Death Game System

Death Game System
Bab 32 - Sakahara Minori


__ADS_3

Kei mengerti alasan kenapa Minori tidak terpengaruh oleh sistem.


Sepertinya, ada sedikit celah dalam peraturan Sistem. Peraturan nya adalah, jika ada orang lain yang mengetahui tentang Sistem, dia akan dihapus seketika. Dengan kata lain, meninggal.


Tapi, bagaimana jika orang itu melihat, namun tidak tahu tentang Sistem, dan tidak mempercayai adanya Sistem?


Disinilah celah yang akhirnya Kei temukan karena mengamati Minori. Faktanya, Minori sudah melihat semua kejadian dimana Kei menggunakan kekuatannya, dan Shiori dikendalikan oleh player. Tapi itu tidak jelas.


Tidak jelas apa yang terjadi, tidak jelas bagaimana keadaannya, dan tidak jelas apa yang menyebabkannya. Semua terjadi dalam tubuh masing masing orang, dan tidak terlihat ke permukaan.


Dan semua dengan akan dengan mudah tersamarkan dengan alibi yang Kei buat. Jika Kei meyakinkan Shiori itu bukanlah sesuatu yang berasal dari Sistem, dan Minori tidak melihat langsung Kei mengeluarkan skill, tampaknya "penghapusan" Minori tidak akan terjadi.


Mungkin akan berbeda cerita jika Minori melihat Kei mengambil senjata api dari dalam inventory miliknya, atau armor yang dipakai Sato.


Kedua contoh tadi adalah keadaan dimana player langsung menunjukkan kekuatannya. Dengan kata lain, ada hal sangat besar seperti pertarungan tadi yang tidak membuat "terhapus" nya penonton, tapi ada juga hal sepele yang bisa membahayakan mereka.


"Ahh, mekanisme Sistem ini benar benar merepotkan. Ada hal yang bisa membunuhmu tiba tiba, ada yang tidak. Hufft...." Kei mengeluh lelah.


Dia menatap langit, terlihat menyerah. Tapi dia kembali menoleh ke sosok kecil yang ada di sebelahnya, yang duduk termenung sama sepertinya.


"Yahh, aku tidak masalah jika kau tidak percaya. Tapi baiklah. Aku sudah menceritakan semuanya. Bagaimana denganmu?" tanya Kei mulai membuka percakapan.


"Kau bilang kau sudah mengatakan semuanya?" tanya Minori sedikit kesal.


"Humm... Benar. Itu sudah semuanya. Aku sudah mengatakan semua hal disana menurutku. Sekarang giliranmu." jawab Kei dengan enteng.


"Tapi aku tidak percaya dengan itu. Bagaimana kalau kau berbohong?" nada suara Minori meninggi.


"Sudah kubilang tidak, kan? Itu terserah kau mau menganggapnya apa. Kau pun boleh berbohong tentang cerita mu sekarang."


"Tapi jika kau tidak mengatakan apa yang ada di pikiran mu sekarang, mungkin tidak akan ada waktu lain lagi untuk mengatakan nya." lanjut Kei dengan nada serius.


Mendengar itu, mata bulat Minori terbelalak, menengok ke arah Kei dengan tatapan bertanya tanya, tapi ada tangis yang ditahan tampak di pelupuk matanya.


"K-kalau begitu.... Bukankah kau curang, kak Kanata? Kau boleh berbohong, tapi aku tidak bisa. Tidak, bukannya tidak bisa. Aku tidak punya pilihan." Minori tersenyum terpaksa.


Ya. Itu memang yang ada di dalam pikiran Kei. Jika Minori tidak bercerita, jelas rasa stress nya akan bertumpuk, dan bukanlah tidak mungkin jika Minori akan terpikir untuk bunuh diri lagi.


Dengan kata lain....

__ADS_1


"Kau menyuruhku bercerita atau mati... Bukankah itu sangat jahat, kak Kanata?" Minori tersenyum pahit, sedikit mengejek.


"Humm? Kenapa cara mengatakan mu sangat jahat? Aku tidak mengatakan itu, kan?" Kei masih berusaha berkelit dengan nada tengilnya, sambil bergaya sedikit berlebihan.


Hening, hanya itu yang terjadi. Kei juga tahu, mungkin agak keterlaluan baginya yang merupakan orang luar untuk ikut campur, tapi setidaknya Kei tidak ingin dia melepaskan sosok yang ada di depannya sekarang. Jika tidak, hal yang sama dengan masa lalu Kei pasti akan terulang.


Suara angin yang bersiul pelan, meniup awan yang berjalan pelan, semakin menggelap.


"Baiklah." Minori angkat suara, memecah keheningan.


"Aku, hanya ingin mendapat perhatian tulus dari orang sekitarku." Minori mulai bercerita.


"Aku secara tidak sengaja oleh kedua orang tua ku. Ayahku pekerja kantoran yang sering mabuk mabukan. Dan ibuku, pekerja klub malam. Jelas, kau pasti tahu bagaimana mereka bertemu, bukan?" Minori tersenyum miris.


"Karena sudah terlanjur lahir, aku dirawat oleh ibuku secara langsung. Tapi ayahku jarang pulang. Kalau pulang pun hanya berteriak dan bertengkar dengan ibu. Dan ibu juga terlihat setengah hati merawatku."


"Dia pergi bekerja malam hari, dan pulang lalu tidur di pagi hari. Hampir tidak mungkin untuk aku bisa bertatap muka dengannya."


"Melihat itu, salah satu tetangga ku, bu Keiko sering datang di pagi, merawatku tanpa pamrih dan menjagaku dari pagi hingga sore, mengajakku bermain dan mengurusku hingga aku sekolah dasar."


Dengan begitu, Minori terus menceritakan tentang dirinya, sejak dia kecil, hingga sampai saat ini.


Minori kecil yang haus kasih sayang orang tuanya bertanya tanya, bagaimana dia bisa menarik perhatian orang tuanya. Dan dengan begitu, Minori pikir bahwa jika dia menjadi anak baik, maka orang tuanya akan memujinya.


Ketika memasuki Sekolah Dasar, fitur wajah Minori mulai terbentuk. Wajahnya mirip dengan ayahnya, yang membuat ibunya semakin tidak menyukai Minori.


Minori kecil yang tidak tahu apa apa hanya bisa pasrah, menerima berbagai pukulan atau siksaan dari ibunya. Minori pikir bahwa dia melakukan sesuatu kesalahan.


Saat awal sekolah menengah, ibunya benar benar berhenti menyediakan kebutuhan Minori. Minori mulai bekerja, menjadi pengantar koran, atau penjaga toko. Intinya semua pekerjaan yang bisa dia lakukan secara sampingan.


Dia tetap berusaha menjadi yang terbaik, baik di sekolah atau dimanapun dia berada. Nilainya bagus, wajahnya juga cantik. Dia dengan mudah mendapat perhatian dari teman temannya.


Tapi Minori tahu, orang orang yang ada di dekatnya, hanya memanfaatkan dia saja.


Bahwa Minori adalah orang yang nilai akademis nya bagus. Bahwa Minori adalah orang yang baik hati dan mudah dimanfaatkan. Bahwa Minori gadis yang sangat cantik.


Semua kasih sayang, semua cinta yang Minori dapatkan, semua itu tidak ada yang tulus, membuat Minori mulai menyerah pada dunia. Tapi di hadapan semua orang, Minori mencoba menghindari orang orang.


Kepercayaan nya pada orang lain mulai menghilang.

__ADS_1


Dan ketika menginjak bangku SMA, perlakuan yang Minori dapat semakin kejam.


Karena kecantikannya semakin nyata, ibunya memaksa Minori untuk masuk ke dunia malam, dan bekerja menjadi wanita penghibur. Minori menolak itu, hanya untuk mendapat pukulan, cecaran, makian, dan lain sebagainya.


"Dan saat itu, aku meminta saran pada ibu tetangga, tapi ibu mengetahui itu dan akhirnya melabrak langsung ke bu Keiko sambil mengatakan beberapa hal yang tidak sopan. Dan entah kenapa, beberapa hari kemudian bu Keiko pindah dari sana. Mungkin menjauh dari ibuku." cerita Minori terlihat mengingat ingat.


"Dan ketika ayahku pulang, dia pulang dengan keadaan mabuk. Itu sudah biasa, karena memang dia selalu pulang membawa botol berisi minuman keras."


"Beberapa hari ini, dia sering melihatku dengan tatapan tidak menyenangkan. Dan tentu saja, aku merasa risih dengan itu, tapi aku hanya menahannya saja. Tapi...." suara Minori mulai terhenti.


Wajahnya tetap tersenyum, tapi air matanya mulai mengalir. Nafasnya juga tidak beraturan, sesenggukan menahan tangis.


"Ke-kemarin, dia tidak hanya duduk diam mengamatiku. Di-di tangan ada botol. Dia... dia dorong aku... Tembok.. Ahhh!!!" Minori berteriak, ketika mencoba menceritakan itu.


Minori sendir terlihat ketakutan, menyembunyikan dirinya dengan tangan dan menunduk, tetap dengan senyum dan ekspresi gelap yang dia miliki.


Kei langsung tahu apa maksudnya, tapi dia tidak tahu harus apa. Akhirnya, dia memutuskan untuk membiarkan Minori sampai tenang.


Minori tertegun sesaat, ketika dia akhirnya menoleh ke arah Kei, dan kemudian dia kembali sadar.


"A-ahh, maaf. Aku kehilangan diriku disana."


"Entah bagaimana aku berhasil kabur. Tapi, tapi! Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan setelah ini. Aku memang bisa bersekolah seperti biasa, tapi apa aku masih bisa kembali ke tempat itu? Aku... Aku.. a-aku takut..." bisik Minori.


Kei tidak bisa berkata kata. Hatinya panas, tangannya pun terkepal kuat. Dia tahu bahwa dia hanyalah orang luar, tapi perasaan ini, dia ingat perasaan apa itu.


Ini adalah perasaan yang sama saat dia menyelamatkan adiknya kemarin. Dan entah bagaimana, kasusnya disini sangat mirip.


Hanya bedanya, Minori sedikitnya berhasil lolos, entah karena keajaiban atau apapun itu.


Dan setelah Kei perhatikan lagi, ada beberapa bekas pukulan dan luka lebam di tangan, kaki, bahkan leher Minori. Itu hanya semakin membuat perih di dada Kei semakin membesar.


("Astaga... Kenapa itu terjadi... Apakah dunia ini hanya berisi orang orang mesum seperti itu?") pikir Kei dalam hatinya.


"Hei, kak Kanata..." Minori memanggil.


"Huumm?"


"Apakah aku salah? Apakah ini semua salahku? Apakah salahku terlahir di dunia ini? Apakah salahku dilahirkan oleh mereka? Apakah salahku diberkahi kemampuan dan penampilan lebih? Apakah itu salahku??!!" tanya Minori dengan nada meningkat.

__ADS_1


Kei tidak bisa menjawab itu, dan hanya diam, menatap sosok Minori yang masih tersenyum getir, walau air mata mengalir di matanya.


"Maksudku, kenapa harus aku dari semua orang di dunia ini? Apakah aku punya kesalahan sebesar itu hingga dihukum seperti itu?! Hei, kak Kanata, tolong katakan padaku!!" nada suara Minori kini terdengar memaksa.


__ADS_2