
"Apakah ini nyata?" tanya Kei pelan.
(Master... Apakah sebegitu nya anda menyukai uang?) tanggap Yuki.
"Akan bohong jika aku menjawab tidak, karena bagaimanapun, kita akan selalu membutuhkan uang. Ada pepatah mengatakan uang tidak bisa membeli segalanya, tapi segalanya jelas membutuhkan uang." jawab Kei dengan senyum.
(Hooo) Yuki sedikit menggumam mendengar itu. Walau begitu, dia pasti sudah tahu itu lewat pikiran Kei.
(Maaf mengganggu fantasi anda, Master. Tapi saya rasa ada beberapa barang yang lebih penting dari yang itu sekarang, seperti beberapa skill dan senjata.) sambung Yuki
Sepertinya dia agak kesal karena sempat dijanjikan material upgrade untuknya, tapi Kei justru fokus ke hal lain.
"Yahh, kau benar. Aku tidak berbuat untuk menukarkan poinku sekarang. Ada benda yang lebih menarik, dan aku belum tahu apa kegunaannya. Jadi aku akan menyimpan nya terlebih dahulu. Jangan sampai aku menyesal nanti." kata Kei menjawab Yuki.
(Humm. Gaya berpikir Master ternyata cukup dewasa.)
"Huh? Tadi kau bilang apa?" tanya Kei. Pasalnya, barusan Yuki berbicara dengan suara lirih di pikiran Kei, jadi jelas Kei tidak bisa mendengar itu.
(Tidak apa, Master. Jadi, apa yang ingin Master lakukan setelahnya?)
"Humm benar." Kei mengangguk sedikit, lalu menutup layar toko. Dia lantas berpindah ke gambar tas, yang membawanya ke sebuah layar dengan sangat banyak kotak di dalamnya.
Ada beberapa icon yang menempel di beberapa kotak, tapi yang lainnya kosong.
Kei mencoba beberapa hal, yang mungkin terjadi di dalam game, seperti mencoba menyentuhnya, atau melihat bentuknya. Tapi Kei tidak seceroboh itu untuk menggunakan nya.
"Humm, Yuki. Kita bisa mengeluarkan item, kan?"
(Ya, Master.)
"Kalau begitu, keluarkan semua item ini. Aku ingin melihatnya secara langsung dan mencoba beberapa hal. Tapi tentu, barang yang tidak bisa dibawa keluar tidak perlu." kata Kei memberi perintah.
__ADS_1
(Seperti yang anda mau, Master.)
Setelah suara itu, tiba tiba layar di hadapan Kei berubah, dan itu bergerak sendiri untuk melakukan beberapa interaksi dengan barang barang yang masih ada di dalam inventory.
?!!
Dengan suara bel rendah, benda benda itu keluar dan tertata rapi, berjejer di lantai di depan Kei sekarang.
"Luar biasa!" ucap Kei pelan sambil terlihat kagum.
Dia bangkit, dan mendekati ke salah satu barang. "Ini apa?" tanya nya ketika sampai di depan barang tersebut.
(Itu adalah baju pelindung, Master. Itu di dapat ketika Anda menyelesaikan Quest rahasia yang mana Master harus menghancurkan salah satu fasilitas umum.) jawab Yuki.
Kei tampak mengingat ingat, tapi tampaknya bukan hal yang bagus untuk mengingat hal itu.
"Baju? Apa keunggulan nya? Kenapa aku mendapat hadiah baju?" tanya Kei heran.
(Walau saya mengatakan ini baju, sebenarnya ini lebih cocok disebut dengan satu setel pakaian yang berbentuk seperti jas, Master. Ini memiliki bahan yang bagus, dan tidak akan pernah kotor, dan ada fitur penyesuaian suhu di dalamnya. Memakai nya akan sangat nyaman.) kata Yuki menerangkan.
Tidak ada jawaban, jadi Kei pikir Yuki mengabaikannya.
Dia melihat pakaian itu sesaat, dan mengeceknya. Sesaat kemudian, dia mengambil nafas.
"Mau bagaimana lagi, aku hanya bisa mencobanya, bukan?" ujar Kei pelan.
Dia lantas memakai pakaian itu, dengan beberapa penyesuaian kecil, itu benar benar cocok untuknya. Entah bagaimana, ukurannya bisa tepat dan masuk pas ke setiap sudut badannya.
"Humm, kau benar, Yuki. Bentuknya yang mirip dengan kemeja membuat ini tidak terlalu aneh. Selain itu agak sedikit mirip dengan seragam. Ini bagus." bisik Kei pelan.
(Ada beberapa tambahan di pakaian itu, seperti tambahan kecepatan pergerakan, kekuatan, data tahan, dan beberapa hal lainnya. Bisa dikatakan, sekarang Master bahkan bisa menghancurkan tembok sekali pukul saat mengunakan pakaian ini.) jelas Yuki.
__ADS_1
"Be-Benarkah? Itu agak terdengar aneh, tapi kalau kau yang mengatakan itu, maka itu pasti benar." kata Kei sedikit terbata bata.
"Ngomong ngomong, bagaimana kekuatanku saat tanpa menggunakan pakaian ini?" tanya Kei.
(Master masih sekuat atlet beladiri biasa. Tapi jika Master mempelajari beberapa skill dan kemampuan, Master akan segera naik level dan meningkatkan kemampuan Master.) jawab Yuki.
Kei mengangguk senang mendengar itu, lantas bergerak ke hadiah selanjutnya.
Dia menyentuhnya sedikit, sampai akhirnya kotak kecil itu berubah menjadi sepaket Katana, sebuah buku, dan ada juga beberapa gulungan.
"Ini sedikit mengejutkan melihat kotak kecil ini berubah menjadi benda benda begitu banyak. Tapi aku ingat ini adalah sesuatu seperti Game, jadi semua bisa terjadi." bisik Kei. "Ngomong ngomong Yuki, hadiah dari manakah ini?" lanjutnya.
(Itu adalah hadiah karena Master telah menyelesaikan seleksi menjadi seorang Player. Isinya sesuai dengan orang orang yang Master kalahkan.) jawab Yuki.
Kei bergerak mengambil Katana. Tapi dia sadar, Katana ini mirip dengan Katana laki laki crossdress itu, tapi ada beberapa tambahan yang membuatnya sedikit lebih baik. Mau bagaimana pun, ini adalah hadiahnya, maka harus ada beberapa tambahan yang berbeda di bagian ketajamannya.
"Ini sangat bagus dan tajam. Tapi ini tidak akan berguna karena aku tidak bisa menggunakan Katana, jadi mungkin aku akan menyimpan nya sebagai pajangan." kata Kei agak berat.
(Mungkin Master harus membuka salah satu gulungan itu.) jawab Yuki mendengar kata kata Master nya.
"Yang mana? Mana atau kiri?"
(Kiri)
"Humm....." Kei menurut, dan mengambil gulungan di sebelah kiri. Gulungan itu unik, karena terbuat dari bambu kecil, yang diikat dengan seutas tali yang terlihat usang, tapi kuat. Benar benar menambah nilai estetika.
Kei membuka gulungan itu, dan seketika gulungan itu bercahaya, dan meledak meninggalkan debu yang membuat Kei terbatuk batuk.
"Yuki!! Apa maksudnya ini?!! Apa kau mau membunuhku?!! Aku bisa sa-" kalimat Kei terhenti.
"Arhghh!!!" dia berteriak, memegangi kepalanya yang terasa sakit luar biasa. Kei sampai tergeletak di pantai, dan berguling guling merasa sakit yang luar biasa.
__ADS_1
Dia mulai merasa bahwa membuka gulungan tadi adalah hal yang salah, karena bahkan dia tidak bisa lagi merasakan mata atau bahkan wajahnya.
"Yu-uukii...." rintih Kei pelan sebelum dia menutup mata, pingsan.