Death Game System

Death Game System
Bab 25 - Sebuah Cerita


__ADS_3

"Apakah Ibu tahu apa yang terjadi dengan Shiori saat ini?" tanya Kei seger


Terlihat wajah Tio berubah sesaat, tapi itu tidak akan diketahui oleh orang biasa. Karena memang Tio tidak membiarkan ekspresinya bocor begitu saja. Tapi itu sudah cukup untuk mengatakan pada Kei bahwa dia tahu sesuatu.


"Uwahhh.... Ada apa ini, nak Kei. Apa kau tertarik dengan Shiori-ku? Yahh, tidak dapat dipungkiri bahwa Shiori-ku memang manis, tapi kau sebaiknya mundur karena banyak pesaing, loh!! kata Tio sambil menggerakkan telunjuknya dengan gerakan genit.


Kei ingin tertawa sekaligus kesal. Entah kenapa dia merasa diremehkan disini.


"Umm, maaf. Aku hanya ingin tahu. Dan kenapa aku harus mundur? Apakah ada sesuatu?" tanya Kei terus menjaga pembicaraan agar tidak berhenti.


"Huh? Tentu, kerena terlalu banyak pesaing, kau tahu! Bahkan beberapa orang tampan seperti Ace Voli sekolah kita yang sangat terkenal itu juga ceritanya naksir dengan Shiori, kau tahu? Kyaa... Sudah kuduga dari penerusku! Dia memang sangat populer!" teriak Tio sambil tersenyum senang.


Banyak orang yang mendengar itu, tapi mengabaikannya. Tampaknya mereka sudah sangat terbiasa dengan perilaku Tio selama ini, jadi mereka membiarkannya.


("Orang ini... Jika Shiori merupakan penerusmi, maka dia tidak akan bisa menikah hingga umur 25 keatas!! Dan juga, apa yang akan dia lakukan jika tahu bahwa Shiori barusan menyatakan persaannha padaku?") pikir Kei sambil terlihat kesal.


"Hei kau. Tadi kau memikirkan sesuatu yang kasar, kan?" tanya Tio lagi lagi dengan tatapan tajam.


"Seperti biasa insting ibu memang tajam, yahh... Tapi tenang, aku tidak akan mengatakan itu dengan keras bu." kata Kei sambil sedikit mundur dan mengambil kuda kuda, karena perasaan membunuh terasa akan menyerangnya.


"Baiklah. Saya ingin kembali ke topik utama. Kenapa aku bertanya begini, karena aku melihat ada yang berbeda dengan Shiori akhir akhir ini." potong Kei untuk mengalihkan perhatian.


"Hehh, kau benar benar perhatian! Poin untukmu naik satu! Dan juga, kau memang menyukainya, bukan?!! Aku tahu itu!" teriak Tio dengan nada gembira.


"Sudahlah dan ayo kita masuk ke masalah utama nya!!" jawab Kei sedikit kesal, tapi sekaligus malu.


"Huumm. Kau benar. Mari kita masuk ke dalam inti masalah segera, karena ini cukup penting. Aku ingin membicarakan ini kepada orang lain, tapi jujur agak sulit, jadi aku menahan diri selama ini." cerita Tio dengan sedikit menghela nafas.


"Bagaimana? Apa kau masih mau mendengarkan? Jujur ini akan memakan waktu cukup lama." tanya Tio.

__ADS_1


"Humm. Itu baik baik saja. Ngomong ngomong, apa ini benar benar sebuah rahasia? Aku tidak mengerti, tapi aku tahu tempat yang bisa membuat pembicaraan kita tidak diketahui orang lain." kata Kei mengangkat sudut mulutnya.


"Lagipula, aku merasa tubuhku masih tidak enak badan!" Kei dengan sengaja mengeraskan suaranya di akhir kalimat.


"Ahh, aku mengerti. Serahkan padaku!" jawab Tio sambil mengerjapkan matanya.


Seketika, Tio bangkit dari kursi, mengambil tangan Kei dengan cepat, sebelum berjalan memutar sambil menyeret Kei di belakangnya.


"Kasihan sekali kau Kei!! Kau pasti masih sakit, bukan? Biar aku bawa kau ke UKS! Bu Rina, kamu tidak perlu mengawasi nya! Ini adalah tanggung jawab ku sebagai Wali Kelas! Tolong, serahkan ini padaku!!" kata Tio dengan mata berbinar seraya memohon pada seorang guru.


Rina, guru pengawas UKS tidak bisa berkata kata, dan hanya mengangguk tanda setuju sambil memberikan kunci UKS pada Tio. Dan dengan demikian, mereka berdua berhasil menuju UKS sendirian.


Kei berkonsentrasi penuh, agar tidak ada yang membuntuti mereka berdua. Dia sangat mencurigai setiap gerakan kecil apapun. Karena, jika ada yang tahu bahwa Tio, gurunya tahu sesuatu, mungkin keselamatan Tio tidak terjamin.


Dan Kej tidak ingin hal buruk seperti itu terjadi.


Suara pintu geser UKS yang terdengae nyaring. Dan beberapa saat kemudian, suara ceklek khas kunci pintu terdengar, bersamaan dengan suara nafas lega dari seseorang.


Itu adalah Kei dan Tio, yang sekarang duduk berhadapan dengan wajah serius.


"Baiklah, bu Tio. Tolong ceritakan hal yang sebenarnya padaku." kata Kei dengan nada serius.


"Uhun! Kau terdengar seperti akan menginterogasi, kau tahu! Yahh, bahkan tanpa kau beritahu sekalipun, aku akan menceritakan semuanya. Jujur, aku ingin menceritakan ini dengan seseorang...." balas Tio dengan senyum kecil di wajahnya.


Itu bukanlah senyum yang biasa dia pakai, tapi senyum tulus berasal dari hatinya yang memikirkan muridnya.


"Semua bermula saat sebelum festival di sekolah ini, beberapa bulan yang lalu. Saat itu, seperti biasa aku sedang mengurus beberapa berkas yang harus dikumpulkan hari itu juga untuk pentas di festival. Dan tentu, Shiori berinisiatif untuk membantuku." Tio mulai bercerita.


"Semua berjalan lancar, hingga tanpa disadari, langit sudah gelap. Karena itu, aku menawarkan kepadanya untuk mengantarnya ke rumah, menggunakan mobil. Dan dia menolak ajakan ku itu. Katanya, rumahnya dekat, jadi tidak perlu diantar."

__ADS_1


"Baiklah, aku mengalah. Tapi setelah beberapa saat dia pulang, aku melihat sebuah tas yang dia bawa selama ini tertinggal. Oleh karena itu, aku segera berlari untuk menyusulnya. Aku tidak menemukannya di manapun, tapi saat aku melihat di sebuah gang, aku melihat sesuatu." Tio berhenti sesaat, terlihat kesulitan


Dia berdiri, mencoba mengambil nafas panjang. Tampaknya ini adalah hal yang sulit, bahkan untuk orang seperti Tio.


"Aku melihat Shiori sedang berciuman dengan seseorang, dan jujur aku agak syok saat itu." jelas Tio melanjutkan.


Kei sedikit terkejut, mengerutkan keningnya. Tapi apa hubungannya sebuah ciuman dengan apa yang ingin dia katakan?


"Hehh, apakah Shiori sudah punya pacar? Bukankah itu bagus?" tanggap Kei dengan datar.


"Bukan itu masalahnya!" Tio berteriak cepat.


"Lalu?"


"Aku tidak tahu apakah hanya aku yang melihat ini aneh, jadi...."


"Jadi?" Kei terus mendesak Tio untuk dengan cepat menceritakan.


"Ahh! Baiklah! Aku melihat Shiori sedang berciuman dengan seorang wanita! Ya! Aku agak tidak dapat menerima ini, tapi aku sudah memastikan dan mataku tidak akan salah!" teriak Tio memastikan.


Kali ini, Kei benar benar terkejut. Dia tidak tahu harus membuat ekspresi seperti apa, tapi dia hanya mengangguk pelan.


"Aku tidak tahu apakah itu tidak apa dilakukan, tapi sepertinya jika kau punya pasangan dari sesama jenis, kau tidak akan bisa membuat anak, bukan?" tanya Tio sedikit malu malu.


Kei sedikit memerah, dan hanya bisa menghela nafas. Dia tidak menyangka bahwa Tio akan menceritakan hal cukup memalukan seperti ini.


"Baiklah. Itu benar. Jadi, apa hubungannya dengan perubahan sikap Shiori?" tanya Kei mempercepat percakapan mereka.


"Ya. Aku tidak tahu apakah ini berhubungan, tapi sejak saat itu, Shiori benar benar berubah." jawab Tio.

__ADS_1


__ADS_2