
"Shiori!" teriak Kei sedikit berlari kecil ke arah Shiori yang terjatuh. Segera, dia menangkap tubuh Shiori yang sudah mulai kehilangan kesadarannya.
Kei juga sempat mengamati sekeliling, untuk melihat apa yang terjadi. Faktanya, aura sihir yang ada dalam tubuh Shiori perlahan menghilang. Itu mungkin tanda penyaluran sihir yang mulai terputus, dan saat sebelumnya, sekumpulan sihir itu terbang menjauh dari tubuh Shiori.
Ada beberapa hal yang dipikirkan Kei sekarang. Diantaranya adalah mengapa sosok ini tiba tiba menggunakan tubuh Shiori sebagai ancaman. Padahal dia tahu, bahwa Kei cukup kuat untuk mengalahkan Shiori sejak awal, tapi dia menggunakan tubuh Shiori dengan terburu buru di akhir.
Dan Kei setidaknya menemukan beberapa kesimpulan dari pertarungan tadi.
"Pertama, dia tampak terpaksa untuk memutuskan hubungan Shiori dengannya. Itu berarti dia terbatas sesuatu, dan kemungkinan besar itu adalah mana." bisik Kei, sambil mulai berdiri dengan Shiori yang pingsan di kedua tangannya.
"Untuk mampu mengendalikan seseorang ditambah dengan memperkuatnya dengan sihir, itu luar biasa. Mengabaikan fakta bahwa dia hanya bisa melakukan itu sekitar setengah jam, itu sudah cukup membuktikan bahwa dia adalah player yang sudah cukup lama bermain." kata Kei lagi.
Dan yang paling penting, Kei sudah tahu kemana arah aliran sihir itu pergi ketika kembali ke pemiliknya.
SMA Hamanami, sekolah yang tidak terlalu jauh dari sekolah Kei. Dibilang jauh, tidak, dekat pun tidak. Dan berarti player itu berada di sana saat ini.
Ada pilihan untuk menyerang Player itu sekarang saat dia kehabisan mana dan mempermudah pertarungan nya. Tapi, itu jika dia sudah tahu pasti siapa Player itu. Dan sekarang, dia merasakan bahwa Player itu berjalan cepat, yang berarti dia sedang berada dalam kendaraan.
Bagaimana Kei bisa mengetahuinya?
Itu karena saat Kei mencoba menutup saluran yang menghubungkan Shiori dengan Player itu, Kei dengan sengaja menyalurkan sihirnya juga.
Dengan itu, Kei sekarang bisa melacak Player ini kapanpun.
"Hanya, ini memiliki batas waktu karena jumlah mana ku tidak sebesar itu. Aku harus bisa menyelesaikannya sebelum aku kehabisan mana." kata Kei lagi, menatap langit yang perlahan mulai gelap karena awan hitam yang berarak pelan menutupi matahari.
Dan saat itulah Kei menatap lurus, ke samping pintu masuk atap sekolah. Disana, ada sepasang mata yang memperhatikan Kei dengan tatapan tidak percaya.
"Itu-" kata kata Kei terhenti, ketika sosok yang menatapnya, dengan kata lain gadis yang tadi dia buat pingsan sekarang berdiri, dengan mulut melongo dan melihat Kei dengan tatapan merendahkan.
"A-ahh, aku rasa ini benar benar gawat...." Kei menyeringai pelan, sambil membuat wajah penuh masalah.
Gadis yang menatapnya menggelengkan kepalanya sedikit, lalu menunduk, tampak memikirkan sesuatu. Dia lantas teringat sesuatu, dan menyentuh tengkuknya, hanya untuk merasa ngeri. Sepertinya dia ingat dengan Kei yang membuatnya pingsan tadi.
__ADS_1
Masih dalam keheningan gadis itu melihat ke arah Shiori yang digendong Kei. Seketika, air muka gadis itu berubah, wajahnya memucat, dan rasa jijik di matanya bertambah.
"Pe-"
"Pe?" Kei sedikit kebingungan mendengar kata kata pertama yang diucapkan gadis itu setelah lama.
"Pe-pe-pe PELECEHAN SEKSUAL!!!!" teriak gadis itu, sambil menutup matanya.
"A-ahh, ini benar benar merepotkan...."
***
"Jadi, kamu cuma mencoba untuk menyelamatkan kak Shiori, dan harus melakukan itu semua?" tanya gadis itu setelah sedikit tenang.
"Humm. Begitulah. Jadi tolong jangan berpikir hal yang aneh tentangku. Yahh, terserah jika kau tidak percaya, tapi setidaknya jangan katakan itu pada siapa siapa, oke!" kata Kei terlihat khawatir.
"Ngomong ngomong, dari mana kau mulai mendengarkan percakapan kami?" lanjutnya.
"Se-sejujurnya, aku sudah mendengar hampir semuanya... Mungkin sejak kau berkata bahwa kau dari ekstrakurikuler supranatural atau apalah itu, aku sudah bangun dan mendengar semuanya. Tapi, kalian tampak tegang disana, dan aku tidak berani mendekat...." jelas gadis itu.
"Kamu mungkin sedikit bertanya kenapa aku bisa bangun secepat itu, tapi sejujurnya aku sudah agak terbiasa dengan pukulan." lanjut gadis itu sambil tersenyum sedih.
Senyumnya terlihat palsu, bahkan orang biasa pasti bisa melihat ada yang salah dengan gadis itu.
Kei benar benar tidak mampu berpikir sekarang, karena ada saksi mata yang mengetahui itu semua. Sekarang, apakah Sistem akan bergerak menghapus gadis ini, membuat Kei tidak bisa berkata kata.
Memikirkan itu membuat kepala Kei semakin sakit, jadi dia hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Ah, ya benar. Aku sampai melupakan ini. Siapa namamu?" tanya Kei tiba tiba karena dia ingin mengalihkan pikirannya dari Sistem.
"Kamu... Tidak menanyakan itu sejak awal... Yahh, itu memang wajar, tapi baiklah." gadis itu mengeluh pelan.
"Aku Minori Sakahara. Tolong panggil saja aku Minori. Lagipula, aku adalah adik kelas kak Kanata..." lanjutnya memanggil nama keluarga Kei sambil terus tersenyum. Tapi, melihatnya tersenyum sekarang semakin menyakitkan untuk Kei, karena wajahnya yang terlihat lelah.
__ADS_1
"Kau... Apakah tidak apa untuk orang yang baru kau kenal memanggil nama mu begitu saja? Kau saja memanggil nama keluarga ku." Kei bergerak, duduk di sebelah gadis bernama Minori itu, dan bersandar di dinding yang ada di belakangnya.
Minori terlihat suram, tampaknya mengingat sesuatu yang tidak enak sambil menggumamkan nama "Sakahara".
"Ada apa? Apa kau ingin mengatakan sesuatu? Jangan pendam sesuatu seperti itu. Jika ada yang ingin kau katakan, katakan saja. Kalau kau terus menahan diri seperti itu, tidak heran kau bergerak untuk bunuh diri..." bisik Kei dengan nafas panjang.
"I-itu..." Minori hanya terdiam, tidak bisa menjawabnya.
"Aku harus menunggu Shiori bangun untuk sementara. Tapi, aku yakin itu akan membutuhkan waktu yang cukup lama. Dan sementara itu, aku benar benar kosong. Ahh, kalau saja ada orang disini yang ingin bercerita..." kata Kej berpura pura bodoh.
"Sebelum itu, kau harus menceritakan apa yang terjadi saat ini." jawab Minori cepat.
Kei terhenti sesaat, tidak menyangka Minori akan menyerangnya seperti itu.
("Humm... Apakah aku bisa membuat gadis ini tidak mengetahui apapun tentang sistem? Jika aku bilang itu bukan sistem atau apapun itu, bukankah ada garis tipis yang memisahkan itu") pikir Kei.
Dia masih berpikir keras, hingga akhirnya mengangguk yakin. Kei beranggapan akan lebih baik untuk membuat gadis ini salah paham, daripada benar benar menyembunyikan itu.
"Baiklah. Aku akan sedikit saja menceritakan nya." Kei menatap langit, mencoba terlihat serius.
"Seperti yang kau dengar tadi, aku adalah salah satu dan satu satunya anggota dari ekstrakurikuler penelitian supernatural. Mungkin kau pernah mendengarnya."
"Tidak. Aku tidak pernah mendengarnya. Bukankah itu hanya khayalan mu saja? Kak Kei, tolong jangan bermain main disini..." potong Minori cepat.
"Kuhh...." Kei mendengus pelan seraya mengalihkan pandangannya, tapi dia melanjutkan dengan mata seriusnya.
"Memang wajar jika kau tidak tahu. Klub ini sudah bertahun tahun ditinggalkan anggotanya, dan tidak ada satupun siswa yang mendaftar. Jadi jelas, kami dianggap klub mati. Tapi masih ada yang bertahan, dan itu cuma aku sampai sekarang." Kei menatap lurus terlihat seperti mengingat masa lalu.
"A-ahh, jadi begitu.... Aku mengerti. Kak Kei juga salah satu dari mereka, bukan? Orang orang sakit yang mengira kekuatan keluar dari tangan mereka yang disegel, atau mata mereka akan mengeluarkan ledakan besar.... Hufft... Aku sudah melewati masa itu, kak Kei." jawab Minori cepat.
Alis Kei berkedut kesal. Kei sekarang mengerti, kenapa gadis ini, Minori tidak terkena hukuman atau apapun dari Sistem.
__ADS_1