
"Permisi," guru yang sedang menerangkan itu menoleh ke pintu dimana salah satu anak osis berdiri di sana.
"Ada apa?"
"Danu dipanggil ke ruang kepala sekolah," ujarnya dengan sopan. Entah keonaran apalagi yang di perbuat Danu sehingga di panggil oleh kepala sekolah.
Mendengar hal itu Danu berdiri dari duduknya melangkah keluar kelas setelah mendapatkan ijin dari guru. Berjalan ke ruang kepala sekolah yang berada di antara gedung kelas 10 dan 12.
Brak!
"Aww--" Danu tidak sengaja menabrak seseorang yang tiba-tiba keluar dari perpustakaan. Berbeda dengan Danu yang tetap berdiri tegak sedangkan seseorang yang bertabrakan dengan Danu itu malah terjatuh dengan lutut yang lebih dulu menyentuh lantai dan buku yang berceceran.
Danu menatap tanpa ekspresi namun ketika menyadari gadis cantik yang bertabrakan dengannya, laki-laki itu dengan cepat berjongkok membantu gadis itu. Dasar crocodile!
"Ck! Jalan jangan pake kaki doang gunain mata juga!" cerca Lia yang tidak melihat terlebih dahulu siapa orang di depannya, ia lebih memilih fokus memungut buku paket Biologi yang tebalnya seperti kamus itu.
"Jangan marah-marah atuh neng cantik, entar cepat tua loh."
"Dih ngatur, gue mau kayang juga bukan urusan lo!" ujar Lia lalu bergegas pergi meninggalkan Danu setelah memungut semua bukunya.
"Gue ditinggal? seorang Danu yang pesonanya setara dengan Langit ditinggalin? biasanya gue yang ninggalin cewek bukan cewek yang ninggalin gue! wah, nggak bisa dibiarin ini keterlaluan sih, melanggar UUPD Undang Undang Pesona Danu." ocehnya tidak jelas sembari melanjutkan langkahnya ke ruang kepala sekolah.
***
'Tatapannya yang tajam
Perlakuannya yang kasar
Dan sifatnya yang kejam
Semuanya...
Bahkan helaan nafasnya Aku benci
Tapi dalam semalam rasa benci itu berubah hanya karna satu pertolongan.
Rasa asing itu tiba-tiba datang tanpa diduga.
Apa masuk akal kalau aku suka dia?'
__ADS_1
Kinan membagikan sedikit keluh kesahnya pada buku yang orang-orang sebut dengan buku 'diary' namun buku itu hanya tinggal beberapa kertas saja. Sebagiannya sudah sobek karena kejadian hari itu, hari dimana ia berurusan dengan Langit untuk pertama kalinya.
Lia datang membuat suasana damainya menjadi hilang. Kinan masih termangu menatap luasnya langit yang tidak cerah seperti biasanya. Dia berada di jendela kamarnya, tempat favoritnya untuk menenangkan pikiran.
"Lo punya sahabat tapi curhatnya ke buku, emang lo nulis apa sih?" Lia mengambil buku yang tergeletak di pangkuan Kinan dan membuka asal bagian buku itu.
Sontak Kinan merebutnya lalu menyembunyikan di balik tubuhnya. Lia rasa semua percuma karna Lia sudah melihatnya.
"Lia nggak semuanya kamu harus tau, aku juga punya privasi!" protes Kinan setelahnya diberi cengiran Lia sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lia jadi merasa bersalah namun juga penasaran isi dari buku tersebut. Apa itu buka yang isinya curhat-curhat para anak perempuan? Lia tidak bisa membayangkan Kinan bisa alay juga.
"Ya sorry, lagian lo kalau ada apa-apa nggak pernah cerita, selalu curhatnya ke buku itu."
Kinan menunduk, ia rasa ini saat yang tepat untuk membicarakan masalah perasaannya pada Lia. Sungguh Kinan bimbang dan tidak mengerti dengan dirinya sendiri saat ini. Kinan akan mencoba berbicara pada Lia. Mungkin saja Lia punya solusi, lagi pula Lia ahlinya dalam hal seperti ini.
Lia menatap sahabatnya itu dengan heran. Selang beberapa detik kemudian Kinan mengangkat wajahnya dan menatap Lia takut.
"Kamu bisa aku percaya?" tanya Kinan meyakinkan sebelum dia menceritakan semua keresahan yang bersarang dalam hatinya.
"Dari orok kita udah temanan, emang masih kurang kepercayaan lo sama gue?"
"Bukan! nggak gitu maksudnya," potong cepat Kinan. "Aku bakal cerita sama kamu tapi janji jangan kasih tau ke siapapun, oke?"
"Janji?" Kinan dan Lia saling menautkan jari kelingking mereka sebagai tanda setuju. Kinan kembali menunduk, apakah ia harus menceritakan kepada Lia? Kinan menghembuskan napas perlahan lalu mengangkat wajahnya menatap Lia dengan mantap.
"Kayaknya aku suka sama seseorang."
Kini mata Lia membulat, dia mendekat ke arah Kinan lalu membenarkan anak rambutnya yang berjatuhan. Rasanya benar-benar mengejutkan mendengar pengakuan Kinan.
"Serius? sama siapa anjir?"
Kinan segera menunduk, menghindari tatapan mengerikan dari Lia. Jika ia mengatakan siapa orangnya apakah Lia akan menertawakannya?
"Dia... Langit."
What?!
Kaget? Tentu saja. Rasanya jantung Lia sudah pindah ke lambung. Dari milyaran laki-laki di dunia ini kenapa sahabat bodohnya ini malah memilih menaruh hati kepada Langit? Lia tidak habis pikir, entah apa yang telah di lakukan cowok kejam itu sehingga Kinan yang berhati malaikat bisa jatuh cinta pada cowok kasar, kejam, bejat dan tak punya hati seperti Langit Arsenio Rajendra.
Lia menghela napas lelah, mau cowok itu seperti iblis sekalipun kalau yang namanya 'Cinta' tidak akan bisa di tepis. Mungkin Lia tidak bisa membantu kisah cinta rumit Kinan namun dia akan tetap mendukung keputusan sahabatnya ini. Biarkan takdir yang menentukan bagaimana kedepannya kisah dua remaja beda kasta ini.
__ADS_1
***
"KINAN! WAKTUNYA MAKAN!"
"KINAN! AYO TURUN!" teriakan Lia dan Dion menyadarkan Kinan dari lamunan panjangnya.
Ia segera menghampiri pasangan tersebut yang meninggalkan dirinya sendirian di kamar agar bisa berdua-duaan di dapur.
"Masih butuh bantuan?" tanya Kinan saat sampai di samping Dion yang memasukkan sedikit demi sedikit masakan dari wajan menuju mangkuk kaca.
"Kamu bawa ini ke meja, kasian Lia kayaknya udah kelaparan," suruh Dion yang dibalas cibiran oleh Kinan. Adiknya yang sakit malah di perintah sedangkan Lia yang sehat Wal Afiat malah dibiarkan duduk santai di meja makan. Susah memang kalau sudah bucin.
Kinan menoleh kearah sahabatnya yang sudah duduk manis di meja makan sambil membawa sendok dan garpu di kedua tangannya. Kinan menghela napas kemudian berjalan mengambil mangkok itu lalu meletakkan di atas meja makan.
Ia duduk di depan Lia dan Dion mengambil tempat duduk di samping Lia. Dalam hati Kinan mencibir dua mahkluk di depannya yang seperti prangko yang terus menempel.
"Gimana kamu di sekolah?" tanya Dion yang tentunya untuk Lia.
"Nggak enak banget, udah dua hari ini sendirian mulu di sekolah karna nggak ada Kinan. Terus yang bikin kesel, tadi di sekolah ada cowok yang main nyenggol aja bukannya minta maaf malah ngatur-ngatur," Jelas Lia dengan wajah kesalnya.
Kinan menutup mulut, menahan agar tidak tertawa. Entah dimana lucunya, Kinan juga tidak tau tapi rasanya lucu mengetahui Lia kesulitan di sekolah.
"Kalau Kak Dion sendiri gimana sama kerjanya?"
"Tentu semangat dong karna ada foto kamu sebagai penyemangatnya."
Kinan sedikit menunduk, mengelus perutnya yang terasa mual melihat kealay'an kakaknya sendiri.
"Kak Dion coba deh liat aku."
"Kenapa emang?"
"Nggak apa-apa, cuman mau liat masa depan aku."
Dilihatnya Lia dan Dion yang saling mengedipkan mata satu sama lain membuat Kinan tidak tahan lagi dengan rasa mual nya. Ingin rasanya Kinan melempar sepasang alay itu ke lautan pasifik.
"Tuan dan nona mohon maaf ganggu waktunya, tapi tolong ya, ini aku mau makan bukan mau liat orang bucin."
Bukannya mendengarkan Kinan, keduanya malah semakin menjadi-jadi dengan saling suap-suapan. Kinan pasrah, berbicara dengan dua orang yang alay di depannya ini membuang-buang tenaganya saja.
__ADS_1