Dangerous Boy

Dangerous Boy
Chapter 22


__ADS_3

Langit sedikit membuka mata dan mengerang ketika kepalanya berdenyut hebat.


'Gue dimana?'


Dengan cepat Langit sadar kalau dia bangun bukan di kamarnya. Dia coba melihat sekelilingnya, ini kamar Jordan? bukan! ruangan sebersih ini mana mungkin kamar Jordan. Kamar temannya itu berantakan seperti kandang sapi.


Danu? Dilan? sepertinya bukan juga. Kamar mereka berdua 11 12 dengan kamar Jordan yang seperti kandang sapi.


Terus dia berada dimana...


"Udah bangun?"


Langit menggelengkan kepalanya, sesekali mengucek matanya untuk memastikan orang didepannya.


"Kenapa geleng-geleng? kepalanya sakit ya? makan buburnya biar pusingnya hilang." Kinan meletakkan semangkuk bubur hangat di meja nakas lalu beralih membuka gorden jendela.


Langit mengerutkan keningnya, merasa mulai ada yang tidak beres. Ia memejamkan matanya, mulai mengingat apa yang terjadi sehingga ia berakhir ditempat ini.


'Semalem gue ngehajar anak-anak, terus mabuk dan... shitttt!' ia ingat semuanya! sekarang mau disimpan mana mukanya?!


"Gue balik duluan." Langit segera berdiri dan bergegas memungut semua barang-barangnya yang entah mengapa berserakan di lantai.


Saat hendak mengambil jaketnya yang ada di sandaran kursi rias, Langit tak sengaja menatap dirinya di cermin. Yang pertama kali ia lihat adalah keningnya yang lebam. Seketika Langit memejamkan matanya menahan emosi setelah mengingat apa yang dilakukan Kinan terakhir kali padanya.


"Itu… aku nggak ada pilihan lain semalam." Sesal Kinan.


Langit tidak memberikan tanggapan apapun dan melangkah ingin keluar dari kamar itu.


"Buburnya nggak dimakan dulu?"


"Makan aja sendiri."


Kinan berlari menghadang jalan Langit. "Jangan keluar dulu, di depan ada Lia."


"Terus?"


"Kalau Lia tahu kamu ada disini, dia bisa ngelaporin aku sama kak Dion!"


"Gue nggak peduli!"


Langit ini tidak tahu terimakasih ya, sudah ditolong tapi masih berlagak tidak sopan. Rasanya, Kinan ingin membuang Langit ke kandang singa.


"KINAN!! YUHUU KINAN!! LO ADA DI DALAM?!!"


Kinan menatap horor pintu kamar yang digedor dengan kesetanan oleh Lia.


"Ada Lia, cepetan sembunyi!"


Melihat Kinan yang panik membuat Langit juga ikutan panik. "Gue sembunyi di mana?"


"Di bawah kasur."


"Nggak ada tempat lain?"

__ADS_1


"Nggak ada! cepetan masuk, nanti Lia ngeliat kamu!" Desak Kinan memaksa Langit.


"KINANNNN!!!"


"IYA BENTAR!" Balas teriak Kinan seraya membantu Langit masuk ke bawah kolong kasur. Bisa tamat riwayat Kinan jika Lia melihat Langit dan melaporkannya pada Kak Dion.


Dirasa sudah aman, Kinan segera membuka pintu yang masih digedor Lia.


"Lama banget sih buka pintunya," oceh Lia.


"Kenapa nyariin aku?"


"Tadi gue denger suara cowok, lo nyembunyiin cowok ya?" Ujar Lia dengan mata yang terus melihat ke dalam.


"Nggak ada kok, mungkin kamu salah dengar."


"Beneran? tapi kok muka lo panik gitu? minggir biar gue periksa."


"Jangan!" Tolak cepat Kinan yang mendapat tatapan keheranan Lia.


"Kenapa? hmm… mencurigakan." Lia mengusap dagunya seraya menatap penuh curiga pada Kinan.


"Bukan gitu." Tatapan yang diberikan Lia membuatnya gelagapan.


"Lo benar-benar mencurigakan, minggir biar gue periksa!" Lia menggeser tubuh Kinan dari pintu yang menghalangi jalannya. Ia berjalan masuk dan mulai memeriksa setiap sudut ruangan dengan teliti seolah-olah dia detektif profesional.


Tidak jauh berbeda dengan Kinan, Langit juga merasa panik. Hawanya berubah menjadi horor setiap mendengar langkah kaki Lia yang mondar mandir.


"Udah aku bilang nggak ada siapa-siapa disini."


Kinan mendorong bahu Lia, memaksanya keluar dari ruangan tersebut. "Udah Lia kamu keluar aja, mana mungkin aku bohong."


"Tapi gu-"


Kinan menutup rapat-rapat pintu, ia tak memberi Lia kesempatan untuk menyelesaikan ucapannya.


Langit keluar dari persembunyiannya. Tanpa berpamitan, cowok itu segera pergi dengan melompat keluar dari jendela, syukur kamar ini bukan berada di lantai dua jadi aman-aman saja. Sebelum benar-benar pergi dia menatap sejenak Kinan yang berdiri di depan pintu.


"Terima kasih." Ujarnya tanpa bersuara yang diangguki oleh Kinan.


***


"HAHAHAHA gue nggak bisa berhenti ketawa!"


"Diam lo bangsat!"


Jordan tak henti-hentinya tertawa saat Langit usai menceritakan kejadian semalam yang mendatangi Kinan. Apalagi saat Langit menceritakan dirinya yang bernyanyi dan merengek seperti anak kecil, jika tidak sedang menyetir mobil mungkin Jordan akan berguling-guling seraya menertawakan Langit.


"Pantesan aja semalam gue sama anak-anak cuman nemu motor lo doang ternyata lo sama Kinan." ujar Jordan.


Semalam saat mencari Langit dengan GPS yang terpasang pada motornya, mereka hanya menemukan motornya yang tergeletak di tengah jalan. Jadi mereka hanya membawa pulang motor tersebut tanpa pemiliknya.


Karena motor tersebut sudah tidak ada di tempat, jadi Langit menelpon Jordan untuk menjemputnya.

__ADS_1


"Suka kan, lo sama Kinan?"


"Nggak! udah gue bilang dia bukan type gue."


"Hilih bicit! emang type lo kayak gimana?"


Langit menggulirkan matanya ke atas dan mulai membayangkan seorang wanita yang tingginya sekisaran 160 cm, berambut sepunggung, dan memiliki senyum manis. "Type gue tingginya sekitar 160an, rambutnya sepunggung, bulu matanya lentik, dan warna kulitnya putih."


"Itu type lo atau ngejelasin ciri-ciri Kinan?" Ejek Jordan yang mendapatkan tatapan tajam dari Langit. "Mana mungkin lo nggak suka Kinan, lo aja rela rusak persahabatan lo sama Septian demi tuh cewek."


Langit terdiam, mencerna ucapan Jordan. Benarkah dia mulai menyukai gadis berkacamata itu?


"Bukan mulai tapi lo udah suka Kinan." Ujar Jordan yang seolah dapat membaca isi pikiran Langit.


***


Suara lonceng dan cipratan air memenuhi kamar tamu Kinan. Tak lupa aroma dupa yang mendominasi sehingga membuat hawa mistis di ruangan tersebut.


Kinan dan Lia menatap pria berumur yang berbaju serba hitam seraya berkomat-kamit mengelilingi ruangan.


"Kamu ngapain bawa dukun ke rumah!" bisik Kinan namun menekan setiap katanya.


"Gue nemu di depan rumah lo, tapi tenang aja, katanya dia dukun berpengalaman."


Kinan merotasikan matanya, jujur ia kurang percaya dengan si mbah dukun tersebut.


"Gimana mbah, ruangan ini beneran ada setannya? tadi pagi saya dengar suara cowok tapi kata temen saya nggak ada siapa-siapa di sini."


Pria berumur itu menatap horor ke seluruh ruangan seolah menerawang. "Tadi pagi ada sekarang sudah hilang."


Kinan menghembuskan napas panjang. Andai Lia tahu kalau suara yang dia dengar adalah suara Langit bukan setan. Namun sayangnya Kinan tidak dapat memberitahukan Lia.


"Ciri-ciri setannya gimana mbah? dia cewek apa cowok?"


Usai Lia bertanya, mbah dukun tersebut kembali menerawang ruangan. "Dia cowok, ganteng pula."


'Langit sejenis sama setan? Kok mbahnya tau?' tanya Kinan pada dirinya sendiri.


"Setannya bisa balik lagi nggak mbah?"


"Saya tidak tahu tapi yang pasti setan itu akan kembali lagi karena dia suka sama wanita di rumah ini."


Lia melotot lalu menarik tangan Kinan untuk mendekati mbah dukun tersebut. "Mbah, teman saya ini jomblo, terakhir putus sama tali pusarnya, apa jangan-jangan setannya suka sama teman saya ini makanya teman saya jomblo?"


Kinan menggaruk tengkuknya yang ditatap intens oleh mbah dukun.


"Sepertinya mereka tidak dapat dipisahkan." Mbah dukun itu tersenyum lalu menepuk pelan bahu Kinan. "Jaga dia baik-baik, cuman kamu yang dia butuhkan." Lanjutnya sebelum berlalu begitu saja.


"Lah, mbah mana bisa gitu!" Lia berlari keluar ruangan mengejar si mbah dukun yang sudah pergi.


Sedangkan Kinan terduduk diam di kasur, mencoba memahami ucapan mbah dukun tadi.


"Cuman kamu yang dia butuhkan."

__ADS_1


Kata itu sama dengan yang dikatakan Langit padanya semalam.


Kinan menggelengkan kepalanya. Apa-apaan dia ini, mengapa malah memikirkan Langit?


__ADS_2