Dangerous Boy

Dangerous Boy
Chapter 6


__ADS_3

"Udah ngerti?" Kinan menoleh menatap lelah Langit yang hanya mencoret-coret asal bukunya.


Sabar, hanya itulah yang sejak tadi Kinan lakukan. Keduanya kini duduk lesehan dialasi karpet berbulu di ruang tengah.


"Langit kamu bisa fokus ke aku sebentar?" pinta Kinan dengan mengusahakan agar nada bicaranya terdengar tidak memperintah Langit. Bisa tamat riwayatnya jika Langit mengamuk.


Dengan iris mata tajamnya, Langit menatap Kinan dengan fokus yang membuat Kinan gelagapan sendiri padahal dia sendiri yang meminta.


Kinan berdehem sejenak, "Maksud aku fokus sama yang aku jelasin bukan ke muka aku."


"Ck, bawel!"


Kinan merebut pulpen dan buku yang sebagiannya sudah dipenuhi gambar dan coretan abstrak dari Langit. Ia mulai menuliskan beberapa soal latihan yang tidak terlalu susah. Mari kita tes sampai tingkat mana Langit memahami pelajaran biologi.


"Kamu kerja soal-soal ini, aku mau ke kamar kecil dulu," Kinan berjalan ke dapur, meninggalkan Langit yang sedang pdkt dengan soal-soalnya.


Tak butuh waktu lama, hanya membutuhkan lima menit Kinan menyelesaikan buang air kecilnya. Ia buru-buru ke ruang tengah kembali, ingin melihat Langit benar-benar mengerjakan soal yang ia berikan atau kembali bermain.


Dan benar saja, ketika sampai di ruang tengah, pandangan yang pertama kali Kinan lihat adalah Langit yang asik mencoret di bukunya, "Udah selesai?"


Tidak ada jawaban. Kinan yang merasa lelah duduk di sofa, menyandarkan punggungnya dengan nyaman. Mengajari Langit begitu menguras banyak tenaganya.


Bahkan mengajari anak kecil mungkin lebih mudah dari pada Langit.


Kinan melirik jam dinding di sudut ruangan, sudah hampir satu jam berlalu namun Langit belum mengerjakan satu soal pun. Matanya yang fokus pada jam kini beralih pada figuran foto besar yang di isi tiga orang, pria dan wanita setengah baya yang sepertinya kedua orang tua Langit, sedang tersenyum manis dan satunya lagi anak cowok dengan wajah tripleks khasnya tanpa di hiasi senyum, sangat kaku hanya untuk sebuah senyuman.


"Kalian mirip."


"Hah?" Kinan menoleh, menatap Langit dengan alis terangkat.


"Lo mirip sama Bunda."


Kinan kembali mengamati wajah wanita yang ada pada foto. Memang wajah mereka memiliki kemiripan, terutama bagian mata. Hanya gaya rambut yang menjadi perbedaan mereka, "Berarti aku cantik dong seperti Bunda kamu?"


Langit tak menanggapi yang membuat Kinan cemberut. Gadis itu turun dari sofa dan duduk di dekat Langit, ia memperhatikan tangan Langit yang sangat lihai menggambar setiap inci wajah seseorang dengan rambut panjangnya. Gambar itu terlihat sangat nyata dan indah.


"Yang kamu gambar siapa? dia cantik," puji Kinan.


Langit yang mendengar itu langsung tersenyum tipis, "Namanya Nadine, cinta pertama gue."


Kinan ber-oh ria lalu merebut paksa gambar tersebut.


"Ini udah sore, kamu maksa aku ikut sama kamu cuman mau nungguin kamu coret-coret buku nggak jelas? bisa nggak, kamu fokus sama materi yang aku kasih?" pinta Kinan, tiba-tiba saja ia merasa badmood.


"Berisik! iya-iya ini gue kerjain, tapi lo jelasin dulu!"


Kini Kinan turun dari sofa dan mengambil tempat duduk tepat di hadapan Langit, "Jadi sel tumbuhan memiliki struktur berbeda dengan sel hewan."

__ADS_1


Langit larut dalam penjelasan Kinan, itupun kalau dia diam-diam melirik Kinan bisa masuk dalam kategori larut dalam penjelasan materi Kinan.


"Sekarang udah paham?"


Langit mengangguk.


"Ok kalau gitu yang mana sitoplasma?" Kinan menyerahkan buku paket tebalnya yang kira-kira ada dua ratus halaman itu ke depan Langit


"Yang ini?" Langit menunjuk asal yang di mana menunjuk bagian inti sel.


Kinan tersenyum. Yang pastinya bukan senyum manis ataupun tulus namun senyum yang menyembunyikan ketertekanannya.


Hari semakin sore, Kinan tidak bisa berlama-lama di sini hanya untuk menunggu Langit mengerti. Entah apa yang harus ia katakan pada Pak Jaedi nanti jika melihat hasil nilai Langit yang masih sama atau bisa saja semakin parah.


Stay strong Kinan!' batinnya menyemangati diri sendiri.


***


Setelah sampai di rumah, Kinan segera masuk ke dalam kamarnya dan membersihkan dirinya di bawah shower.


Ia segera merebahkan tubuhnya yang terasa lelah di kasur empuknya setelah selesai membersihkan tubuhnya. Ia benar-benar dibuat lelah hari ini. Kinan hanya berharap agar ia bisa tidur dengan nyenyak tanpa adanya gangguan.


Namun baru beberapa detik Kinan memejamkan matanya, tiba-tiba engsel pintu kamar berbunyi disusul suara Dion yang memanggil.


"Kinan..." panggil Dion namun Kinan hanya diam, Kinan bener-benar lelah sehingga menyahuti kakaknya saja ia tidak sanggup.


"Kamu udah makan?"


Kinan menggeleng, "Kak, Kinan ngantuk pengen tidur bentar."


"Tapi kamu belum makan, nanti kamu sakit gimana?"


"Tapi Kinan ngantuk banget, udah nggak ada tenaga lagi buat ngunyah makanan," rengeknya, Kinan harap Kakaknya bisa mengerti.


Dion menatap adiknya dengan tatapan khawatir, "Ya, udah kamu tidur, Kakak keluar ya, sweet dreams," ucapnya sembari mengecup kening adiknya lalu ia keluar dari kamar.


***


Pagi ini Kinan berangkat lebih awal dari biasanya demi menghindari kata terlambat. Kinan melangkah dengan pelan dengan pandangan menunduk yang terus menatap lantai demi menghindari tatapan sinis.


Entah apa yang aneh darinya sehingga mengundang beberapa tatapan sinis dari siswa dan siswi. Oh, demi dewa neptunus tuan crabs, apakah ia harus mengawali paginya yang cerah dengan tatapan sinis dari mereka?


"Oh, dia yang ada di papan mading itu ya?"


"Iya, cantik sih, tapi nggak tau diri!"


Kinan menajamkan pendengarannya ketika tidak sengaja mendengar obrolan mereka. Mengapa dengannya? dan ada apa di papan mading?

__ADS_1


Karena merasa penasaran, Kinan buru-buru berjalan cepat. Tujuannya saat ini ingin melihat papan mading.


Tanpa berpikir panjang Kinan merobos gerombolan yang berkumpul di depan papan mading. Matanya langsung melotot melihat beberapa kertas yang tentunya tidak asing lagi bagi Kinan kini berjejeran rapih di papan mading.


Kertas-kertas itu adalah bagian dari bukunya yang hilang kemarin. Di mana ia menuliskan kebenciannya terhadap Langit. Siapa lagi dalang dari ini semua?


"Cari masalah sama gue?"


'Langit?!'


Mendengar suara Langit, Kinan segera menoleh ke belakang termasuk anak-anak lain. Kinan melihat raut wajah Langit yang menampilkan datar namun ada kebencian tersirat yang terpancar dari tatapannya. Bahkan mata elang yang tajam itu kini menatap tajam ke arah Kinan.


Sungguh, Kinan merasa terpojok dan tak tau harus melakukan apa jika situasinya sudah seperti ini.


"Kasih tau gue, ini maksudnya apa?"


Seketika bulu kuduk Kinan meremang mendengarkan suara berat Langit yang terdengar menyeramkan. Rasanya Kinan ingin menangis saja.


Kinan hanya bisa menunduk, mencari titik fokus selain menatap mata Langit.


"A-aku nggak tau," ujarnya yang mencekram kuat-kuat ujung bajunya hingga jari jemarinya terasa keram.


"Gue ulang sekali lagi, apa maksudnya ini semua!" ulang Langit yang menekan setiap katanya.


"Ini bukan aku yang nempelin di papan mading pasti ad--"


"Gue nggak peduli siapa pelakunya yang pasti lo udah bikin gue malu! jangan harap hari-hari lo tenang mulai hari ini!"


What? Apa yang harus Kinan lakukan sekarang agar lepas dari terkaman singa liar seperti Langit?


"Maaf Langit, apa pun bakal aku lakuin tapi tolong bebasin aku,"


Langit menyeringai mendengar ucapan Kinan. Dasar bodoh! gadis ini malah menghantarkan dirinya secara percuma-cuma ke padanya.


"Apa pun?" Langit mendekati telinga Kinan dan berbisik pelan, "Lo pikir gue minat sama tawaran lo!"


Kinan meneguk ludah susah payah, dadanya memburu berdebar cepat. Panas dingin yang ia rasakan, kini keringat sudah membanjiri wajah sampai lehernya.


"M-maafin aku, aku bener-bener nggak tau soal ini."


Langit menatapnya remeh, menelaah penampilan Kinan dari atas sampai bawah. Sebenarnya Kinan tidak kalah cantik dengan gadis-gadis lainnya, cuman karna kaca mata bulat dengan kuncir kuda yang tampak membosankan membuat penampilannya kurang modis.


"Mulai sekarang jangan harap hidup lo bisa tenang di sekolah ini!" Langit menepuk pelan kepala Kinan lalu pergi bersamaan bubarnya rombongan yang sejak tadi mengerubungi kedua remaja tersebut.


Kinan memejamkan matanya erat-erat, tak di sangka ia akan berurusan dengan Langit, Mulai hari ini hidupnya yang tenang dan damai sentosa akan lenyap.


Goodbye hari-hari yang tenang.

__ADS_1


__ADS_2