Death Game System

Death Game System
Bab 23 - Pernyataan Perasaan


__ADS_3

"Siapapun yang ada di sana! Keluarlah! Aku sudah memperhatikan mu sejak tadi loh!" teriak Kei tiba tiba.


Tentu, selama ini Kei sudah tahu bahwa ada orang yang mengawasinya, mengamati Kei dengan tatapan penasaran. Tapi, tidak ada gerakan dari sang pengamat, jadi Kei membiarkannya saja.


Kei juga berpikir bahwa sosok yang mengamatinya adalah seorang Player. Oleh karena itu, Kei sengaja untuk menyembunyikan Yuki terlebih dahulu sebelum memanggik sosok yang bersembunyi itu.


"Kalau kau tidak keluar, maka aku yang akan bertindak!" lanjut Kei lagi.


("Baiklah... Siapa yang akan keluar?") tanya Kei sambil sedikit bersiap. Dia memasang kuda kuda, kalau kalau dia akan segera menyerang. Kei juga melihat sekeliling, dan belum ada tanda tanda PvP akan dimulai.


("3.... 2.....") Kei menghitung dalam hatinya, bersiap untuk melangkah maju. Dan begitu hitungannya hampir mencapai satu..


"Ahh, maafkan aku. Aku ketahuan, kah? Aha ha ha...." sosok yang bersembunyi itu keluar, sambil tertawa ringan. Tapi dalam tawanya itu terdapat berbagai kepalsuan bahkan bisa dilihat oleh Kei itu sendiri.


Terjadi hening sesaat, ketika mereka berdua saling menatap, dan sedikit tidak percaya.


"Ada apa kau mengikutiku, Ketua?" tanya Kei dengan nada rendah, mencoba terus mengamati sosok yang ada di hadapannya.


Ya. Orang yang sedari tadi mengikuti Kei, dan mencoba mengamati serta menguping setiap pembicaraan Kei adalah Shiori.


Karena sejak awal, Shiori tidak langsung pergi dan keluar dari UKS. Tapi dia mengikuti Kei kemanapun dia pergi.


Terdengar seperti seorang stalker, tapi Shiori memiliki berbagai alasan yang dia gunakan sebagai seorang Ketua Kelas agar bisa membuat apa yang dia lakukan itu seperti suatu hal yang biasa.


"Hufft kukira siapa yang mengikuti ku, ternyata Ketua Kelas, kah? Aku sudah bersiap siap kalau ada orang yang berniat tidak baik padaku." kata Kei dengan senyum di wajahnya.


"Ahh, maaf. Aku terlihat seperti mengikuti mu sepanjang hari." jawab Shiori tetap menunduk.


"Tidak tidak! Aku tahu kalau Ketua pasti khawatir dengan keadaan ku, dan ingin memastikan bahwa aku benar benar kuat untuk mengikuti pelajaran, bukan? Aku mengerti aku mengerti." kata Kei serata mengangguk, menbalikkan badan.


Kei menatap lapangan yang sepi, berusaha untuk menyembunyikan wajahnya yang penasaran dengan apa yang akan Shiori lakukan selanjutnya.


("Ughh.... Selanjutnya adalah mengecek apakah Shiori merupakan Player atau bukan, kah? Ini cukup sulit, karena satu cara untuk mengecek itu adalah...")


"Kei!" Kei sedang memikirkan beberapa hal ketika tiba tiba Shiori angkat bicara, setengah berteriak memanggil namanya.


"Ah eh ya? Ada apa?" tanya Kei sedikit terkejut karena Shiori yang memanggil namanya dengan keras. Padahal, biasanya Shiori jarang memanggil orang dengan nama mereka.


"Aku menyukaimu!!" teriak Shiori dengan yakin.

__ADS_1


"Eh? HAHH?!! APA MAKSUDMU?!!" Kei sangat terkejut dengan itu, dan segera membalikkan badan. Dan dari sana, dia melihat Shiori yang bergerak maju, dan mendekati Kei dengan wajah yang sama sekali tidak ragu.


"Apakah itu masalah? Apakah itu mengganggu mu? Kenapa memang? Aku dengar kau sudah putus dengan pacarmu yang dulu, bukan?" tanya Shiori semakin mendekat.


"Ahh, bukan itu masalahnya..." jawab Kei semakin gugup.


Sementara Shiori semakin maju dan mendekati Kei, membuat Kei lupa akan tujuannya sebelumnya! Dia sekarang bahkan hampir tidak memiliki jarak dengan seorang wanita, yang merupakan pengalaman yang baru untuknya.


Seorang Ketua kelas, yang dianggap sempurna dan merupakan idola semua orang? Dan sekarang sosok itu sedang menyatakan perasaan kepada orang seperti Kei?


Kei benar benar tidak bisa menahan itu.


("Ahh, gawat. Dia mendapatkan ku. Yuki pasti akan memarahiku jika aku gagal dan jatuh seperti ini dengan mudahnya pada wanita lain...") bisik Kei dalam pikirannya.


"Bagaimana, Kei. Aku menyukaimu. Apa jawaban mu?" tanya Shiori yang semakin mendekat. Bahkan sangat dekat hingga Kei bisa menatap wajahnya secara langsung, dan bahkan jika Kei tidak menahan diri, Kei bisa saja mencium langsung Shiori yang ada di hadapannya.



("AHH, BENAR!! Aku harus mengecek apakah Shiori seorang player atau bukan!!) teriak Kei dalam pikirannya.


Dia segera kembali sadar, walau masih sangat memalukan untuk melakukan ini baginya. Dia harus tetap mengecek apakah ada aliran sihir di dalam tubuh Shiori. Dan caranya adalah dengan menjaga tubuh sedekat mungkin, dan kalau bisa melakukan sentuhan kulit.


Tapi untuk itulah dia berpisah dengan Yuki tadi.


Bahkan jika dia di deteksi oleh sesama Player, tidak mungkin sihir yang ada dalam tubuhnya dapat di deteksi. Itu membuat Kei yang sekarang terlihat seperti manusia biasa yang sedikit lebih kuat saja.


Satu detik, dua detik, bahkan hingga lima detik. Mereka berdua mempertahankan posisi itu. Dan sampai pada beberapa saat, Kei sedikit membuka mata dan mulai bergerak.


Tangan Kei mulai ke bahu Shiori, mencoba melihatnya secara langsung. Dia kemudian maju, terlihat akan bergerak ke arah Shiori. Shiori yang melihat itu menutup mata, hanya menerima begitu saja.


"Maaf. Kau tidak seperti biasanya, Shiori." bisik Kei di telinga Shiori.


"Heh?" sedikit terkejut, Shiori segera membuka mata, dan mundur beberapa langkah. Dia terlihat bingung, melihat ke sekeliling dan mencoba memahami semuanya.


Kei sudah mencapai kesimpulan, bahwa Shiori bukanlah Player. Dia hanya dikendalikan oleh seseorang untuk melakukan itu semua. Untuk bisa melakukan itu semua, pemilik skill ini pasti benar benar luar biasa. Itu yang Kei pikirkan.


Sedangkan Shiori sendiri melihat Kei, tidak mengerti apa yang terjadi. Dan sedetik kemudian, Kei mulai berbicara.


"Ahh, um. Apakah kamu baik baik saja, Shiori?" tanya Kei sambil sedikit mendekat.

__ADS_1


Bersamaan dengan Kei yang berjalan mendekat, Shiori mundur selangkah. Dia melihat Kei dengan mata terbelalak, melihat tangannya lagi, lalu melihat Kei, dan seperti itu terus menerus.


Setelah menyadari apa yang terjadi sebelumnya wajah Shiori dengan segera memerah, dan mencoba melarikan diri.


Kei tidak membiarkan itu, dan segera memegang dan menarik tangan Shioro agar dia tidak bisa lari.


"Shiori. Tenangkan dirimu. Aku butuh banyak informasi dari mu." ucap Kei seraya memberikan gerakan agar Shiori mensrik nafas perlahan, dan mengeluarkannya berkali kali.


"Huff...... ahhhh...."


"Baiklah. Apakah kau sudah tenang?" tanya Kei setelah menunggu Shiori menarik nafas cukup banyak.


"Ah uhm. Baiklah. Maafkan penampilan ku yang tidak pantas tadi." jawab Shiori sedikit terbata, menundukkan kepalanya.


"Tidak tidak. Itu bukan masalah besar." Kei memalingkan mukanya ksrena malu.


"Ngomong ngomong, kenapa Ketua bisa tiba tiba menyatakan sesuatu seperti itu padaku? Jujur saja, itu agak memalukan. Tapi, aku merasa itu bukanlah dirimu, Ketua. Tapi setelah melihat ekspresi mu tadi, aku yakin kau mengingat semuanya, bukan?" tanya Kei pura pura bodoh.


Dia berniat untuk mencari informasi sebanyak mungkin, dan mencoba menemukan Player yang ada di sekitarnya.


Tapi berbeda dengan Shiori, yang dengan segera memerah dan terlihat gelisah. Ternyata benar, bahwa kejadian tadi masih terulang ulang dalam pikiran Shiori.


"Umm, apakah kau ada saat dimana kesadaran mu hilang sesaat? Atau kau memiliki ingatan yang tidak sempurna? Atau kamu sedang tidur berjalan? Jangan khawatir untuk menceritakan semuanya padaku, karena jujur aku sedang tertarik dengan hal supernatural seperti itu." tanya Kei setengah tertawa.


Segera, wajah Shiori memerah lagi, tapi terlihat seperti dia sedang menimang nimang sesuatu. Dan setelah menunggu beberapa saat, ekspresi wajahnya berubah menjadi yakin.


"Anu...."


"Keii!!!!" sebuah teriakan ceria terdengar dari suara yang mereka kenal. Dan tak lain adalah Fino.


("Cih! Orang itu.... Dia datang di saat yang tidak tepat!!") Kei mendengus kesal dalam hatinya.


"Tolong temui aku di atap sekolah saat pulang nanti. Aku akan menceritakan semuanya. Aku harap kamu datang...." bisik Shiori pelan di telinga Kei, sebelum segera beranjak pergi.


Kei sedikit terkejut mendengar itu, tapi segera merasa lega. Setidaknya, dia tidak kehilangan satu satunya sumber informasi yang dia miliki.


"Hei, Kei. Apakah tadi kau bersama dengan Shiori?" tanya Fino.


Kei menghela nafas, lalu melihat sosok yang ada di depannya. Memang, dia menggagalkan sedikit rencana Kei tadi. Tapi kalau dipikir lagi, akan berbahaya untuk Shiori dan dirinya mengatakan hal hal seperti sihir dan Sistem di tempat terbuka.

__ADS_1


"Tidak apa. Ayo segera ke lapangan." kata Kei, tertawa serata menepuk punggung Fino.


__ADS_2