
("Bagaimanapun, aku harus memastikan ini.") pikir Kei.
Dia lantas menekan kalimat log yang muncul, lalu menekan lagi ke bagian [Subordinates]. Memang, Kei tahu apa arti dari kata "Subordinates", tapi dia tidak ingin untuk terlalu cepat menyimpulkan.
[Subordinates, adalah karakter NPC yang bisa digunakan untuk melakukan apa yang Player perintah. Biasanya dapat menerima sebagian dari beberapa status Player. Ketahanan terhadap System meningkat. Subordinates tidak bisa melawan Player, dan hanya bisa jika Player mengizinkan.]
Itu yang tertulis di dalam penjelasan. Dan membaca hal itu membuat Kei semakin lemas.
("Apa ini?! NPC? Yahh, kalau dilihat dari artinya saja, yang merupakan Non Player Character, itu memang benar! Tapi, boleh kah aku menganggap manusia sebagai NPC?!")
("Dan juga, Subordinates bisa menerima status dan tahan terhadap System. Itu memang hal yang bagus, tapi bukankah itu tanda nya aku telah membawa Minori ke dalam dunia yang lebih mengerikan lagi?!")
Kei menoleh ke arah Minori lagi, yang masih terdiam menunggu Kei untuk mengatakan sesuatu.
Itu saja membuat Kei menunduk, tertawa garing.
("Ah, apa yang telah aku lakukan?!! Tidak tidak tidak! Siapa yang mengira hasilnya akan jadi seperti itu?!!") Kei menjerit dalam hatinya.
Kei tidak bisa menghubungi Yuki, membuatnya hanya bisa pasrah.
Dan hari itu, Kei mendapatkan bawahan.
Tes... Tes... Tes...
Tetesan air mulai jatuh ke atas kepala mereka ketika Kei masih berusaha untuk menerima apa yang telah terjadi. Tapi, guyuran air hujan mulai menyadarkan Kei.
"Ahh, hujan kah? Kalau begitu mari kita setidaknya berteduh terlebih dahulu. Mari ke kelasku, Minori. Aku akan membawa Shiori sekarang." ucap Kei setelah sadar, segera membopong Shiori di kedua tangannya.
Minori tidak menjawab, hanya mengangguk, menerima.
***
"G-guahhh!!!!" sebuah teriakan tidak terima seorang wanita terdengar, begitu keras dan tidak mengenakkan.
__ADS_1
Suaranya terlihat agak menderita, tapi juga penuh dengan emosi, entah itu amarah, kecewa, merendahkan, dan berbagai perasaan lainnya.
Sosok itu berusaha bangun dari tempat tidur, berusaha menggapai meja yang ada di pinggir tempat tidur itu, beserta gelas berisi air putih dan beberapa buah yang ada.
Dia melihat sekeliling, ingat bahwa dirinya ada di UKS sebuah sekolah, dengan lemari yang berpintu kaca, dan beberapa alat serta obat disana.
Nafasnya terdengar kasar, dada nya naik turun tidak karuan. Baju seragam yang melapisi tubuhnya menempel, basah oleh keringat.
Dia mengambil gelas yang ada di meja, meminumnya. Sebelum tiba tiba...
Pyar!!!
Sebuah suara keras yang mendenting memekakkan telinga terdengar. Itu bersuara layaknya sebuah benda dari kaca yang pecah. Dan jelas, itu adalah gelas kaca yang dibanting sosok wanita tadi.
Wajahnya yang cantik mengeluarkan ekspresi yang bisa dibilang tidak cocok untuk dirinya, dan rambutnya yang sering dirawat saat ini juga terlihat acak acakan.
"Bajingan itu... Bajingan itu!!!" Dia menggeram marah, mengepalkan tangannya sambil sedikit memukul tembok untuk melampiaskan amarahnya.
"HUARRGGGGHHHH!!!" teriakan amarah terdengar, dan sepersekian detik kemudian, muncul suara seperti barang barang yang dihancurkan terdengar.
Di tengahnya, berdiri sosok wanita tadi, terengah engah dengan mata yang masih berkilat marah.
"Ahh, menyebalkan menyebalkan menyebalkan menyebalkan!! Kenapa harus ada orang yang sadar akan rencana ku?!! Bajingan itu.... Dia bilang dia tahu bahwa aku mengendalikan wanita itu?! Kenapa dia tidak dihapus oleh System?!!"
("Itu karena dia tidak tahu tentang tentang System, Master. Dia hanya mengira kejadian yang terjadi pada target adalah kejadian spiritual, pasti itu adalah celah dalam System, Master.")
Sebuah suara laki laki maskulin terdengar di pikiran wanita itu, menjawab apa yang dia tanyakan.
Segera setelah mendengar suara pria itu, ekspresi wanita itu mulai melemah, dan dia menarik nafas panjang.
"Benar. Kalau begitu, ada celah dalam peraturan System kan, Hitsu?" tanya wanita itu lagi.
("Anda benar, Master. Memang anda sangat pintar. Saya kagum dengan pengetahuan anda, Master.")
__ADS_1
("Kalau begitu, apa rencana anda selanjutnya? Apakah Anda akan mengejar sosok ini, dan menjadikannya sebagai bawahan? Kalau melihat kemampuan nya, dia bahkan mampu melawan boneka yang sudah diperkuat dengan sihir Master." tanya suara itu lagi.
"Benar. Dia sangat merepotkan, tapi juga akan menguntungkan jika dia berada di pihak ku. Aku mungkin bisa melawan player lain jika dia menjadi milikku. Itu kalau dia benar benar tenang dan membiarkan ku melakukan itu." ucap wanita tadi, kembali kesal.
"Kemampuan ini, aku tahu ini cukup kuat. Tapi aku tidak bisa melakukannya pada Player lain... Ugh sial! Yahh, kalau dipikir logis saja, tidak mungkin itu bisa melakukannya." sambungnya.
Dia menendang rak yang ada dibawah, yang sudah dia jatuhkan tadi saat dia mengamuk barusan.
Tap tap tap...
Suara langkah kaki datang mendekati gadis itu dari arah luar, tampaknya hanya orang biasa. Gadis itu mendecak pelan, lalu menunggu di depan pintu.
KRIEETT!!
"Apa yang?!!" sosok yang membuka pintu itu, tidak lain adalah wanita yang tampak seperti seorang guru penjaga UKS, yang terkejut ketika melihat keadaan UKS yang terlihat seperti kapal pecah.
Dia lantas menengok ke arah bawah, ke gadis yang sedang menunggu di depan pintu geser.
?!!
Gadis itu mendekatkan bibirnya ke arah bibir wanita itu, dan dengan cepat ******* bibirnya, mencium bibir wanita itu. Jelas, wanita tadi terkejut sesaat, dan ingin segera melepaskan gadis itu. Tapi setelah 2 detik kemudian, guru penjaga itu terdiam, dan tidak melalukan apapun, dan tatapannya juga terlihat kosong.
Sluurppp!!!
Gadis itu mengelap bibirnya dengan lidah sesaat, sambil sedikit merapikan seragamnya yang agak agak acakan.
"Hey, bu. Bisakah kamu merapikan UKS ini kembali seperti semula?" tanya gadis itu dengan senyum sambil sedikit memutari guru wanita yang ada di hadapannya.
"Tentu saja. Semua akan saya lakukan untukmu, my lady." terdengar jawaban datar dari wanita itu, yang terlihat tanpa ekspresi. Belum lagi, cahaya yang ada di matanya juga sudah menghilang, bagai berubah kepribadian.
"Bagus! Aku menyukai anak anak yang menurut, loh! Kalau begitu, aku serahkan sisanya padamu, bu guru!" kata gadis itu sambil melenggang pergi.
Dia menari nari kecil, sambil menutup pintu geser UKS, meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
"Ehh, kenapa UKS jadi berantakan seperti ini? Ahh, ini benar benar mengerikan.. Yahh, aku tidak tahu, tapi sepertinya aku harus merapikannya. Bukan. Itu adalah kewajiban ku. Tunggu, dari siapa? Entahlah." terdengar suara kebingungan samar dari dalam UKS, tapi gadis itu hanya tersenyum mendengarnya.
"Fu fu fu. Kei Kanata, kah? Aku akan menantikan hari dimana aku mendapatkan mu!!" katanya.