Death Game System

Death Game System
Bab 27 - Pertemuan Tidak Terduga


__ADS_3

TONENENG...... Seluruh pelajaran hari ini telah selesai. Sampai jumpa besok pagi, dengan semangat belajar baru. All of......


Suara bell yang terdengar menggema di sekolah, tanda pelajaran sudah berakhir. Kei samar samar mendengarnya, membuatnya terbangun dan berdiri, sedikit meregangkan badannya.


"Tak kusangka sudah bell pulang. Ini lebih cepat dari yang aku harapkan.... Tidak, mungkin karena aku menghabiskan waktu dengan tertidur, itu jadi lebih cepat." bisik Kei masih sedikit menguap, menutup mulutnya.


"Kurasa aku hanya bisa menunggu Shiori datang kemari, kah? Tapi, apakah aku bisa percaya bahwa yang datang benar benar Shiori? Bagaimana cara ku memastikan itu?" tanya Kei bingung.


Kei berpikir keras, mengerutkan alisnya. Tapi sekeras apapun dia berpikir, Kei tidak mampu menemukan jawaban atas masalah itu.


"Apa aku harus menggunakan intuisi ku? Yahh, itu bisa aku lakukan, tapi akan membutuhkan waktu untuk bisa mengetahui itu Shiori atau bukan." bisik Kei lagi.


"Lalu, apa yang harus aku katakan jika sosok yang ada dalam Shiori benar benar mencurigai ku? Apa yang-" kata kata Kei terhenti, karena dia mendengar suara langkah kaki kecil dari arah tangga.


Dia diam, mendengar baik baik apakah itu langkah kaki Shiori atau bukan.


Krieett....


Suara pintu besi yang dibuka memecahkan keheningan yang ada di atas, menandingi suara angin yang terdengsr seperti membisikkan sesuatu.


Tap tap tap...


Suara langkah kaki itu behenti sejenak, sebelum akhirnya kembali melanjutkan langkahnya, ke arah pinggir gedung itu.


("Humm?? Langkah kaki ini, bukan milik Shiori. Setidaknya, pemilik langkah ini lebih pendek dan lebih kecil dari Shiori. Bukan maksud merendahkan tapi dia kurasa lebih kecil dari Shiori?") pikir Kei dalam pikirannya.


Walau memikirkan hal yang kasar, Kei tetap berpikir rasional.


Kemungkinan saya, orang ini adalah Player yang mengendalikan Shiori dan sedang menunggu Kei untuk datang, dan akan menyerangnya jika Kei datang.


("Tidak, apakah aku boleh berpikiran seperti itu? Bukankah itu terlalu kasar?") pikir Kei lagi.


Tapi dia tahu, bahwa kemungkinan seperti itu bisa saja terjadi. Mungkin anak itu akan memasang perangkap, dan menjebak Kei agar jatuh di genggaman tangannya.


("Kalau begitu, aku harus menyerangnya terlebih dahulu. Dia terlihat tidak ada penjagaan.") pikir Kei.


Pikiran Kei memang sudah tidak seperti manusia biasa. Dia dengan mudah menarug curiga kepada setiap orang yang ada di sisinya, tahu bahwa jika dia lengah sedikit, nyawa nya bisa saja menghilang.


Itu adalah reaksi alami manusia. Untuk bertahan hidup, mereka harus menyingkirkan yang lain. Dengan begitu, Kei berusaha keluar secara perlahan, mencoba mendekati sosok itu.


"Hahh...."

__ADS_1


?!!


Kei terkejut, ketika sosok itu mendesah pelan, terdengar sangat putus asa. Dengan begitu, Kei segera mundur, kembali ke tempat dimana pipa pipa berada mengamati sosok itu.


"Kenapa?" Kei tertegun sesaat, ketika mengirs keberadaan nya diketahui. Tapi setelah melanjutkan mengamati, Kei tahu bahwa dia sedang berbicara sendiri.


"Kenapa?!"


"Kenapa?!!" nada suaranya semakin tinggi.


"Kenapa semua hal ini harus diberikan padaku?!!" teriaknya marah.


"Kakak ku tidak melanjutkan sekolah, adikku tidak berbakat dalam apapun! Kenapa semua keinginan kalian kalian bebankan padaku?!!"


Kei hanya diam, mencoba memahami apa yang sedang terjadi.


"Aku tahu... Aku tahu!!! Aku tahu kalian ingin memiliki anak yang pintar, bisa apa saja, dan cantik! Tapi aku lelah! Aku tidak bisa melakukan ini semua!! Aku bukan boneka kalian!!!" teriak sosok itu, sambil berjongkok, memegang kepalanya sambil menangis.


Teriakannya terdengar cukup keras disini, tapi Kei yakin, tidak ada yang akan mendengarnya bahkan jika dia berteriak hingga suaranya habis sekarang.


"Aku punya keinginan. Aku punya sangat banyak keinginan. Aku iri dengan teman teman, yang bisa berkumpul, bisa pergi bersama dan menghabiskan waktu! Aku juga mau..... Tapi mereka tetap memaksaku belajar dan berlatih...."


Air matanya mengalir deras, ke atas rok biru kotak kotak pendek miliknya.


Kei tidak tahu siapa itu, tapi yang pasti dia bukanlah Player. Dan jika dia adalah player, kemampuan dia dalam akting bukan untuk dianggap remeh. Dan entah kenapa, Kei merasa mengerti dengan apa yang terjadi dengan anak ini.


Tap.....


Langkah kecil terdengar, dan Kei segera menoleh ke arah anak tersebut. Dia mendekati pagar pembatas, melongok ke bawah, terlihat sedih.


Di bawah, suasana sekolah mulai sepi, karena atap yang ditengok anak itu adalah bagian belakang sekolah. Yang mana kegiatan eskul dan lainnya berada di gedung lain dan di lapangan sekolah.


Dia mulai memanjat pagar, merasakan angin yang bertiup di pipinya, sementara pandangan nya tetap kosong.


"Apakah jika aku mati, mereka akan peduli padaku?" tanya anak itu pelan. Sambil mulai menaiki pagar pembatas, duduk di atasnya sesaat.


"Jangan bilang?!" Kei mulai merasakan firasat tidak enak, ketika badan perempuan itu mulai condong ke depan, ke arah luar pagar pembatas! Dalam waktu sepersekian detik, Kei tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


Kei menggerakkan gigi sesaat, sebelum memendang lantai tempat dia berdiri dengan kekuatan penuh. Itu membuat Kei bisa melesat dengan cepat, ke arah yang dia tuju! Dengan kata lain perempuan itu.


"BERHENTI!!!" teriak Kei berusaha menggapai perempuan yang sudah mulai melayang di luar pagar pembatas itu.

__ADS_1


Penglihatan mereka berdua melambat seketika, bagaikan membuat pertukaran itu berlangsung selamanya. Perempuan itu terkejut sesaat ketika mendengar teriakan Kei, menoleh ke arahnya lantas tersenyum sedikit.


Dia tidak tahu kenapa dia tersenyum saat melihat Kei, tapi dia merasa harus melakukan itu. Dia juga sedikit melambaikan tangan, seakan mengucapkan selamat tinggal.


"Cih.." decakan pelan terdengar dari mulut Kei, dalam pertukaran singkat itu.


Tiba tiba, tubuh Kei melesat di udara, dan entah bagaimana mencapai ujung pagar dan melompat untuk menangkap tangan perempuan itu!!


"Jangan berpikir bahwa aku tidak bisa melakukan apa apa melihatmu mati!!" teriak Kei yakin sambil menyambar tangan wanita itu. Ekspresi wajah Kei terlihat marah, dengan sedikit kilatan hijau terpancar di matanya.


Wanita yang ditarik tangannya itu terkejut, dan masih sedikit terjatuh. Karena inersia, tubuhnya sedikit terbanting ke bawah dengan posisi benar benar bergantung pada tangannya saja.


"Kenapa?!" tanya wanita itu pelan.


"Kenapa kau menangkap ku?!" nada dalam kata katanya kini semakin tinggi.


"Hahhhh?!! Apa kau bodoh? Tolol, dungu, atau tak berotak?!! Mana bisa aku membiarkan orang yang akan meloncat dan matu di hadapanku!! Maaf, tapi kebodohan mu hanya sampai di sini!!" teriak Kei dengan marah.


Wanita itu yang ditangkap Kei mengerutkan dahi, tampak tidak percaya dengan apa yang Kei katakan.


"Apa kau bilang? Kalau begitu, lepaskan aku!! Aku juga tidak pernah meminta bantuan mu! Aku tidak tahu siapa kau, dan aku tidak ingin terus berada di dunia ini!!! Kau tahu... Dunia ini... Dunia ini....." kata kata wanita itu terhenti, ketika mulai berdebat dengan Kei.


Dia menangis, dan air matanya yang tadi sempat terhenti kembali mengalir.


"Sudah kau diam saja dulu, biar aku mengangkat mu!!" jawab Kei tanpa melihat keadaan. Bagaimana pun, sekarang dia dalam keadaan yang sulit.


Mungkin sulit dipercaya, tapi Kei menahan perempuan itu di tangannya, sementara dia bergelantung di pagar pembatas hanya dengan kakinya yang dia kaitkan di beberapa celah yang ada!!


Orang orang mungkin tidak akan percaya itu terjadi, tapi itu benar adanya. Itu juga menandakan bahwa kekuatan Kei sudah tumbuh sebegitu jauh, hingga bisa menahan badan seorang manusia dengan mudahnya.


Dan dengan sekali nafas, Kei mengayunkan wanita itu sedikit demi sedikit, tampak seperti ancang ancang. Dan pada ayunan ketiga....


"HWAA!!!!? APA YANG KAU?!!" teriakan wanita itu terdengar keras, menggema di atas atap sekolah itu.


Pasalnya, Kei menarik wanita itu bukan dengan cara biasa, melainkan dengan mengayunkannya secara memutar, seperti ingin melakukan lemparan tolak peluru!!


Kei memutar wanita itu secara 360°, membuatnya bisa berdiri lagi di atas lantai atap, tempat mereka sebelumnya berada.


Sosok wanita itu terjatuh, tidak mampu berdiri setelah menerima ayuna Kei, dan hanya menatap Kei dengan penuh kebencian. Sementara itu, Kei yang sudah berbalik dan berdiri di atas pagar hanya diam, mengamati sosok wanita kecil yang ada di hadapannya.


("Siapa sih, wanita ini?!!") pikir Kei dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2