Dangerous Boy

Dangerous Boy
Chapter 13


__ADS_3

Drrtt drrtt


Kinan meraba nakasnya, mengambil benda pipih itu. Ia menyipitkan matanya, memastikan bahwa ia tak salah membaca. Sekali lagi, Kinan menoleh pada jarum jam yang terus berputar seiring berjalannya waktu.


Lia memanggil...


Kinan mengangkatnya, tak ingin sahabatnya menunggu lama.


'Kinan? ya, ampun Kinan lo kemana aja?! Gue telfon berulang kali tapi nomor lo nggak aktif, sekarang lo dimana?'


Kinan terkekeh mendengar ocehan Lia yang nampak khawatir.


'Malah ketawa nggak jelas lo! lo tau nggak sih, Kak Dion khawatir tau nyariin lo!'


"Maaf udah bikin kalian khawatir, tenang aja kok aku udah di rumah."


Terdengar helaan nafas legah. Ia tidak bisa tidur karna memikirkan Kinan yang belum terdengar kabarnya. Bahkan nomornya tidak aktif, selain dirinya Kinan tidak punya teman lain jadi Lia bingung harus mencari kemana Kinan.


'Emang lo dari mana sih?' sekarang rasa khawatir Lia kini berganti rasa kepo.


"Nanti ya kalau kita udah ketemu aku ceritain, udah mau pagi tapi aku belum tidur."


Lia mengangguk walaupun Kinan tidak melihatnya. 'Ok my best friend selama malam,' setelah mendengar Kinan berdehem Lia mematikan sambungan teleponnya. Membiarkan tubuhnya tertidur dengan pulas.


Sedangkan Kinan, melempar acuh ponselnya ke atas nakas. Lalu membuka kacamatanya dan kuncir kudanya yang terasa mengganggu. Beginilah Kinan yang asli, tanpa kacamata dan kuncir kuda yang membosankan.


Sungguh cantik walaupun tanpa riasan yang menempel di wajahnya. Namun Kinan memiliki alasan tersendiri mengapa ia lebih menggunakan style yang kebanyakan orang sebut 'cupu' sebagai gaya sehari-harinya.


***


Sudah dua hari Kinan tidak berangkat sekolah, ia lebih memilih menenangkan dirinya terlebih dahulu di rumah dengan menghabiskan waktu di dalam kamar. Ia masih belum bisa melupakan kejadian dua hari lalu yang membuat rasa takut tersendiri dalam dirinya. Dan itu membuatnya merasa tidak enak badan beberapa hari ini, badannya lemas, panas dan sakit semua. Ia sudah rutin meminum obat yang diberikan Kakaknya tetapi hanya mengurangi rasa panas pada tubuhnya, sedangkan rasa lemas dan nyeri masih ada.


Ia di rumah sendiri kali ini, Kakaknya sudah berangkat kerja sejam yang lalu. Hari masih pagi dan cuaca mendukung untuk berbaring di kamar. Pagi ini cuaca sangat bersahabat bagi Kinan, gerimis kecil dan awan mendung hitam setia menggantung di langit sana. Menjadikan singgasananya untuk berbuat semena-mena terhadap bumi terutama Indonesia.


Kinan bergeliat di kasur, ia bermalas-malasan kali ini. Kinan meraih ponselnya ketika notifikasi masuk.


...Lia...


P


P


P


P


KINAN!!!


Ada berita yg lg hot


^^^Berita ap?^^^


Langit bikin Instagram


^^^Itu aja?^^^


Aja? Kinan! Ini tuh berita besar! BESAR


^^^Besar apanya sih?^^^


Berita besar krn Langit tuh orangnya misterius! Kita blm pernah liat foto dia di dunia media, ini pertama kalinya kita liat foto dia yang bener bener super kece abizzttt xixixi

__ADS_1


^^^Apa sih liaaa typing kamu alay^^^


Susah cerita sm orang kolot


kayak lo!


^^^Trs ngapain cerita sm aku?^^^


Iss lo ngeselin! Bye gue mau ke kantin, lo baek baek di rmh biar cepet sembuh gk enak tau sendirian


^^^Bye bye^^^


Setelah meninggalkan room obrolannya dengan Lia, Kinan membuka kembali foto yang Lia sebut 'Kece abizztt' tadi. sebuah foto yang menampilkan wajah Langit dengan username Instagram yang terpampang jelas.


Sebenarnya Kinan merasa penasaran juga dengan akun Instagram milik Langit jadi ia menekan ikon aplikasi Instagramnya.


Berkat face account-nya Kinan mencoba stalking milik Langit. Dengan jelinya ia mengetik username milik Langit, lalu klik.


Kinan mengerucutkan bibirnya kesal. Akun Langit terprivate. Tak ada pilihan lain agar memfollow akun tersebut.


1 menit


2 menit


3 menit


Sampai berjalannya waktu ke empat puluh menit Kinan meminta pertemanan pada Langit, namun tidak ada hasil. Langit masih setia mengunci akunnya, hanya beberapa orang yang beruntung menjadi followersnya termasuk Lia.


Padahal Kinan menggunakan akun palsu, tapi kenapa Langit belum mengkonfirnya? apakah akun Kinan terlihat tidak mengyakinkan? padahal Kinan menggunakan foto korea untuk dijadikan tumbal. Lagipula, jika menggunakan akun asli Kinan akan lebih tidak memungkinkan di konfirmasi oleh Langit. Secantik orang korea saja diabaikan apalagi Kinan?


"Lia bener, Langit itu misterius."


Kinan menatap ke luar jendela kamarnya. Dimana menampilkan cuaca mendung dengan langit hitam kelam, terlihat menakutkan namun suasananya membuat nyaman. Apakah seseorang yang bernama Langit Arsenio Rajendra sama seperti langit di atas sana? menakutkan tapi membuat nyaman.


"Langit Arsenio Rajendra, mungkin aku bodoh kalau aku bilang suka sama kamu?"


***


Septian mendengar desas desus tentang Langit yang menyelamatkan 'mangsanya' beberapa siswa siswi menggosipkan Langit yang bersikap aneh, menyelamatkan mangsanya yang hampir disetubuhi.


Septian bertanya-tanya siapakah mangsa itu? Jika apa yang ada di pikirannya adalah benar, ia akan menghampiri Langit dan menanyakan apa maksudnya.


"Gue denger-denger katanya dua hari yang lalu Langit nolongin Kinan, secantik apa sih dia? Sampai diselamatin sama Langit?" Perkataan dari salah satu siswa yang sedang bergosip itu sudah cukup untuk menjawab pertanyaan yang ada di benak Septian. Dengan langkah tergesa Septian berjalan menuju kelas.


Ia mengedarkan pandangan, mencari sosok Langit. Namun, hanya suasana kelas rusuhlah yang ia temukan. Kemana perginya Langit? Septian segera menghadang Dilan dan Jordan yang berniat keluar kelas.


"Kalian tau Langit kemana?" tanya Septian tanpa basa-basi.


"Buru-buru amat, kenapa sih emang?" tanya Jordan yang setengah bingung.


"Ya elah tinggal jawab apa susahnya? Buruan ini penting!" Septian berdecak kesal melihat Jordan yang mengulur waktu.


"Mungkin di atap kali," celetuk Dilan.


Septian bergegas menuju atap. Ia harus menanyakan hal ini. Ia tidak akan terima jika gadis yang hampir di setubuhi adalah Kinan.


Setelah pintu itu terbuka, Septian melihat Langit duduk di teras sambil merokok. Ia hanya sendiri seperti sedang menenangkan pikiran di tempat yang sejuk ini.


"Lang!"


Yang dipanggil menoleh. Dengan santai ia berdehem tanpa menjawab apapun. Septian sudah hafal dengan sikap itu.

__ADS_1


"Siapa cewek yang lo tolong beberapa hari lalu?"


Langit berdiri dari duduknya, melempar putung rokok di halaman atap hingga basah karena genangan air hujan semalam. Langit menaikkan sebelah alisnya, mencerna apa yang ditanyakan Septian.


"Bener cewek itu salah satu korban bully lo? Gue denger-denger lo nyelamatin dia," Septian bertanya kembali karena melihat Langit seperti kebingungan.


Setelahnya raut Langit benar berubah, seperti mengetahui maksud dari Septian.


"Emang lo harus tau?" jawab Langit balik bertanya.


"Jangan bilang dia Kinan?"


Langit terdiam, kemudian mengalihkan pandangannya. Sudah cukup menjadi jawaban untuk Septian. Benar dugaannya, Kinan lah orang itu.


"Soal kejam gue udah tau itu ciri khas lo, dari dulu juga lo dikenal sebagai orang yang nggak punya hati, tapi kali ini lo udah benar-benar kelewatan!"


"Kelewatan gimana? Gue udah nolongin dia," jawab Langit tenang. Seolah tak terusik apapun di benaknya.


"Gue harap lo gak lupa, hari itu gue udah ngasih peringatan sama kalian kalau club itu tempat berbahaya buat Kinan!"


Langit berdecak tidak suka seraya menatap nyalang Septian. "Yang penting gue udah nolongin Kinan kan?"


"Kenapa lo nolongin Kinan?" tanya Septian penasaran. Biasanya seorang Langit tidak peduli lagi dengan nasib korbannya.


Langit terdiam, mencoba menemukan jawaban yang tepat. "Karna gue nyesel."


Septian tertawa hambar, alasan klasik baginya. "Bukannya lo sendiri yang bilang kalau nggak ada kata 'Menyesal' dalam kamus lo?"


Inilah yang dinamakan 'senjata makan tuan'.


"Lo kenapa dari tadi nyudutin gue karna Kinan, Lo suka sama dia?" karena sudah tidak tau harus menjawab apa, Langit balik bertanya yang menyudutkan Septian.


"Bukannya lo sendiri yang suka sama dia?"


Jujur Langit terkejut dengan penuturan Septian. Namun dengan pandai ia menutupi segalanya. "Gue suka sama orang lain, dia Anggi."


Septian tersenyum meremehkan, Langit bisa menyembunyikan kebohongannya kepada orang lain namun tidak dengan Septian yang sudah mengenal Langit sejak kecil. "Terserah lo suka siapa, tapi gue cuman mau bilang Karma is real brader," ujar Septian sebelum pergi meninggalkan Langit seorang diri.


Langit menatap kosong ke arah lantai rooftop. Sepeninggal Septian tadi, pikirannya berkecamuk. Benarkan ia telah menyukai Kinan? Langit bingung dengan perasaannya sendiri.


"Langit!" Dilan dan Jordan yang tiba-tiba duduk di sampingnya tanpa Langit sadari. Langit hanya menoleh tanpa minat. Membuat Dilan berdecak kesal.


"Lo beneran suka sama si cewek songong itu?"


"Eits! Eits! santai mas bro," secepat Kilat Jordan menenangkan Langit yang mencengkram leher Dilan hingga kepala bagian belakang Dilan membentur dinding. Dilan terlalu terkejut atas tindakan Langit yang mencekik lehernya hingga ia sulit bernafas.


"Lo nguping?!" cerca Langit dengan suara tegas.


"Tadi kita kesini susulin kalian berdua, lagian kita gak sengaja dengar obrolan kalian," jelas Dillan.


Langit melepas cekikan pada leher Dillan. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan yang bertumpu pada lutut.


"Gue gak suka dia bego! Gue nolongin dia karna khawatir! Khawatir bukan bararti gue suka sama dia tapi karna gue yang bawa dia jadi gue ngerasa keamanan dia jadi tanggung jawab gue!"


Langit menjelaskan. Jordan yang menyimak hanya mengangguk paham. Alasan Langit cukup kuat, lagipula apa yang dapat dibanggakan dari gadis songong itu? Mana mungkin seorang Langit mencintai gadis seperti dia? Levelnya cukup rendah bahkan rendahan.


Tapi tidak ada yang tau perasaan orang bukan?


"Gue percaya sih tapi gue lebih percaya sama Septian kalau lo suka Kinan bukan Anggi," ejek Dillan, dengan cepat ia berlari sebelum ia benar-benar mati terpisah antara tubuh dengan kepala di atas atap ini. Ia berlari meninggalkan Langit yang bersiap mencekiknya kembali.


Jordan melirik Langit yang kini beralih menatap nyalang ke arahnya. "Sorry Lang, tapi Septian lebih meyakinkan," ujarnya lalu ikut berlari.

__ADS_1


"Mati aja lo berdua!" teriak Langit penuh dengan kekesalan.


__ADS_2