
Kei membawa Shiori yang pingsan di tangannya, bersama Minori yang mengikutinya di samping, sambil membawa beberapa barang barang yang dia tinggalkan di atas kelas. Mereka tidak lupa untuk mengambil tas Minori terlebih dahulu di kelasnya.
Karena cukup jauh, Minori meminta untuk berlari sendiri ke gedung 1, gedung sebelah kiri dari gedung utama tempat atap berada. Gedung 1 dan 2 adalah gedung untuk kelas 1, dan kelas 2 berada di sebelah kanan gedung utama.
Itu sedikit berlawanan, tapi Kei memutuskan untuk mengikuti nya sambil menggendong Shiori, berjaga jaga kalau Minori akan melakukan hal hal yang nekat lagi.
"Kei. Apa kau memikirkan sesuatu?" tanya Minori saat mereka sedang berjalan menuju gedung 1, melewati jalur belakang.
Pasalnya, akan repot menurut Kei jika mereka bertemu dengan guru di pertengahan jalan.
Kei yang terlihat sedang mengerutkan wajahnya sedikit terkejut dengan Minori yang tiba tiba memanggilnya, rapid ia segera sadar.
"A-ahh, tidak. Tidak apa. Jangan pikirkan tentang itu, mana kelas mu?" tanya Kei berusaha tersenyum dan mengalihkan perhatian. Minori yang melihat itu tersenyum pelan, namun hanya bisa menunduk.
("Dia pasti benar benar memikirkan hal tadi, bukan? Bahkan dia sampai menemani ku sambil menggendong kak Shirogumi di punggung nya! Walau dia belum mengenal ku, dia bahkan memikirkan ku sampai sebegitunya!") pikir Minori sambil sedikit terharu.
Benar. Memang saat ini ada banyak hal yang sedang dipikirkan oleh Kei. Dia saat ini sedang meningkatkan semua indra perasa yang dia punya.
Terutama saraf yang ada di punggung nya.
("Humm. Shiori terlihat standar di depan, dan biasanya juga cukup kalah jika dibandingkan dengan teman teman kelas yang lain. Tapi, apakah itu hanya kamuflase? Dia terasa cukup besar sekarang!!") itu yang ada di pikiran Kei.
("Hoohh!! Empuk! Srius!! Ini adalah kejadian langka yang jarang akan terjadi dalam hidupku!! Aku akan mengukir sensasi ini dalam tubuhku selamanya!!") pikiran Kei semakin menjadi-jadi.
Dia membenarkan posisi badan Shiori, dan menggendongnya lebih condong ke depan, agar gravitasi lebih berpihak padanya.
Minori melihat itu, sedikit kasihan pada Kei.
"Umm, kak Kanata, apakah lelah membawa kak Shirogumi sampai sini? Aku melihat kamu sedikit terlihat akan jatuh sekarang." tanya dia khawatir.
Kei mendengar itu sedikit terkejut, dan membenarkan posisi nya. Segera, dia menoleh ke arah Minori, sedikit melotot, dan mengawasi nya. Dia kira Minori mengerti apa yang dia lakukan, dan menggunakan kata kaya sarkastik untuk menyindirnya!
"T-tidak! Aku tidak apa. Ayo jalan, tapi sepertinya aku akan beristirahat di dekat tangga, karena ada kursi disana." cerita Kei, mengalihkan perhatian, lagi.
"O-ohh. Bagus kalau begitu. Aku akan melanjutkan sendiri, jadi tolong kak Kanata bisa tunggu di bawah dekat jalan penghubung gedung 1 dan gedung 3." jawab Minori sambil tersenyum lembut.
Kei mengiyakan, dan setelah mencapai tempat yang dimaksud, dia mendudukkan Shiori sambil sedikit beristirahat, sementara Minori kembali ke kelasnya.
Sepi, itu yang Kei rasakan. Hanya ada suara gemericik hujan yang sepertinya semakin lebat, dan angin yang menderu bagai menari di tengah hujan. Di saat kesunyian ini, dia menatap ke atas langit langit.
__ADS_1
"Baiklah, setelah ini apa yang harus aku lakukan?" tanyanya.
Dia tahu, bahwa keputusan untuk membawa Minori bukanlah keputusan yang baik. Tapi setidaknya dia ingin mendukungnya.
Kei membuka menu toko, melihat poin yang dia punya. Terakhir, dia memiliki 250 poin disana, tapi Kei yakin itu sudah bertambah karena PvP kemarin. Ada banyak benda yang menarik untuk Kei, tapi kini dia terjepit.
"Aku akan mencoba menukarkan 50 poin untuk kebutuhan sekarang ini. Aku butuh seragam baru, juga untuk makan, dan kehidupan keluarga ini, ditambah akan ada Minori, mungkin aku membutuhkan banyak uang." bisik Kei sambil tersenyum.
"Apakah Yuki akan memarahiku ketika tahu aku membelanjakan poin hanya untuk uang tunai? Yahh, aku tidak punya pilihan lain." lanjutnya.
Dia menekan beberapa menu yang ada di toko, dan menukarkan 50 poin untuk sejumlah uang.
Jika 1 poin untuk 10.000 Yen, maka Kei mendapatkan 500.000 yen (sekitar 57.000.000 rupiah). Jika pengeluaran biasa adalah 10.000 Yen setiap satu minggu, maka jumlah ini mungkin sudah lebih dari cukup, bahkan bisa untuk bermewah satu bulan, pikir Kei.
Ting tung!!
Terdengar notifikasi dari handphone Kei, yang dengan segera mengambil dan mengeceknya.
"Ini, ini tidak mungkin, kan?" tanya Kei perlahan ketika melihat saldo akhir yang muncul dari tabungan nya. Dan benar, itu sudah bertambah 500.000 Yen!
Kei yang tidak pernah melihat uang sebanyak itu sebelumnya merasa ngiler, tapi dia dengan cepat menyadarkan diri.
"Baiklah..... Mau bagaimana lagi..." ucap Kei, sambil menguatkan diri, berniat menyusul Minori.
Itu yang dia pikirkan, ketika...
BRAKKK!!
Suara keras seperti sesuatu yang dilempar terdengar. Kei segera memikirkan Minori akan melakukan hal hal yang berbahaya lagi lagi, jadi dia segera berlari, bergegas membuka pintu, sebelum dia berhenti.
"Dasar ****** bodoh! Kau kira kau bisa lari dari kami!" suara seorang wanita dengan nada merendahkan terdengar dari dalam.
Kei terkejut mendengar itu, mengurungkan niatnya untuk masuk, dan hanya menguping seraya sedikit mengintip ke dalam. Dari suaranya, itu jelas bukan Minori.
Melihat ke dalam, dia menemukan Minori yang sedang ditendang oleh beberapa cewek yang berdiri di depannya. Baju seragam yang sudah sedikit rapi kini kembali berantakan, dan bahkan buku buku sekolah Minori juga berantakan.
"Jangan sok pinter deh lu! Kau kira, aku tidak tahu apa yang kau pikirkan? Jangan anggap kami bodoh!!" kata salah seorang yang ada di sana.
"Kami tahu, kau pasti mengincar laki laki yang keren, seperti kak Souta, kan?!! Aku tahu akal licik mu! Berpura pura menjadi gadis baik yang pintar dan perhatian dengan yang lain. Huh! Kau benar benar rendah, kan?!!" jawab yang lainnya.
__ADS_1
"Asal kau tahu saja, Souta dan geng nya adalah milik kami. Dan sebaik apa pun kau berakting, tidak mungkin kau bisa mendapatkannya!!" tambah mereka.
Mereka bertiga tertawa, dan mengambil pipi Minori, dan melemparkannya lagi ke lantai.
Jujur saja, Kei terkejut melihat ini. Dia tahu, bahwa Minori memiliki kehidupan yang buruk di rumah nya, tapi dia tidak tahu, bahwa dia juga memiliki kehidupan yang buruk di sekolahnya juga.
("Kalau begini, sudah jelas dia ingin mengakhiri hidup nya!") bisik Kei.
Kei ingin masuk ke dalam sana, mengusir orang orang itu secepatnya. Tapi dia pikir akan terlalu gegabah jika dia masuk tiba tiba. Disanalah dia terpikir sesuatu.
"Ma-maaf kan a-aku.... A-aku tidak be-bermaksud se-seperti itu. Aku juga tidak bermaksud mendekati kak Kurigane, dan teman temannya. Aku bahkan tidak tahu, kenapa mereka tiba tiba datang menawarkan bantuan pada ku. Jadi mohon, aku sedang ditunggu, biarkan aku pulang, kumohon!!" kata Minori memohon sambil memungut buku yang berserakan perlahan.
Kelompok tiga orang yang melihat itu sedikit jengkel, dan menarik tubuh Minori, untuk menyudutkannya lagi ke pojok lemari.
"Aku tidak peduli dengan itu! Aku hanya tidak suka dengan kau! Kau yang disebut seperti bidadari atau apa pun itu! Kau adalah keberadaan yang menyebalkan dan sangat menyedihkan! Tapi, kau memiliki satu kegunaan. Wajah memelas mu, itu benar lucu! Bagus! Itu bagus! Lanjutkan itu!!" kata wanita di tengah tertawa senang.
Tess Tess...
Tetesan air yang disiram perlahan dari air botol minum yang dipegang wanita itu, mengalir pelan dari rambut Minori, dan menurun hingga wajah serta baju seragam nya yang cukup kotor kini basah oleh air tersebut.
Dan saat itu, tawa menggema di seluruh kelas, seraya ketiganya memotret sosok Minori yang tidak berdaya. Minori yang melihat itu hanya bisa berusaha menutupi wajahnya, sambil memberesi barang barangnya.
"Humm. Hei, bagaimana kalau dia cerita pada orang lain soal ini?! Bagaimanapun, kejadian kali ini terlalu jelas, Lina! Akan berbahaya jika dia bahkan melapor guru!" kata wanita paling kanan yang terdengar sedikit khawatir.
"Humm. Kau benar. Kalau begitu...." wanita tengah yang diketahui bernama Lina bergumam sesaat.
"Lepas semua pakaiannya." lanjutnya.
"Heh??!" teriakan tertahan Minori keluar.
"Tidak tidak tidak! Apapun selain itu, kumohon!! Aku tidak akan menceritakan ini kepada siapapun, jadi kumohon! Tolong, jangan!!" Minori berkata dengan cepat mencoba mencegah mereka untuk bergerak lebih jauh.
"Ga mau dah. Siapa percaya kalau kau tidak akan menceritakan ini? Dan bagaimana jika ada orang yang menyelidiki ini dan memaksamu cerita?" jawab wanita yang berada di tengah menolak itu.
"Akan baik jika kita punya jaminan untuk itu. Hei Fuuka, pegang tangan dan kakinya! Kita lepas bajunya satu persatu. Dan kamu, Chika! Rekam wajah wanita ini, dan proses melepasnya! Tapi hati hati untuk tidak memperlihatkan wajah kita!" kata Lina, memberi aba aba.
"Ya!!!"
"Baiklah! Serahkan padaku!!" mereka berdua menjawab dengan cepat.
__ADS_1
Kei yang mendengar itu semua tertawa pelan, sementara tangannya mengepal kuat.