Dangerous Boy

Dangerous Boy
Chapter 20


__ADS_3

Langit sudah berubah gelap. Matahari sudah terbenam sejak 1 jam yang lalu namun belum ada tanda-tanda Langit akan pulang. Rapat pertandingan basket sebenarnya sudah selesai namun cowok itu terlihat masih betah bermain game di dalam warung Kang Hichan.


Masih ingatkan warung Mantan? Langit dan yang lainnya saat ini berada disana.


"Jordan lo beneran pacaran sama Sella?" Tanya Danu seraya mengambil tempe goreng yang baru saja diangkat dari wajan oleh Kang Hichan.


"Nembak aja belum," balasnya tanpa menoleh karena sedang mabar bersama Langit.


"Gue liat postingan video Lambe turah SMA GARUDA, disitu lo bilang Sella cewek lo." Lanjut Danu seraya melirik Dilan si pemilik akun lambe turah.


"Kepo amat lo Danu, cemburu lo karna Jordan ada cewek?" Dilan menggoda dengan maksud bercanda. Mereka sudah terbiasa dengan candaan seperti ini, dengan Danu dan Jordan menjadi bulan-bulanan mereka.


Sebenarnya ada cerita dibalik kisah Danu dan Jordan diejek pasangan. Danu dan Jordan selalu bersama setiap saat, entah itu di sekolah maupun di tempat tongkrongan. Bahkan dulu sempat beredar rumor kalau mereka berdua homo. Danu hampir saja dimasukkan ke pesantren oleh orang tuanya namun Danu menolak keras karena takut digrepe-***** sama ustadz cabul seperti berita-berita yang beredar.


Untungnya Dilan dan Langit memberi pemahaman bahwa Danu dan Jordan murni temenan tanpa ada unsur pelangi.


"Mending gue live aja kali ya?" Dilan membuka Instagramnya dan mulai Live seorang diri.


Dilan mulai sibuk dengan live-nya, ia mulai membahas pertandingan basket dan meminta dukungan dan doa agar mereka bisa membawa piala kemenangan seperti bulan lalu.


Sedangkan Danu yang tidak tau harus melakukan apa, hanya bisa melamun menatap Langit dan Jordan yang asik bermain. Kenapa dia tidak join? Karna Danu kehabisan kuota.


"Jordan! Jordan! Mata gue kemasukan!" heboh Danu ketika abu dari asbak rokok Langit terbang terbawa angin dan mengenai matanya.


"Ngadi-ngadi lo mata bisa kerasukan!"


"Kemasukan anjing! Bukan kerasukan!" Kesal Danu.


"Mabuk lo? Gimana ceritanya mata kemasukan anjing."


"Ngidam ditampeleng lo?" tanya balik Danu dengan dingin.


Jordan dengan cepat melempar ponsel miliknya walaupun karakter game-nya sedang kritis. "Ya sorry, salah dengar!"


"Buruan bangsat!"


"Sabar napa!" Jordan memajukan wajahnya ke wajah Danu dan mulai meniup mata Danu. Saat ini mereka membelakangi kamera, jadi di live Dilan mereka berdua terlihat sedang berciuman.


"Huekk bau jigong!" ujar Danu sambil menutup hidungnya.


***


"ASTAGHFIRULLAH!! KINAN LIAT DEH!!" teriakan melengking Lia terpantul ke segala penjuru arah didalam kamar Kinan, membuat sang pemilik kamar menutup kedua telinganya.


"Apa sih Lia?!"


"Kinan liat deh livenya Dilan!"


Lia memperlihatkan live Dilan dimana Jordan dan Danu terlihat seperti sedang berciuman. "Jordan sama Danu ngehomo, mereka ciuman!"


Kinan tidak memperhatikan apa yang dimaksud Lia melainkan matanya hanya fokus pada Langit yang sedang fokus pada layar posel seraya mengepulkan asap rokoknya.


Lia juga tidak tau mengapa arah pandangnya malah ke arah mereka berdua padahal semua penonton hanya fokus pada Dilan yang sibuk mempromosikan tim basketnya yang akan mengikuti lomba pada minggu depan nanti.


"Sekarang sistemnya bukan si cantik milik si ganteng tapi si ganteng milik si ganteng juga."


Plakk!


Kinan memukul pelan paha Lia dengan pikirin luar nalarnya. Sedangkan Lia hanya meringis sesaat lalu heboh kembali. Ia mulai screenshot semua adegan Jordan dan Danu.


"Sekarang tinggal gue kirim ke lambe turah SMA GARUDA."

__ADS_1


***


Sebuah notifikasi dari Username @adelia_a menghentikan Live Dilan dan beralih pada akun Lambe Turahnya.


@adelia_a


Min gue ada berita yang


woww wiww wuww banget!


Percaya gak kalau Jordan


sama Danu...


H O M O


HOMO!!!!


Ada buktinya gak?


Eh di belas beneran sama


adminnya


Min gue tuh ngepans pake


banget sama lo!


Bukti!!!


Oh ok bentar


Dilan memperhatikan dengan seksama foto yang dikirim username @adelia_a, dengan spontan Dilan segera menoleh menatap kedua temannya. Ternyata posisi keduanya yang membelakangi kamera terlihat seperti sedang ciuman padahal itu tidak benar.


"Lumayan lah bisa nambah-nambah followers," gumamnya lalu dilanjut tawa tengilnya.


"Kalian udah dengar? Katanya SMA KENCANA taruhan sama SMA Nusa Bangsa," ujar Jordan seusai mengepulkan asap rokoknya.


Dilan menoleh, membuang asal ponselnya dan ikut bergabung. "Gue penasaran sama taruhan mereka, kalian nggak penasaran juga?"


"Lang, lo mau ke sana?" Tanya Danu, seluruh pasang mata mengarah pada Langit yang bersandar pada sofa sambil memejamkan matanya.


"Gue ada janji sama bokap."


Jordan mengangkat sebelah alisnya, menatap penuh keheranan pada Langit. "Tumben amat, nggak biasanya lo mau diajak ketemuan sama bokap lo."


Langit berdecak. "Andai dia nggak ngancam buat ngambil semua fasilitas gue, gue nggak bakal mau!" gumamnya diberi kekehan ketiga temannya.


Mungkin banyak orang yang mengira bahwa Langit dan ayahnya memiliki hubungan yang harmonis seperti hubungan ayah anak pada umumnya namun faktanya hubungan mereka yang terlihat di publik hanya fake scenario.


"Yakin lo nggak mau ikut?" Goda Danu agar sang ketua ikut bersama mereka.


"Gue ikut!"


Langit menggerakkan jarinya di ponsel bermaksud mencari kontak ayahnya. Ia akan membatalkan pertemuan itu dan memilih ikut bersama teman-temannya. Setidaknya hanya untuk malam ini ia memberontak.


'Apa?' tanya ayah Langit dingin, persis dengan sifat Langit.


"Pertemuan malam ini, Langit batalkan!" Ayah anak sama saja, walaupun berbicara pada orang tua sekalipun tidak menggoyahkan sikap Langit yang dingin.


'Kamu lupa sama omongan ayah tadi sore?' Langit memutar matanya dengan malas. Mendengar ocehan ayahnya bukanlah hal yang menyenangkan.

__ADS_1


"Kalau Langit nggak datang memang ayah akan mati?" jawab Langit enteng. Terdengar helaan nafas diseberang sana. Dapat Langit yakini ayahnya sekarang sedang menahan amarah.


'Kamu boleh tidak datang.'


"Ok kalau begitu, Langit tutup telpon-"


'Asal kamu mau semua fasilitas ayah ambil!'


Kini gantian, Langit yang menghela napas. Jika sudah begini, Langit mana bisa membatalkannya. "10 menit lagi, Langit sampai!" Langit menutup panggilan tanpa menunggu persetujuan dari ayahnya.


"Gimana? Lo dibolehin?"


Langit melirik Dilan dengan ujung matanya lalu berdecak. Sungguh pertanyaan tak berguna dan menambah kekesalan Langit. "Nggak! Kalian pergi aja tanpa gue."


Ketiganya mengangguk paham. Jujur saja Dilan ingin mengasihani Langit namun mengingat Langit lahir dari keluarga kaya membuat Dilan lebih mengasihani dirinya sendiri.


***


Langit menuruni ninjanya dan masuk ke dalam restoran itu. Tak banyak pengunjung yang ada di dalam restaurant ini.


Ketika Langit masuk salah seorang pelayan segera menghampiri Langit dan menuntunnya ke meja yang telah dibooking oleh ayahnya.


"Jadi apa mau ayah?" tanya Langit tanpa berbasa-basi ketika sudah duduk.


Samuel mengelap ujung bibirnya dengan tisu lalu menatap dengan serius. "Mungkin ini sedikit mengejutkan..."


"Permisi," seorang pelayan datang dan menaruh semua makanan diatas meja. Dan karena kedatangan pelayan itu memotong ucapan Samuel.


Samuel mengangguk saat pelayanan tersebut pergi.


"Ayah tadi mau bilang apa?" tanya Langit Lagi sambil menyuapi sebuah potongan kecil steak kemulutnya.


Samuel menghela nafas panjang sebelum berucap. "Kamu punya adik perempuan."


Dan pernyataan yang dikeluarkan dari mulut Samuel sontak membuat Langit tersedak. Dia tidak salah dengarkan? Tadi ayahnya bilang apa? Dia punya adik perempuan? Seorang adik?!


"Adik? Ayah bercanda?" Langit menaruh garpu dan pisau makanannya di kedua sisi piringnya.


"Apa wajah ayah terlihat bercanda?"


Langit duduk membisu, ia tak bisa berkata apa-apa selain menatap ayahnya. Ia masih tidak percaya dengan apa yang barusan orang itu katakan.


"Adek? Ayah selingkuh dibelakang bunda sampai punya anak?" Langit menahan amarahnya, dia sangat ingin marah kepada ayahnya. Pria yang bahkan tidak pernah terbesit di kepalanya akan memberikan dirinya seorang adik di usia 18 tahun. "Langit tau, keberadaan bunda tidak ada yang tau tapi ayah tidak bisa lupa kalau bunda masih istri sah ayah!"


"Sudah selesai bicara?"


Sudah selesai bicara? Apa maksudnya? Mengapa ayahnya masih bisa berbicara santai di situasi seperti ini? Apakah ayahnya benar-benar sudah gila? Oh ya tuhan!


"Bunda kamu tau."


Apa lagi ini? Langit rasa ayahnya mabuk dan berbicara omong kosong.


"Dia adik dari bunda kamu." Lanjut Samuel membuat kepala Langit ingin pecah seketika.


"Jadi maksud ayah, bunda yang selingkuh? Dia kabur dari rumah dan sekarang dia punya anak sama selingkuhannya?"


"Jaga ucapan kamu!" Bentak Samuel merasa tak terima istrinya dikatakan selingkuh sampai punya anak. "Bunda kamu keluar dari rumah dalam kondisi hamil, dan ayah baru tau baru-baru ini, andai saat itu ayah tau mungkin ayah ngak biarin bunda kamu pergi."


Langit mengernyitkan dahi dan berkata dengan nada sedikit sinis, "Ayah biarin bunda pergi karena perempuan itukan? Dan bunda yang pergi begitu aja tanpa mikirin aku."


Langit berdiri dan beranjak dari kursinya. "Andai waktu itu kalian berdua nggak egois mungkin semuanya masih baik-baik aja."

__ADS_1


Langit segera meninggalkan Samuel seorang diri. Dia benar-benar merasa kenyang walaupun hanya memakan satu gigitan saja. Ia kenyang dengan obrolan panjang bersama ayahnya. Sebuah fakta yang sedikit mengejutkan namun tidak mengurangi rasa bencinya pada ayah dan bundanya.


Mereka berpisah seenak jidat tanpa memikirkannya. Kenapa mereka tidak memikirkan bagaimana nasib anaknya jika hanya dirawat oleh seorang ibu atau ayah saja. Mereka tidak pernah mau mengerti dan peduli! Sungguh orang tua yang egois!


__ADS_2