya sejak semalam. Tak lama, Septian juga muncul turun dari tangga dengan penampilan yang berantakan. Terlalu fokus dengan wajah Langit, Kinan tidak menyadari cowok itu juga sama berantakannya.


Apakah mereka habis berkelahi?

__ADS_1


Kinan ingin menghampiri Langit dan menanyakan langsung namun ia rasa ini bukan waktu yang tepat. Ia tahu emosi Langit saat ini pasti masih meledak-ledak.


__ADS_2