
"Ugh... Tak kusangka aku bisa masuk sekolah. Yahh, walau harus menuju ruang BK..." bisik Kei pelan.
Dia entah bagaimana berhasil masuk ke sekolah, ketika dia berdebat dengan satpam dan menunjukkan pakaiannya yang robek. Kei mengatakan bahwa dia kecelakaan sedikit, dan perlu pergi ke dokter untuk periksa.
Kei juga sempat diceramahi di ruang BK, yang menyuruhnta untuk pulang dan tidak perlu berangkat, jika keadaannya benar benar buruk.
Tentu, Kei menolak itu karena jelas, itu akan membuat keluarga yang ada khawatir. Kei tidak mau itu terjadi.
Dan begitulah, cerita bagaimana Kei bisa berakhir di UKS sekarang.
(Setidaknya Master diberi surat izin untuk masuk sekolah setelah istirahat. Dan kebetulan, itu adalah pelajaran olahraga, bukan?) tanya Yuki dalam pikiran Kei.
"Yahh, itu benar. Jadi ngomong ngomong, bagaimana dengan Death Game ini? Apakah aku bisa dibilang lolos?" tanya Kei pelan.
Hening sesaat, ketika Kei mengusap matanya, menatap langit langit dengan tatapan jauh. Yuki yang ada dalam hatinya tahu, bahwa Kei benar benar gelisah sekarang. Dia memikirkan nasib ibunya, Yuna, dan bahkan masa depannya sendiri.
(Master? Lolos? Fu fu fu... Bukan, Master. Ini masih belum apa apa.) Yuki sedikit terkikik.
"Apa maksudmu?"
(Yahh, adanya PvP tiba tiba itu wajar, tapi jarang dilakukan oleh player biasanya. Mungkin hanya Master yang mendapat serangan tiba tiba, dan hanya Sato yang menyerang para pemula dengan serangan seperti itu.)
(Tapi yang jelas, ini semua barulah permulaan. Masih banyak hal yang perlu Master lakukan. Seperti contoh, ujian Class.) lanjut Yuki.
Kei memiringkan kepalanya sejenak, dan mengingat sesuatu.
"Class, kah? Kalau tidak salah Sato sempat mengatakannya, kan? Tentang Class apa yang akan aku dapat, begitu." tanya Kei. Dia mengingat kejadian tadi, dan sedikit penasaran.
(Benar. Class, seperti yang Master tahu. Itu membedakan beberapa player menjadi beberapa bagian. Untuk lebih mudah, Master mungkin mengenal dengan sebutan role. Ada banyak yang bisa didapatkan, contohnya assasin, magus, marksman, dan fighter.)
"Begitu... Lalu bagaimana cara mendapatkannya? Dan juga, apa keuntungan kita termasuk dalam Class?" tanya Kei.
(Sato yang menyerang kita memiliki Class Fighter. Oleh karena itu, pertahanan dia sangat tinggi. Terbukti dengan peluru AWM Master yang tidak dapat menembus armor Sato.) jelas Yuki.
Kei mendengar itu mengangguk pelan, tampak mengerti.
"Begitu... Kalau begitu, mendapatkan Class yang bagus adalah hal yang perlu kita lakukan. Ngomong ngomong, bagaimana agar aku bisa mendapat Class yang bagus?" tanya Kei.
(Tidak bisa, Master.) jawab Yuki dengan cepat.
"Yahh, sudah kuduga...." Kei mengeluh sambil menutup mata dengan tangannya, merebahkan diri ke atas kasur.
__ADS_1
(Master harus mengerjakan Quest tersembunyi untuk mendapatkan Class. Karena sejatinya, Class adalah sesuatu yang menunjukkan diri seorang player.) tambah Yuki lagi.
Kei hanya diam, menarik nafas perlahan sambil menatap langit langit, temenung.
(Master bisa memulai sekarang. Dan Quest yang dikerjakan tidak sengaja akan membuat Master mendapatkan Class tersebut.)
"Heh? Kita bisa melakukan itu sekarang?" tanya Kei, segera bangkit dari tempat tidurnya.
Sretttt.....
Suara pintu geser yang dibuka menandakan ada seseorang yang sedang memasuki UKS. Segera, Kei kembali merebahkan tubuhnya.
??
"Selamat pagi, Kei. Maaf mengganggu mu saat kamu sedang tidur." sebuah suara lembut terdengar, dan Kei segera tahu siapa itu.
"Ahh, ketua kelas. Aku tidak merasa terganggu. Dan faktanya, aku hanya bermalas malasan disini. Apa ada sesuatu yang bisa aku bantu?" tanya Kei dengan segera mengubah posisinya menjadi duduk.
Tirai pembatas dibuka tiba tiba, sedikit membuat Kei terkejut.
"Jangan lupakan aku ada disini! Fu fu fu.... Kei tidak akan aku biarkan berdua dengan Ketua kita!!" sebuah suara seorang laki laki terdengar, dan sosok pria yang mengatakannya tersenyum mengejek sambil melambaikan tangan.
"Fino... Apa yang kau lakukan?" tanya Kei, terlihat lelah.
Sedangkan Fino adalah teman yang memproklamirkan diri sebagai sahabat Kei. Yahh, bagaimanapun, mereka memang terlihat dekat. Dia adalah pria yang ceria, dan selalu berpikir optimis. Hanya saja, dia adalah seorang otaku berat, membuatnya agak dijauhi para wanita di kelas mereka.
"Yahh, ketika mendengar mu terlambat, aku sedikit penasaran, dan secara tidak sengaja aku mendengar percakapan bahwa kau terlibat dalam sebuah kecelakaan. Itulah kenapa aku sebagai sahabat terdekat mu harus menjenguk." katanya dengan bangga.
"Uhm, itu. Fino, menguping itu tidak baik." timpal Shiori.
"Yahh, memang begitu. Tapi, berkat itu Shiori bisa tahu bahwa terjadi sesuatu dengan Kei dan segera kemari, kan?" jawab Fino dengan senang.
"Ugh... Kau berjanji tidak mengatakan itu...." jawab Shiori tampak sedikit kesal.
"Jadi, ada ada kalian kemari?" potong Kei. Entah kenapa, Kei merasa kesal sendiri ketika mendengar pertukaran kedua orang yang ada di depannya.
Semua orang terdiam sesaat, dan saling berpandangan. Dan saat itulah Fino angkat suara.
"Yahh, ketika aku mengajukan diri untuk merawatmu, Ibu Guru menyarankan aku untuk menanyakan apakah kau mampu mengikuti pelajaran selanjutnya. Dan disini, Shiori ingin mengikuti ku. Katanya, dia punya kewajiban untuk tahu keadaanmu, Kei." jelas Fino.
Shiori yang ada disana juga tidak menyangkal apapun, dan hanya mengangguk sambil sedikit memeriksa keadaan Kei.
__ADS_1
"Ahh, aku tidak apa. Dan Shiori. Kau terlalu serius dengan pekerjaan mu. Ayolah, aku hanya kecelakaan sedikit, dan ini tidak ada hubungannya dengan sekolah. Maaf bukannya aku bermaksud kasar. Tapi tidak akan ada yang menyalahkan Shiori jika ada sesuatu." kata Kei dengan nada meminta maaf.
Itu terdengar seperti Kei mengatakan "Ini bukan urusanmu." cukup kasar, dan Shiori yang pintar juga harusnya mengerti itu.
Tapi itu tidak apa. Karena menurut Kei, Shiori cukup pintar untuk menemukan kenapa Kei bisa terluka hari ini. Dan jika dia menemukan penyebabnya, kemungkinan besar dia akan tahu tentang Sistem.
Disanalah Kei tidak mau Shiori tahu. Kei ingat bagaimana jika orang biasa tahu tentang Sistem, mereka akan "dihapus" begitu saja.
"Tidak. Aku mengerti. Hanya saja, aku merasa aku berhak tahu dan harus lebih memperhatikan teman sekelas ku." jawab Shiori, sambil menunduk dengan nada meminta maaf.
"Ahh, benar. Sepertinya aku bisa mengikuti pelajaran selanjutnya. Apa namanya, Olahraga, bukan? Mari kita katakan begitu." sahut Kei seraya tersenyum.
"Baiklah. Kalau begitu, aku akan menyampaikan nya begitu. Dan sepertinya masih ada yang harus aku urus dari sini, jadi aku akan duluan." kata Shiori, seraya menundukkan kepalanya, kepada Kei dan Fino.
Mereka berdua hanya membalas sedikit, sambil mengawasi sosok Shiori yang menghilang dari balik pintu geser UKS.
Mereka berdua tetap terdiam, tapi mereka diam dalam arti yang berbeda. Kei diam karena dia merasakan sesuatu.
"Yahh, memang seperti yang diharapkan dari Ketua kita! Dia sangat perhatian pada anak buahnya, dan benar benar bertanggung jawab. Wajahnya cantik, juga baik. Jelas ada banyak yang menyukainya, bukan?" sahut Fino setelah pergi.
"Ya." Kei hanya termenung, menanggapi dengan singkat.
"Apalagi ukuran "itu" nya. Aku tebak itu adalah ukuran C. Tidak, mungkin D atau bahkan E?" tambah Fino dengan senyum.
"Ya. EEEHHHH?!!! BUKAN ITU!!! Apa apaan kau tiba tiba membahas hal itu? Dan juga, ada apa dengan matamu?!! Apakah matamu ada sebuah sensor khusus hingga bisa mengukur hal hal seperti itu?!!" Kei yang terkejut segera berteriak.
"Kenapa? Karena kau hanya terdiam sejak tadi. Kau pasti berpikir: Ahh, dia adalah wanita sempurna, dan aku beruntung sudah dijenguk olehnya! Begitu, kan??" kata Fino sambil memeragakan beberapa gerakan gerakan aneh.
(Hehh, jadi Master juga tertarik pada ukuran dada wanita, kah? Begitu? Oke. Aku mengerti.) Yuki dalam pikiran Kei menambahi.
"TIDAK! Bukan begitu. Aku hanya merasakan sesuatu yang berbeda sekarang...." ucap Kei sambil menekankan sesuatu.
"Apa itu? Apa kau tiba tiba benar benar jatuh cinta dengan Ketua Shiori?" tanya Fino dengan wajah khawatir.
"Bukan itu. Kau benar benar berisik. Sayang sekali, kau tidak bisa merasakannya, kan? Ahh, kasihan sekali. Sudahlah, kau tidak perlu memikirkannya. Ayo kita segera ke kelas." jawab Kei, seraya dengan segera bangun dari tempat tidur, menarik Fino pergi.
"Ahh, kau mengalihkan perhatian, bukan?" Fino masih sedikit keberatan.
("Yuki, kau pasti merasakan itu juga, kan?") tanya Kei dalam hatinya. Ocehan Fino yang dia dengan juga diabaikannya sambil terus berjalan dan berbincang dengan Yuki.
(Ya. Master. Saya merasakannya.) jawab Yuki.
__ADS_1
("Tampaknya, ada berkas sihir atau Skill pada Shiori.")