Dangerous Boy

Dangerous Boy
Chapter 16


__ADS_3

Kinan menatap gedung-gedung pencakar langit dari atap sekolahnya. Pikirannya melayang pada kejadian di ruang guru tadi yang sontak membuatnya mengacak-acak frustasi rambutnya.


Langit mendapatkan nilai lebih baik? Apa itu tidak salah? Hari itu Langit tidak belajar dengan serius, jadi bagaimana bisa? Atau Langit curang? Bisa sajakan dia menggunakan orang dalam. Mengingat Langit, anak dari salah satu donatur di sekolah ini, itu tidak akan mustahil.


"AAHHKKKK!!!" Teriak Kinan frustasi yang merasakan kepalanya akan pecah.


"Berisik!"


Kinan menoleh kebelakang karena terkejut, ia baru menyadari ternyata ada orang lain yang berada di atap selain dirinya. Terlihat orang itu sedang tidur terlentang pada bangku panjang seraya menutup wajahnya dengan buku. Mungkin habis belajar atau buku itu untuk melindungi wajahnya dari silau matahari.


Orang itu bangun lalu melempar asal bukunya. Ia menatap datar Kinan yang terlihat masih terkejut melihatnya.


"Eh kamu?" tanya Kinan kaget, dia mengenal orang didepannya, tapi dia lupa namanya. Setaunya orang itu salah satu teman Langit.


Orang itu berjalan mendekati Kinan lalu menyandar pada pembatas membelakangi pemandangan yang indah dan lebih memilih menatap Kinan.


"Gue Septian." tanpa basa-basi ia memperkenalkan diri.


Kinan gelagapan saat Septian mengulurkan tangannya, dengan gugup ia menyambut uluran tersebut. "Kinan."


"Cantik ya."


Kinan menatap gedung-gedung tinggi yang jauh disana, apakah pemandangan di depan sana yang Septian maksud? "Iya pemandangannya cantik."


"Maksud gue, lo yang cantik."


Keduanya lalu diam sebentar sebelum tiba-tiba memecah tawa mereka bersama-sama. Entahlah, menurut mereka ini adalah kejadian yang sangat lucu. Kinan menyingkirkan anak-anak rambut yang menempel di wajahnya yang berterbangan karena ulah angin. Dan saat itu ia baru tersadar dengan kondisi tangannya.


Septian yang menyadari arah tatapan Kinan, segera melepas pegangannya. "Eh sorry, gue nggak bermaksud modus."


Kinan mengangguk lalu tersenyum manis. Uhh, Septian rasanya ingin mimisan saja karena tak sanggup melihat senyum itu. Apakah karena senyum manis Kinan yang membuat Septian tertarik?


"Btw lo ngapain disini? Lo nggak ikut daftar lomba cerdas cermat?" tanya Septian penasaran. Setaunya Kinan ini salah satu siswa pintar di sekolah. Dan besok akan ada lomba yang akan diadakan antar sekolah tapi gadis di depannya ini bukannya ikut mendaftar malah asik berteriak di atap sekolah.


Kinan menggeleng menanggapi.


"Kenapa?"


"Tahun lalu aku daftar tapi nggak diikut sertakan." Jawabannya. Septian mengangguk mengerti, ia tau mengapa gadis didepannya ini tidak diikut sertakan, karena mereka yang terpilih hanya orang-orang yang memiliki koneksi besar didalam sekolah, salah satunya anak-anak donatur. Sayangnya dari tahun ketahun belum ada yang membawa nama sekolah mereka ke tingkat juara.


"Lo mau ikut?" Tanyanya yang diangguki semangat oleh Kianan.

__ADS_1


"Caranya?"


"Ikut gue."


***


Dengan tatapan tak percaya, Kinan menatap kertas formulir di genggamannya yang menandakan dirinya telah diikut sertakan dalam lomba cerdas cermat antar sekolah.


Entah sihir apa yang digunakan Septian sehingga guru yang tahun lalu menolak pendaftarannya kini menerima dirinya. Apakah Septian menggunakan koneksinya? Sungguh membuat Kinan tidak bisa berkata-kata.


"Lo tunggu gue disini, gue mau ngangkat telfon bentar." Kata Septian yang setelah itu pergi meninggalkan Kinan yang mengangguk merespon ucapannya.


Kinan memandangi sekitar namun tak sengaja menatap Langit yang berjalan ke arahnya, mata mereka tak sengaja melakukan eye contact. Lagi dan lagi, mata tajam itu kembali tertangkap di pandangannya, Kinan membuang wajah ke samping ketika pemilik mata tajam itu berjalan mendekat.


"Ck! Murahan!"


Kinan balik menatap tajam, tak terima dikatakan murahan sama orang rendahan seperti pria di depannya, Langit.


"Kamu ke sekolah lupa ngaca ya? Sadar diri dong!" Oceh Kinan yang kini mulai menarik perhatian siswa-siswi yang berlalu lalang.


"Lo habis ngedeketin gue, sekarang deketin Septian?"


'Ngedetian dia? Sejak kapan?' Kinan rasa Langit sudah tidak waras dengan omong kosongnya.


Langit mengepalkan kuat-kuat buku jarinya, menatap tajam gadis songong di depannya. Apa katanya tadi? Rendahan? Apa barusan Kinan mengatakan dirinya orang yang rendahan? "****** kayak lo gak pantas ngehina gue!"


Seolah tak mau kalah Kinan menatap balik Langit dengan tidak kalah tajamnya. "Emang itu faktanya! Kamu cuman anak orang kaya yang manja!"


BRAAKK!


Tong sampah yang memang sudah sejak tadi berada didekat kaki Langit seketika menggelinding dengan isi-isinya yang berserakan setelah menjadi korban pelampiasan emosi Langit.


Langit maju beberapa langkah, menghapus jarak yang menjadi pembatas antara dirinya dengan Kinan. Sangat dekat, saking dekatnya Kinan dapat merasakan hembusan nafas Langit yang tak beraturan lantaran emosi.


"Kalau gue menang, lo jauhin Septian!" Setelah mengatakannya, Langit langsung melenggang pergi begitu saja tanpa memberi kejelasan lebih lanjut pada Kinan.


Menang apa maksudnya? Dan mengapa harus menjauhi Septian? Sungguh Kinan tidak memahami ucapan Langit.


"Lo emang polos atau murni bego? Harusnya lo peka kenapa Langit emosi begitu." bisik Dilan lalu ikut berlari seperti Jordan untuk mengejar Langit.


***

__ADS_1


Para siswa kini terlihat berbondong-bondong memenuhi aula sekolah setelah beberapa menit yang lalu panggilan untuk semua siswa terdengar di speaker pengumuman. Dari informasi tadi, katanya kepala sekolah akan mengumumkan nama-nama siswa yang akan diikut sertakan dalam lomba cerdas cermat nanti.


Kini hampir seluruh siswa sudah berdiri menghadap panggung besar di depan. Banyak dari mereka bertanya-tanya siapa sajakah yang akan ikut lomba tahun ini?


Tapi yang tidak kalah menarik perhatian adalah sosok Langit dan kawan-kawan yang berdiri tidak jauh dari panggung. Bisa dibilang ini termasuk moments langkah karena tak biasanya Langit mau ikut berkumpul di aula seperti sekarang.


Beberapa menit kemudian kepala sekolah atau panggil saja Bu Ela, naik ke atas panggung. Seketika suara yang tadinya bising berubah menjadi hening. Mereka memfokuskan mata pada Ibu Ela yang sudah siap berbicara.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, dan selamat siang ananda sekalian yang saya cintai..."


Para siswa menjawab bersamaan, termasuk Kinan yang juga berdiri ditengah kerumunan. Tak sabar mendengarkan namanya disebut.


"Sebelumnya saya mengucapkan maaf karena harus mengganggu proses belajar ananda sekalian, maka dari itu tanpa membuang waktu, saya langsung saja pada intinya."


"Seperti yang telah kita diketahui, sekolah kita diberi kesempatan menjadi tuan rumah untuk lomba cerdas cermat antar sekolah yang insha Allah akan diadakan besok."


Suara tepuk tangan memenuhi aula sebagai bentuk rasa bangga mereka.


"Sekitar ada 10 siswa yang mendaftar dan berikut nama-nama yang akan mengikuti lomba cerdas cermat..."


Kinan mengepalkan tangan karena gugup, sebentar lagi Ibu Ela akan mengumumkan nama-nama peserta yang ikut.


"Ainun, Chiko, Ilham, Abid, Aulia, Bunga, Adril, Tiara, Kinan dan terakhir..." Ibu Ela menurunkan sedikit kaca matanya untuk memastikan nama yang barusan saja ia liat di urutan terakhir. Merasa belum yakin ia mengucek matanya beberapa kali namun yang ia lihat masih nama yang sama. "Yang terakhir... Langit."


Suara riuh dari para siswa memenuhi ruangan aula. Semuanya terlihat heboh dan mulai membicarakan tentang Langit. Mereka tidak ada yang menyangka, begitu pun dengan Kinan.


Kinan mendengarkan itu semua dengan sangat jelas itu makanya kini ia berdiri mematung. Kalau memang benar, itu artinya... Besok Langit akan ikut lomba bersamanya?


"Kalau gue menang, jauhin Septian!"


Perkataan Langit beberapa saat lalu itu seketika muncul di memori Kinan. Apakah 'Menang' yang dimaksud Langit adalah menang dari lomba cerdas cermat? Tapi untuk apa dan mengapa Langit meminta dirinya menjauhi Septian jika dia menang?


Tiba-tiba sebuah tangan terasa merangkul bahunya. Kinan dengan cepat berbalik dan menemukan Langit berdiri santai disampingnya, satu tangannya masuk ke saku celana sedangkan satunya lagi melingkar dibahunya. Entah bagaimana Langit bisa menemukannya di tengah keramaian begini?


"Ingat! Kalau gue menang jauhin Septian!" bisik Langit lalu melenggang pergi begitu saja.


***


Tatapan intens Sella tidak pernah lepas memandang ke arah Kinan yang sedang dirangkul oleh Langit. Jika dilihat dari belakang, rangkulan itu terlihat sangat erat dan romantis yang membuat hati Sella panas termakan api cemburu.


'Idih belagu! Ikut lomba kek ginian aja udah caper banget sama Langit, si Langit juga ngapain sih rangkul-rangkul Kinan segala?!'

__ADS_1


Sella langsung membalikkan badannya, dia muak melihat aksi Langit yang merangkul Kinan. Dengan muka kesal, Sella segera menuju kelasnya.


'Lo liat aja nanti! Gue pasti ngasih lo pelajaran karna gatel sama Langit! Langit cuman milik gue!!'


__ADS_2