
Tidak seperti biasanya, pagi ini Kinan datang lebih cepat demi menghindari anak-anak sekolah. Jujur saja Kinan tidak tahu harus mengatakan apa jika ditanya perihal Langit yang memfollow Instagramnya.
Namun Kinan lupa bahwa hari ini sekolahnya menjadi tuan rumah lomba cerdas cermat, jadi tidak mengherankan apabila sepagi ini sekolah sudah ramai. Bisa dilihat sudah ada rombongan dari sekolah lain yang sibuk mempersiapkan diri.
Kinan berdiri dengan ogah-ogahan di depan gerbang, menunggu rombongan itu pergi. Yang membuat Kinan risih adalah karena ada banyak pasang mata yang menatap heran dirinya.
"Eh itu si Kinan yang di follow sama Langit, kan?"
"Langit, salah pencet kali."
Kinan dengar itu, walaupun jarak mereka bisa dibilang jauh namun telinga Kinan ini ajaib. Dia bisa mendengarkan orang-orang yang membicarakannya.
"Kinan? ngapain disini? nggak masuk?" Septian menegurnya.
"Lagi nungguin orang." Alibinya, Kinan tidak mungkin memberitahukan alasan yang sebenarnya.
"Lo ikut lombakan? yuk, masuk aja biar lo bisa siap-siap." Katanya yang sedikit memaksa.
Kinan berpikir sejenak, Septian ada benarnya. Ia bisa mempersiapkan diri jika masuk lebih cepat. Lagi pula orang-orang tidak akan membahas dirinya dengan Langit jika masuk bersama Septian.
Sampai akhirnya, setelah berpikir matang dan dengan perasaan tidak enak, Kinan melangkah masuk mengikuti Septian dari belakang.
Ketika langkah ketiga, deru suara ninja terdengar. Bukan hanya satu tapi ada empat, tiga diantaranya berjalan dibelakang mengikuti sang pemimpin. Kinan menoleh sesaat, benar saja dugaannya. Langit baru tiba dengan seragam yang kancing atasnya dibiarkan terbuka, dasi yang menggantung, tidak lupa dengan baju yang tidak dimasukkan ke dalam.
Definisi preman sekolah semuanya ada pada Langit.
Kinan menggeleng tak percaya, setidaknya hari ini Langit datang dengan seragam lebih rapi karena akan mewakili sekolah untuk lomba nanti.
Kinan terdiam di tempatnya, matanya lurus menatap lelaki itu. Langit membuka helm-nya perlahan, menampilkan rambut yang terlihat urak-urakan ketika helm hitam full face itu terbuka.
Langit memarkirkan motornya ke sembarang arah, kemudian berjalan dengan santai. Kini ia sudah berada tepat di hadapan Kinan.
Dengan Kinan yang berusaha menahan emosinya agar tidak mengabsen satu persatu hewan di kebun binatang untuk mengumpati Langit yang telah membuat masalah baru dalam hidupnya.
"Good morning." Ucap Langit dengan mengelus pangkal kepala Kinan. Kemudian berlalu dengan tangannya menggenggam tangan Kinan. Menjauhkan gadisnya dari Septian.
Tunggu. Gadisnya? apa baru saja Langit mengakui Kinan gadisnya?
"Langit lepas! fans-fans kamu semuanya gila, kalau mereka lihat nanti aku dapat masalah!" gerutu Kinan kesal.
"Itu urusan lo." Balas Langit tidak peduli.
Kinan masih sekuat tenaga melepaskan tangannya dari genggaman Langit yang begitu kuat.
"Gara-gara kamu, Instagram aku banjir hate comment!"
"Gue malah semakin nggak peduli."
Langit menghentikan langkahnya di tengah tangga yang menuju lantai dua dimana aula berada dan tanpa permisi Langit mengambil handphone Kinan yang berada di kantong seragamnya. Ia mengotak-atik benda persegi itu sejenak lalu mengembalikan pada pemiliknya.
Kinan sendiri tidak tahu apa yang dilakukan Langit pada ponselnya, namun belum usai ia menyelesaikan kebingungannya, lelaki itu sudah menariknya kembali.
__ADS_1
"Dunia serasa milik berdua, kita mah ngontrak." Ujar Jordan yang sedari tadi mengikuti Langit dan Kinan.
"Lama-lama ini bumi gue hancurin!" jengkel Dilan.
"Kuy join circle adudu biar bisa menguasai bumi." Tambah Danu.
"Alien datang menakluki Bumi
Demi koko yang dicari-cari
Mereka 'kan tiba tak lama lagi
Apa mungkin terjadi?" Dilan menyanyikan lagu Boboiboy setelah Danu membahas si kepala kotak hijau.
"Jadi kita perlukan penyelamat Bumi." Jordan menyambung lagu Dilan.
"Adudu!" Dilan, Danu, dan Jordan kompak berteriak menyanyikan lirik terakhir yang seharusnya Boboiboy di modifikasi dengan nama Adudu.
***
Sepuluh menit lagi sebelum acara dimulai dan aula sudah terlihat ramai. Di barisan depan terlihat para guru dan para pejabat petinggi yang telah duduk menunggu acara akan dimulai di bangku mereka masing-masing.
Jangan tanya mengapa para pejabat petinggi juga ada, ini adalah sekolah elit. Tempat dimana anak para pejabat sekolah. Mereka yang datang sudah pasti orang tua murid.
"Selamat datang tuan!" kepala sekolah berdiri menyambut kedatangan Samuel, ayah Langit. "Kami senang anda dapat hadir di acara sekolah kami." Sambungnya.
"Tentu saya datang, hari ini putra kebanggaan saya akan ikut lomba cerdas cermat, ini momen yang tidak boleh saya lewatkan." Samuel duduk setelah berbasa-basi pada kepala sekolah.
Sebenarnya ada alasan lain yang membawa Samuel ke sekolah ini, ia mendapat laporan bahwa orang yang ia cari-cari dari tujuh belas tahun lalu kini telah ditemukan keberadaannya.
***
Sudah dua jam berlalu sejak kuis dimulai. Sejauh ini Langit masih menduduki points teratas, Sella kedua dan Kinan berada di urutan ketiga.
Sella dan Kinan hanya berselisih 3 points sedangkan Langit lebih unggul 2 points dari Sella. Soal terakhir akan menjadi penentu karena memiliki 7 points tambahan, jika Kinan dapat menyelesaikan soal tersebut maka ia dapat menggeser posisi Langit dan menjadi juara.
"Perhatikan soal di atas, kalian akan diberi 10 detik untuk menjawab."
Langit melototkan matanya, ia tidak akan membiarkan Kinan menang. Berbeda dengan Kinan yang memperhatikan soal diatas dengan hasil Jawabannya. Ia sangat yakin bahwa jawabannya sudah benar namun mengapa hasil jawabannya tidak ada satupun dari pilihan di atas? Apakah dia yang salah?
"6! 5! 4!"
Waktu mulai habis namun Langit belum yakin dengan jawabannya, apa ia akan kalah? Langit memperhatikan sekali lagi soal dengan hasil jawaban yang dia dapatkan, sepertinya ada yang aneh.
"3! 2!..."
'Soal jebakan!'
"Sella!" Sella mengangkat tangannya di detik-detik terakhir, dengan percaya diri dia menjawab pertanyaan yang menurutnya benar. "Jawabannya 45!"
"Salah." Jawab Mc tegas. "Karena Sella salah menjawab maka kesempatan akan diberi pada peserta lain"
__ADS_1
Dengan cepat Langit mengangkat tangan. "Soal jebakan?"
Kinan kalah cepat, Langit sudah menjawab terlebih dahulu dengan jawaban yang sama seperti jawaban miliknya. Langit tetap berada di posisinya yang menduduki urutan pertama.
Kinan benci seperti ini, kemarin dia terlalu sombong pada Langit. Lagipula mengapa Langit tiba-tiba menjadi pintar? Kinan sangat yakin, selama ini Langit orang yang pintar, hanya saja ia malas untuk memahami pelajaran.
"Selamat jadi juara ketiga, lumayan lah, nggak buruk-buruk amat," Sella tersenyum lebar dengan wajah sombongnya, tak masalah ia juara dua setidaknya Kinan masih di bawahnyal.
"Norak! baru juga juara dua." Celetuk Langit dengan omongan nyelekitnya yang mampu menutup rapat mulut Sella.
Salah seorang guru tampak menginterupsi mereka. Beliau memberikan penghargaan satu per satu. Kinan hanya tersenyum tipis ketika salah seorang guru memaksanya untuk saling memberi selamat dengan berjabat tangan.
Sungguh Kinan merasa sudah tidak punya muka jika harus memberi selamat pada Langit.
Kinan mulai menjabat tangan Langit dengan tegas. Langit tersenyum, senyum yang menjengkelkan bagi Kinan. Semua orang dapat melihat senyum Langit yang penuh ejekan.
Kinan mengambil langkah cepat menuruni podium. Setelah acara dibubarkan, beberapa orang tua siswa berhamburan menemui anak-anak mereka. Dari jauh tampak kakaknya melambai tangan.
'Kak Dion datang?'
Kakaknya terlihat tampan dengan jas formalnya. Jujur saja Kinan kagum karena pertama kali melihat kakaknya menggunakan jas.
"Kok, Kakak nggak bilang mau datang?" tanya Kinan ketika sudah berdiri di hadapan Dion.
"Bukan kejutan lagi dong namanya kalau kakak bilang." Kata Dion lalu keduanya tertawa.
"Ini adik kamu Dion?"
Seorang pria tua datang menghampiri mereka. Dion dengan segera menunduk hormat. "Santai aja Dion, ini di luar jam kerja kamu."
"Kinan kenalin ini tuan Samuel, dia boss kakak."
Kinan segera menjabat tangan Samuel dengan sopan. "Halo om, kenalin aku Kinan, adiknya Kak Dion."
Dion segera melotot pada Kinan yang lancang memanggil 'om' tuan Samuel.
"Haha tidak apa-apa Dion, dia masih muda." Samuel tersenyum menatap Kinan. Gadis muda itu mengingatkan pada istrinya yang sudah lama meninggal.
"Ayah ngapain disini?" Langit datang dengan wajah kebingungannya.
Ayah? apa barusan Langit memanggil Samuel, ayah?
'OMG KENAPA AKU BARU INGAT!' Kinan baru saja mengingat bahwa di apartemen Langit ia pernah melihat foto Samuel bersama Langit kecil, pantas saja Kinan merasa tidak asing pada Samuel.
Melihat Samuel, Kinan sudah tau pasti beliau orang yang baik, sangat jauh berbeda dengan Langit.
Sungguh dunia memang tidak adil! Katanya buah jatuh tidak jauh dari pohonnya tapi kok ini jatuhnya jauh banget?!
"Langit kebetulan kamu disini, sekalian ayah mau bilang kamu harus baik-baik sama Kinan, dia adik dari orang kepercayaan Ayah." Samuel memberi singgungan keras pada putranya itu. Samuel selalu mengawasi semua pergerakan Langit, termasuk aksi pembullyannya terhadap Kinan.
"Kinan, om pamit dulu."
__ADS_1
Kinan hendak pergi setelah kepergian Samuel dan Dion, namun Langit menarik tangannya. "Masih ingatkan sama perjanjian kita? jauhin Septian!"
Benar kata orang, Langit memiliki aura yang begitu kuat yang mampu mengintimidasi lawan bicaranya. Bahkan Kinan sendiripun tidak dapat mengatakan apapun kecuali mengangguk takut.