Dangerous Boy

Dangerous Boy
Chapter 7


__ADS_3

"LARI LAPANGAN LIMA PUTARAN!" Perintah Pak Noval yang tak dapat di ganggu gugat oleh para penghuni kelas XII MIPA 2. Sontak satu persatu mulai berlari mengelilingi lapangan dengan tertip dalam barisan termasuk Kinan. Sedangkan Lia ia asik nongki di kantin dengan alasan pusing.


Cukup melelahkan bagi Kinan karena sejak tadi pagi perutnya kosong belum diisi makanan apapun. Memangnya siapa yang masih sempat memikirkan makan setelah kejadian tadi pagi? Wajah murka Langit masih membekas di ingatannya.


Mata bulatnya yang indah tanpa sengaja menangkap sosok Langit yang bermain basket bersama ketiga temannya. Begitu sangat kebetulan kelas Langit mendapat jamkos saat jam olahraga kelas Kinan. Ataukah si biang onar itu bolos?


Dari lubuk hati terdalam sebenarnya Kinan merasa tidak nyaman saat ketiga teman Langit terus meliriknya di tambah Langit yang kini menatapnya dengan tatapan... entah lah, rasanya susah untuk di deskripsikan dengan sebuah kata-kata.


Sebelumnya ada rasa keberanian untuk menentang Langit namun entah kemana perginya rasa keberanian itu setelah melihat wajah murka Langit yang menyeramkan.


"KINAN AWAS!!" teriak beberapa siswa ketika sebuah bola berwarna orange melayang dengan kencang ke arah Kinan. Mungkin karena sudah takdir, Kinan yang sudah berusaha menghindar tetap saja mengenai kepalanya yang membuat ia tersungkur tak berdaya di lapangan.


Semua ikut berkerumun melihat keadaan Kinan. Termasuk pelaku yang membuat Kinan jatuh, yang tak lain adalah Langit.


"Lang, keknya dia pingsan," ujar Jordan.


"Tanggung jawab lo Lang, anak gadis orang ini," sambung Dilan.


Jordan mendorong Langit agar lebih dekat lagi dengan Kinan, "Gendong gih bawa ke UKS, kasian anak orang."


Merasa tidak ada tanda-tanda pergerakan dari Langit, Septian menunduk di samping tubuh Kinan. Berinisiatif menggendong gadis tersebut namun tiba-tiba saja tubuhnya terhuyung ke belakang karena tarikan keras dari seseorang.


"Biar gue!" ujar Langit mengambil alih menggendong Kinan. Hanya lirikan tajam kerumunan itu terbuka memberi jalan, mereka hanya mampu melihat adegan dimana seorang Langit menggendong Kinan yang tak sadarkan diri.


Langit meletakkan tubuh Kinan yang tampak lemah di ranjang UKS.


Sejak awal Langit memang menargetkan Kinan untuk menjadi sasaran empuk lemparan bolanya namun Langit tidak menyangka bahwa itu akan berakibat seperti ini. Ternyata luarnya saja yang sok berani, aslinya tubuh kecil itu bisa tumbang hanya karena bola orange miliknya.


"Dasar lemah!"


***


Brak!


"KINAN!"


Suara gebrakan pintu UKS disusul dengan teriakan Lia membangunkan Kinan dari tidur nyenyaknya.


"KINAN!"


Kinan menghiraukan panggilan Lia. Rasa pening di kepalanya membuat Kinan malas membuka mata. Ia kembali menidurkan dirinya berharap sebuah mimpi indah datang dalam tidurnya, tapi tiba-tiba Kinan merasakan kasurnya bergoyang. Itu pasti Lia.


"Kinan..." panggil Lia tapi Kinan hanya diam, Kinan benar-benar malas membuka mata.


Merasa tidak ada respon dari Kinan kini Lia mengguncang tubuh Kinan berharap kali ini ada respon walaupun secuil saja namun hasilnya tetap sama saja.

__ADS_1


Bukannya Kinan tidak mau menanggapi sahabatnya itu tapi kepalanya yang terasa pening begitu menyakitkan sehingga membuka mata saja ia tidak bisa.


Tiba-tiba saja Kinan mendengarkan suara isakan tangis. Suara isakan tangis itu terdengar tidak asing baginya. Itu terdengar seperti-- Lia? apa Lia menangis?


"Kinan jangan mati dulu! gue butuh restu lo buat nikah sama Dion!" Lia menggelamkan kepalanya di bantal yang Kinan tempati sambil sesenggukan.


Isakan yang terdengar biasa saja itu kini semakin keras. Kinan membuka matanya secara perlahan, mengintip Lia yang sedang menangis.


Kinan terkekeh seraya bangkit dari tidurnya, "Lia kamu pikir aku bakal mati karena cuman bola?"


Lia mengangkat kepalanya secara perlahan dan menatap Kinan dengan mata berbinar.


"KINAN!" teriak Lia yang langsung melompat memeluk erat sahabatnya.


"Lia! kamu nggak berencana bunuh aku kan? ini kamu meluk aku erat banget, sesak rasanya!"


Lia melepaskan pelukannya seraya mengusap pipinya yang masih terdapat bekas air mata.


"Lia kamu nangis?"


"Siapa? gue? nggak tuh, gue nggak nangisin lo, ini mata gue kemasukan debu," elaknya beralasan.


Kinan terkekeh, rasa peningnya sudah tidak terasa lagi, mungkin karena melihat tingkah bodoh sahabatnya ini membuat ia melupakan rasa pusingnya.


"Btw si Langit keterlaluan nggak sih? Gimana kalau lo kena geger otak gara-gara dia?"


"Kenapa? padahal gue mau cerita sesuatu tentang dia."


"Sesuatu?"


"Iya! lo tau nggak, siapa yang bawa lo ke uks?"


Kinan menelusuri seisi ruangan seraya berpikir, "Anak PMR?"


"Salah!" Lia menjawab dengan senyum mengejek, membuat Kinan ingin mencakar wajah sahabatnya itu.


"Terus siapa?"


"Langit, yang gendong lo ke sini."


Kinan mengerjapkan matanya beberapa kali lalu mencerna perkataan Lia, tampak wajahnya sangat terkejut. Ia merasa tidak percaya setelah mendengar itu. Seorang Langit mau menggendongnya ke UKS?


***


Setelah merasa baikkan, Kinan kembali ke kelasnya. Ia berjalan dengan sedikit menunduk, melewati baberapa siswa dan siswi yang menatapnya sinis.

__ADS_1


Jika dulu ia selalu terabaikan dan tidak dianggap kini telah berbeda. Sekarang ia selalu mejadi pusat perhatian, dimana-mana orang selalu memandangnya, entah itu tatapan rendah atau sinis. Ini semua gara-gara Langit. Karena dampak kepopuleran pria itu membuatnya ikut terseret menjadi pusat perhatian. Kini hari-harinya yang tenang hilang dalam sekejap mata.


Kinan segera masuk ke dalam kelasnya dan mendudukkan dirinya di kursi tanpa merasa aneh sedikit pun walaupun seluruh tatapan didalam kelas masih terpusat ke arahnya.


Pintu yang tadinya tertutup kini terbuka menampakkan wajah Langit beserta ke tiga temannya. Suasana kelas yang tadinya riuh kini berubah menjadi sunyi seperti tak berpenghuni.


Kinan memutar malas matanya, lagi-lagi dia. Tidak bisakah penglihatannya istirahat sejenak untuk tidak melihat wajah datar si biang onar itu?


Langit berjalan menuju kursi Kinan, dan berhenti tepat di sampingnya. Ia sedikit menunduk dan berbisik pelan yang membuat Kinan mengepalkan tangannya.


"Kursi yang lo dudukin ada lemnya," itulah yang Kinan dengarkan.


Kinan mengambil ancang-ancang untuk melepaskan dirinya dari lem yang begitu lekat namun bahunya ditahan oleh Langit, "Lo bego? nggak liat disini banyak orang? kalau lo berdiri otomatis rok lo bakal robek. Lo mau semua yang ada di dalam sini ngeliat bokong lo yang terekspos bebas?"


Dilan, Jordan dan Septian seketika tercengang menatap Langit yang berbicara panjang lebar. Kini mereka bertanya-tanya benarkan itu Langit yang mereka kenal? lagi pula Langit sendiri yang memasang lem tersebut tapi kenapa dia juga yang panik ketika Kinan hendak berdiri?


"Mau kamu apa sih? tolong biarin aku lepas dari sini!" teriak Kinan yang kini mulai berkaca-kaca. Dia sudah mulai lelah menghadapi Langit.


"Mau gue bantu? gampang, cukup puasin gue."


Plak!


Satu tamparan berhasil mendarat di pipi kiri Langit, wajahnya menoleh secara kasar ke arah samping. Rahangnya mengeras lalu matanya terpejam merasakan sensasi panas sekaligus perih yang memerah akibat tamparan Kinan.


"Kamu udah kelewatan!"


Dalam sekali hentakan Kinan bangkit dari kursi tersebut membuat rok bagian belakangnya sobek yang melekat kuat dengan lem.


Kelas yang tadinya hening tak bersuara kini dipenuhi suara tawa. Menertawakan rok Kinan yang robek.


Langit dengan wajah kagetnya menatap Kinan, tak di sangka ternyata gadis itu begitu nekat.


Bukan ini yang Langit mau. Langit ingin Kinan menangis memohon padanya, meminta pertolongan darinya, rela melakukan apapun namun semuanya jauh dari ekspektasinya.


"DIAM!" teriak Langit dan seketika itu juga semua murid menjadi diam. Langit menatap bagian paha Kinan yang putih dan mulus terekspos bebas bahkan gerak sedikit saja ********** bisa terlihat.


Langit berdecak tidak suka, ia melotot pada seluruh anak-anak di kelas, memberi kode agar mereka menutup mata. Tanpa terkecuali, termasuk para perempuan.


"Apa lagi sih?!" tanya Kinan yang hendak pergi namun ditahan oleh Langit.


Tanpa berkata apapun, Langit melepaskan jaket bombernya dan menutupi paha Kinan.


"Makasih tapi aku anggap aku nggak ada hutang budi sama kamu!" ujarnya lantang, menatap tajam mata Langit yang menurut orang sangat mempesona. Entah dari mana Kinan mendapatkan keberanian ini.


"Lo kenapa keras kepala?" Kinan tidak menanggapi, ia lebih memilih pergi dari sana.

__ADS_1


"Kinan," Langit bergumam seraya menyeringai menatap langkah kaki gadis itu yang semakin menjauh, "You are mine," sambungnya dengan tatapan tidak lepas dari punggung kecil Kinan.


Ada rasa obsesi yang Langit rasakan ketika melihat Kinan yang begitu keras kepala, namun Obsesinya berbeda. Langit ingin menjadiKan Kinan bonekanya yang patuh tanpa adanya penolakan.


__ADS_2