
"Kalau begitu, Quest apa yang aku punya sekarang?" tanya Kei.
(Tidak ada.)
"Heh?"
(Tidak ada! Quest tidak ada yang tersedia untuk Player, tapi datang secara tiba tiba. Ini seperti mengikuti bagaimana kehidupan Master.) jawab Yuki.
Kei segera merosot. Seluruh semangatnya tadi tiba tiba meluruh karena mendengar itu.
(Tapi ada pengecualian, ketika ada Quest khusus dilakukan. Biasanya, itu diumumkan ke seluruh Player, dan akan tetap tersisa sampai ada Player yang menyelesaikannya. Bisanya itu mengandung banyak poin.) jelas Yuki lagi.
Kei mendengar itu sedikit merasa bersemangat, tapi ketika mengingat itu adalah kejadian yang langka membuat semangatnya kembali turun.
"Jadi bagaimana aku mengumpulkan poin?" tanya Kei sedikit lemas.
(Master bisa mendapatkan Poin jika melakukan PvP dengan Player lain. Tapi saya kira Master akan menghindari itu, jadi tidak ada cara lain. Semua menu itu ada di smartphone anda, Master.) jawab Yuki.
Kei mengerti. Sepertinya Yuki juga mengenal dirinya. Itu membuat Kei merasa lebih tenang.
"Kalau begitu, ada saran tentang apa yang harus aku lakukan?" tanya Kei. Dia sudah selesai memeriksa semuanya, jadi dia rasa mungkin akan melanjutkan berlari.
(Lebih baik anda pulang, Master. Sebentar lagi ibu Master akan berangkat bekerja. Ada baiknya Master sudah di rumah ketika ibu berangkat.) jawab Yuki. Itu memberikan jawaban yang masuk akal, membuat Kei tersenyum senang.
"Kalau begitu, mari lakukan itu!"
***
"Aku pulang!!" Kei mengetuk pintu sambil memberi salam pelan. Kalau kalau masih ada yang beristirahat.
"Ahh, selamat datang, Kei. Sangat jarang kau pergi berolahraga! Kami kira kau mengantre untuk membeli salah satu novel terbaru." kata ibunya dari arah dapur. Itu membuat Kei tersenyum masam.
Kei masuk, meletakkan sepatunya di rak sebelum berjalan ke ruang makan. Disana dia bertemu dengan Yuna.
Setelah apa yang terjadi tadi malam, masih agak canggung bagi Kei untuk berbicara dengan Yuna. Sementara itu, Yuna hanya fokus ke handphone di tangannya.
Kei melirik jam sesaat, menyadari ini sudah cukup siang untuk Ibunya masih berada di sini. Dan mungkin Ibu akan berlari untuk mengejar kereta, mungkin? Pikir Kei.
"Ibu akan berangkat, jadi tolong urus sisanya, Kei! Jadilah kakak yang baik dan jangan menyusahkan adikmu!!" teriak ibunya ketika Kei akan duduk.
"Memang siapa yang seorang kakak disini?! Dan lagian, ini adalah hari Minggu. Tapi kenapa ibu harus berangkat bekerja?" tanya Kei sedikit keberatan. Yuna awalnya tampak tak peduli dengan keadaan juga menaruh Handphone nya, dan menatap ibunya juga dengan pertanyaan yang sama.
__ADS_1
"Ini untuk kita semua. Kalian juga pasti tahu itu, kan?" jawab ibunya.
Kei dan Yuna hanya terdiam, dan Kei juga terlihat memikirkan sesuatu.
"Kalau begitu, ibu berangkat dulu!!" teriak ibunya sambil pergi meninggalkan rumah dengan beberapa makanan yang dimasukkan ke mulut, maksudnya sarapan.
Kei segera pindah ke dapur, mengurus beberapa masakan yang belum jadi. Dengan perginya orang sebagai penengah antara Kei dan Yuna, disana menjadi canggung. Keadaan tiba tiba menjadi hening, dengan suara tumisan yang ada.
Kei membuat tumis jamur, dengan beberapa tambahan di atasnya. Itu terlihat enak.
"Kak. Coba lepas Hoodie milikmu." kata Yuna yang tiba tiba muncul di dapur.
"Hah? Apa maksud mu?!"
(Hoo! Apakah ini adalah adegan kakak dan adik yang pernah aku lihat di buku bergambar itu?) Yuki dalam pikiran Kei ikut menggoda nya.
("Apa maksud mu, Yuki!! Dan lagian, bagaimana Sistem sepertimu bisa membaca sesuatu yang aneh?!! Tidak tidak tidak! Kau baru satu malam mendapat keinginan sendiri, dan sudah membuka buku manga seperti itu?!!") Kei sendiri berteriak dalam pikirannya sendiri.
"Sudahlah lepas saja!!" kata Yuna sambil memaksa kakaknya untuk melepas hoodie yang menutupi tubuhnya.
Kei tidak menggunakan apapun di balik hoodie nya, karena dia sejak awal langsung menggunakan hoodie dan pergi berlari. Itu membuat beberapa luka di tubuhnya terlihat dengan jelas.
"A-ahh, apa yang ingin kau lakukan?" tanya Kei pelan.
"Ya?" Kei perlahan menengok.
Sementara itu, Yuna mendorongnya ke ruang tengah. Lantas dia pergi, dan kembali membawa sebuah kotak P3K. Dia melambaikan tangannya, menyuruh Kei untuk duduk di sofa.
"Aku tidak tahu bagaimana kau masih bisa bergerak kemarin dengan luka seperti ini." kata Yuna.
Dia mulai merawat beberapa luka yang bahkan Kei sendiri lupa untuk mengurus nya. Sebenarnya, dia terlalu senang dengan keberadaan Yuki, membuatnya melupakan segalanya.
Yuna yang merawat Kei memiliki konflik di dalam dirinya sendiri. Ya! Walaupun terlihat tenang di luar, Yuna benar benar penuh dengan pertanyaan sekarang.
("Apa apaan luka ini? Bekas pedang? Tidak. Selain itu ada juga bekas lebam dan luka bakar. Terutama bekas sayatan pedang ini, itu terlihat sudah mulai sembuh. Padahal itu adalah luka yang serius.") Yuna mencoba mengamati luka luka Kei.
("Apakah dia mendapat luka ini sebelum tadi malam? Tidak. Itu tidak mungkin! Aku selalu memperhatikan nya!") Yuna sepertinya mengalami konflik di dalam hatinya.
Ya, sebenarnya luka Kei cukup parah. Ada beberapa bagian yang terlihat jelas. Tapi karena dia selama ini menggunakan pakaian berlengan panjang, itu semua tertutup.
Yuna merawat Kei dengan teliti, dan Kei pun hanya diam sambil memperhatikan Yuna.
__ADS_1
"Baiklah. Kalau sudah sampai begini. Apa yang kau inginkan, Yuna? Sampai kau melakukan ini semua? Kau pasti punya sesuatu keinginan, buakn?" tanya Kei sambil tertawa.
"Hah? Keinginan? Tidak. Aku hanya...." Yuna ingin mengatakan sesuatu, tapi dia cepat menggeleng.
"Ya! Benar! Aku ada keinginan! Tolong antarkan aku ke Shibuya!! Aku ingin membeli beberapa hal disana!! Ha ha ha!!" jawab Yuna. Tawanya yang dibuat buat membuat semua menjadi garing, dan Kei menatap Yuna dengan tatapan kasihan.
[Quest baru! Jaga Yuna tetap selamat di luar sampai ke rumah! Tingkat kesulitan, B. Point: 20. Hukuman jika gagal: Hancurnya mental Yuna untuk beberapa tahun. ]
"Ohh!!" Kei memekik pelan. Di hadapannya, tiba tiba muncul beberapa tulisan dan icon Yes/No. Dia memperhatikan tulisan itu, dan sedikit menggumamkan kata Quest. Dan untuk konsekuensi gagal, itu benar benar membuat Kei bergidik.
"Baiklah! Aku akan menemanimu dan menjagamu, wahai adikku!" jawab Kei sedikit lebay.
Dia juga menggunakan tangan kanannya untuk menekan icon Yes, membuat beberapa informasi tiba tiba masuk ke dalam kepalanya.
"B-Baiklah. Tunggu aku bersiap." Yuna segera bangkit, dan berlari ke kamarnya.
Kei juga sedikitnya harus berganti pakaian, karena dia bahkan tidak memakai baju. Saat itu, dia mengecek kata yang muncul dalam Quest lagi.
"Yuki bagaimana informasi Quest ini. Lengkapnya, apa yang harus aku lakukan? Kau tahu, Yuna memiliki kemampuan beladiri loh! Quest macam apa yang membutuhkanku sebagai penjaganya? Aku yakin aku lebih lemah dari pada Yuna lohh!!" kata Kei ketika dia mencapai kamarnya.
(Master... Saya tidak tahu apakah Master bodoh atau bebal.)
"Tunggu! Walau begitu aku mastermu loh!!"
(Untuk pertanyaan tadi, coba Master menilai Yuna. Nanti dengan melihat status Yuna, Master akan tahu kenapa Master bisa menjaga Yuna.)
"Heh? Apakah status dan lainnya juga bekerja pada orang biasa yang bukan Player?" tanya Kei.
(Dan untuk masalah selanjutnya...)
"Aku benar benar di abaikan." Kei merosot sedih.
(Ada permasalahan kenapa Yuna harus ditemani sekarang.) kata Yuki, kini dengan nada serius.
"Apa itu? Jujur saja, apapun yang terjadi aku harus menerima Quest ini karena hukuman jika gagal nya. Jika itu benar, itu benar benar mengerikan. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi." kata Kei dengan wajah yang semakin muram.
(Itu karena~)
Yuki memberitahukan alasan kenapa hukuman jika gagal seberat itu, yang dengan segera membuat Kei membelalakkan mata.
Tatapannya tiba tiba menjadi dingin, dan giginya gemertak karena marah.
__ADS_1
"Ohh... Kalau begitu, sepertinya kita harus menyelesaikan semua dari akarnya."